
Mobil yang membawa Tristan dan Reva bergerak keluar dari pagar yang menjulang tinggi,Roy mengemudi di depan sementara Tristan dan Reva berada di bangku penumpang.
Tidak ada percakapan diantara mereka,semua fokus pada pikiran masing-masing,Reva melirik Tristan dengan ekor matanya,terlihat Tristan meremas jari tangannya yang terlihat gemetar,Reva memberanikan diri untuk sedikit menoleh ke arah Tristan, terlihat jika tristan memejamkan mata dengan napas yang memburu.
"Ada apa dengannya ,kenapa dia seperti ketakutan begitu?."Batin Reva.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang sesekali Roy menyalip kendaraan yang ada di depannya,Roy melupakan sesuatu,dia lupa penyebab tuannya tidak pernah keluar kamar selama ini.Tristan takut dengan Mobil truk besar bermuatan penuh,karena itu mengingatkannya pada peristiwa sepuluh tahun lalu.
Mobil kian melaju dan di depan sana ada truk besar yang bergerak perlahan karena beban yang terlampau berat,terlihat Tristan makin tak terkendali dia mulai menutup kedua telinganya dengan menggunakan kedua tangan,tubuhnya bergetar hebat,dan keringat dingin yang membanjiri dahi,wajahnya pucat pasi,seketika Reva mendekati tubuh Tristan lalu memberanikan diri menyentuh bahunya.
"Kak,Kakak kenapa?,apa ada yang sakit?."
Reva terlihat panik,seketika Roy melirik kaca spion yang ada di depan,dan dia baru menyadari keteledorannya,kemudian dia menepikan mobil dan berkata pada Reva." Nona Reva tolong anda tenangkan Tuan Tristan,sepertinya trauma kecelakaan sepuluh tahun lalu membuat Tuan Tristan takut."
...Reva bengong dia berusaha mencerna kata-kata Roy,tak lama ingatannya tentang trauma sang suami membuatnya tampa sadar memeluk tubuh Tristan dan mengusap bahunya,berusaha menenangkan Tristan. "Kak jangan takut ada aku disini,tidak akan terjadi apa-apa Kak,ayo tarik napas Kakak lalu buang perlahan."...
...Tristan mengikuti apa yang Reva ucapkan,tak lama Tristan sudah mulai tenang....
"Coba Kakak buka mata." Reva tidak melepaskan pelukannya dia terus berusaha membuat Tristan tenang, usapan lembut di bahu Tristan dan pelukan erat dari Reva membuat Tristan kembali tenang,dia mencoba membuka mata perlahan.Reva melerai pelukannya,dan tangan Reva beralih menggenggam kedua tangan Tristan.
"Maaf Tuan,saya benar-benar lupa,karena terlalu senang sebab Tuan sudah mau kembali ke Perusahaan membuat saya melupakan trauma yang Tuan alami,sekali lagi saya minta maaf Tuan." Ucap Roy gugup.
Tristan hanya mengangguk dia berusaha menutupi rasa malu sebab Reva sudah melihat sisi buruknya.
"Kak,Kakak tidak apa-apa?" Reva meraih botol minum dan membuka tutupnya setelah itu dia berikan pada Tristan, tangan Tristan terulur meraih botol minum lalu menegak isinya setelah itu dia berikan kembali pada Reva.
"Aku tidak apa-apa,terima kasih Reva karena kamu sudah membantuku,dan maaf kalau membuatmu tidak nyaman." Tristan berkata sambil memalingkan wajah ke arah jendela dia benar benar malu.
"Kak,jangan merasa tidak nyaman begitu aku ini istri Kakak,apa pun masalah Kak Tristan cerita sama aku insyaallah aku akan bantu Kak Tristan untuk mencari jalan keluarnya."
__ADS_1
"Kak Roy,ayo jalan sebentar lagi meeting akan segera dimulai nanti kalian telat.''
''Baik Nona" Roy kembali menyalakan Mobil dan perlahan bergerak menuju Kantor.
Reva kembali menggenggam tangan Tristan, mencoba memberi rasa nyaman agar Tristan tidak mengalami hal buruk seperti tadi.Ternyata usaha Reva berhasil Tristan terlihat cukup tenang, hanya helaan napas panjangnya saja yang Terdengar.
"Kakak harus bisa melawan rasa takut Kakak,jangan biarkan masa lalu membuat Kak Tristan kalah,yakinlah Kakak pasti bisa,Kak aku memang tidak tahu cerita masa lalu Kakak seperti apa,tapi apa boleh aku bantu Kakak untuk melewati ini semua?,kita hadapi bersama apa pun masalah yang ada di depan sana,Kak Tristan jangan merasa sendiri karena ada Ayah,Ibu,aku dan orang orang yang menyayangi Kak Tristan."Reva mengajak Tristan bicara dari hati kehati berharap Tristan mau mendengarkannya.
''Umurnya masih muda tapi memiliki pikiran dewasa,aku salah menilainya,apa yang dia ucapkan tadi benar,aku harus bangkit dan melawan rasa takut ini.''Batin Tristan.
Tristan berbalik dan menatap wajah Reva,ia memberanikan diri meraih tangan Reva dan menggenggamnya, " Reva terima kasih kamu sudah hadir dalam hidupku,kalau tidak ada kamu,mungkin aku tidak akan setenang ini,aku sudah beberapa kali mencoba keluar rumah untuk pergi ke kantor tapi belum sampai kantor sudah harus putar balik karena aku tidak berani untuk melawan rasa takut ku."
Roy sesekali melirik dari kaca spion,wajahnya terlihat senang melihat Tuannya sudah kembali tenang"semoga nona Reva bisa menjadi obat untuk kesembuhan Tuan Tristan."Batinnya.
