DOKTER CINTA CEO

DOKTER CINTA CEO
Bab 25


__ADS_3

 Tak terasa Tiga bulan sudah berlalu, Reva dan Tristan hidup bersama dalam ikatan pernikahan.Tak pernah ada kata cinta yang keluar dari bibir keduanya.Namun meski demikian mereka berdua menjalaninya dengan suka cita.


Tak terlihat lagi kecanggungan antara keduanya,berusaha memahami sifat satu sama lain dan menyelami perasaan masing masing.


Terkadang timbul pertanyaan dalam hati Reva, bagaimana sebenarnya perasaan Tristan terhadapnya, apakah Tristan mencintainya atau tidak?.Bila memang tak ada rasa mengapa Tristan selama ini mau tidur bersama bahkan sudah melakukan penyatuan antara mereka,lagi-lagi Reva menemukan jawabannya,karena pria memang butuh ****,meski tidak saling cinta bahkan tak saling kenal sekali pun mereka bisa melakukannya.


Tapi mengapa Reva merasa nyaman bahkan sekarang sudah bisa membalas setiap sentuhan yang Tristan berikan,mungkin karena Reva memang menyukainya sejak awal,bukan, ini bukan lagi suka,tapi cinta,ya Reva mengakui dia sudah jatuh cinta pada Tristan.Meski hatinya melarang,namun tetap saja dia tidak bisa membohongi perasaannya.


Terkadang Reva memiliki keinginan untuk menyatakan perasaannya duluan,tapi Reva takut trauma yang dialami Tristan belum sembuh sepenuhnya,Reva takut ditolak,itulah kenyataannya.


Pagi ini keduanya sudah duduk di meja makan,menyantap sarapan yang di buat oleh Reva sendiri.Keduanya sudah berpenampilan rapih,Tristan akan berangkat ke kantor,sedangkan Reva sendiri akan pergi ke Kampus.


Selesai sarapan keduanya berangkat menggunakan kendaraan masing masing.


Sejak Reva mendapatkan hadiah mobil dari Presdir dia sudah tidak pernah berangkat bersama Tristan lagi.Sedangkan Tristan akan di jemput oleh Roy.


Mobil Reva sudah memasuki halaman kampus,setelah memarkirkan mobil,Reva bergegas masuk ke dalam kelas.


Saat perjalanan menuju kelas Reva berpapasan dengan Adit,Reva ingin menyapa namun buru-buru Adit menghindar.Membuat Reva bingung dengan sikap Adit beberapa bulan ini.


"Memangnya aku salah apa sih sama Adit, kenapa setiap kali bertemu dia selalu menghindar,apa karena isu buruk tentang ku waktu itu,membuatnya membenciku?" Gumam Reva.


Saat jam istirahat tiba Reva berniat untuk pergi ke Kantin. Namun saat masuk kedalam kantin,tiba-tiba saja Reva menginjak lantai yang licin akibat air minum yang tertumpah.Tak ayal tubuh Reva hilang keseimbangan,dan mengakibatkan tubuh Reva terhuyung dan hampir jatuh.Beruntung Adit datang tepat waktu dan menyelamatkan Reva.


Saat ini tubuh Reva sudah berada dalam dekapan Adit. Mata mereka bertemu,mereka saling tatap sepertinya sedang menyelami perasaan masing masing.


Buru-buru Reva bangkit dan menjauh dari Adit, Reva menyadari perbuatannya akan berdampak buruk terhadap hubungannya dengan Tristan.


Mengingat bagaimana posesifnya Tristan bila Reva dekat dengan pria lain.


"Terima kasih,Dit" Ucap Reva berniat melangkah pergi.


"Tunggu" Adit mencekal tangan Reva.Membuat Reva terkejut,mencoba menepis tangan Adit yang saat ini tengah memegang pergelangan tangannya dengan kuat.Menyadari ketidak nyamanan Reva membuat Adit melepaskan cekalan tangannya.


"Boleh kita bicara sebentar" Ucap Adit, Reva ragu tapi kemudian Reva ingat dia harus meluruskan kesalahpahaman antara mereka berdua,akhirnya reva mengangguk tanda setuju.


Adit membawa Reva masuk ke dalam kantin dan mencari tempat duduk yang sedikit sepi, agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.


"Ada apa Dit, apa ada yang ingin kamu bicarakan?" Tanya Reva penuh selidik.


Tristan terdengar menarik napas panjang,menyiapkan hati untuk bertanya tentang apa yang pernah dia lihat di hotel tempo lalu.


"Aku harap kamu tidak tersinggung dengan apa yang ingin ku bicarakan ini" Adit membuka obrolan.

__ADS_1


"Katakanlah, bila itu masih di tahap yang wajar maka aku akan mendengarnya."


Nampak keraguan di wajah Adit. " Katakanlah Dit,apa ada sesuatu yang mengganjal pikiran mu?" Tanya Reva.


