
Sepekan sudah Reva terkurung di mansion. Tampa ada kegiatan apapun.Membuat Reva, merasa bosan.
Reva sedang berpikir bagaimana caranya agar dia bisa keluar dari mansion, dan menghirup udara bebas di luar sana.
"Aaaa ... aku bosan aku mau keluar,ibu tolong anak mu bosan,Bu ....!"
Reva, terus memikirkan cara agar dia tidak mendapat masalah, saat keluar tampa izin dari Tristan.
"Aku,tahu semoga saja ide ku kali ini berhasil!" Ucap Reva seraya mengacungkan tinjunya ke udara ,menyemangati dirinya sendiri.
Reva bergegas turun lalu meminta Bik Asih menyiapkan bekal.Hari ini Reva, akan kekantor membawakan makan siang untuk Tristan.
"Bik,Bik Asih ... "
"Ada apa Non,apa ada yang Non Reva butuhkan,mengapa harus berlari lari seperti itu Non, kalau jatuh bagai mana?"
"Bik,tolong siapkan bekal makan siang,aku mau mengantar makan siang ke kantor Kak Tristan."
"Apa,untuk apa Non, nanti Tuan Tristan marah,apa Non Reva sudah minta izin sama Tuan.?"
"Aku mau kasih suprise, Bik.Jadi tidak perlu meminta izin.Lagi pula aku akan minta antar sama Pak Ujang,dan juga di kawal sama Kak Dion.Jadi Bibi gak perlu khawatir."
" Kalau begitu saya akan siapkan,tunggu sebentar ya Non"
" Iya,terima kasih ya Bik Asih"
"Tidak perlu berterima kasih,Non.Memang sudah tugas saya"
"Kalau begitu aku akan bersiap dulu,satu jam lagi aku akan berangkat.Oh,iya apa Bik Asih melihat pak Ujang dan kak Dion?"
"Mereka ada di teras depan,Non.Apa perlu saya panggil?"
"Tidak perlu Bik,biar saya yang menemui mereka Bik Asih lanjutin aja pekerjaan Bik Asih."
"Baik,Non."
Reva segera berlalu,melangkah ke arah teras depan mencari keberadaan Ujang dan Dion.
Saat Reva membuka pintu,terlihat Dion dan timnya serta pak Ujang tengah berbincang.Namun Reva dibuat heran oleh kelakuan para pengawalnya saat menyadari kedatangan Reva, mereka menundukkan kepala,tidak berani menatap wajah Reva.
"Ada apa,mengapa mereka semua menunduk. Apa tampang ku menakutkan, atau ada yang salah dengan penampilanku?" Gumam Reva, mencoba menerka perubahan sikap para pengawalnya.
"Permisi Kak Dion,aku mau ke kantor,mengantar makan siang.Siapkan mobil dan pengawal yang lain.Satu jam lagi kita berangkat"
"Apa Nona Muda sudah minta izin,saya tidak berani mengawal Nona keluar dari mansion tampa izin dari Tuan Tristan."
"Tidak perlu izin,bukankah kita akan pergi kekantor nya,jadi tidak perlu izin.Kalaupun Tuan mu marah,aku yang akan menghadapi kemarahannya"
"Baiklah Nona, saya akan mempersiapkan semuanya"
"Tunggu dulu,kenapa kalian menunduk saat melihat kedatanganku,apa wajahku sangat menakutkan?.Kak Dion juga saat berbicara denganku tidak pernah sekalipun melihat kearah ku,ada apa ini,apa ada masalah?"
"Tidak ada masalah,Nona Muda.Kami hanya tidak mau terkena masalah nantinya" Dion menjawab pertanyaan Reva,dengan tetap menunduk tidak berani mengangkat wajahnya.
"Terkena masalah,Maksud nya?"
"Sudahlah Nona Muda,lupakan bukan apa-apa, sebaiknya anda bersiap satu jam lagi kita berangkat"
Mau tak mau Reva, akhirnya menurut.Reva, memilih bersiap,tidak lagi menanyakan sikap para pengawal di rumahnya.
"Bukankah tidak sopan,bicara namun tidak mau menatap wajah,semua orang di rumah ini berubah jadi aneh" Gumam Reva, seraya menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Satu jam kemudian Reva sudah selesai bersiap.Kemudian dia turun menemui bik Asih,mengambil bekal permintaanya. Lalu melangkah ke teras depan menemui Dion dan para pengawalnya.
"Silahkan Nona" Ucap Dion seraya membuka pintu mobil penumpang,kemudian dia masuk kedalam mobil dan mengambil alih kemudi.
Kali ini Dion yang akan mengemudikan mobil yang di tumpangi Reva.
Sedangkan beberapa anak buahnya akan mengawal mereka dari belakang.
__ADS_1
Tidak ada percakapan diantara Reva, dan Dion saat diperjalanan.