"Kak,apa pun masalah Kak Tristan cerita pada ku kita cari jalan keluarnya sama-sama,anggap aku teman Kak Tristan dikala suka ataupun duka,begitu pun sebaliknya aku akan menceritakan semua keluh kesah ku pada Kakak."
Reva tersenyum dan mengeratkan genggaman tangannya,meyakinkan Tristan bahwa dia bersedia menjadi teman hidupnya"Iya Kak kita mulai semuanya dari sekarang,dan sampai seterusnya kita akan selalu bersama.''Reva memiliki harapan bahwa dia bisa menyembuhkan trauma Tristan.
Mobil menepi di depan gerbang Kampus, "Nona kita sudah sampai silahkan turun'',Reva dan Tristan tidak menyadari bahwa mobil sudah berhenti dan sudah sampai di kampus,bahkan pintu mobil yang ada di sisi Reva sudah terbuka,terlihat Roy berdiri di sana dan membalik badannya.
"Kakak tidak apa kalau aku turun,atau aku temani Kak Tristan saja sampai ke kantor?."
"Tidak perlu Reva, aku sudah baik-baik saja sekarang kamu turun dan ingat kabari Roy kalau kelas mu sudah selesai."
"Baik Kak, aku turun ya kalau Kak Tristan butuh apa-apa hubungi aku." Reva hendak turun namun kemudian dia kembali berbalik mengambil tangan Tristan dan menciumnya dengan takzim Tristan sedikit terkejut namun tak lama kemudian dia meraih tengkuk Reva lalu mendaratkan kecupan di kening Reva,seketika membuat tubuh Reva menegang dan wajahnya bersemu merah bahkan debaran dada yang membuncah."ah jantungku ,Masih pagi sudah berolahraga kuat kuat ya jantung jangan sampai copot"batin Reva.
Tristan melepaskan tangannya menatap sekilas wajah Reva, terlihat dia pun malu -malu"sudah sana masuk" Di balas anggukan oleh Reva,kemudian dia berlari masuk Kampus tampa menoleh lagi,perasaan malu bercampur gugup membuatnya tidak sanggup melihat wajah Tristan lagi .
...****************...
__ADS_1
Sementara di dalam Mobil Tristan memegangi dadanya yang berdebar buru-buru dia menjauhkan tangannya lalu duduk dengan tegap,sebab Roy sudah membuka pintu Mobil dan kembali duduk di belakang kemudi."jangan sampai Roy tau bisa malu aku,oh...jantungku...bisa mati kejang aku.Reva kenapa sepagi ini kamu sudah membuatku gila?."
"Tuan tidak apa-apa?",Roy kembali panik saat melihat wajah Tristan memerah.
"Aku tidak apa-apa Roy, ayo jalan nanti kita terlambat,apa kamu sudah memberitahu ayah soal rencana kita?."
"Sudah Tuan,dan saya sudah meminta Pak Arip memulai rapat lebih dulu sebelum kita sampai dan memintanya mengumumkan kembalinya Tuan Tristan ke Perusahaan."
"Kerja bagus Roy,kita akan menangkap tikus-tikus sampah itu." Tristan berbicara sembari mengepalkan tangannya.
Sementara itu di Kantor terlihat Pak Arip sibuk menyiapkan rapat dan meminta semua staf untuk hadir,semua staf sudah memasuki ruang rapat dan mengambil tempat duduk mereka masing-masing, tak lama terdengar langkah kaki memasuki ruang rapat dan ternyata Presdir sudah berdiri di pintu masuk,Pak Arip dan seluruh staf berdiri menyambut kedatangan Presdir.
Mereka terlihat bingung,mengapa tiba tiba mengadakan rapat,apa ada hal penting?bahkan ada beberapa orang yang terlihat gugup sepertinya takut kebohongan mereka akan terbongkar.
Presdir melangkah masuk dan duduk di kursi yang di khususkan untu para petinggi Perusahaan, terlihat ada dua kursi lagi yang masih kosong,satu kursi di samping Presdir yaitu milik CEO dan satu lagi kursi milik Meneger keuangan yaitu Pak Ahmad mertua Tristan.
"Baiklah karena semua sudah hadir mari kita memulai rapat,dan Presdir akan menyampaikan isi rapat kita pagi ini,silahkan Presdir."Pak arip membuka rapat.
" Terima kasih saya ucapkan untuk kalian semua karena sudah hadir memenuhi undangan saya,dan rapat kali ini bertujuan membahas tentang masalah isu yang menimpa Perusahaan akhir-akhir ini.Selain itu saya juga akan menyampaikan bahwa hari ini kita akan kedatangan dua orang yang sudah lama tidak hadir di Perusahaan ini,dan saya harap kalian semua mau membantu mereka dalam memperbaiki kinerja Perusahaan ."
Terdengar suara langkah kaki mendekati ruang rapat semua orang menoleh ke arah pintu.Dan Presdir kembali melanjutkan ucapannya.
"Dan kita sambut kedatangan mereka kembali ke Perusahaan ini,mereka adalah CEO dan juga Meneger keuangan Perusahaan ini,"Tristan Fernandez dan Pak Ahmad Refaldi."
Pintu ruang rapat terbuka dan memperlihatkan sosok dingin yang selama sepuluh tahun ini tak pernah menampakkan diri.Ada wajah wajah yang penuh dosa terlihat pucat dan gugup,mereka sudah merasakan aura dingin yang mencekam dari tatapan mata elang milik CEO,seolah-olah mengatakan."Mau lari kemana?kalian sudah tertangkap."
Bersambung.........
Sajen-sajen biar tambah semangat authornya.....๐ญ๐ญ๐ญ mau nangis rasanya sepi bener yang like dan komen๐.
__ADS_1