
Sebuah insiden kecil terjadi,tapi sudah menghebohkan satu kampus.
Orang-orang yang di tempatkan Roy, untuk menjaga Nona muda mereka terlihat panik,saat tahu Reva mengalami kecelakaan yang sebenarnya bukanlah hal yang besar.
Tampa sengaja saat Reva melintasi lapangan basket tiba-tiba saja bola yang sedang di mainkan oleh tim basket tersebut keluar lapangan dan mengenai kepala Reva, membuat Reva tersungkur alhasil jidatnya membentur tepian lantai Dan mengakibatkan kening Reva berdarah.
Dengan sigap orang kepercayaan Tristan membawanya ke rumah sakit,Reva sudah menolak dia ingin di rawat di klinik kampus saja,tapi karena para pengawal tersebut takut akan kemarahan Tristan, dengan sedikit memaksa akhirnya Reva bersedia di bawa ke rumah sakit.
"Sudah Kak,berobat di klinik kampus saja,saya tidak apa-apa hanya luka lecet" Ucap Reva.
"Nona harus mematuhi kami,jangan buat kami dalam masalah nona,kami mohon ikut kami ke rumah sakit"
"Masalah apa?,siapa yang akan menjadikan ini masalah,aku hanya luka lecet,tidak harus di jahit,apa lagi di rawat." Reva bingung karena memang dia tidak tahu siapa orang-orang yang saat ini bersamanya.
"Tuan Tristan akan menghukum kami nona,karena lalai menjaga anda,jadi kami harap menurut saja ya nona,ikut kami ke rumah sakit" Satu orang bernama dion sudah memohon.
Sedangkan Reva otaknya sedang loading,menebak apa dan siapa mereka,menit berikutnya baru Reva paham,ternyata mereka adalah pengawal pribadi yang di utus Tristan untuk menjaganya.
Pantas saja selama ini Kak Tristan bisa tahu apa pun yang ku lakukan ternyata ada mereka yang menguntit ku,mana jumlah mereka puluhan,dasar Kak Tristan orang aneh.
Mau tak mau Reva akhirnya ikut mereka ke rumah sakit.
Sedangkan Roy, yang sedari mendapat kabar terlihat mondar mandir di depan pintu,hatinya bimbang memberi tahu Tristan atau tidak.Sedangkan rapat pemegang saham masih berlanjut.
Sementara Tristan yang merasa curiga,karena sejak Roy keluar untuk menerima panggilan telpon,tak juga kembali ke ruang rapat.
Ada apa?kenapa Roy tidak kembali,apa sebenarnya yang terjadi?. Fokus Tristan tak lagi tentang rapat,tapi teralih pada Roy yang tak juga kembali.
Presdir menangkap kegelisahan Tristan.
"Ada apa? apa ada masalah?" Tanya presdir yang duduk tepat di samping Tristan.
"Tidak apa-apa, Yah aku hanya heran mengapa Roy masih belum kembali"
"Tenanglah,semua pasti baik baik saja,jangan khawatir,Roy pasti bisa mengatasi setiap masalah."
Tristan mencoba untuk fokus,tiga puluh menit kemudian rapat baru selesai.Tampa berbasa basi Tristan, lebih dulu keluar dari ruang rapat mencari keberadaan Roy.
Akan tetapi saat tiba di luar Tristan tidak menemukan keberadaan Roy.
__ADS_1
"Kemana dia apa ada hal yang serius?" Gumam Tristan.Kemudian ia merogoh saku celana,mengambil ponsel lalu menghubungi Roy.
*Halo,kamu di mana?"
"*********"
"Apaaaa?,bagai mana cara kerja pengawal mu, sungguh tidak becus!,awas saja kalau sampai terjadi sesuatu pada istriku,jangan harap besok kalian masih bisa bernapas!"
Usai memutus sambungan telpon,Tristan, segera berlari menuju lift,Tristan begitu panik,lift yang berjalan lambat pun tak luput dari kekesalannya.
"Dasar lift tidak berguna besok ganti semua dengan lift yang baru" Bugh umpat Tristan seraya menendang pintu lift saat tiba di lantai bawah.
Setelah keluar dari lift Tristan segera berlari ke parkiran,membuat beberapa staf yang ada di lobi penasaran, menerka apa yang sedang terjadi.
Suara roda mobil berdecit,tak lama mobil yang di kemudikan Tristan, sudah keluar dari gerbang kantor,masuk ke jalan raya lalu melaju dengan kecepatan tinggi.
Tristan sudah Tak perduli dengan keselamatannya sendiri,mendengar kepala Reva berdarah membuatnya terasa Tak lagi menginjak bumi.
"Percuma saja aku menugaskan puluhan pengawal untuk menjagamu,kalau kenyataannya Kamu masih bisa celaka! Roy Awas saja kalau terjadi sesuatu Sama istriku akan ku buat kalian menyesal!."
Hanya dalam hitungan menit Tristan sudah tiba di rumah sakit", Suara roda mobil Yang berdecit, lalu terparkir sembarangan. Tristan Tak memperdulikannya fokusnya sekarang adalah keadaan Reva.Berlari masuk ke dalam rumah sakit,mungkin karena terlalu Panik Tristan lupa bertanya dikamar nomor berapa Dan ruangan apa Reva di rawat.
Saat sedang kebingungan tiba tiba Dion datang Dan membawa Tristan ke ruang perawatan Reva.
"Sebenarnya apa tugas kalian sehingga Istri ku bisa celaka!" Berjalan dengan langkah lebar seraya berkata,dengan nada bicara Yang sudah meninggi.
