Diriku Ternyata Kembar

Diriku Ternyata Kembar
Bab 25: Kebohongan


__ADS_3

Keesokan harinya.....


Pagi-pagi sekali saat rindy baru saja terbangun, tiba-tiba ibunya mendorong Rindy kembali ke kamarnya. Rindy heran dengan apa yang dilakukan ibunya itu, dengan memasang wajah yang kesal yang ada pada ibunya itu


"Rindy!! Hari ini kau harus ada di kamarmu seharian ini saja."


"Apa maksud ibu? Ibu menyuruh ku untuk mengurung diriku dikamar seharian? Tapi aku juga harus sekolah"


"Ya, kau boleh keluar tapi saat ibu sudah pergi ya. Ingat!! Awas saja jika kau keluar dari kamarmu sebelum ibu pergi!!"


"Ya, ibu. Aku mengerti"


Ketika Rendy baru saja terbangun dan keluar dari kamarnya, ibunya menunggu didepan pintu untuk mengucapkan salam perpisahan untuk Rendy


"Nah, Rendy ibu pulang dulu ya. Jaga dirimu baik-baik"


"Mana Rindy? Harusnya ia ada disini juga kan?"


"Ibu rasa Rindy masih ada dikamarnya. Dia tidak mau bertemu dengan ibu, anak macam apa dia!?" Ibu terlihat kesal saat Rendy membicarakan rindy didepannya.


"Aku rasa, rindy sedang sedih saat ibu ingin pergi pulang."


"Sudahlah Rendy, tak usah membicarakan dia sekarang ya. Ibu pulang dulu jaga dirimu baik-baik. Selalu ingat, makanlah jika kau lapar ya Rendy. Ibu akan mengirimkan mu uang saat uangmu sudah habis."


"Ya ibu"


Ibu pun pergi kembali pulang kerumah aslinya, dan mendengar suara pintu yang tertutup, dan sudah tak ada lagi suara ibunya. Rindy pun segera keluar dari kamarnya dan bersiap untuk pergi kesekolahnya. Melihat rindy yang keluar dari kamarnya dengan wajah yang suram dan seperti sedang menahan tangis membuat Rendy heran dan bertanya.


"Kenapa kau baru keluar dari kamarmu rindy!? Ibu baru saja pergi"


"Tidak apa-apa, Rendy. Tadi aku hanya bangun kesiangan saja. Aku berangkat sekolah dulu"


"Tidak mau berangkat bareng?"


"Tidak, aku berangkat sendiri saja."


"Oh, kalau begitu baiklah"


Melihat rindy yang bersikap aneh, membuat Rendy penasaran apa yang terjadi saat ia belum bangun tidur tadi.

__ADS_1


*Aku penasaran\, apa yang terjadi tadi ya. Apa mungkin ibu menyuruh Rindy untuk mengurung dirinya dikamar?* Dalam hati Rendy yang melihat rindy keluar membuka pintu rumah


 


 


  Disekolah, jam istirahat saat Karina mencari rindy dikelasnya. Terlihat rindy tak berada ditempat duduknya. Dan kebetulan Rendy lewat berjalan didepannya, Karina pun menanyakannya apakah rindy hari ini tidak masuk


"Ah..Rendy, apa sekarang rindy sedang sakit?"


"Tidak, memangnya kenapa?"


"Dia tidak ada dikelasnya. Yang aku lihat, kursinya kosong"


"Aku,akan mencarinya sepulang sekolah nanti "


"Ah, t..tidak usah! Aku saja yang mencarinya sepulang sekolah nanti."


"Benarkah? Kau tidak keberatan melakukannya?"


"Ya, tidak apa-apa lagipula sepulang sekolah nanti kau ada latihan sepak bola kan untuk pekan olahraga bulan depan?"


"Ya"


Saat ini Rendy terlihat tak khawatir pada rindy yang tak ada disekolah itu. Tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya, mereka tampak tak peduli satu sama lain. Dan akhirnya sepulang sekolah Karina mencari rindy disekitar perumahan dan jalan raya dekat sekolah. Hingga Karina melewati sebuah taman bermain kecil yang sedang sepi disana. Terlihat rindy yang duduk disalah satu ayunan yang ada disana sedang menangis seperti memikirkan sesuatu yang begitu berat baginya. Dengan raut wajah yang sedikit kesal,Karina pun akhirnya menghampirinya. Dan Rindy terkejut melihat Karina yang ada dihadapannya.


"Kenapa Karina ada disini?"


"Jangan pura-pura tidak tahu!!, Kenapa kau tadi tidak ada disekolah?"


"Ah, i...itu"


"Kenapa kau tidak pernah bercerita padaku kalau kau memiliki hari-hari yang berat?"


"Aku tidak ingin menceritakan hal yang tidak ku sukai. Cukup aku saja yang menyimpan hal yang kurang menyenangkan itu."


"Tapi, setidaknya aku bisa membantumu kan? Kau memiliki banyak teman sekarang. Jangan terlalu memikirkan kalau hanya kau yang memiliki masalah seperti itu. Semua orang juga memiliki masalah, dan pada akhirnya mereka meminta tolong pada orang yang cukup dekat dengan mereka. Kau juga bisa seperti itu Rindy. Aku yakin itu"


Rindy pun membuka mulutnya,dan mulai menceritakan semua masalahnya seperti menahan tangis, dan mengusap matanya terus ia lakukan saat ia menangis menceritakan masalahnya.

__ADS_1


"Aku, ibuku kurasa lebih menyukai Rendy daripada aku. Setiap hari, ibu selalu bilang kalau aku tidak berguna,dan berharap aku tidak ada."


"Kenapa seperti itu?"


"Mungkin, aku tak seperti Rendy,yang selalu terlihat hebat Dimata ibu. Sedangkan aku hanya sebagai penghalang antara ibu dan Rendy. Aku bingung sekali...."


"Setidaknya,kau masih memiliki seseorang yang mau membela mu kan?"


"Membela ku? Siapa?"


"Aku yakin, Rendy setiap saat,dan setiap waktu ia selalu memikirkan mu Rindy."


"Rendy..?"


"Saat kau tidak ada, Rendy selalu datang padaku dia selalu bertanya. Bagaimana rindy yang sekarang? Apakah ia menikmati hari-hari disekolahnya?. Wajahnya begitu suram ketika bertanya hal itu. Dan ketika aku menjawab dengan jawaban yang berkata bahwa kau baik-baik saja, seketika wajahnya menjadi senang dan tenang mendengarnya."


"Kau, tidak mengarang cerita itu agar aku tenang bukan?"


"Jika itu memang sebuah kenyataan yang tak bisa ditolak. Meskipun aku berbohong padamu, aku yakin Rendy adalah orang yang selalu mengkhawatirkan mu, rindy"


"Aku tidak yakin akan hal itu."


"Saat kau pulang kerumah nanti, cobalah kau tanyakan padanya. Yakinlah jika Rendy orang yang masih setia memikirkan mu. Ya atau tidak, itu terserah pada yang memberi jawaban padamu."


"Apa selain Rendy, masih ada yang lain?"


"Kuncinya adalah, kau harus yakin pada dirimu sendiri, rindy!”


Setelah itu Rindy hanya terdiam melihat Karina yang berdiri didepannya, dengan senyum yang terlihat jelas di wajahnya itu.


*Ya\, aku akan berusaha.* Dalam hati Rindy sambil menatap langsung Karina.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2