DOKTER CINTA CEO

DOKTER CINTA CEO
Bab 57


__ADS_3

Pak kades dan warga lainnya memutuskan untuk pulang ke rumah mereka masing masing.Mereka ingin memberikan kesempatan untuk keluarga kecil itu berbincang dan melepas rindu.


"Aku...sudah nyaman tinggal di desa,kalau untuk kembali hidup di kota rasanya aku harus beradaptasi lagi.Aku juga ingin menghabiskan masa tua ku disini.Jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota.Bila kalian memang menginginkan kembali hidup bersamaku,maka kalian harus mengikuti jalan yang aku pilih yaitu tetap tinggal di desa terpencil ini" Ucap Gina pasti.


"Bagaimana bisa aku meninggalkan kota yang sudah memberikanku kehidupan yang layak.Apa mungkin aku bisa beradaptasi dengan kehidupan baru di desa terpencil seperti ini." Ucap Burhan dengan perasaan berat.


"Kalau aku,ingin sekali mencoba tinggal di desa.Sepertinya tempat ini nyaman.Ayah apa boleh aku tinggal disini bersama ibu?"


"Sebenarnya Ayah merasa keberatan jika harus berpisah jauh dari kamu.Tapi jika itu bisa membuatmu senang, Ayah tidak akan melarang mu,Nak."


"Apa benar kamu mau tinggal disini,jika itu benar Ibu akan senang sekali,Nak."


"Iya,Bu.Aku serius,kalau Ayah setuju aku akan tinggal disini bersama Ibu."


"Kalau Ayah, Terserah sama kamu Mira, mana yang membuatmu senang.Tapi kalau untuk Ayah sendiri, rasanya masih banyak yang harus Ayah pertimbangkan.Kalaupun Ayah harus tinggal disini bersama kalian.Itu artinya Ayah harus mengundurkan diri dan menyerahkan jabatan Ayah di perusaahan kepada Presdir, dan Tuan Tristan."


"Mas,aku tidak memaksa kamu untuk ikut tinggal bersama ku.Aku tahu tidak mudah untukmu mengambil keputusan.Pikirkan semuanya sebelum terlambat.Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari.Disini aku akan selalu menanti kedatangan mu.Bila suatu hari kamu berubah pikiran,datanglah kemari aku akan senang hati menyambut mu."


"Ibu benar,Ayah.pikirkan semuanya secara matang,jangan sampai Ayah menyesal kemudian hari.Tapi aku berharap kita bisa mewujudkan mimpi yang selama ini tertunda yaitu memiliki keluarga yang utuh.Namun seandainya semua itu tak bisa terwujud,aku pun tak ingin memaksakan kehendak ku."


"Mira,Gina hari ini aku akan kembali dulu ke kota,setelah semuanya beres aku akan kembali lagi kesini,dan semoga saat itu tiba aku sudah menemukan jawaban dari semua ini"


"Baiklah,Mas.Aku juga tidak memiliki hak untuk menahan mu untuk tetap tinggal disini.Pergilah bila kamu sudah menemukan jawabannya maka kembalilah aku akan menunggumu."


"Jaga diri kalian baik-baik, Mira seandainya kamu ingin kembali ke kota dan tidak betah tinggal disini,maka hubungi Ayah.Pasti Ayah akan datang menjemputmu."


"Iya,Ayah.Hati hati dijalan,jaga diri Ayah,kalau ada apa-apa, segera hubungi kami,Yah."


Keputusan yang berat bagi Burhan namun dia harus melakukan ini.


Mengingat masih banyak pekerjaan di kantor yang harus dia selesaikan dalam waktu dekat.


Kalaupun dia harus resign maka dia harus menyelesaikan dulu semua pekerjaannya dan mencari seseorang yang bisa menggantikan posisinya di perusahaan Tristan, yang selama ini telah memberinya kehidupan yang layak.

__ADS_1


Burhan bukannya tidak mau tinggal di desa,tapi untuk saat ini biarlah mereka kembali berpisah,setelah semua tugasnya selesai dia pasti kembali lagi ke desa untuk tinggal bersama anak dan istri tercinta.


Tujuan Burhan sekarang adalah menemui Presdir, dan juga Tristan. Dia ingin berbagi kebahagiaan ini kepada dua orang yang telah berjasa terhadap hidupnya.


Burhan juga berniat memberitahu keinginannya untuk pindah ke desa dan resign dari pekerjaannya.


Sementara itu di Mansion milik Tristan. Nampak dua orang yang saat ini tengah bergelung dalam satu selimut.Tristan, berbaring memeluk tubuh Reva. Mereka sedang membicarakan masalah program kehamilan Reva.


Tristan tidak mengizinkan Reva untuk pergi ke Kampus,bahkan Tristan meminta Reva untuk berhenti sementara dari kampus.


