DOKTER CINTA CEO

DOKTER CINTA CEO
Bab 16


__ADS_3

Tiga hari sudah berlalu,Tristan dan Reva menghabiskan waktu bersama di Hotel dan hari ini saatnya kembali pulang ke rumah.


"Lega rasanya bisa kembali ke rumah,oh...kasurku aku kangen" Gumam Reva sembari bergulingan di atas kasur.


"Sebaiknya aku tidur dulu mumpung Kak Tristan lagi di ruang kerjanya" Bergumam lagi.


Sudah seperti kelelahan saja padahal kerjanya hanya tiduran, makan, bahkan saat perjalanan pulang tadi Reva tertidur di pangkuan Tristan.


Tiga hari di Hotel Reva benar-benar seperti tahanan,Tristan sama sekali tak mengizinkannya keluar dari kamar.


Reva tertidur dengan posisi terlentang dan kakinya menjuntai ke lantai,hanya setengah badan yang ada di atas ranjang.Entah sudah berapa lama dia tertidur,hingga Tristan masuk ke kamar dia masih tetap dengan posisinya.


Tristan yang melihat tingkah Reva hanya menggeleng heran. "Kenapa dia seperti kucing dimana tempat dia Pasti akan tertidur." Gumam Tristan sambil mengangkat tubuh Reva sehingga tubuhnya sudah berada di atas kasur sepenuhnya.


Tristan memilih untuk membersihkan diri karena waktu sudah hampir maghrib.Saat dia keluar dari kamar mandi terlihat Reva masih terlelap,akhirnya Tristan membangunkannya.


"Sayang ayo bangun sebentar lagi maghrib" namun yang di bangunkan tak bergeming dari posisinya, hanya gumaman kecil yang keluar dari bibirnya.


"Sayang, kalau tidak mau bangun aku makan nih..." mendengar ucapan Tristan sontak membuat Reva terbangun dan langsung duduk di ranjang.Melihat kelakuan Reva membuat Tristan tertawa terbahak."Ha..ha....ha...lucunya istriku."


"Dasar manusia aneh,apanya yang lucu" mendengus sembari bergumam kecil,Reva mengumpulkan kesadaran, lalu beranjak dari ranjang dan pergi ke kamar mandi.


Setelah mandi reva masuk keruang ganti tak lama terdengar pekikan dari dalam ruang ganti, "Aaaaaa....",membuat Tristan berlari mengecek keadaannya. "Ada apa?" Ucap Tristan panik. Wajah Reva terlihat pias,bukannya menjawab melainkan menunjuk ke arah lemari menggunakan jarinya, dan mata Tristan mengikuti arah telunjuk Reva. Seketika Tristan kembali tertawa terbahak.


"Bha...ha...ha..kamu kaget hanya karena melihat gaun tidur ini?Reva, Reva, aku kira ada apa ternyata hanya masalah gaun tidur."


"Si...siapa yang menukar piyama tidurku dengan gaun seperti ini Kak?, aku tidak mau pakai,baju model apa ini,hanya melihatnya saja sudah membuatku merinding" Ucap Reva sembari mengusap tengkuknya.


"Sayang,aku yakin ini pasti ulah Ibu, jadi jangan di tolak nanti beliau tersinggung,lagi pula aku akan senang sekali kalau melihatmu memakainya,jadi penasaran seperti apa kalau kamu mengenakannya."


"Jangan berpikir aneh-aneh Kak, aku tidak mau pakai,melihatnya saja membuatku malu Kak, jadi jangan memintaku memakainya" Reva berbicara sembari mengatupkan kedua telapak tangannya di dada sedikit memohon pada Tristan.


"Aku tidak menyuruhmu memakainya sekarang,tapi nanti malam" Ucap Tristan.


"Tetap saja aku malu,Ibu kenapa ide Ibu aneh sih,kenapa tidak memberiku hadiah yang lain saja" Gumam kecil lagi.


"Sudah sekarang pakai baju mu karena sudah waktunya untuk sholat magrib, ayo!!." Seru Tristan, membuat Reva menuruti ucapan suaminya.

__ADS_1


Selesai sholat mereka turun untuk makan malam,menuruni tangga beriringan dan kedua tangan yang saling terpaut,senyum bahagia tak lepas dari keduanya.Bik Asih yang menyaksikan menjadi terharu bahkan matanya mulai mengembun,"Terima kasih ya allah engkau telah memberikan kebahagiaan untuk keluarga ini kembali" Ucap syukur Bik Asih.


Tristan dan Reva mulai makan,mereka saling suap,terkadang terdengar candaan dari bibir keduanya membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa iri.


Selesai makan Tristan segera beranjak ke ruang keluarga sementara Reva membantu Bik Asih membereskan sisa makanan,Bik Asih sudah melarangnya, namun Reva tetap kekeh untuk membantu,dan pada akhirnya Bik Asih membiarkan Reva membantunya.Setelah beres Reva menyusul suaminya yang saat ini sedang menonton tv.


"Kak lagi nonton acara apa?."


"Ini berita tentang indeks saham,kenapa kamu tidak suka?" Reva menggeleng menandakan bahwa dia tidak menyukai acara tersebut.


"Kamu suka nonton acara apa? biar aku ganti."


"Drakor."


"Sudah ku duga, kenapa sih kalian para gadis sangat suka dengan tayangan semacam itu,menurut ku ada banyak tayangan lain yang lebih menarik dari pada drakor itu.''


