
Setelah kembali dari meeting dengan Sonya, Tristan segera kembali ke kantor.
Dia ingat siang ini akan ada janji bertemu dengan Pak Burhan di cafe dekat kantor.
Tristan dan Roy tiba di kantor saat jam makan siang.Tristan meminta Roy, untuk membelokkan mobilnya ke cafe yang berada di samping kantor.
Presdir dan Burhan sudah lebih dulu tiba di cafe,tinggal menunggu kedatangan Tristan.
Tristan segera masuk kedalam cafe,mencari keberadaan dua orang yang telah menunggunya.
Saat matanya menangkap dua sosok yang dicarinya Tristan segera melangkahkan kakinya mendekati keduanya.
"Kenapa belum pesan makanan,bukankah sudah saatnya makan siang?"
"Kami menunggumu,kami takut selera mu berbeda dari kami" Jawab Presdir.
Tristan segera memanggil pelayan cafe lalu memesan beberapa makanan dan minuman,serta dessert untuk makanan penutup.
"Ada apa Pak Burhan mengajak kami bertemu,apa ada hal yang penting" Tanya Tristan penasaran.
"Sebaiknya kita makan siang dulu,baru setelah itu kita membahasnya" Ucap Presdir.
"Presdir benar Tuan Tristan, setelah kita makan siang baru aku akan menceritakan satu rahasia yang baru saja aku ketahui beberapa hari ini." Ucap Burhan,semakin membuat penasaran.
"Baiklah,kita akan membahas ini setelah makan siang,aku akan sabar menunggu."
Tak lama pesanan mereka datang,lalu mereka sibuk dengan makanan yang ada di piring mereka masing-masing,hanya ada suara denting sendok dan garpu yang terdengar.
Setelah selesai Tristan benar-benar tidak sabar untuk mendengar cerita yang akan disampakan oleh Burhan.
"Bagaimana Pak Burhan,apa sudah bisa memulai ceritanya"
"Sepertinya kamu penasaran sekali dengan cerita yang akan Burhan sampaikan''
"Sudah pasti aku penasaran, Ayah.Bukankah selama ini Pak Burhan tidak pernah mengajak bertemu kalau tidak ada hal yang penting,apa Pak Burhan sudah menemukan calon istri?" Ucap Tristan menggoda Burhan.
"Lebih dari itu kabar gembira yang akan saya sampaikan Tuan. Bahkan kabar ini bisa membuat anda terkejut"
"Kalau begitu ayo cerita,untuk apa membuat kami penasaran" Ucap Tristan antusias.
"Begini Tuan, mungkin kabar yang akan saya cerita ini seperti tidak masuk akal.Tapi saya benar-benar mengalaminya,saya menemukan istri saya Gina masih hidup, dan saat ini dia berada di sebuah desa terpencil di ujung kota."
"Apa aku tidak salah dengar,bagaimana bisa seseorang yang sudah di kabarkan meninggal karena di bunuh bisa hidup kembali" Ucap Presdir heran.
"Benar sekali,Pak Burhan sekiranya anda sedang lelah atau tidak enak badan.Silahkan anda mengambil cuti untuk beberapa hari" Ucap Tristan, tidak percaya.Tristan justru menganggap Burhan berhalusinasi.
"Saya tidak sedang berhalusinasi atau bercanda Tuan, Bahkan Mira saat ini sedang berada di desa tinggal bersama ibunya."
"Baiklah,coba ceritakan bagaimana bisa kalian bertemu" Pinta Tristan.
"Begini ceritanya Tuan." Dan mengalirlah cerita pertemuan antara dirinya dan Gina,serta Mira minggu lalu.
Tristan dan Presdir begitu antusias mendengar cerita dari Burhan.Mereka ingin tidak percaya namun saat Burhan menunjukkan photo mereka bertiga ketika mereka bertemu di desa membuat Presdir, dan juga Tristan percaya bahwa cerita yang disampaikan oleh Burhan adalah benar adanya.
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu tidak langsung membawanya kembali ke kota?" Tanya Presdir.
"Saya ingin sekali membawanya kembali ke kota,namun sayang Gina menolak keras,dia tidak ingin lagi kembali ke kota.Justru dia sudah nyaman tinggal di desa."
