DOKTER CINTA CEO

DOKTER CINTA CEO
Bab 6


__ADS_3

"Nathan apa yang kau lakukan pada istriku!"


Suara bariton itu seketika membuat Nathan tersadar dengan cepat ia bangkit dari atas tubuh Reva.


" Maaf saya tidak sengaja Nona"


Tristan bangkit dari ranjangnya dan tertatih mendekati Reva, dan mengulurkan tangan membantu Reva berdiri.


"Mata mu sudah tidak befungsi rupanya, manusia sebesar ini masih tak terlihat...kamu sengaja kan?."


"Aku benar-benar tidak sengaja Tristan, aku tidak melihatnya berdiri disini sungguh."


"Sudah pergi sana! membuat mood ku semakin jelek saja."


"Ini juga sudah mau pulang, hai...Kakak ipar perkenalkan saya Nathan, dokter sekaligus sepupu Tristan" Nathan mengenalkan diri dan mengulurkan tangan.


"Saya Reva, saya..."


Reva mengulurkan tangan belum sempat mereka bersalaman Tristan meraih tangan Reva, dan menggenggamnya erat.


"Jangan sentuh nanti tangan mu terkontaminasi dia itu dokter yang mengobati banyak pasien pasti virus dan bakteri bersemayam di tangannya."


"Ya ampun Tristan, kenapa dari dulu otak mu ga pernah berubah selalu menaruh curiga padaku."


"Baiklah aku permisi Kakak ipar hati hati jangan mau dekat dekat dia soalnya dia sudah menjomblo selama sepuluh tahun, takutnya pusakanya sudah karatan ha..ha..." Setelah berucap begitu Nathan berlari menuruni tangga.


Tinggal mereka berdua berdiri dengan tangan masih menggenggam dengan erat.


Reva merasakan debaran yang aneh, jantungnya seolah di pompa dengan kuat, tubuhnya seakan di aliri listrik dengan tegangan tinggi, ingin rasanya dia melepas genggaman tangan dan pergi namun hatinya menolak.


Tristan ikut merasakan gugup, dia baru menyadari tangan nya masih terpaut dengan tangan Reva, perlahan ia urai genggaman tangannya walaupun sebenarnya hatinya tak rela.


"Kenapa Kakak ga bilang kalau ga bisa makan pedas, kenapa malah menyiksa diri sendiri maaf ya kak aku gak tau kalau Kak Tristan ga bisa makan pedas akhirnya jadi sakit kan?"


"Aku ga apa apa cuma butuh istirahat nanti juga sembuh"


"Mana resep obat yang dokter kasih biar aku minta tolong BIk Asih menebusnya di apotik."


Tristan memberikan resep obat pada Reva, lalu Reva bergegas mencari Bik Asih, dan memintanya pergi ke apotik terdekat.

__ADS_1


Reva kembali naik ke kamar dan menemui Tristan.


"Apa Kakak masih suka ke kamar mandi?"


"Sudah tidak lagi, sepertinya isi di perutku sudah habis."


"Apa perut Kakak masih sakit dan bagian mana yang sakit?"


"Sudah ga sakit lagi, hanya saja badanku terasa lemas mungkin karena terlalu sering bolak balik kamar mandi."


Reva turun ke bawah menuju dapur dia berniat membuatkan Tristan bubur dan sup ayam.


Tak lama kemudian BIk Asih datang membawa obat, beruntung bubur dan sup buatan Reva sudah matang, segera Reva membawanya ke kamar.


"Kak makan bubur dulu baru setelah itu minum obat"


Reva mendekat dan meletakkan nampan berisi bubur juga sup ayam di atas tempat tidur, namun Tristan tidak juga menyentuh nampan tersebut Reva mendengus kesal lalu mendekat dan duduk di tepi ranjang kemudian mengambil nampan.


"kakak mau aku suapi?"


"Boleh kalau tidak merepotkan"


"kenapa tidak bilang terus terang kalau minta di suapi" ...batin Reva.


Reva mulai menyendok bubur lalu meniupnya baru Setelah itu dia suapkan ke mulut Tristan.


"Kak maaf ya baru sehari aku disini sudah buat Kakak saki,t aku ini memang tidak becus bukannya merawat dan melayani Kakak dengan baik malah buat Kakak sakit.


