
"Aku sengaja,Melakukan ini Kak.Bukankah Kakak tidak pernah bilang mau punya anak dariku,Kakak juga tidak pernah membahas apapun, baik tentang perasaan Kak Tristan atau,kelanjutan hubungan pernikahan kita." Ucap Reva dengan posisi masih memeluk pinggang Tristan, erat.
"Aku bingung,Kak.Dengan sikap Kakak, selama ini,aku sering menduga apakah Kak Tristan sudah membuka hati untukku atau belum.Kakak juga begitu tertutup,tidak pernah mengatakan keinginan Kak Tristan,Aku hanya mencoba untuk menjaga hati dan perasaanku kelak.Aku hanya mencoba untuk tidak terikat dengan pernikahan yang seperti mainan ini,Kak." Ucap Reva kembali.
"Aku hanya punya mimpi sederhana,ingin membangun rumah tangga sekali dalam seumur hidupku,tapi melihat sikap Kakak seperti ini,membuat ku ragu untuk melanjutkan pernikahan kita.Bila Kak Tristan, ingin marah padaku,marahlah,Kak. Tapi sebelum itu coba Kakak tanya pada hati kecil Kak Tristan, apa sikap Kakak, selama ini sudah benar atau belum." Timpal Reva kembali.
Kemudian tampa berkata lagi Reva melepaskan pelukannya, lalu melangkah keluar dari dalam kamar.
Tujuan Reva, saat ini adalah taman.Dia ingin menenangkan pikirannya sejenak di sana.
Sementara itu,Tristan terpaku di tempatnya berdiri,mencoba menyelami setiap kata demi kata yang diucapkan Reva, barusan.
Apa yang diucapkan Reva ada benarnya,dia memang tidak pernah menyatakan perasaannya,tidak pernah membahas tentang tujuan pernikahan mereka.
Tristan, mengira dengan Reva memiliki perasaan cinta terhadapnya, itu sudah lebih dari cukup.Tidak perlu lagi Tristan, mengatakan apapun.Reva, pasti paham dengan perasaan dan keinginan Tristan.
Ternyata,pikiran tersebut salah.Reva masih menuntut kejelasan akan hubungan mereka.
Tapi apa ini adalah kesalahannya?, Bukankah dia sudah memberikan Reva segalanya,selalu mejadikan Reva prioritasnya, memperhatikan apapun keadaan Reva,memenuhi segala keinginan Reva, dan juga melindungi Reva, dari bahaya apapun.
Apakah itu belum cukup,untuk membuktikan keseriusannya.
Tristan, masih tidak mau disalahkan, dia tidak salah apa-apa, Reva lah yang bersalah mengapa tidak meminta izin lebih dulu darinya,untuk apapun keputusan yang Reva ambil.
Bagaimana kalau Ayah dan ibunya tahu jika Reva sengaja menunda kehamilan.Pasti kedua orang tuanya akan sangat kecewa.Tidak!, mereka tidak boleh tahu.Ayah dan ibu jangan sampai mengetahuinya.
Tristan, melangkah keluar dari kamar.Mengambil jaket dan juga kunci mobil. Tujuannya kali ini ialah apartemen Roy.
Dia ingin berbagi keluh kesah pada Roy.
Tristan, mengemudikan mobil menuju apartemen Roy. Tiga puluh menit kemudian Tristan, sudah sampai di parkiran apartemen Roy. Kemudian Tristan berjalan ke arah lift,menekan angka delapan belas, di sana lah kamar Roy berada.
Setelah tiba di lantai tujuannya. Tristan, kemudian memencet bel.Tak lama pintu terbuka menampakan wajah Roy, yang terkejut dengan kedatangan Tristan yang mendadak.Menduga duga mengapa Bosnya bisa sampai ke apartemennya tampa memberi kabar.
"Silahkan,masuk Tuan" Ucap Roy, gugup.