"Tentang obrolan kita beberapa bulan yang lalu,saat aku menanyakan gosip miring yang beredar tentang kamu yang menjadi simpanan" Adit menjeda kalimatnya,sedangkan Reva menunggu kelanjutan cerita Adit tampa mau menyanggahnya.


"Teruskan" Ucap Reva.


"Bukan kah waktu itu kamu menyangkalnya?"


"Ya karena aku memang merasa aku tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan padaku, Dit"


"Reva, sudah lah jangan lagi menyangkal,hari itu setelah kita bicara,aku melihatmu dijemput oleh laki-laki, dan kamu dibawa ke Hotel." Ucap Adit.


"Dari mana kamu bisa tahu?"


"Maaf,tapi aku mengikuti kalian" Reva nampak terkejut dengan jawaban Adit,berarti selama ini Adit mencari tahu tentang isu tersebut pikir Reva.


"Maaf Dit, tapi aku rasa kamu tidak berhak mencampuri urusanku,selama ini kita hanya berteman,dan tidak ada hubungan apa pun diantara kita,jadi aku rasa tidak ada alasan untukku menceritakan masalah hidupku kepada kamu." Ucap Reva kesal.


"Memang tidak ada hak ku mencampuri urusan kamu,tapi orang yang menjadikan mu simpanan adalah orang yang memiliki masa lalu bersama mendiang Kakak ku."


"Maksud kamu?"


"Kak Tristan, adalah orang yang Kakak ku cintai,mereka sudah hampir menikah,tapi sayang takdir berkata lain,Kakak ku harus meregang nyawa saat kecelakaan naas itu terjadi" Ucap adit dengan raut wajah yang menyimpan banyak kesedihan.


"Jadi Kak Renata itu Kakak mu"


"Iya,kami hanya dua bersaudara,kami begitu dekat,aku begitu menyayangi Kak Re,kehilangan Kak Re menjadi pukulan terberat dalam hidupku."


Reva merasa prihatin,dia bisa melihat betapa Adit begitu menyayangi Kak Renata, terlihat dari mata yang kini mulai mengembun dan bahu yang bergetar menandakan Adit tengah menahan tangis.


Sementara itu di dalam ruang rapat,terlihat Tristan dan beberapa staf tengah mengadakan rapat,Awalnya rapat berjalan dengan mulus,tapi tiba-tiba saja Tristan menggebrak meja,membuat salah satu karyawan yang tengah berdiri di depan layar monitor untuk menjelaskan secara rinci proyek yang akan mereka bangun,terlonjak kaget dan hampir saja terjengkang kebelakang.


"Apa ada yang salah dengan penjelasan ku kenapa dia mengamuk" Batin gadis yang saat ini tengah bergetar hebat dan keringat dingin mulai mengucur di tubuhnya.


Roy segera tanggap,meraih ponsel di tangan Tristan, lalu membuka layar,yang seketika menunjukkan Reva tengah berpelukan dengan Adit."Jadi ini penyebabnya,membuat mu seperti orang kesurupan,membuat orang sport jantung saja,apa anda tidak lihat tuan gadis yang gemetaran hampir pingsan di depan layar monitor,pasti dia mengira persentase nya bermasalah." Batin Roy kesal.


"Untuk saat ini rapat kita undur,sekarang silahkan bubar semuanya!." Perintah Roy. Dia harus melakukan ini,sebab bila rapat ini di teruskan bisa saja semua staf yang ada di ruang rapat ini akan pingsan berjamaah.


Roy sigap, segera menghubungi nomor yang mengirim gambar tersebut." Apa mereka masih di situ,Segera lakukan panggilan vidio" Pinta Roy, saat mengetahui bahwa Reva dan Adit masih di sana.


Panggilan vidio sudah terhubung,menampakkan sosok Adit dan Reva yang tengah berbincang,di sudut kantin.

__ADS_1


"Aku hanya tidak ingin Kak Tristan, terluka untuk yang kesekian kalinya." Ucap Adit. Dan sontak saja Tristan bisa mendengar percakapan mereka.Roy menunjukkan layar ponsel pada Tristan.


"Kak Tristan, sudah banyak menderita karena kehilangan Kak Re,dia seperti hilang tujuan hidup,membuang semua hobi yang dia sukai,menutup diri dari dunia luar,bahkan rela mengorbankan semua mimpinya,hanya karena ingin menghindari trauma masa lalunya." Adit kembali menjeda kalimatnya.


"Reva,jika kamu berniat menyakiti hati Kak Tristan, aku mohon jangan kamu dekati dia,menjauh lah dari sekarang,biarkan dia membasuh lukanya sendiri,jangan kamu tambah lagi beban hidupnya." Ucap Adit.


Sementara Tristan yang mendengar ucapan yang keluar dari mulut Adit, merasa tersentuh.Apa benar Adit prihatin terhadapnya, bukankah selama ini Adit membencinya,tapi kenapa dia sekarang membela dirinya,Tristan di buat bingung oleh sikap Adit. sedangkan Reva hanya mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut adit,tampa membantahnya.