"Sudah, ini bukan salah mu aku yang salah tidak memberi tau mu kalau tidak bisa makan pedas bahkan aku sudah tau itu pedas tapi tetap saja ku santap."


Reva dengan telaten menyuapkan bubur untuk Tristan hingga suapan terakhir, setelah itu dia membuka bungkus obat dan mengeluarkannya satu persatu lalu memberikan nya pada Tristan.


"Sekarang Kakak istirahat kalau butuh apa apa panggil aku Kak" Reva menyelimuti Tristan dan hendak keluar namun sebelum dia beranjak Tristan menahan Reva dengan memegang tangannya, reva menoleh dan kembali duduk.


"Apa masih ada yang kakak butuhkan atau ada yang sakit?"


Tristan menggeleng "Aku cuma mau ngomong makasih udah ngerawat aku"


"Bukan kah itu sudah jadi tugasku?"

__ADS_1


"Reva, ada yang mau aku tanyakan tolong kamu jawab dengan jujur"


"Apa Kak?"


"Reva, apa kamu menyesal menikah dengan ku?


kamu mengorbankan kan masa depan mu untuk merawat lelaki seperti ku apa kamu tidak ingin kembali ke merajut mimpi mimpimu?"


"Tak pernah ada kata sesal untuk sesuatu yang sudah aku putuskan, aku meyakini apa yang saat ini ku alami adalah bagian takdir tuhan yang sudah ia rencanakan dan tak bisa aku tolak"


"Kalau begitu apa keinginan mu saat ini? katakan lah aku akan mengabulkannya"


"Apa boleh aku melanjutkan kuliah?...."


"Tentu saja boleh, asalkan kamu tau batasan dan melakukan kewajiban mu dengan baik, dan tidak melalaikan tugasmu sebagai seorang istri buat ku tak masalah"


"Terima kasih Kak"


"Reva, kamu tau sendiri kan dengan apa yang selama ini menimpaku, tidak mudah untukku melupakan semuanya bahkan sudah sepuluh tahun namun kejadian itu tetap menjadi bayang bayang yang menghalangi langkahku."


"Aku ingin membangun hubungan ini perlahan, dan aku harap kamu bisa bersabar denganku"


"Insyaallah Kak, aku akan menemani Kakak melewati ini semua aku tau ini tidak mudah tapi mari kita coba"


Rernyata ada hikmah di balik suatu musibah dengan Tristan sakit membuat hubungannya dan Reva menjadi dekat.


...****************...


Dilain tempat di sebuah gedung tinggi pencakar langit seorang pria paruh baya nampak sedang murka.


"Aku memberi mu tugas seperti itu saja tidak becus mengapa perusahaan itu masih berdiri kokoh bukan kah minggu lalu kamu bilang kalau perusahaan itu sudah hampir bangkrut benar benar tidak berguna" Plak...plak...sebuah tamparan mendarat di wajah pria yang saat ini menunduk dan bersimpuh di lantai.


"Benar Tuan seperti yang saya katakan minggu lalu, saya sudah berhasil membuat perusahaan itu goyah dengan menyabotase dana ratusan miliar dan saya limpahkan kesalahan itu kepada menejer keuangan dan sempat membuat perusahaan hampir bangkrut dan membuat para relasi menarik semua sahamnya."


"Lalu apa ini? perusahaan itu tetap berjaya bahkan relasinya semakin banyak pokoknya aku tidak mau tau kamu harus membuat perusahaan itu benar benar bangkrut bagaimana pun caranya,


sebab sebelum aku melihat kehancuran Tristan dan keluarganya aku tak kan pernah puas sebelum Dendam ku terbalaskan nyawa harus di bayar nyawa putri ku meninggal karena dia, aku takkan membiarkan nya hidup dengan tenang!."


Tampak kilatan dendam di mata pria yang bernama Baskoro, dia adalah Ayah dari Renata wanita yang di cintai Tristan, dan harus meninggal karena kecelakaan.

__ADS_1


**Bersambung**.....


Terima kasih buat yang sudah mampir dan membaca karya aku semoga kalian puas dan terima kasih juga yang udah ngasih like dan komen karena ini adalah semangat buat author berkarya mohon vote nya ya kak 🙏🙏


__ADS_2