
Selepas kepergian Reva,Tristan bisa bernapas lega,ia mengelus dadanya yang berdebar kencang.
"Kenapa dia cantik sekali?ada apa dengan ku, hanya dengan mencium aroma tubuh nya membuatku gerah?,ah ....sial bagai mana cara meredam rasa ini?,apakah aku harus mandi?,mana pekerjaanku tanggung lagi". Tristan terlihat gelisah,kedatangan Reva tadi membuat sesuatu di tubuhnya bergejolak,setelah berperang dengan pikiran akhirnya tristan memutuskan untuk mandi.
Waktu menunjukkan pukul lima empat puluh menit,itu artinya sudah mendekati waktu maghrib Tristan bergegas pergi ke kamarnya,namun sial saat dia melangkah masuk sosok itu tengah berada di atas Ranjang dengan posisi tengkurap dan dua kaki yang di tekuk keatas sehingga dress yang dia kenakan tersingkap keatas memperlihatkan paha putih mulusnya ,sesekali dia menggoyangkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri,Reva sepertinya tidak menyadari kehadiran Tristan sebab posisinya membelakangi dan di telinganya terpasang ear phone .
"*Y*a tuhan ...kenapa aku benar benar sial?,bisa ga sih itu bokong ga usah di goyang gitu,ah...aku harus bagai mana ini ?awas saja aku makan kamu nanti".Tristan kembali perang batin,sesuatu yang sedari tadi membuat sesak celananya, sekarang bertambah sesak lagi melihat pemandangan yang begitu menggoda di depan mata nya.
" Sabar Tristan sabarrrr sekarang belum saat nya, ayo atur napas buang perlahan,buat dirimu rileks,jangan sampai membuat nya takut,ayo semangat!"Kembali Tristan merayu dirinya sendiri,merasa sudah bisa mengendalikan diri Tristan buru buru masuk kamar mandi pura pura tidak melihat keberadaan Reva di sana.
Reva terlonjak kaget saat melihat Tristan melintas di hadapannya,dengan spontan dia bangkit dan duduk di atas ranjang sembari merapikan pakaiannya.
"Apa Kak Tristan melihat posisi ku tadi?kalau ia ah...betapa malunya aku,bagai mana ini ?apa yang harus ku lakukan?bagai mana kalau dia mengira aku berniat menggoda nya? mati aku". Reva bergumam lalu dia bangkit dan masuk ke ruang ganti berniat menyiapkan pakaian Tristan .
Reva mengambil baju koko,sarung,peci,serta sajadah, ketika akan mengambil dalaman milik Tristan seketika wajah Reva memerah "Ambilin juga gak ya tapi kalau gak di ambil nanti dikira nya aku teledor" Mau tak mau Reva menarik satu pakaian dalam milik Tristan dan menaruh nya di atas ranjang bersama pakaian yang lain setelah itu Reva keluar dari kamar dan pergi ke bawah dia ingin menghindari Tristan.
Sementara itu Tristan yang berada di dalam kamar mandi sedang berusaha meredam birahi nya yang memuncak,Tristan memilih mengguyur tubuhnya dengan air dingin,setelah di rasa cukup Tristan menyudahi ritual mandinya,kemudian mengenakan handuk dan berjalan ke arah pintu,Tristan membuka sedikit pintu kamar mandi, kemudian dia mengintip dari celah pintu memastikan keberadaan Reva.
"Ke mana perginya?apa dia menyadari kedatangan ku?tapi baguslah setidaknya aku bisa keluar dengan tenang"
Tristan melangkah keluar dan saat melintasi ranjang matanya melihat setumpuk pakaian miliknya ada di sana,ia lalu bergegas menuju ranjang dan mengenakan pakaian yang disiapkan oleh Reva.Tristan menyunggingkan senyum nya merasa senang karena Reva memperhatikannya,kemudian ia bergegas pergi ke Masjid.
...****************...
Selesai makan malam Tristan kembali masuk ke Ruang kerja,ia berniat menyelesaikan semua pekerjaannya agar bisa secepatnya mengungkap dalang di balik semua masalah yang ada di Perusahaan.
" Rasanya sudah tidak sabar lagi ingin memberikan kejutan ini kepada kalian" Terlihat senyum sinis di bibir Tristan.
__ADS_1
Tepat pukul sepuluh semua pekerjaannya beres,Tristan kemudian menghubungi Roy.
"Halo Roy,perintahkan kepada seluruh Staf Kantor,agar hadir lebih awal,sebab besok pagi kita akan mengadakan rapat,dan jangan sampai ada yang tahu bahwa aku akan kembali ke perusahaan!!,kamu mengerti? dan satu lagi tolong siapkan pakaian kerja yang baru,karena semua pakaianku yang lama sudah tidak muat,dan besok pagi kamu antar kesini sekalian jemput aku"
" Baik tuan saya mengerti"Tristan memutus panggilan nya.
"Kalian tunggu saja,kejutan apa yang akan aku bawa besok"Tristan melangkah keluar dari Ruang kerja, kemudian dia menuju kamar berniat untuk tidur.
