
Reva terbangun tepat jam dua malam.Rasa lapar membuatnya terbangun dari tidur lelapnya.
"Jam berapa ini?Kenapa perutku sakit sekali" Ucap Reva, seraya memegangi perutnya yang berbunyi gemerucuk.
"Ternyata sudah jam dua pagi.Kenapa Kak Tristan, tidak membangunkan aku,katanya mau ngajak makan malam." Gumam Kenza.
Setelah itu dia melirik Tristan, yamg tertidur pulas disampingnya.
"Kak,Kak Tristan, aku lapar" Ucap Reva seraya menggoyangkan tubuh Tristan.
Tristan yang terlelap seketika terbangun.Dengan mata yang berat Tristan mencoba mengumpulkan kesadarannya.
Setelah sadar Tristan, menatap wajah Reva, yang terlihat pucat,sambil meringis memegangi perutnya.
"Reva sayang,kamu kenapa,apa ada yang sakit?" Ucap Tristan, panik seraya meraba kening Reva.
"Aku gak apa-apa, Kak.Aku cuma lapar.Kakak bilang mau ngajak aku makan malam,kenapa malah kita tertidur,Kak Tristan, jahat membiarkan aku kelaparan." Rengek Reva.
"Maafin aku sayang.Aku lihat kamu sudah tidur, aku gak tega mau ngebangunin kamu,sekali lagi maaf ya.Kalau gitu ayo kita turun,aky juga belum makan." Ucap Tristan, menyesal karena tidak peka,dan membiarkan istrinya kelaparan.
Tristan segera membawa Reva turun ke dapur.Sampai di meja makan,Tristan meminta Reva, untuk duduk saja,biar dia yang menyiapkan semuanya.
Tristan memeriksa makanan di kulkas, ternyata ada banyak makanan yang dimasak bik Asih,tapi masih utuh.
Tristan, menghangatkan makanan tersebut menggunakan microwave.
Setelah beres Tristan, menata makanan di meja makan.Lalu menyendok nasi dan lauk pauk untuk Reva.
Tristan, ingin menyuapi namun Reva menolak, sebab dia tahu Tristan juga kelaparan.
"Udah,Kakak makan aja,biar aku makan sendiri.Bukanlah Kakak juga lapar?"
"Nanti aku makan,setelah kamu kenyang."
"Mana boleh begitu,Kak.Aku bisa makan sendiri,sekarang Kak Tristan makan juga ya"
"Baiklah,aku akan makan.Sekali lagi maaf ya,lagi-lagi aku tidak peka."
"Enggak apa-apa,Kak.Aku juga yang salah kenapa malah tidur,bukannya makan lebih dulu."
Akhirnya mereka menikmati makan malam yang terlewat.
Reva merasa senang karena perlakuan Tristan, yang begitu memanjakan dirinya.
Reva begitu bahagia saat tahu bahwa Tristan, juga mencintainya. Bahkan Tristan, lebih dulu memendam perasaan tersebut jauh sebelum dirinya mengenal Tristan.
Amarah Reva sudah mereda.Terlepas dari semua alasan yang diberikan Tristan, Reva merasa bersyukur sebab rekayasa yang dibuat oleh Tristan, juga ayahnya membuat mereka bisa menjadi suami istri yang Sah dimata hukum negara dan agama.
Reva, tidak ingin menyalahkan siapapun.Reva, yakin ini adalah jalan yang diberikan tuhan untuknya.
Andai tidak ada rekayasa tersebut mungkin saja Reva dan Tristan, tidak akan pernah bertemu dalam ikatan pernikahan.
Setelah selesai,Tristan, kemudian membersihkan meja sisa mereka makan.Lalu mengajak Reva, duduk di ruang tengah.Tristan, ingin bicara dari hati le hati dengan Reva.
"Sayang,Kamu udah maafin aku,Kan?."
"Tidak usah dibahas lagi,Kak.yang sudah lalu biarlah berlalu sekarang yang penting, bagaimana kita bisa menjalankan rumah tangga ini menjadi rumah tangga yang sakinah,mawahdah,warohmah.Dan mulai sekarang aku juga sudah siap untuk mengandung anak anak kita,Kak" Ucap Reva, malu.
"Apa kamu yakin?" Ucap Tristan, ragu.
__ADS_1
"Kenapa Kakak meragukan kesungguhan ku?"
"Bukan begitu,tapi aku sudah menemui Dokter kandungan tempatmu melakukan suntik Kb.Dia bilang perlu waktu beberapa bulan untuk mengembalikan kesuburan.Setelah melakukan metode tersebut"
"Jadi aku belum tentu bisa hamil dalam waktu dekat,Kak."
"Iya,menurut Dokter kamu perlu menjaga pola makan,hidup sehat,olah raga yang teratur makan makanan yang bergizi,dan harus mengkonsumsi vitamin.Agar reproduksi mu bisa kembali subur."
"Aku menyesal,melakukan ini Kak, bagaimana kalau ternyata aku tidak bisa hamil"
"Jangan putus asa begitu,kita hanya perlu konsultasi ke Dokter yang ahli di bidang ini,aku yakin kamu pasti bidang hamil secepatnya."
"Terima kasih,Kak. Karena sudah memilihku menjadi istrimu.Dan maaf karena aku belum bisa menjadi istri yang baik.
" Jangan bicara seperti itu.Akulah yang harusnya berterima kasih, sebab kamu mau menerima lelaki sakit mental seperti aku."
"Kak,berjanjilah bahwa kamu akan hidup dengan baik,jagalah hati dan cintamu hanya untukku"
"Itu sudah pasti sayang,dari pertama aku melihatmu,kita menikah hingga hari ini dan nanti aku akan selalu mencintaimu.Hanya kamu seorang yang ada disini sekarang" Ucap Tristan, seraya menunjuk hatinya.