Reva sendiri tidak keberatan,dia ingin menebus kesalahan yang telah diperbuatnya.Reva ingin segera hamil dan memberikan penerus bagi keluarga Presdir.


"Sayang apa kamu yakin tidak akan menyesal,karena sudah mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan kuliahmu?"


"Aku sudah yakin,Kak. Aku juga ingin segera hamil,aku ingin mansion ini ramai oleh suara celoteh anak anak kita.Aku yakin pasti bakal seru kalau mansion ini ada anak kecil."


"Iya,Sayang.Aku juga penasaran seperti apa wajah anak kita nanti.Kalau dia anak cewek pasti dia secantik kamu" Ucap Tristan, seraya mengecup pipi mulus Reva.


"Kalau anak cowok pasti dia tampan seperti daddy-nya."


" Iya,daddy.Nanti kalau kita punya anak aku mau dipanggil mommy dan Kakak di panggil daddy.Pasti lucu dan keren."


"Panggilan yang bagus.Kalau begitu ayo kita mulai buat anak.Agar keinginan kita untuk jadi daddy dan mommy tidak cuma mimpi."


Ucapan Tristan, sontak membuat pipi Reva bersemu merah.Sementara tangan Tristan, sudah lebih dulu bergerak meraba setiap lekuk tubuh Reva.


Memegang tempat favoritnya. Berlama-lama di sana hingga terdengar de****n dari bibir Reva.


"Aahhh Kakak."


Bukan hanya tangan tapi juga bibir Tristan, mulai bekerja secara aktif.Mulai menyerang bagian bagian sensitif Reva.


Reva yang berada di bawah kungkungan Tristan, hanya pasrah saat tubuhnya dikuasai oleh Tristan.

__ADS_1


Reva menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Tristan. Rasanya semakin nikmat saat yang melakukan sentuhan sentuhan hangat itu adalah pria yang kita cintai dan juga mencintai kita.


Sejak Tristan, mengungkapkan perasaannya,Reva sudah tidak malu malu untuk menunjukkan ekspresi perasaannya.Seperti sekarang ini Reva tidak lagi canggung atau malu untuk meminta Tristan, melakukan hal yang lebih gila dari biasanya.


Tristan, dengan senang hati menuruti keinginan Reva. Bahkan tampa diminta Tristan, rela memberikan apapun yang Reva inginkan.


Tristan, merasa puas saat dia tahu bisa memenuhi dan mengimbangi keinginan Reva.


Begitulah malam itu menjadi malam yang panjang untuk kesekian kalinya.Namun terasa berbeda kepuasan yang mereka dapatkan saat tahu bahwa mereka saling mencintai.


Di akhir permainan Tristan, beberapa kali mengucapkan terima kasih dan menyebutkan nama Reva dengan begitu lembut.Membuat Reva semakin terbang tinggi mencapai puncak nirwana.


Selesai dengan aktivitasnya, mereka saling peluk dengan nafas yang terengah-engah.


"Sayang,aku harap tembakan ku kali ini tidak meleset.Dan bulan depan kita sudah mendengar kabar baiknya."


"Aamiin, Iya Kak semoga aku bisa hamil secepatnya."


"Kamu jangan terlalu lelah,tidak usah membantu Bibik lagi di dapur.Aku akan mendatangkan seorang chep yang ahli di bidang gizi agar nutrisi mu bisa terpenuhi."


"Aku mana pernah lelah,Kak? Bila aku lelah itu pasti gara-gara Kak yang membuatku kelelahan."


"Biar lelah tapi kamu suka,Kan? Buktinya kamu sampai beberapa kali mengerang nikmat,bahkan dada dan pundak ku habis kamu gigit dan kamu cakar"


"Kakak .... tidak perlu diungkit,aku jadi malu,Kak." Ucap Reva seraya memukul dada Tristan. Malu rasanya saat mengingat adegan-adegan panas mereka.Reva pun tak menampik ucapan Tristan, memang benar dia seperti hilang kendali saat mencapai puncak.


"Iya iya kenapa harus malu,kamu bebas mengekspresikan perasaan mu di depanku.Aku malah senang bisa membuatmu puas."


"Tapi tidak perlu di ucapkan membuat aku malu,Kak."


"Baiklah,aku tidak akan mengungkitnya lagi.Sekarang ayo tidur,istirahat yang cukup agar besok tenaga mu kembali pulih" Ucap Tristan, seraya menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua,lalu mendekap Reva dalam pelukannya.


Akhirnya mereka berdua tertidur saling peluk.

__ADS_1


Bersambung.......


Akhirnya bisa up lagi. Terima kasih buat kalian semua semoga terhibur dengan karya aku,jangan lupa sajennya ya😁😘🥰


__ADS_2