Dion memilih bungkam,tidak ingin mendapat masalah bila sampai ketahuan, mengajak Nona mudanya berbincang.
Tiga puluh menit kemudian mobil yang membawa Reva, sudah tiba di halaman kantor.
Dion segera turun lalu membukakan pintu mobil untuk Reva.
Kemudian Dion meminta salah satu anak buahnya untuk memarkirkan mobil, sementara dirinya akan mengawal Reva, hingga ke depan pintu ruangan Tristan.
Dion sengaja menjaga jarak dari Reva agar karyawan kantor tidak bertanya siapa sebenarnya Reva koo.
Saat tiba di lobi kantor. Reva segera menyapa staf yang berada di sana.
"Selamat siang Nona, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya salah seorang resepsionis.
"Saya ingin bertemu dengan Kak Tristan."
"Mohon maaf, apa Nona sudah buat janji"
"Tidak,saya tidak sempat membuat janji"
"Kalau begitu mohon maaf Nona, anda tidak bisa bertemu dengan Tuan Tristan, sekarang.Silahkan buat janji terlebih dahulu" Ucap staf wanita tersebut.Dia tidak tahu bahwa yang dihadapannya adalah istri dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja sekarang.
Dari kejauhan Dion yang melihat Reva, sedang berbincang dengan salah satu resepsionis kantor.
"Apa ada masalah Nona?" Ucap Dion menghampiri Reva.
"Begini Tuan, Nona ini meminta untuk bertemu dengan Tuan Tristan tapi dia belum membuat janji,jadi saya tidak memberinya izin masuk"
"Biarkan dia masuk,kalau kamu tidak mau mendapat masalah"
"Tapi Tuan, bukankah sudah jadi peraturan kantor,tidak boleh sembarangan orang yang keluar masuk kantor tampa izin atau membuat janji terlebih dahulu"
"Aku tahu,tapi itu berlaku untuk orang asing.Tapi tidak untuk pemilik perusahaan itu sendiri"
"Maksud anda Tuan?"
Sesampainya di depan ruangan Tristan.Salah seorang staf yang ada di depan ruangan tersebut kembali menahan,saat Reva akan masuk kedalam ruangan.
"Tunggu Nona,anda ini siapa Dan ingin bertemu siapa?" Ucap wanita tersebut, dengan wajah yang terlihat sinis.
"Dia ingin bertemu dengan Tuan Tristan, apa ada masalah?" Ucap Dion,kesal.
"Tuan Tristan, sedang ada tamu,jadi silahkan tunggu sebentar,saya akan memberitahu beliau,apakah ada waktu untuk menemui kalian atau tidak" Ucap staf wanita tersebut masih dengan wajah sinisnya.
Rupanya staf wanita ini baru dia tidak mengenali Dion.
Sedangkan Reva, terlihat kesal.Sebab dua kali mendapatkan perlakuan yang menurutnya tidak mengenakkan.
Reva membaca tag name yang ada di dada kiri wanita tersebut.
"Fiola,jadi namamu Fiola" Ucap Reva, menghapal nama tersebut.
"Memangnya kenapa dengan nama saya,apa anda ingin menggantikan posisi saya" Ucapnya terdengar makin sinis.
"Boleh juga,tapi untuk apa aku berdiri disini menggantikan tugasmu,kalau hanya dengan berbaring di rumah aku bisa mendapatkan uang ratusan kali lipat dari gaji mu."
"Cih... sombong sekali,apa anda simpanan Tuan Tristan?,Kalau begitu wajar bila anda bisa mendapatkan uang hanya dengan cara berbaring ha ha ha"
"Saya harap anda bisa menjaga sopan santun anda,kalau tidak mau menyesal nantinya!" Ucap Dion mulai terpancing emosi.
"Sudahlah,Kak. Mungkin dia tidak tahu siapa kita.Biarkan saja tidak perlu di ladeni" Ucap Reva,tenang.
"Sekarang hubungi Tuan Tristan, katakan padanya Dion membawa Nona Muda mengantarkan makan siang!" Ucap Dion semakin kesal.
"Baiklah,silahkan tunggu sebentar." Ucap Fiola lalu menekan nomor telpon yang ada di meja kerjanya.
"Halo ,Tuan. Maaf Tuan ini ada seseorang yang bernama" Fiola bertanya pada Dion dengan bahasa isyarat menanyakan namanya."Dion" Ucap Dion berbisik.
__ADS_1
"Dion,dia datang bersama bocah membawakan anda makan siang"
"Hay,kenapa kau lancang,dia bukan bocah,tapi Nona Muda!" Bentak Dion marah.
Suara Dion terdengar oleh Tristan, sebab panggilan masih berlangsung.