"Maaf tuan ini Salah Kami,Kami Yang ceroboh,tidak bisa menjaga Nona dengan baik" Lebih baik mengakui kesalahan dari pada mendapat hukuman lebih Berat Pikir Dion.
Langkah kaki Tristan terhenti di pintu kamar rawat Yang sedikit terbuka,terdengar Suara Reva sedang berbincang dengan Roy, seketika amarah di otak Tristan mendidih."Berani Beraninya dia mengajak istriku bicara Benar Benar Mau di hajar!"
Padahal Reva Dan Roy membicarakan kronologi kejadian Bukan hal Yang Lain,tapi memang dasar Tristan posesifnya kelewatan.
Brak pintu di tendang dari luar,menampakkan wajah Yang penuh emosi,namun seketika kemarahan itu sirna saat Mata Tristan menangkap perban Yang membalut kening Reva.
"Sayang,Kamu tidak apa-apa?,apa Yang terjadi kenapa bisa Begini?"
"Kak aku tidak apa-apa, hanya lecet sedikit Nanti Juga sudah sembuh,jangan khawatir. begitu"
"Jangan khawatir?,Roy bilang kepalamu berdarah bagai Mana aku tidak Panik."
__ADS_1
"Iya Kak, hanya benturan kecil,tidak sampai di jahit,orang-orang Kakak saja Yang berlebihan membawa ku kemari,padahal bisa di obati di klinik kampus saja,tapi mereka bilang takut Kakak mengamuk,makanya mereka membawa ku kemari"
"Jelas aku akan mengamuk,kalau Kamu sampai terluka apa lagi berdarah aku bisa gila sayang." Roy melangkah keluar,meninggalkan dua insan yang terus berdebat.
Tristan meraih tubuh Reva kedalam pelukannya mengecup beberapa kali kening yang terluka berharap bisa menyembuhkannya.
Perlakuan Tristan yang seperti ini membuat Reva menduga duga bagaimana sebenarnya perasaan Tristan terhadapnya,bila Tristan tidak mencintainya mengapa sikap Tristan seperti ini.Begitu perduli dengan keadaan Reva, bahkan begitu panik saat tahu Reva terluka.
Kenapa begitu baik padaku Kak,jangan memberi harapan jika akhirnya kamu patahkan hatiku.
Hati Reva begitu sakit bila mengingat bahwa bukan dirinya yang Tristan cinta,melainkan wanita lain.Tak terasa air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh juga,sakit rasanya mencintai seseorang yang di hatinya malah mencintai wanita lain.
Tristan mendengar isak kecil Reva yang berada dalam dekapannya,seketika ia urai pelukan dan menangkup wajah Reva yang basah oleh air mata dengan kedua tangannya.
"Kenapa menangis,apa ada yang sakit?aku panggil dokter ya?." Tristan kembali panik, berniat meminta Roy memanggil dokter,tapi tangannya di cekal oleh Reva."Enggak Kak,aku gak sakit,aku menangis karena bahagia ternyata Kakak begitu perduli padaku,terima kasih ya Kak, atas kebaikan Kakak selama ini,yang begitu perhatian padaku"
"Ssssttt,jangan bicara begitu,kenapa harus berterima kasih,bukan kah wajar bila aku melakukan semua itu,sebab kamu itu istriku,yang harus ku prioritaskan jangan menangis,dan jangan pernah menangis,hatiku akan sakit bila melihat air mata jatuh di pipi cantikmu" Cup Tristan kecup jejak air mata yang membekas di sudut mata Reva.
Ternyata itu alasan kebaikan mu, karena aku istrimu,baiklah kak aku mengerti,aku berjanji akan tetap menekan hati dan perasaanku ini untuk tidak mencintaimu lebih dalam lagi.
Terdengar derap langkah kaki mendekat,tak lama pintu kamar terbuka memunculkan tiga wajah yang terlihat khawatir.Presdir,ibu dan Pak Ahmad,mereka mendapat kabar dari Roy tentang musibah yang menimpa Reva,membuat ketiganya panik dan segera pergi ke rumah sakit.
"Reva sayang" Ibu menghambur memeluk Reva mencium kening beberapa kali, lalu membelai wajah Reva.
"Kenapa bisa begini,apa lukanya dalam?"
"Tidak Bu,hanya luka lecet,tidak sampai di jahit,kalian jangan khawatir aku baik baik saja" Reva mencoba menenangkan hati ketiga orang tua yang terlihat begitu khawatir.
"Reva, lain kali berhati hatilah lihatlah Tristan, mendengar kabar kamu celaka,dia sudah seperti orang yang kerasukan,tidak memperdulikan keselamatannya sendiri mengemudikan mobil sudah seperti mau terbang,hanya dalam hitungan menit sudah sampai disini, Ayah harap jaga diri,dan hiduplah dengan baik,jangan membuat Tristan khawatir lagi" Ucap Presdir.
"Baik ayah,maaf sudah membuat kalian semua khawatir."
"Yang di katakan Presdir benar Reva, jaga dirimu sebaik mungkin,jangan membuat Tristan panik,ingat dia memiliki trauma yang begitu besar, jadi jangan sampai membangkitkan lagi trauma yang sudah hilang" Ucap Pak Ahmad.
"Iya ayah, maaf Reva melupakan itu" Rasa penyesalan muncul di hati Reva mengapa dia melupakan rasa trauma Tristan.
Akhirnya Tristan memutuskan untuk membawa Reva pulang,karena kondisi Reva memang baik baik saja.
Reva merasa bahagia sebab di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya,dan perduli akan keselamatannya.
__ADS_1
Bersambung........