DOKTER CINTA CEO

DOKTER CINTA CEO
Bab 55


__ADS_3

Akhirnya hari yang ditunggu oleh Mira dan Burhan tiba.Hari ini hari minggu dimana mereka ingin menemui Dewi atau Gina di pasar tradisional,tepatnya di apotik tempat mereka bertemu.


Mira sengaja mengajak ayahnya untuk pergi ke pasar bersama.


Dalam perjalanan Mira mengungkapkan niatnya untuk menemui Dewi di apotik nanti.


Burhan yang mengetahui niat anaknya merasa terkejut,heran mengapa mereka bisa memiliki keinginan yang sama.


"Apa ada alasan khusus,kenapa kamu ingin menemui perempuan itu."


"Entahlah Ayah,sejak pertama bertemu dengan wanita tersebut aku merasakan adanya sebuah ikatan diantara kami.Sejak saat itu aku begitu ingin bertemu kembali dengan beliau,ada semacam perasaan rindu yang begitu dalam padanya."


"Ayah juga merasakan hal yang sama denganmu, meski Ayah tidak sempat melihat wajahnya tapi entah mengapa hanya mendengar suaranya saja membuat Ayah meyakini,bahwa dia adalah Gina,Ibumu."


"Apa mungkin Ibu sebenarnya masih hidup,tapi dia bersembunyi di suatu tempat?"


"Entahlah Mira, Ayah juga bingung.Sebaiknya kita temui dulu dan pastikan siapa sebenarnya wanita itu"


"Kalau misalkan dia adalah Ibu,apa yang harus kita lakukan, Ayah?,bagaimana kalau dia sudah memiliki keluarga yang baru.Atau mungkin berita yang tersebar dulu benar adanya bahwa ibu lari dengan pria lain?"


"Ayah yakin ibumu tidak setega itu terhadap kita,Ayah mengenal sifat lembut ibumu,Nak."


"Aku sangat berharap agar wanita itu adalah ibu."


"Sebenarnya Ayah pun demikian, tapi Ayah takut kita kecewa,Mira. Bukankah pegawai apotik itu bilang kalau namanya Dewi,itu artinya dia bukanlah Gina,ibumu"


"Bukankah tidak ada hal yang sulit bila tuhan ingin memberikan kita jalan,mungkin saja ini jalan untuk kita menemukan kembali wanita yang mirip seperti ibu,dan aku berharap dia benar-benar ibu." Ucap Mira penuh pengharapan.


"Aamiin semoga saja ya,Nak"


Tampa terasa mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki kawasan pasar.Mira dan Burhan segera turun,tempat yang mereka tuju adalah apotik.


Saat mereka tiba di sana,apotik sudah penuh sesak dengan para pengunjung.Karena cuaca yang tidak menentu membuat sebagian orang cepat terserang penyakit.


Mira segera menemui pegawai yang tempo hari memberikan kejelasan tentang sosok Dewi.


"Selamat pagi Nona, ada yang bisa saya bantu" Sapa pegawai apotik tersebut.


"Pagi mbak,saya yang minggu kemarin datang kesini,yang menanyakan tentang Ibu Dewi,apa beliau sudah datang mbak?"


"Maaf sekali Nona, sampai sekarang Ibu Dewi belum datang,dan sepertinya beliau dan rekan rekannya sesama penjual sayuran tidak akan datang hari ini." Ucap pegawai apotik tersebut.


"Memangnya mereka ada masalah apa,mbak?" Ucap Mira penasaran.


"Kabar yang saya dengar,ibunya meninggal dunia tadi pagi,jadi sudah dipastikan bahwa beliau tidak akan datang hari ini,Nona."


Mira dan Burhan merasa kecewa mendengar kabar tersebut.Namun Mira, tidak kehabisan akal,ia kembali menanyakan alamat Dewi pada pegawai apotik tersebut.


"Maaf mbak,apa mbak tahu alamat ibu Dewi dimana?"


"Wah ... maaf sekali Nona, saya tidak tau alamat jelasnya dimana.Soalnya kami tidak pernah berbincang yang lama,kami hanya berinteraksi antara pegawai dan konsumen jadi tidak pernah menanyakan hal yang bersifat pribadi."


"Selain ke apotik biasanya ibu Dewi pergi ke toko mana saja,mbak.?''


" Setahu saya sebelum ibu Dewi kemari beliau terlebih dulu menjual sayuran dan buah buahan yang mereka bawa kepada penampung yang ada di bawah sana.Silahkan anda pergi ke pasar bawah,silahkan cari penadah sayuran dan buah buahan,kalau tidak salah namanya bapak Pendi." Terang gadis pegawai tersebut panjang lebar.


Mira dan Burhan merasa lega,sebab pencarian mereka masih bisa berlanjut.Mereka berdua bergegas pergi ke pasar bawah yang dimaksud pegawai apotik tadi.Setelah lama berkeliling akhirnya Mira dan Burhan. Bisa menemukan keberadaan tukang sayuran tersebut.

