Diriku Ternyata Kembar

Diriku Ternyata Kembar
bab 67: kepergian


__ADS_3

"Malam ini terasa dingin ya, dibarengi dengan turun hujan. Hawa dingin itu semakin menusuk. Mungkin aku terlalu memikirkan tentang Rendy bagaimana keadaannya, sampai aku melewatkan stasiun kereta yang seharusnya aku naiki. Ah, sudahlah lagipula jarak dari rumah ke rumah sakit hanya berkisar 25 menit saja jika aku berjalan."


"Hei Rendy, bagaimana kabar mu hari ini? Apa kau sudah baikan? Akan aku bawakan kue brownies coklat kesukaan mu, nanti kau makan ya!"


"Rasanya aku ingin bilang seperti itu padanya"


Diana terus berjalan sampai didepan sebuah toko kecil, Diana tak sengaja menabrak senior Fahrul yang baru saja keluar dari toko itu "Diana? Kenapa kamu hujan-hujanan seperti ini?" Tanya senior Fahrul dengan memegang kedua bahu Diana.


"Senior Fahrul, bisa antarkan aku pulang?" ucap Diana dengan wajah yang masih menangis


"Kamu terlihat lelah Diana, kenapa kau tidak duduk dulu? Ayo kita cari tempat teduh" Dan tepat didepan toko bunga, mereka berhenti berjalan dan duduk dikursi yang ada disana


"Kenapa kau pulang sendiri? Ini kan sudah malam"


"Tidak apa-apa senior. Aku hanya ingin pulang sendiri tadi"


"Jika kamu ingin pulang sendiri, kenapa kau malah menyuruhku untuk menemanimu pulang?"


"Suasana hatiku sedang kacau, senior"


"Jadi begitu. Lalu kenapa kau menangis?"


Ponsel Diana berdering, seseorang telah menelfonnya. Diana pun membuka ponselnya dan ternyata rindy yang menelponnya "Ya, halo rindy. Ada apa?"

__ADS_1


"Diana, aku menyesal sekali harus mengatakan ini padamu, tapi...."


"Tapi apa!?" Terlihat wajah Diana yang mulai ketakutan ketika Rindy mengatakan hal itu


"Rendy sudah dinyatakan meninggal 10 menit setelah kau meninggalkan rumah sakit"


"A...apa kau bilang!?"


"Aku menyesal mengatakan hal ini, tapi Rendy tadi bilang, kamu jangan menangis ya"


"Tidak......tidak mungkin...."


Diana tiba-tiba menjatuhkan ponselnya dan berteriak kencang "A...ada apa Diana?" Tanya senior Fahrul yang mulai khawatir karena melihat Diana yang histeris kelihatannya. Karena tak kuat menahannya, Diana memeluk senior Fahrul dengan erat dan tak ingin melepasnya


"Kenapa!? Ada apa dengan Rendy!?"


"Dia sudah tidak ada senior.....Rendy meninggalkan ku senior..... Rendy kamu jahat sekali......"


"Diana...."


"Aku mulai merasakan, pakaian yang senior pakai hari ini mulai basah karena air mata ku yang terus mengalir. Aku tidak tahan dengan semua itu, aku bahkan berharap aku bisa seperti Rendy sekarang. Aku ingin pergi bersamanya. Bagiku ini terlalu jauh....sangat jauh...."


"Apa kamu sudah cukup menangisinya?"

__ADS_1


"Suara ini seperti familiar denganku, aku sepertinya sudah sering mendengar suara ini. Aku tak sanggup untuk melihat wajah orang yang bicara padaku tadi"


"Diana, kau bisa melihat sekeliling mu sekarang"


Diana pun akhirnya melihat sekelilingnya dan ternyata ia merasa sedang ada diatas awan. Semua terlihat putih bersih. Dan ketika melihat wajah orang yang bicara dengannya, Diana terkejut melihat orang yang dipeluknya ternyata Rendy yang terlihat baik-baik saja.


"Rendy .......!?"


"Apa kamu terkejut?" Kata Rendy sambil tersenyum seperti biasa. Karena terlalu kaget, Diana menjauh dari Rendy dan menjaga jarak dengannya


"Kenapa kau menjauh?"


"A.....i.....itu, apa ini benar-benar terjadi?! Kenapa Rendy bisa ada disini?"


"Sekarang, aku bisa menemuimu kapan saja dan dimana saja. Untung saja aku bisa menyempatkan diriku untuk bertemu denganmu, Diana"


"J....jadi, itu benar terjadi?"


"Ya, begitulah tapi, kau tidak menangis kan? Hanya karena kehilanganku saja?"


"Mana bisa, aku tidak menangis saat mengetahui kalau kau sudah tidak ada. Aku.....tidak ingin ini terjadi.... dan kenapa, harus kau yang meninggalkan ku?" Kata Diana yang mulai menangis


"Menyebalkan sekali, sudah kubilang kan..... Jangan menangis" kata Rendy sambil memeluk Diana yang menangis itu

__ADS_1


"Pakaian yang Rendy pakai sangat wangi, dan pelukannya juga sangat lembut dan hangat. Aku harap waktu saat ini bisa terhenti saat ini juga"


__ADS_2