Dan tibalah di satu momen yang membuat Tristan berdebar,perasaan takut dan penasaran jadi satu,di mana saat Adit menanyakan perasaan Reva terhadap Tristan.


"Reva,tolong jawab dengan jujur,apa kamu mencintai Kak Tristan?"


Reva yang di tanya hanya diam membisu,dia menimbang,apakah Adit bisa di percaya atau tidak,dan pada akhirnya Reva membuka suara prihal perasaannya pada Tristan.


"Sebenarnya ini adalah rahasia hati ku Dit,yang aku simpan di lubuk hati ku paling dalam,dan tidak pernah aku ceritakan pada siapapun termasuk Ayahku." Reva berhenti sejenak,mengumpulkan keberanian, dia hanya ingin menceritakan perasaannya kepada Adit,tapi entah mengapa rasanya seperti mau menyatakan cinta pada orang yang di tuju.


"Sebenarnya......" Tristan, menunggu jawaban dari bibir Reva, jika saja Reva tidak mencintai Tristan,maka dia sudah menyiapkan hati untuk menerimanya,tapi jika Reva mencintai nya, itu artinya perasaan Tristan terbalaskan bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan.


"Ayo sayang,berikan jawabanmu aku menunggu apa pun jawaban itu,aku akan berbesar hati jika kamu memang tidak mencintaiku,tapi jika memang kamu mencintaiku maka akan aku berikan seluruh hidupku untuk mu." Gumam Tristan, harap harap cemas.


sedangkan Roy tak kalah antusiasnya,dia berharap, Reva juga mencintai Tristan, bila itu terjadi, maka dialah orang pertama yang akan berbahagia setelah Tristan.


"Adit,sebenarnya ini rahasia,tapi aku akan memberi tahumu tapi kamu harus janji,tidak akan memberi tahu siapapun,janji"


"Iya,aku janji sekarang ayo katakan,apa kamu mencintai Kak Tristan?.'' Sebenarnya apa yang Adit harapkan dari jawaban Reva,bukankah dia sudah tau jawabannya,apakah belum cukup semua bukti yang dia lihat selama tiga bulan ini. Selama Tiga bulan terakhir, Adit menjadi penguntit,mengikuti semua kegiatan Reva dan Tristan.Adit tahu mereka tinggal satu atap,Adit tau mereka saling cinta,lalu apa yang ingin Adit buktikan.


" Sebenarnya kami berdua sudah menikah" Ucapan Reva membuat Adit terkejut,satu fakta yang tidak ia ketahui.


"Aku terpaksa menerima pernikahan ini,karena ingin menyelamatkan Ayahku,dari lilitan hutang yang mencapai angka ratusan milyar, Ayahku di fitnah menggelapkan dana perusahaan, yang mengakibatkan perusahaan terancam bangkrut.Apabila dalam waktu satu minggu Ayah tidak melunasi hutang,maka mereka akan memenjarakan Ayah,dari itulah aku menerima lamaran tersebut." Reva menjeda ceritanya.


Sementara di perusahaan terlihat wajah kecewa dari Tristan. Sudah ku duga kamu pasti terpaksa kan,baiklah Reva mulai sekarang aku akan melepas mu. Meski sudah menyiapkan hati,tapi tetap saja perasaan sakit saat tahu orang yang kita cinta tak membalas perasaan kita membuat hati kita akan hancur berkeping-keping. Tristan sudah ingin memutuskan panggilan vidio tersebut,namun terdengar Reva kembali berucap.


"Tapi apa kamu tahu,aku sudah jatuh cinta padanya sejak kami bertemu di malam pernikahan kami." Tristan terlihat bengong,dia mencerna setiap kata dari mulut Reva.


"Roy,apa aku tidak salah dengar Reva bilang apa barusan?"


"Nona Reva bilang dia sudah jatuh cinta pada anda Tuan sejak pertama bertemu di malam pernikahan kalian."


"Itu artinya Reva mencintaiku,kan Roy, dia juga mencintaiku,cintaku tidak bertepuk sebelah tangan kan Roy." Ucap Tristan seraya menghambur ke pelukan Roy, dan menangis terisak,tangis bahagia dari seorang Tristan, membuat Roy, turut menitikkan air mata bahagia.


"Selamat Tuan anda menemukan tujuan hidup anda kembali." Ucap Roy tulus serta menepuk bahu Tristan.


"Iya Roy, aku sudah menemukan tujuan hidup ku kembali,Reva adalah rumah untuk ku pulang."

__ADS_1


Tristan menyeka matanya yang basah,perasaan bahagia tak terbendung,ingin rasanya saat ini dia berlari mengumumkan pada dunia,bahwa dia bahagia.Namun Tristan masih bisa menguasai hatinya,berpikir secara logika bahwa dia tidak boleh gegabah,banyak orang di luar sana yang masih menginginkan kehancuran hidupnya,dia tidak mau Reva menjadi taruhannya.


Bersambung........


__ADS_2