__ADS_1


Pemilik lapak sayuran tersebut merupakan Sepasang suami istri yang berusia lima puluhan tahun.


Saat mereka tiba di sana suasana begitu ramai.Mira dan Burhan merasa sungkan untuk bertanya sekarang.


Rupanya Pak Pendi memperhatikan mereka yang hanya berdiam diri tampa berniat memilih sayuran seperti orang-orang yang ada di sana.


Pak Pendi menghampiri Burhan,lalu menanyakan maksud kedatangan mereka di sana.


"Permisi Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" Sapa Pak Pendi.


"Saya kurang enak untuk bicara sekarang Pak,sebab saya lihat Bapak dan ibu sedang sibuk melayani pembeli"


"Tidak apa-apa Tuan,ada istri dan juga pelayan yang membantu,kalau ada yang mau Tuan tanyakan,mari kita ngobrol sambil ngopi di sana?" Ucap Pak pendi menunjuk kedai kopi yang ada di ujung lapak.Lalu berpamitan pada sang istri.


Mira dan Burhan mengikuti Pak Pendi dari belakang.


Sesampainya di kedai kopi Burhan dan Pak Pendi memesan kopi sedangkan Mira hanya minta teh manis.


"Apa sekira yang bisa saya bantu,Tuan" Ucap Pak Pendi setelah memesan kopi.


"Perkenalkan dulu Pak,saya Burhan dan ini anak saya Mira.Mungkin Bapak heran mengapa saya bisa mengenal Pak Pendi.Saya tahu Bapak dari pegawai apotik yang ada di pasar atas." Pak Pendi semakin penasaran dengan kedatangan ayah dan anak ke lapak miliknya.


"Sebenarnya ada apa,Tuan?"


"Maksud kedatangan kami ke sini untuk menanyakan alamat ibu Dewi,yang suka menjual hasil panennya kepada anda,Pak."


"Oh ibu Dewi,ada apa gerangan,Tuan?setahu saya alamat ibu Dewi ada di desa terpencil, tepatnya di ujung kota sana.Perjalanan ke sana bila mengendarai mobil bisa memakan waktu tiga hingga empat jam.Memangnya ada urusan apa Tuan dan Nona dengan bu Dewi?"


"Kami hanya ingin bersilaturahmi, Pak.Sebab sudah lama kami tidak bertemu.Sejak keluarga ibu Dewi pindah beberapa tahun yang lalu kami sudah tidak pernah lagi saling mengunjungi.Ibu Dewi kerabat dekat mendiang istri saya.Mira anak saya ingin bertemu dengan keluarga ibunya" Ucap Burhan. Sengaja berdusta agar Pak Pendi tidak curiga.


Kemudian pak Pendi,mengeluarkan kertas dan pena lalu menuliskan alamat yang diminta Burhan.Setelah itu kertas tersebut ia berikan pada Burhan.


"Sama sama,Tuan." Balas Pak Pendi lalu menyeruput kopi yang asapnya masih mengepul.


Sebelum pamit mereka berbincang sejenak.Setelah kopi tandas akhirnya Burhan dan Mira, pamit pulang.


"Kalau begitu kami permisi,Pak.Maaf sudah mengganggu waktunya,dan terima kasih banyak karena sudah mau membantu kami,Pak."


"Sama sama,Tuan.Anda tidak perlu sungkan begitu sudah selayaknya kita saling bantu" Ucap Pak Pendi.


Setelah saling berjabat tangan akhirnya Burhan dan Mira melangkah pergi menuju ke parkiran.


"Bagaimana menurut mu,apa kita pergi ke sana hari ini?" Tanya Burhan.


"Aku rasa lebih cepat akan lebih baik,Ayah.Sekarang baru pukul sembilan,menurut Pak Pendi perjalanan ke sana membutuhkan waktu empat jam kalau kita pergi sekarang itu artinya,pukul satu baru kita sampai.Aku rasa kita masih punya banyak waktu untuk pergi sekarang,Ayah."


"Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang juga" Ajak Burhan.


Akhirnya Burhan dan Mira sepakat mereka akan pergi ke tempat Dewi hari itu juga.


Berkat petunjuk peta di aplikasi ponsel Mira, akhirnya mereka bisa sampai ke desa tersebut tepat jam dua belas siang.Itu artinya mereka hanya menghabiskan waktu tiga jam untuk tiba di sana.


Warga desa yang merasa asing dengan kedatangan Burhan dan Mira dibuat penasaran, apalagi mobil yang mereka tunggangi bukanlah mobil biasa,melainkan mobil mewah yang harganya mencapai ratusan juta.


Mobil berhenti disalah satu rumah warga yang merupakan kepala desa di sana.


Melihat kedatangan orang asing membuat para warga berkumpul,mengerubungi mobil Burhan dan Mira.

__ADS_1


Burhan dan Mira turun dari mobil.Membuat warga semakin ingin tahu,apa tujuan mereka datang ke sana.


"Maaf Pak,Ibu saya mau tanya apa ada yang tahu rumah ibu Dewi ada di mana?" Mira bertanya kepada beberapa warga yang ada di hadapannya.