Saat tiba di depan pintu kamar,perasaan ragu menghampiri Tristan, dia takut tidak bisa mengendalikan diri. "Kenapa aku harus tersiksa begini?bukan kah dia istri ku?mau diapakan juga kan sudah halal,tapi....apa dia mau aku sentuh?bagai mana cara merayu nya? ayo Tristan berpikir!"
Tristan melangkah masuk,saat tiba didalam kamar ternyata Reva sudah meringkuk di dalam selimut,terdengar dengkuran halus menandakan bahwa dia sudah terlelap. "Sudah tidur rupanya",Tristan memilih berbaring di samping Reva ,dan ikut masuk kedalam selimut,Tristan memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Reva yang tertidur pulas,tangan nya terulur menyibak rambut yang menutupi wajah lalu menyelipkan ke belakang telinga"Cantik"Gumamnya. Tak lama dengkuran halus terdengar, Tristan menyusul istrinya ke alam mimpi.
...****************...
Sayup sayup terdengar suara adzan berkumandang,terlihat dua insan manusia yang terlena dalam mimpi,sementara Reva kian merapatkan tubuh nya pada selimut tangan nya menggapai mencari keberadaan guling ,dan dia menemukannya hangat tapi kenapa keras?,Reva meraba-raba dengan mata tertutup,ia pijat-pijat dengan jari tangannya,kemudian dia usap usap perlahan "Mengapa guling nya berubah keras?" Perlahan Reva membuka mata,dia terperangah ternyata yang dari tadi dia peluk bukan guling melainkan Tristan,dan yang dia tusuk dengan jari adalah perut kotak kotak yang seperti roti sobek.
"Ma...maaf Kak,aku kira guling" Wajahnya bersemu merah.
Reva tergagap debar jantung yang tak terkontrol hingga menimbulkan bunyi dug..dug...dug.."ayah jantungku mau loncat."
Kak aku kan sudah minta maaf bisa tidak kakak menyingkir,tubuh kakak berat. "Ayo Reva cari alasan sebelum kamu mati kejang,berpikir Reva berpikir."
"Berat bagaimana bahkan aku menopang tubuhku dengan kedua tanganku,kamu mau mencari alasan apa lagi?sepertinya waktu yang ku beri untuk mu mempersiapkan diri sudah habis,ayo kita mulai."
Tubuh Reva bergetar,wajah nya pucat dia memalingkan wajah tidak berani menatap mata tajam milik Tristan.''Kak....waktu subuh hampir habis Kakak saja sudah telat pergi ke Masjid,ayo kita solat dulu Kak,''ayo Kak bangun aku takut "
"Ok kali ini kamu lolos,buruan mandi kita sholat di Rumah,atau mau mandi bareng?'' Tristan berkata seraya menaik turunkan alisnya membuat Reva bertambah gemetar,Tristan tertawa lucu melihat Reva yang ketakutan,Tristan menjauhkan tubuhnya terlihat Reva bernapas lega dan segera berlari ke kamar mandi lalu menguncinya dari dalam.
__ADS_1
" Jantungku....ah.... untung saja tidak copot,kenapa Kakak tampan sekali kan aku jadi..."
"Reva ayo cepat mandi " Tristan berkata dari balik pintu "Iya kak" Reva bergegas mandi setelah itu bergantian dengan Tristan kemudian mereka sholat berdua di rumah.
"Reva pagi ini berangkat bareng ya,aku mau kekantor"
"Hah???..."
"Kenapa terkejut begitu?kita berangkat bareng aku mau kekantor"
"Kakak mau kembali kekantor,mau bekerja kembali?.''
''Iya, bukan kah aku sudah menikah,kalau aku tidak kerja bagai mana aku bisa menafkahi mu?."
''Iya juga ya,berarti mulai hari ini aku akan menyiapkan pakaian kerja buat Kakak".
"Untuk hari ini aku sudah meminta Roy mencarikan untuk ku tapi untuk selanjutnya tugasmu menyiapkan untukku,setelah pulang Kuliah Roy akan menjemputmu kita akan pergi berbelanja pakaian dan perlengkapan yang lain."
"Baik Kak,aku akan memberi tahu kalau jam kuliah ku habis"
"Sekarang habiskan sarapan dan bersiap karena aku ada meeting pagi ini."
Terdengar bel berbunyi,tak lama seorang pria dengan tubuh tinggi tegap kulit Hitam manis wajah yang tak kalah tampan dari Tristan dan mata yang setajam elang namun memiliki aura yang begitu dingin. Masuk membawa baper bag dan memberikannya pada Tristan.
"Reva apa kamu tidak dengar aku bilang apa barusan?cepat bersiap kita akan berangkat pagi karena aku ada meeting!!."
Reva yang tengah memandang kagum kepada pria yang saat ini ada di hadapannya terkejut mendengar suara bariton Tristan. Ia terlonjak dan hampir jatuh dari kursi ketika melihat tatapan tajam dari Tristan "kenapa dia marah,apa karena aku memandang pria itu, takut bu...."secepat kilat Reva berlari menaiki tangga dia teramat takut dengan tatapan horor Tristan.
__ADS_1
"Kenapa tatapannya membuat aku bergidik ngeri,seperti melihat hantu ih...seram." Gumam Reva sembari masuk keruang ganti.
Bersambung.......