"Kenapa bisa begitu,bukankah hidup di kota lebih terjamin masa depannya?" ucap Tristan.
"Rasa trauma yang dia rasakan saat mendapat perlakuan buruk dari Baskoro, membuatnya takut untuk tinggal di kota.
"Gina memilih untuk tetap tinggal di desa,meski ia kekurangan dalam segi materi tapi dia lebih nyaman tinggal di sana.Begitupun Mira sekarang dia lebih memilih tinggal bersama ibunya,di desa dari pada dengan aku."
"Lalu kamu sendiri,bagaimana denganmu,apa kamu punya rencana lain?" Tanya Presdir.
"Saya sebenarnya memiliki keinginan untuk mewujudkan mimpi anak semata wayang saya,Gina.Untuk memiliki keluarga kecil yang utuh,selama ini dia hanya mendapatkan kasih sayang dari ayahnya,tampa kehadiran seorang ibu.Saya ingin mewujudkan mimpinya.Meski itu terlambat"
"Pak Burhan tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik.Apapun keputusan Pak Burhan saya akan mendukungnya.Bukankah keluarga lebih penting dari segalanya.Sekarang saatnya Pak Burhan mewujudkan mimpi Mira. Mungkin dengan begitu luka hatinya akan terobati" Ucap Presdir.
"Ayah benar, kami akan mendukung apapun keputusan Pak Burhan. Bahkan bila perlu kami akan berkunjung ke desa tempat Ibu Gina berada,sekaligus meninjau lokasi,mungkin saja ada potensi di sana yang bisa kita manfaatkan untuk kemajuan desa tersebut.Misalnya kita akan membangun pasilitas, seperti sekolah,rumah sakit atau pasilitas lainnya agar bisa memajukan desa sekaligus menciptakan lapangan kerja untuk para pemuda di sana." Ucap Tristan, mencoba memberi saran.
"Ucapan anda benar Tuan, desa tersebut memang masih banyak tertinggal. Belum ada satupun pasilitas yang anda sebutkan tadi.Bahkan anak anak banyak yang putus sekolah karena jarak sekolah yang jauh,warga yang sakit pun jarang sekali bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak karena tidak adanya rumah sakit atau puskesmas,untuk menjual hasil panen saja mereka harus membawanya ke kota,karena tidak ada pasar di sana"
"Kalau begitu aku akan membuat rencana untuk membangun sekolah,pasar serta rumah sakit di sana" Ucap Tristan.
"Iya,menurutku ada baiknya seperti itu,selain bisa membantu desa tersebut agar bisa maju sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan untuk para pemuda dan pemudi di sana yang banyak diantaranya putus sekolah.Agar mereka bisa mempunyai penghasilan sendiri tampa harus bergantung pada orang tua." Timpal Presdir.
"Sebenarnya sumber penghasilan terbesar di desa tersebut apa Pak Burhan?"
"Menurut cerita Gina,mayoritas penduduk desa tersebut berpenghasilan dari berkebun dan bertani,selain itu juga berternak serta menjala ikan di sungai"
"Baiklah Pak Burhan,kita akan mengadakan rapat untuk membahas ini.Saya akan mulai membuat perencanaan untuk semua ini.Atur waktu agar kita bisa berangkat kesana,menemui para tokoh penting desa tersebut agar mau menerima ide yang akan kita jalankan"
"Oh,ya Pak Burhan. Saya sampai lupa mengucapkan selamat kepada anda.Selamat ya Pak Burhan karena sudah berhasil menemukan istri anda kembali."
"Terima kasih Tuan Tristan, Presdir,atas waktu anda,serta atas saran dan nasehat yang anda berikan.Saya merasa sangat tersanjung atas dukungan dan motivasi dari Tuan dan Presdir."
"Tidak perlu sungkan Pak Burhan. Bukankah kita ini keluarga?Siapapun yang bekerja di perusaahan kami,maka kalian adalah keluarga kami."
"Iya Burhan,Tristan benar kita ini keluarga.Jadi sudah selayaknya kita saling memperhatikan satu sama lain."
"Sekali lagi terima kasih Presdir, tampa adanya kalian maka,saya bukanlah apa-apa.Dan tidak akan pernah menjadi Burhan yang sekarang ini."