"Karena aktornya tampan tampan, ada lie min ho,park jimin, Jungkook,simon dan....." tiba-tiba saja Reva berhenti bicara Saat dia melihat tatapan tajam dari Tristan. "Apa sih Kak, marah lagi itukan hanya di dalam tv tidak bisa ku sentuh". Bergumam dalam hati.


" Aku salah ya Kak, kalau gitu maaf" Masih tetap pada mode diam."Hays... repot juga punya suami macam ini,kenapa harus marah sih sama artis yang entah dimana rimbanya." Bergumam lagi.


"Hah?....ya ampun pria macam apa yang menikahi ku,kenapa harus cemburu dengan orang yang hanya kulihat di tv benar-benar manusia aneh" Hanya mampu membatin.


"Iya Kak, maaf kedepannya aku akan mengingat apa yang menjadi larangan Kak Tristan." Menjawab dengan cepat sebelum bertambah lagi kemarahan.


"Sayang,aturan ini bukan hanya berlaku pada mu,Aku pun akan melakukan hal yang sama aku akan menundukkan pandangan pada wanita mana saja, ini janji ku,bagiku wanita tercantik di dunia hanya kau dan Ibu,percayalah." (🤮🤮rayuan mautmu Tristan🤣).


"Ya..ya..ya hanya aku dan Ibu yang cantik lalu yang lain apa? tampan? matamu memang bermasalah Kak." Reva terus membatin.


"Kemari lah" Sudah menepuk paha meminta Reva duduk di pangkuan,secepat kilat Reva menggeleng takut kalau para pelayan melihat kelakuan mereka."Sayang, aku tidak suka mengulang ucapan ku,cepat kemari" Satu tangan terulur dan satu lagi menepuk pahanya, tak ayal Reva segera bangkit dan pindah kepangkuan Tristan.


"Kenapa tidak mau duduk di pangkuanku?."


"Bukan begitu Kak, aku takut di lihat para pelayan rumah ini."


"Kenapa harus takut,mereka itu bekerja untuk kita,mereka tau batasannya, tidak mungkin mereka akan merekam aksi kita." Bibir nya bicara tapi kedua tangan sudah mulai merayap entah kemana, menyusup kedalam baju dan mulai mencubit,meraba serta meremas bagian bagian sensitif Reva.


Reva mulai terpancing sesekali mendesah,menggigit bibir bawahnya,berusaha menahan gelora yang melanda,bibir Tristan sudah tidak lagi bicara namun sibuk kecup sana sini membuat Reva semakin salah tingkah.

__ADS_1


"Kak, kita pindah ke kamar saja ya" perasaan takut membuat Reva hilang malu."Aaa apa aku sudah gila,pasti dia mengira aku menginginkannya" Gumam reva dengan wajah yang semerah kepiting rebus.


"Ha...ha... rupanya istriku ini sudah tidak tahan lagi ya,ha..ha.. ayo kalau begitu kita lanjut di kamar,tapi dengan satu syarat."


"Syarat, syarat apa Kak?." Sudah cemas takut kalau Tristan memintanya memakai gaun haram itu.


"Kamu harus pakai gaun yang di belikan Ibu,kalau tidak terpaksa kita melewatkan malam panas di ruangan ini,bagaimana?." Sambil menaik turunkan alisnya.


"Aaa benarkan tebakanku,kenapa sih Kak, selalu memberiku syarat" Hanya bisa ngedumel dalam hati.


"Apa tidak ada pilihan lain Kak, membuat Kak Tristan puas misalnya?."


"Wah istri ku semakin pintar,ide yang bagus aku akan memberimu hadiah karena sudah makin pintar."


"Hadiah apa Kak jangan macam-macam" Bergumam sambil menyesali ide gilanya.


"Hadiah apa Kak?." Masih penasaran juga.


"Kejutan!,yang pastinya kamu tidak akan lupakan seumur hidup,bahkan mungkin akan membuatmu ketagihan" Seringai licik terbit di wajah Tristan.


Tristan segera menggendong tubuh kecil Reva ala bridal style, menaiki tangga dengan bibir yang terus bermain di wajah Reva, hingga sampai ke pintu kamar Tristan membuka dengan satu kaki,lalu menutupnya dengan tendangan kecil,tampa mau menurun kan Reva dari gendongannya.


Hingga sampai di sisi ranjang ia merebahkan tubuh Reva, tampa melepas pagutan bibirnya.


Malam terus merangkak naik,memberikan susana nyaman untuk dua insan yang tak pernah lelah dalam mengejar kepuasan,terdengar suara kecapan ******* bahkan lenguhan berulang kali dari bibir keduanya,hingga malam benar-benar larut barulah mereka berhenti untuk beristirahat.


"Bagaimana dengan hadiah ku,pasti masih terasa sampai sekarang kan?" Bertanya sambil tersenyum puas.


"Kak, jangan diungkit aku malu." Wajah semakin merah.


"Ha..ha..ha.. kenapa mesti malu,bukan kah itu nikmat?"


"Kakaaaak.''


"Bha..ha..ha..." Tawa puas Tristan yang menggema di dalam kamar, namun membuat yang di godanya menyembunyikan seluruh tubuhnya di dalam selimut.


**Bersambung**.......

__ADS_1


__ADS_2