
Setelah mendapat telpon dari Raysa.Roy segera menemui Tristan, di ruangannya.
Tok tok tok ... "Masuk" Jawab Tristan, dari dalam ruang kerjanya.
"Ada apa Roy, apa ada berita penting"
"Begini Tuan, baru saja pihak Sonya,memberitahu bahwa ada komplain dari kerjasama yang kita lakukan tadi.Mereka meminta untuk bertemu kembali untuk membahas kesalahpahaman tersebut."
"Apakah masalahnya parah,apa tidak bisa kamu saja yang menyelesaikannya?"
"Tidak Tuan, mereka meminta bertemu dengan anda langsung"
"Ya sudah atur saja waktunya, yang penting tidak mengganggu jadwalku yang lain"
"Baik Tuan, akan saya atur agar secepatnya masalah ini selesai"
"O,iya Roy,tolong atur juga jadwal untuk kita berkunjung ke desa XX tempat Mira sekarang tinggal,aku ingin berkunjung ke sana melihat keadaan di sana.Sekalian membawa istriku untuk bertemu dengan sahabatnya, siapa tahu dengan mereka bertemu,membuat Reva semakin bahagia"
"Baik Tuan,akan saya buat daftar rencananya"
"Apa sudah kamu tentukan jadwal bertemu dengan pihak Sonya?"
"Sudah Tuan, besok saat jam makan siang kita akan bertemu tepatnya di Cafe yang kita kunjungi tadi,Tuan."
"Baiklah,kalau kamu sudah selesai silahkan lanjutkan pekerjaanmu,sebab aku juga sedang sibuk"
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi."
"Ya" Ucap Tristan, seraya memegangi kepalanya yang berdenyut sakit.Tristan mulai merasa jengah dengan kerjasama yang baru terjalin dengan pihak Sonya.
"Baru saja menjalin kerjasama kamu sudah mau banyak komplain.Sonya, aku tahu siapa kamu,dan aku tahu apa tujuanmu.Tapi baiklah kita lihat sampai mana usahamu untuk kembali menghancurkan hubunganku kali ini" Gumam Tristan yang merasa geram akan tingkah konyol Sonya.
Ingatan Tristan melayang ke tujuh belas tahun silam dimana dia dan dua sahabatnya berjanji untuk saling menjaga dan saling menyayangi satu sama lain.Mereka berjanji untuk saling jujur dan terbuka tidak boleh ada rahasia dari ketiganya.
Mereka juga membuat perjanjian untuk saling mendukung dalam hal apapun termasuk soal percintaan.
Awalnya mereka memang sahabat akrab yang selalu bersama dimana pun mereka berada.
Tapi seiring berjalannya waktu, karena sering bersama membuat perasaan cinta tumbuh antara Tristan dan Renata, awalnya Sonya, mendukung hubungan keduanya.
Namun entah mengapa di akhir semester tepatnya di bulan kelulusan mereka.Sonya, justru berniat membuat Renata, celaka.
Sonya, mengajak Renata, untuk bertemu di taman yang dekat dengan tempat tinggal mereka.Karena mereka memang tinggal di kompleks yang sama.
Renata, merasa curiga karena tak biasanya Sonya, meminta bertemu tampa mengajak serta Tristan.
__ADS_1
Karena merasa curiga akhirnya Renata, meminta izin pada Tristan untuk pergi sendiri.Awalnya Tristan, membiarkan Renata, pergi namun karena firasatnya tidak enak akhirnya Tristan diam diam mengikuti kepergian Renata.
Dan benar saja,ternyata Sonya berusaha menjebak Renata.
Sonya, menyewa beberapa preman kampung untuk melecehkan Renata.
Beruntung Tristan tiba diwaktu yang tepat,hanya dengan beberapa kali pukulan ketiga preman kampung itu akhirnya tumbang.
Tristan memang ahli bela diri.Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar Tristan, memang rajin berlatih karate.
Tristan meraih kerah baju salah satu preman yang saat itu terkapar,dan dia menanyakan siapa yang sudah membayar mereka untuk mencelakai Renata, jawaban yang Tristan dapat sungguh diluar dugaan.
Mereka mengatakan bahwa yang membayar mereka adalah Sonya.
Sejak saat itu persahabatan ketiganya retak.Bahkan Tristan, dan Renata, memblokir semua kontak yang berkaitan dengan Sonya.
Sejak saat itu Tristan, tidak ingin lagi bertemu dengan Sonya.
Tapi entah mengapa hari ini mereka justru dipertemukan kembali,bahkan sudah menjalin kerjasama dengan perusaahan tempat Sonya, berkerja.
"Aku harus lebih waspada,sepertinya Sonya, memiliki niat jahat terhadapku,apalagi kalau sampai dia tahu kalau aku sudah menikah dengan Reva, bisa saja dia akan mencoba mencelakai Reva. Sama seperti yang dia lakukan terhadap Renata dulu.Tapi aku tidak akan pernah membiarkan niat busuk mu tercapai,Sonya. Karena aku akan melindungi Reva dengan caraku sendiri" Gumam Tristan.