Tristan, melangkah masuk tampa bicara sepatah kata pun.Lalu berjalan ke arah sofa panjang kemudian membaringkan tubuhnya di sana.
"Apa Tuan, ada masalah?.Kenapa malam-malam begini Tuan datang kemari?. Bila memang ada masalah,silahkan Tuan cerita,mudah mudahan saya bisa membantu mencari jalan keluarnya,Tuan" Ucap Roy, dengan perasaan takut akan ocehan Tristan.
"Memangnya,kamu tahu apa tentang masalah rumah tangga?,kamu saja masih menjomblo hingga sekarang" Ucap Tristan, kesal.Tapi untuk apa dia kemari,bukankah tujuannya adalah ingin bercerita pada Roy.
__ADS_1
"Siapa tahu saya bisa membantu,Tuan.Tapi kalau Tuan, keberatan untuk cerita saya tidak bisa memaksakan kehendak,Kan Tuan?" sanggah Roy.
Tristan, hanya diam seribu bahasa.Roy kemudian beranjak ke pantry,berniat membuatkan Tristan, teh hangat.
Tak lama setelah itu dia sudah keluar membawa dua cangkir teh,dan juga cemilan.
"Silahkan,minum teh anda Tuan, nanti keburu dingin." Tawar Roy kemudian.
Tristan, segera bangkit lalu duduk berhadapan dengan Roy.
"Aku kesal Roy, istri yang selama ini aku prioritaskan ternyata berani berbuat curang di belakang ku.Dia tidak jujur padaku Roy. Aku kesal sekali."
"Memangnya apa yang sudah Nona Muda lakukan,sehingga membuat Tuan kesal."
"Tenyata selama ini dia menggunakan alat kontrasepsi, dia tidak mau mengandung anakku Roy. Sedangkan kamu tahu sendiri, Kan? kalau Ayah dan ibuku sangat menginginkan cucu dariku."
"Apa anda sudah tanyakan alasan,kepada Nona Muda, kenapa dia sampai melakukan ini."
"Sudah,dia bilang karena aku tidak pernah bilang mau punya anak darinya,dia juga bilang pernikahan kami seperti mainan,dia juga bilang aku tidak terbuka dengan keinginanku."
"Bukankah selama ini aku sudah sangat perduli padanya,selalu menjadikan dia prioritas, dan memberikan semua hak haknya,lalu dimana letak kesalahanku.Coba kamu jawab Roy. "
"Sebenarnya ini bukan salah anda,atau salah Nona Muda, tapi ini kesalahan pada komunikasi kalian,menurut saya ucapan Nona ada benarnya juga,kalau selama ini anda tidak pernah mengatakan apapun padanya,bagaimana dia bisa yakin untuk mengandung benih anda"
"Bukan maksud saya untuk menyalahkan anda,Tuan.Tapi coba Tuan pikir,apakah selama ini anda sudah pernah menyatakan perasaan anda pada Nona Muda?,misalnya anda bilang kalau anda mencintainya,atau anda bilang menginginkan pernikahan kalian tetap berlanjut, setidaknya wanita perlu kepastian Tuan bukan hanya perhatian atau prioritas seperti yang anda bilang tadi."
"Bukankah Reva bilang bahwa dia mencintaiku,jadi buat apa aku harus menyatakan perasaan ku lagi" Ucap Tristan, diiringi gelengan kepala Roy yang merasa heran dengan pemikiran Bosnya.
Usia boleh dewasa,tapi hati dan pikiran anda ternyata masih seperti bocah,Tuan.
"Apa anda yakin Nona muda benar benar mencintai anda?,kalau iya kenapa anda ragu untuk menyatakan perasaan anda pada Nona Muda,atau jangan jangan anda memang belum selesai dengan masa lalu anda,Tuan?"
