
Pertandingan sudah berjalan 20 menit. Diana lupa kalau 5 menit lagi pertandingan basket akan dimulai. Senior Fahrul pun menghampiri Diana yang ada dilapangan sepakbola itu dan langsung menariknya.
"Pertandingan akan dimulai 5 menit lagi dan kau masih ada disini?"
"M..maaf senior Fahrul aku melupakan hal itu!!"
"Kau melewatkan latihan dan pemanasan kali ini. Apa yang sebenarnya kau ingat saat ini?"
"M...maaf!!"
Pertandingan basket dimulai, kali ini Diana benar-benar dibuat kewalahan oleh lawannya itu. Dan saat di pertengahan waktu, ketika Diana ingin menembak bola keranjang lawan, seseorang mendorongnya dengan keras hingga membuatnya terjatuh.
"Mereka bermain dengan keras. Tapi aku tidak boleh kalah. Senior Fahrul mengharapkan lebih dariku aku harus menang!!"
Diana pun akhirnya bermain seperti biasa, seakan-akan ia bermain dengan temannya yang lain. Dan benar saja, ketika lawan menggiring bola, tiba-tiba Diana langsung merebutnya, setiap lawan yang menghalangi Diana langsung mendorongnya seperti yang ia lakukan setiap hari. Dan ketika sudah dekat di ring lawan, Diana langsung menembak dan berhasil mencetak 1 point
"Wah...Diana kau hebat!!"
"Terimakasih, ayo kita berjuang untuk menang!!"
"Ya!!"
Tim lawan yang melihat kehebatan Diana saat menguasai bola, mulai ada niat buruk untuk menjatuhkan mereka.
"Sepertinya, mereka sebenarnya tim yang lemah. Jika saja gadis yang mereka sebut Diana tadi tak ada mungkin kita bisa menang."
"Kita harus mengawasi gadis itu! Kalau bisa,kita harus membuat dia keluar dari pertandingan ini."
"Ya. Baiklah"
__ADS_1
Pertandingan pun dimulai kembali. Kali ini Diana benar-benar diawasi oleh tim lawan, dan rekannya juga tidak bisa mengoper bola pada Diana.
"Pintar sekali tim mereka, menghalangiku disaat-saat seperti ini!?" Dalam hati Diana sambil memikirkan strategi apa yang harus ia lakukan.
Senior Fahrul yang melihat pertandingan Diana saat itu, juga ikut terpikirkan olehnya.
"Strategi lawan ternyata pintar juga. Mereka tahu kalau kunci dari setiap permainan ini adalah Diana. Jadi mereka terus menghalangi yang lainnya untuk mengoper bola pada Diana. Padahal sudah ku bilang untuk berhati-hati pada tim lawan tapi, dia malah mengabaikan hal itu. Yang seperti ini aku serahkan padamu Diana."
Sementara itu Diana yang masih bingung harus melakukan apa, ia pun akhirnya menerobos penghalang lawan. Diana berhasil keluar dari penghalang lawan itu dan langsung merebut bola dari lawan. Dan ketika Diana sedang berlari kencang menuju ring lawan, dan ketika hendak menembak, tiba-tiba salah satu dari tim lawan mendorong Diana dengan keras hingga membuatnya terjatuh dan membuat kakinya terkilir. Diana pun akhirnya terdiam disudut lapangan sambil memegang kakinya yang terkilir itu.
"Sakit sekali.... Sepertinya mereka mencoba menyingkirkan ku."
Karena kakinya yang tak kunjung sembuh, akhirnya Diana digantikan oleh yang lain, dan Diana dibawa dipinggir lapangan. Mendengar Diana terluka, senior Fahrul menghampirinya untuk memastikan apakah Diana baik-baik saja.
"Aku pikir kau akan bermain sampai akhir, Diana"
"Apa kakimu masih sakit?"
"Sedikit, tapi nanti juga akan hilang sakitnya."
"Mau aku pijat kakimu?"
"Eh ....?"
Akhirnya disepanjang pertandingan basket putri,senior Fahrul terus memijit kaki diana hingga sakitnya hilang.
"Apa sudah tidak sakit Diana?"
"Yah, aku rasa sudah tidak apa-apa. Terimakasih senior Fahrul."
__ADS_1
"Bisakah aku meminta sesuatu darimu?"
"Meminta sesuatu dariku?"
"Ya. Dibabak kedua nanti, bisakah kau bermain sampai waktu habis dan menjadi juara untuk ku?"
"Ya!! Karena senior Fahrul sudah memijit kakiku hingga sembuh, aku akan melakukan apa yang senior Fahrul katakan tadi!" Tanpa ragu Diana mengatakan hal itu didepan senior Fahrul sambil tersenyum lembut kearahnya.
Sementara itu, Rendy yang juga ikut dalam pertandingan sepakbola antar sekolah. Babak pertama akhirnya selesai dengan skor akhir 3 : 0 SMA 14 melawan SMA tunas bangsa. Dan semua skor akhir, di hasilkan oleh Rendy. Hingga SMA 14 menang di babak pertama.
"Wah Rendy kau hebat sekali tadi. Semua skor akhir kau yang menghasilkannya. Hebat."
"Ya. Terimakasih. Aku tak akan bisa melakukan itu tanpa kalian."
"Tak usah seperti itu.. aku yakin setelah perlombaan ini selesai dan kita yang menang, aku yakin akan banyak wanita yang menyukai mu Rendy."
"Ah, tidak perlu seperti itu. Lagi pula aku sudah memilih kok, jadi aku tak perlu memikirkan hal itu."
"Hah..? Memangnya kau sudah punya pilihan untuk dikencani?"
"Tidak. Aku tak pernah punya niat untuk kencan dengan orang lain."
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Tidak ada."
"Heh..?"
Semua temannya bingung dengan sikap Rendy yang tak peka dan tak mau pergi jalan-jalan dengan salah satu wanita dikelasnya.
__ADS_1