"Kalau begitu saya duluan,Tristan ayo kita kembali ke kantor" Ucap Presdir.
"Baiklah,ayo aku antar.Ayah mau kemana kembali ke kantor atau pulang ke rumah?"
"Aku ingin ke kantor lebih dulu,baru setelah itu pulang,Tidak perlu mengantarku pulang karena aku kemari bersama dengan supirku"
"Ya sudah kalau begitu ayo kita kembali ke kantor." Ajak Tristan.
Sesampainya di kantor Tristan segera meraih ponselnya lalu mencari kontak sang istri.Rindu rasanya meski baru beberapa jam berpisah.
"Halo sayang,kamu lagi apa,aku kangen pengen lihat wajah cantikmu"
"Mulai deh gombalnya,ini lagi mau makan,apa Kakak sudah makan?"
__ADS_1
"Aku baru saja makan sama ayah di cafe deket kantor,jangan lupa susu dan vitaminnya diminum juga ya,yang"
"Iya Kak.Ini udah disiapin sama bik Asih"
"Mana coba aku mau lihat menu makanan mu hari ini,apa sudah memenuhi standar nutrisi"
"Ini,semuanya lengkap Kak, ada sayur,buah,daging,susu dan juga vitamin.Jangan khawatir aku akan mengikuti semua saran dari Dokter,aku akan memakan semuanya sampai habis." Ucap Reva seraya menunjukkan menu makanannya satu persatu ke layar ponselnya.
"Gadis pintar,ingat jangan terlalu lelah setelah makan istirahatlah.Aku tutup dulu ya sayang,aku mau kerja lagi"
"Iya,Kak."
"Kasih aku ciuman selamat siang dulu,biar tambah semangat buat kerja"
"Memangnya,harus?"
"Ya harus dong sayang,satu ciuman darimu merupakan jutaan semangat untukku,ayo berikan aku satu ciuman saja"
"Oke,baiklah muach ... sudahkan ayo semangat,sekarang aku tutup dulu,sebab makanan yang terhidang ini keburu dingin kalau tidak segera ku makan"
"Iya,baiklah,selamat makan sayang,setelah itu istirahat ya."
"Iya,Kak."
Tristan, akhirnya menutup panggilan lalu melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu dilain tempat diwaktu yang koo bersamaan.Sonya, meminta Raysa untuk menghubungi Roy,agar mau mengatur jadwal pertemuan mereka kembali.
"Aku ingi secepatnya mendapatkan kabar baik tentang pertemuan kami. Ingat Ray,aku tidak suka penolakan apa lagi kegagalan!"
"Bersabarlah Sonya, saat ini aku sedang berusaha menghubungi sekretaris Tuan Tristan, sebab semua jadwal pertemuan dengan Tristan harus melalui Roy."
"Usahakan secepatnya,kalau bisa malam ini kami bisa bertemu"
"Yang aku tahu Tristan orang yang super sibuk,mana bisa menemuinya dalam waktu dekat ini"
"Terserah bagaimana pun caranya,aku ingin segera mendekatinya kembali.Aku ingin menukar waktuku belasan tahun ini yang terbuang percuma hanya untuk meratapi dirinya yang tak bisa kumiliki."
"Aku akan berusaha,dan percayalah Tristan pasti mau menemui mu,aku akan katakan ini soal kerja sama kita,maka dia pasti akan langsung datang."
"Aku tunggu kabar baik darimu"
Raysa akhirnya berhasil menghubungi Roy dengan berkata bahwa ada kesalahan dalam kerja sama mereka,maka Tristan menyanggupi untuk bertemu besok,saat jam makan siang.
"Sonya, ada kabar baik.Tristan mau bertemu besok siang di Cafe tempat kita bertemu tadi siang''
"Kerja bagus Ray,aku akan memberimu bonus bulan ini karena sudah membuatku senang"
"Ok,terima kasih Bos,kalau begitu aku permisi dulu untuk memeriksa beberapa berkas yang menumpuk di mejaku"
"Keluarlah!"
Setelah kepergian Raysa seringai licik terbit di wajah Sonya.
__ADS_1
Tristan tunggu aku,akan ku buat kamu jatuh cinta padaku sekali ini.
Bersambung