"Aku .... " Ucapan Tristan menggantung.Meneliti kembali hatinya sendiri apakah benar dia sudah lepas dari masa lalunya bersama Renata,atau masih berada dalam bayang bayang masa lalu tersebut.
"Apa yang harus aku lakukan Roy?"
"Sebelum terlambat sebaiknya anda temui Nona Muda, ungkapkan perasaan anda yang sebenarnya,minta maaf lah,meski anda tidak bersalah karena pada dasarnya wanita itu selalu benar dan kita pria selalu salah,Tuan"
"Jadi aku harus mengungkapkan perasaan ku sekarang,dan minta maaf atas segala kekeliruanku?"
"Sebaiknya begitu,Tuan.Temui Nona Muda sekarang sebelum terlambat,atau anda akan menyesal,bila dia sudah memilih pergi."
__ADS_1
Tampa bicara lagi Tristan segera bangkit dari sofa yang didudukinya,lalu melangkah keluar menuju lift, menekan tombol lantai dasar, berlari kecil menuju mobilnya yang terparkir.
Tristan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi,berharap agar bisa cepat sampai di mansion,untuk menemui sang pujaan hati.
Setiap detik yang dilalui Tristan terasa begitu lambat.Rasa takut kehilangan untuk kedua kalinya menjalar kedalam relung hati.
Reva sayang tunggu aku,jangan pergi dari sisiku, Reva sayang maaf untuk semua hal yang sudah membuatmu menunggu hingga ragu.
Sesampainya di mansion Tristan memarkirkan mobilnya asal,berlari menaiki tangga menuju lantai teratas dimana kamarnya berada.
Tampa mengetuk pintu Tristan membuka pintu dengan kasar.
Tristan terkejut saat mendapati kamar kosong.
Ia berlari ke arah balkon berharap Reva berada di sana,tapi nihil Reva juga tidak ada di sana.
Tristan menuju kamar mandi mungkin saja Reva sedang berada di sana,akan tetapi lagi lagi Tristan menemui kekecewaan.
Tempat terakhir yang harus Tristan periksa ialah ruang ganti,Dengan harapan yang semakin tipis, perlahan Tristan membuka lemari pakaian Reva,berniat memeriksa apakah lemari pakaian Reva masih utuh atau sudah kosong.
Hati Tristan berdebar kencang saat akan membuka pintu lemari.Merasa takut akan kenyataan bila dia harus menemukan isi lemari Reva kosong.Itu artinya Reva sudah benar-benar pergi meninggalkannya.
Saat pintu lemari terbuka,hati Tristan terasa lega sebab isi lemari tersebut masih utuh dan rapih seperti semula.
Lalu kemana Reva,tapi tunggu kalau Reva tidak ada dikamar,apa mungkin Reva sudah pergi Tampa membawa sehelai bajunya.
Perasaan takut dan khawatir kembali merasuk kedalam hati Tristan.
Akhirnya Tristan berlari menuruni anak tangga,satu tempat yang belum ia datangi,tempat kesukaan Reva. Ialah taman di bawah sana.
Tristan berlari,menuju taman dengan harapan Reva ada di sana.
Seketika perasaan Tristan mencair tatkala mendapati sosok Reva yang duduk di tepian kolam,ditemani Bik Asih.
Bik Asih yang menyadari kedatangan Tristan dan berniat akan pergi,namun dengan satu kali petunjuk dari Tristan,Bik Asih mengurungkan niatnya.
Tristan mendengarkan obrolan Reva dan BIk Asih.
"Bik,nanti kalau saya udah gak disini,Bibik tolong jaga,kak Tristan,atur pola makan dan waktu tidurnya,jangan biarkan dia tidur terlalu malam dan ingat Bik,jangan kasih dia makan yang pedas,sebab Kakak tidak bisa makan pedas,nanti bisa sakit seperti dulu."
"Memangnya siapa yang akan pergi? Apa aku akan mengizinkan kamu pergi?"
__ADS_1
Bersambung .........