"Kamu juga,hiduplah dengan baik.Jaga selalu hati dan cintamu untukku.Jadilah ibu untuk anak anak kita nanti."
"Ayo kita lanjut tidur,soalnya aky ngantuk,Kak" Ucap Reva, seraya menguap.
"Jangan tidur lagi,sebaiknya kita olah raga malam,bukankah tidak baik setelah makan lalu tidur."
"Olah raga malam?untuk apa Kak, besok pagi saja kita lari pagi keliling komplek, sekarang sebaiknya kita tidur."
"Maksudku olah raga bikin anak"
"Apa? ih Kakak otaknya mesum"
Tristan menggendong Reva menuju ke kamar mereka.
Tristan, akan menumpahkan kerinduannya kepada sang istri, yang sudah beberapa malam tidak pernah mencicipi manisnya tubuh sang istri.
Begitupun Reva sudah tidak canggung lagi untuk mengekspresikan perasaannya kepada Tristan.
Bahkan Reva sudah mulai liar mengimbangi permainan suaminya.
Dan dini hari yang begitu dingin sudah berubah menjadi panas oleh adegan demi adegan yang mereka mainkan.
Mereka berdua saling serang hingga waktu subuh menjelang barulah keduanya mengakhiri permainan panas mereka.
Tristan beberapa kali mendaratkan kecupan di kening Reva,sembari mengucapkan terima kasih diakhir permainan mereka.
Tristan segera beranjak ke kamar mandi untuk segera membersihkan diri sebab sudah memasuki waktu subuh.Begitu juga Reva bergegas mandi karena tidak ingin ketinggalan sholat subuh.
Selesai sholat keduanya bergegas turun.Mereka berniat untuk lari pagi mengelilingi komplek. Setelah itu Tristan ingin mengajak Reva pergi ke Rumah sakit untuk memeriksakan diri.Dan meminta resep vitamin untuk mengembalikan kesuburan sang istri.
Tepat jam sembilan pagi Reva dan Tristan, sudah berada di dalam mobil.Tujuan mereka kali ini adalah Rumah sakit yang akan dijadikan tempat konsultasi kesehatan reproduksi Reva.
Reva sebenarnya mengetahui resiko yang ditimbulkan bila menjalankan metode suntik Kb.Namun dia ingin memastikan lagi,agar tidak ada keraguan dihatinya.
Mereka sudah mengambil nomor antrian.
Ada banyak pasangan suami istri tyang mengantri untuk memeriksakan kandungan.
Ada yang perutnya masih rata,ada yang masih ngidam,ada juga perut yang mulai menonjol,bahkan ada yang sudah membesar Sepertinya menunggu detik detik kelahiran sang anak.
__ADS_1
Reva merasa ingin secepatnya hamil, ketika melihat para suami yang begitu siaga menjaga istri mereka saat hamil.
Apa Kak Tristan, akan memperlakukan aku sebaik perlakuan mereka bila nanti aku hamil?.
Reva bertanya tanya dalam hatinya.
Tristan, meraih tangan Reva, lalu mengecupnya mesra.Ada banyak pasang mata yang kagum akan kemesraan mereka.
Seorang ibu yang tengah hamil tua,yang posisinya duduk di samping bangku Reva, mengajak Reva, berbincang.
"Hamil berapa bulan mbak?"
"Belum mbak,ini lagi mau cek kandungan"
"Memangnya sudah menikah berapa lama?"
"Baru jalan empat bulan mbak"
"Ohh pengantin baru rupanya,kalau aku hamil anak ketiga mbak"
"Wah hebat mbaknya sudah yang ketiga ya"
"Iya,yang sulung dan yang kedua s cewek mbak,makanya hamil lagi karena mau minta yang cowok"
"Semoga saja cowok ya mbak.Memangnya mbak gak USG,biar mastiin cowok atau cewek"
"Enggak niatnya sih biar jadi kejutan gitu,mau cewek atau cowok kami terima mbak."
"Iya mbak ngapain ditolak itukan rizki pemberian tuhan."
"Iya,suami juga enggak ngotot harus cowok,katanya yang penting ibu dan anaknya sehat.Itu sudah lebih dari cukup."
"Saya doakan mudah mudahan cowok mbak,biar lengkap"
"Aamiin,terima kasih atas doa baiknya.Saya juga doakan Mba semoga segera hamil"
"Aamiin.Terima kasih,mbak.
Tak lama nama Reva di panggil.
"Nyonya Reva amanda."
Reva dan Tristan, segera masuk kedalam ruang pemeriksaan.
Dokter mulai melakukan pemeriksaan setelah mengajukan beberapa pertanyaan terkait masalah mereka.
Dokter melakukan USG untuk melihat seberapa besar tingkat kesuburan Reva.
Setelah melewati serangkaian pemeriksaan, akhirnya Tristan dan reva bisa bernapas lega.Pasalnya hasil pemeriksaan tersebut menunjukkan bahwa alat reproduksi Reva baik-baik saja,tidak ada kendala sedikitpun.
Mereka hanya perlu mengikuti anjuran yan diberikan oleh Dokter.Dan secara rutin memeriksakan diri.Serta mengikuti program hamil.
Reva dan Tristan, keluar dari ruangan dokter dengan senyum sumringah. Sebab harapan mereka untuk memiliki anak akan segera terwujud.
Tristan berniat mengajak Reva jalan jalan, menikmati akhir pekan bersama.
Tristan berjanji akan selalu membahagiakan Reva, dan menjaga serta memprioritaskan Reva selalu.
Bersambung........
__ADS_1