Tampa mendengar ucapan Fiola lagi,Tristan segera beranjak dari kursi kebesarannya, lalu melangkah keluar dari ruangannya.
Meninggalkan dua orang tamu yang sedang membicarakan kerjasama mereka.
Tristan membuka pintu ruangan.Dia begitu terkejut saat melihat kedatangan Reva.
"Dion,apa yang kau lakukan.Mengapa membawanya kemari,apa telinga mu bermasalah. Bukankah sudah aku katakan jangan membiarkan Nona muda kalian berkeliaran,tapi apa ini.Kenapa kalian malah berada disini!" Ucap Tristan, marah.Sementara itu Dion sudah pasrah dia akan menerima hukuman apa saja yang akan diberikan Tristan, padanya.
Sedangkan Fiola semakin pusing,melihat drama yang ada di hadapannya.
"Sayang,Jangan memarahi Kak Dion,dia tidak bersalah.Aku yang memaksanya mengantarku kemari,karena aku bosan di mansion terus." Ucap Reva seraya mendekap tubuh Tristan, membuat Tristan seketika melembut.
"Kalau begitu ayo kita masuk keruangan ku,Dion silahkan kamu tunggu di bawah"
"Baik,saya permisi Tuan." Ucap Dion segera berlalu tampa menunggu jawaban dari Tristan. Tidak mendapatkan hukuman,membuat Dion sudah sangat bersyukur,ternyata Reva benar-benar melindunginya.
Tristan, segera membawa Reva, masuk kedalam ruangannya, seraya merangkul pinggang ramping milik Reva.
Fiola yang melihat kejadian itu,semakin yakin dengan dugaannya bahwa Reva adalah simpanan Tristan.
Saat tiba didalam ruangan Reva dikejutkan dengan adanya dua wanita yang duduk di sofa ruangan tersebut.
Mereka adalah Sonya, dan Raysa.
Tristan membiarkan mereka datang ke kantor.Sebab Tristan tidak ingin menemui Sonya di luar kantor,apa lagi saat ini Roy sedang mengikuti meeting di perusaahan lain.
Terpaksa Tristan yang menemui Sonya dan Raysa.Dengan syarat tidak boleh mencampur adukkan urusan pribadi dan kantor.
Sonya berjanji tidak akan melanggar dari itulah Tristan, menemui mereka sekarang.
Sonya dan Raysa terkejut saat melihat kehadiran Reva di sana.Begitupun Reva, dia merasa minder saat melihat penampilan berkelas dari dua orang wanita yang ada di depannya.
Sungguh jauh berbeda dengan penampilannya yang masih bocah.
"Sonya,Raysa kenalkan ini istriku Reva."
"Hai Reva, kenalkan saya Sonya dan ini sekretaris saya Raysa,senang bisa berkenalan denganmu"
"Hai,juga Kak.Senang rasanya bisa bertemu dengan wanita hebat seperti kalian" Puji Reva.
"Kami sedang membahas kerjasama, dengan perusaahan Tristan, kebetulan kamu datang.Jadi aku bisa berkenalan langsung dengan istri sahabatku, Tristan." Ucap Sonya, mencoba menutupi kemarahan yang bergejolak di dalam hatinya.
Jadi ini wanita yang sudah merebut posisiku, masih ingusan mudah bagiku untuk melemparmu,dari sisi Tristan.Batin Sonya.
"Kalau begitu kami permisi dulu Tuan Tristan, terimakasih untuk waktu anda" Ucap Raysa mewakili Sonya.
"Silahkan,aku juga ingin menemani istri kecilku ini makan siang" Ucap Tristan, acuh.
Akhirnya Sonya, dan Raysa keluar dari ruangan Tristan, tampa diantar ke depan pintu oleh Tristan.
Gemuruh emosi menguasai pikiran Sonya.Tampa berbicara sepatah kata ia segera berlalu meninggalkan kantor Tristan.
"Sejak kapan selera mu berubah,kenapa kamu sekarang malah menyukai bocah ingusan seperti itu,sungguh perbedaan yang sangat jauh" Gumam Sonya.
Reva bersiaplah aku sudah mengetahui seperti apa wajah mu,jadi ayo kita mulai bermain.
Bersambung.
Halo semuanya,aku yakin kalian semua pasti dalam keadaan baik.
Terima kasih aku ucapkan untuk kalian semua yang sudah mendukung cerita ini dari awal terbit hingga sekarang.Tampa dukungan kalian cerita ini tidak akan mungkin bisa bertahan hingga sekarang.
Dan tampa dukungan kalian aku bukan apa-apa, sekali.lagi terima kasih karena sudah meninggalkan jejak Setelah membaca.
__ADS_1
Jangan lupa untuk terus dukung karya aku dengan cara like,komen subscribe, serta vote mingguannya ya kakak🙏🙏
Cinta sekebon buat kalian 😘🥰❤️