"Anda siapa,dan ada perlu apa menemui Dewi?.Sekarang beliau sedang berduka karena ibunya meninggal tadi pagi.Silahkan Tuan dan Nona menemui Pak kades terlebih dahulu,beliau ada di dalam rumahnya." Ucap salah satu warga kemudian memberikan jalan untuk kedua tamu mereka masuk kedalam rumah Pak kades.


"Assalamualaikum" Ucap Burhan dan Mira, berbarengan.


"Walaikumsalam" Suara seorang pria menjawab dari dalam rumah.


Pak Kades segera keluar menghampiri kedua tamunya.


"Mari silahkan masuk,Tuan dan Nona ini dari mana dan ada perlu apa kemari" Ucap Pak Kades,seraya mengulurkan tangan menyalami Mira dan Burhan.


"Perkenalkan Pak kades,saya Burhan dan ini putri saya Mira. Kami dari kota,sebelumnya kami minta maaf sekiranya kedatangan kami mengganggu waktu anda,Pak." Ucap Burhan.


"Tidak apa-apa,Tuan.Justru saya senang atas kunjungan anda berdua kemari.Ada perlu apa sebenarnya,sehingga membuat anda bertandang ke desa terpencil kami."


"Kedatangan saya dan anak saya kemari bertujuan untuk mencari rumah Dewi,Pak kades."


"Dewi??"


"Iya Pak Kades,saya dan anak saya ada sedikit keperluan dengan beliau.Mohon kiranya untuk memberi kan izin untuk datang menemui beliau"


"Begini,Tuan.Dewi saat ini masih berduka atas kepergian ibunya tadi pagi.Kami baru saja pulang dari pemakaman bu Halimah,ibunya Dewi.''


"Saya turut berdukacita Pak,atas kabar duka tersebut.Mungkin kedatangan kami waktunya kurang pas,tapi kami sudah datang dari jauh dan tidak mungkin kami pulang tampa menemui Dewi terlebih dahulu."


"Ada apa sebenarnya,Tuan.Apa ada hal yang serius?"


"Maaf Pak bila pertanyaan saya ini lancang.Kalau boleh tahu Dewi ini memang asli orang sini atau pindahan,Pak?" Ucap Burhan penuh selidik.


"Sebenarnya saya juga orang baru disini,Tuan.Maksud saya memang saya asli kelahiran di desa ini,tapi sejak kecil saya sudah tinggal dan kerja di kota.Saya kembali ke desa ini baru sepuluh tahun terakhir, karena mendiang ayah saya meminta saya pulang karena beliau sudah sakit-sakitan. Makanya saya pulang kemari.Dan untuk Dewi sendiri saya kurang tahu,sebaiknya kita tanyakan langsung pada ibu saya,beliau ada di dalam,biar saya panggil dulu." Ucap Pak kades seraya melangkah masuk kedalam.


Usia Pak kades sepertinya seumuran dengan Burhan.Melihat raut wajahnya yang mulai menua.


Tak lama ibu dari pak kades keluar dari belakang.Bersama dengan Pak kades.


"Ini lho Bu,tamu yang saya ceritakan. Mereka ini dari kota dan ingin mencari rumah Dewi,dan Pak Burhan menanyakan tentang identitas asli Dewi.Apa benar dia asli sini atau pindahan dari desa lain." ucap Pak kades.


Burhan dan mira bangkit dari duduk lalu menyalami tangan ibu dari Pak kades.


"Selamat siang,Bu.Maaf mengganggu waktu anda sejenak.Mohon kiranya ibu membantu saya untuk menceritakan siapa Dewi sebenarnya."


"Sebelumnya saya mau tanya,apa hubungan Tuan, dan Dewi mengapa anda ingin mencari tahu tentangnya"


"Sebenarnya saya sedang mencari istri saya yang hilang dua puluh tahun yang lalu.Saya mencari tahu identitas Dewi karena Beliau mirip sekali dengan istri saya yang hilang dulu." Ucap Burhan,namun mampu membuat ibu dari Pak kades ternganga.


Apa mungkin Dewi adalah istri pria yang saat ini bertanya padaku,kalau ia berarti benar tebakan suamiku dulu bahwa Dewi sebenarnya anak orang kaya yang berasal dari kota.


"Bu,kenapa ibu bengong,itu Tuan Burhan ngajak ibu ngomong dari tadi" Ucap Pak kades heran.


"Dewi itu sebenarnya......."


Bersambung.........


Halo semua apa kabar semoga kalian sehat ya.Saya ucapkan banyak terima kasih atas partisipasi dan juga dukungannya,tampa kalian author bukan apa-apa.

__ADS_1


Intinya terima kasih sebanyak banyaknya karena sudah memberikan waktunya untuk membaca karya saya.


semoga kedepannya saya bisa lebih baik lagi dalam berkarya.Serta mendapatkan dukungan penuh dari kalian semua.Jangan lupa Setelah baca tinggalkan jejak kalian.,😘🥰🥰


__ADS_2