
Di kafe.......
Rendy membelikan diana sebuah makanan yang ada di menu kafe itu. mereka pun saling berbincang disana, saling menatap membicarakan sesuatu yang ada.
"Wah .....kau baik sekali Rendy ... tak aku sangka kau Mau membelikan ku wafel semahal ini!!"
"Tidak kok lagi pula itu harganya tidak sampai puluhan ribu."
"Baiklah aku makan ya!!!"
Diana pun memakan wafel itu dan begitu ia suka ketika mencicipi rasanya.
"Enak sekali...."
"Dia memang seperti anak kecil sekali. Hampir mirip dengan rindy. Apa mungkin mentalnya juga seperti anak kecil ya?" Dalam hati Rendy.
Diana pun melihat keluar, dan terlihat sepasang anak kecil yang sedang mengemis disana. Namun sepasang anak kecil itu diusir oleh penjaga toko yang ada disebelah kafe itu. Matanya terlihat ingin menangis dan Diana pun akhirnya berniat untuk memberikan wafelnya pada sepasang anak kecil itu.
"Kau melihat apa Diana?"
__ADS_1
"Rendy ...makanan ini serius untuk ku saja kan?"
"Iya, tentu saja. Memangnya kenapa?"
"Itu berarti apa pun yang kulakukan pada makanan ini, terserah padaku kan?"
"Iya tentu saja.kenapa kau bertanya hal itu?"
Diana pun meminta tolong pada pelayan yang ada disana untuk membungkus kan makanannya. Setelah dibungkus, Diana pun membawa nya keluar dan memberikan nya pada sepasang anak kecil yang tadi
"Ini, ambilah sedikit makanan dariku."
"Makanan apa ini kakak? Apa ini sungguh untuk kami?"
"Tapi, ini pasti harganya mahal sekali"
"Tidak usah seperti itu. Makanlah!" Kata diana dengan perkataan yang lembut
"Wah....... terimakasih kakak!!"
__ADS_1
Diana pun mengelus kepala salah satu dari kedua anak itu. Dan Rendy yang baru saja keluar dari kafe itu merasa terkejut tentang apa yang Diana lakukan itu.
"Kenapa dia memberikan nya pada sepasang anak pengemis itu?" Dalam hati Rendy yang heran melihat Diana melakukan itu
Sepulangnya dari kafe Rendy menanyakan beberapa hal tentang apa yang Diana lakukan tadi.
"Kenapa kau memberikan makanan mu pada anak pengemis tadi?"
"Memangnya kenapa? Itu kan sudah menjadi makananku. Kau sendiri yang bilang kalau aku bisa melakukan apapun dengan makanan itu kan?"
"Iya sih tapi kenapa harus mereka?"
"Karena, anak perempuan tadi ....mirip sekali dengan adik perempuan ku yang sudah lama meninggal. Karena itulah aku kasihan pada mereka."
"Jadi.... adik perempuan mu sudah tidak ada?"
"Ya. Baru saja beberapa Minggu yang lalu. Adikku sakit karena mengalami penyakit kanker darah. Setiap harinya seusai sekolah aku selalu menjenguknya dirumah sakit. Ia selalu bertanya apakah aku masih seperti yang dulu?, Agar dia tidak melihat wajahnya dan tubuhnya yang semakin kurus itu, aku menutup cermin yang ada di kamar rumah sakitnya itu dengan sebuah kain hitam. Agar setiap harinya ia tidak bersedih. Tapi....jika memang sudah takdir, maka aku harus menjalani nya. Dan dua Minggu setelah adikku koma ia meninggal, ibuku sangat terpukul akan hal itu dan maka dari itu ia sangat memperhatikanku. Ia tak mau kehilangan satu anaknya lagi."
Tiba-tiba Diana menangis menceritakan hal itu. Dengan tangan yang agak sedikit gemetar Rendy mengusap air mata itu dengan saputangan yang ada di sakunya itu.
__ADS_1
"Maaf ya ... Aku membuatmu menceritakan hal yang tidak ingin kau ceritakan. Maaf."
*Baru kali ini....aku mendengar suara lembutnya. Jadi.....apa ini yang mereka bilang tentang kelembutan yang dimiliki Rendy dan tak pernah ia tunjukan itu?" Dalam hati Diana.