Sementara itu di ruang kerjanya Sonya, sudah mengatur siasat dia akan merayu Tristan, dan akan menjadikan Tristan miliknya.Bagaimana pun caranya kali ini Tristan harus jadi miliknya.
"Tristan, mungkin dulu aku akan mengalah dan kalah tapi untuk kali ini aku tidak akan membiarkan itu terjadi.Bukankah sekarang kamu adalah pria kesepian,maka aku akan menjadi dewi penolong mu,agar kau tak kesepian lagi.Ha ha ha Tristan sepertinya ini akan mengasyikkan,mari kita mulai permainannya" Sonya mulai berbicara sendiri seakan ada Tristan, dihadapannya.
"Masuk" Titah Sonya.
"Maaf Bos ini ada berkas yang harus segera anda tanda tangani" Ucap salah satu staf yang baru saja mengetuk pintu.
"Bawa kemari" Ucap Sonya, lembut.
Gadis berambut lurus tergerai itu langsung menyerahkan berkas yang dibawanya untuk segera ditanda tangani oleh Sonya.
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan gadis itu segera berlalu dari ruangan Sonya.
"Ihhh cantik banget Ceo baru itu,aku saja yang sesama perempuan merasa terpesona melihatnya,apa lagi para pria diluar sana.Pasti mereka berebut untuk mendapatkannya. Mana orangnya baik banget,ramah, lemah lembut,pokoknya Bos Sonya, sempurna banget" Puji gadis yang baru saja keluar dari ruangan Sonya.
Sementara itu Sonya, yang berada di ruangan merasa kesal sendiri karena fantasinya sempat terganggu.
"Dasar tikus kecil,mengganggu kesenanganku saja" Ucapnya kesal.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.Tristan, bergegas membereskan tas kerjanya dan segera keluar.
Tristan, ingin cepat pulang dia sudah benar-benar rindu dengan senyum manis istrinya.
__ADS_1
Dia ingin segera menghirup wangi tubuh Reva agar rasa lelah dan penat yang ia rasakan seharian ini bisa segera hilang.
Saat tiba di depan pintu.Ternyata Roy, sudah berjalan kearahnya.
Roy segera meraih tas jinjing yang ada di tangan Tristan.
"Langsung pulang,Tuan.?"
"Memangnya mau kemana lagi,aku tidak ada waktu untuk main main sekarang,istriku menungguku di rumah"
"Siapa tahu anda mau nongkrong dulu,paling tidak jalan jalan sore menunggu waktu petang"
"Roy,aku ini bukan lagi remaja yang punya hobi nongkrong,atau jalan jalan seperti yang kamu bilang barusan.Aku ini lelah,dan obat lelahku ada di rumah,yaitu wajah dan wangi tubuh Reva, jadi tidak perlu berkeliling mencari kesenangan diluar sana.Bukannya membuatku senang malah membuatku bertambah lelah saja"
"Iya iya yang sudah punya pawangnya" Goda Roy.
"Sudah berapa kali kubilang Roy,makanya cari istri biar kamu merasakan nikmatnya memiliki istri,biar otakmu tidak beku"
"Iya Tuan ini juga lagi nyari gadis yang cocok."
"Memangnya ada apa dengan pacar Ldr mu itu,apa kalian sudah putus?"
"Tidak usah dibahas Tuan, membuatku sakit hati saja"
"Ha ha ha Roy, Roy. Sudah kubilang yang dekat saja belum tentu setia apa lagi yang jauh bisa bisa dia malah kena boking,iya Kan?"
"Tuan benar mulai sekarang saya mau mencari gadis yang ada di kantor ini saja dari pada jauh jauh ujungnya bikin sakit hati"
"Kalau sudah jodoh,akan ada saatnya kamu dipertemukan dengan gadis yang baik.Jadi bersabarlah Roy."
"Iya,Tuan.Saya akan bersabar sampai hari itu tiba" Ucap Roy yakin.
Tak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki gerbang mansion.
Roy hanya mengantar sampai di depan pintu.Dia tidak berniat untuk masuk,sebab Tristan melarangnya untuk menatap wajah Reva, lebih dari satu detik.
Roy, Tidak mau terkena masalah,kalau dia sampai masuk dan menatap wajah Reva, lebih dari satu detik.Itu akan membuat Roy, kehilangan mata sekaligus pekerjaannya.
"Kenapa kamu tidak pernah mau masuk, apa ada yang mengancam mu sehingga kamu tidak berani masuk?" Ucap Tristan,dengan pertanyaan konyolnya.
"Tidak Tuan, saya hanya sedang buru buru.Lain kali saja saya mampir" Ucap Roy, kesal.
Dasar bos sialan dia yang membuat peraturan, dia juga yang menanyakan alasannya.Andai kamu bukan bos ku sudah dari dulu ku cekik lehermu itu Tuan.Gumam Roy, hanya mampu berucap dalam hati.
"Ya sudah sana pulang,aku juga mau buru-buru masuk,aku sudah kangen dengan senyum manis istriku." Usir Tristan seraya mengibaskan tangannya.
__ADS_1
"Dasar orang aneh" Gumam Roy, seraya berlalu dari sana.
Bersambung