
Malam yang begitu teduh,rembulan belum sempurna bentuknya menggantung dengan cahaya temaram,bintang pun berkelip menambah gemerlap cahaya di langit,angin berhembus begitu lembut menyapu dedaunan di sekitar rumah mewah milik Fani.
Sejak sore Baskoro sudah ada di rumah,kini duduk di tepian ranjang,memijat kaki Fani yang terbaring lemah di ranjang.
"Mas maaf ya,gara-gara aku sakit, kamu harus menderita seperti ini,harus menahan hasrat kelakian mu,apa kalau kamu menikah lagi ya mas,biar ada yang mengurus mu,dan juga ada yang melayani mu,aku tidak tega mas,melihatmu seperti sekarang ini." Ucap Fani.
"Fani, sayang kamu ngomong apa,jangan bicara hal yang membuatku kesal,aku tidak suka mendengar ucapan mu yang seperti ini,aku tidak akan pernah menikah lagi,kamu satu-satunya wanita dalam hidupku,jadi jangan bicara omong kosong lagi!" Ucap Baskoro kesal.
Memang benar Baskoro adalah pria yang setia,Fani mengakui itu.Bila sekarang Baskoro mempunyai wanita lain di luar sana,bukan karena dia mencintainya,melainkan untuk pemuas napsu nya semata.
Fani maafkan aku,bukan maksudku untuk mengkhianati cintamu,tapi aku benar-benar butuh wanita untukku melepas hasrat,percayalah aku hanya mencintaimu.
Baskoro meraih jemari tangan Fani lalu ia kecup mesra setiap jari-jari itu,mengharap Fani mengampuni bila kelak Fani tahu kebohongan Baskoro.
"Mas, Dokter Rian bilang kalau aku masih bisa sembuh, meskipun tingkat keberhasilan nya hanya lima puluh persen."
"Kalau itu benar, apa salahnya kalau kita coba,siapa tau berhasil,apa pun untukmu sayang aku pasti akan melakukannya" Ucap Baskoro sambil terus mengecup jemari tangan Fani.
"Tapi tempatnya jauh mas,ada di luar negri sana,dan pasti biayanya tidak sedikit"
"Sayang mengapa harus memikirkan soal biaya,berapa pun itu asal kamu bisa sembuh aku tidak perduli"
"Tapi jauh mas,apa aku sanggup berjauhan darimu,sedangkan kamu pasti tidak bisa menjagaku,karena pekerjaanmu yang padat"
"Aku akan bawakan pengawal bersamamu,agar mereka bisa menjagamu,percayalah semua akan baik baik saja."
"Aku akan konsultasi lagi dengan dokter Rian,sebelum keberangkatan"
"Kamu harus pergi,aku mau kamu sehat kembali seperti dulu,jadi semangat ya sayang."
"Iya mas,terima kasih karena selalu ada buat aku"
"Kenapa harus berterima kasih,sudah menjadi kewajiban ku, menjagamu karena kamu istriku yang harus jadi prioritas ku" Ucap Baskoro seraya membelai mesra wajah Fani dengan jari tangannya.
Kemudian Baskoro menarik selimut menutupi tubuh Fani hingga ke dada,mematikan lampu,hanya meninggalkan cahaya temaram saja,membelai mesra pucuk kepala Fani, hingga Fani terlelap.
Setelah memastikan Fani tertidur pulas,barulah Baskoro beranjak dari tempatnya,berjalan keluar menuju ruang kerjanya.
Setelah kepergian Baskoro,Fani kembali membuka matanya,seringai licik terbit di wajah pucatnya,kemudian Fani menghubungi seseorang melalu ponselnya.
"Halo, jalankan misi sesuai rencana,aku ingin semuanya berjalan sesuai rencana atur sebaik mungkin, karena aku tidak suka kegagalan!"
Sambungan telpon terputus Fanj meletakkan kembali ponselnya ke atas meja di sudut ranjang.
Baskoro kamu akan membalas semua kejahatan yang sudah kamu lakukan,tunggu saja karma itu pasti berlaku padamu.
 Sementara itu di dalam sebuah apartemen,di dalam ruang kerja,tampak Reno, sedang memeriksa beberapa berkas.
__ADS_1
"Semua barang bukti ini sudah cukup untuk bisa menyeret mu ke dalam penjara, tapi sebelum itu aku mau kamu mengikuti permainan ku,aku tidak mau kamu dihukum terlalu mudah,akan ku buat kami mati dalam penyesalan" Gumam Reno, seraya memegang poto usang seorang lelaki muda,yang tampak gagah dan tampan.
"Bersabarlah Om,sebentar lagi dendam mu akan terbalaskan" Senyum mengerikan terbit di wajah Reno.
Ponsel di dalam sakunya berdering terdengar suara wanita di sebrang sana."Baik Nyonya,kita atur waktunya,sebelum itu,aku akan membuat permainan kecil terlebih dahulu,aku akan membuatnya kelabakan dan ketakutan,tenang saja Nyonya,aku pastikan semua berjalan sesuai rencana" Sambungan telpon terputus.
"Tunggu saja kejutannya Nyonya"
...****************...
Pagi menyapa,sebagian orang tengah sibuk menyiapkan segala keperluan mereka pagi ini.Tak terkecuali Reva, dia nampak sibuk dengan wajan penggorengan, dan afron yang melekat di tubuhnya,sudah berapa kali Tristan melarangnya untuk pergi ke dapur,meski hanya membuat sarapan,tapi namanya hobi,Reva tidak mau dilarang.
Seperti pagi ini,sudah ada nasi goreng spesial,telur ceplok,teh hangat terhidang di meja makan,setelah beres menata hidangan di meja makan,Reva kembali naik ke lantai atas,untuk bersiap-siap karena hari ini kelasnya ada ujian praktek.
Saat tiba di kamar,Reva menemukan Tristan yang masih bergelung dengan selimut.
"Kak,kenapa belum bersiap,Kakak bilang hari ini ada meeting, ayo buruan bangun."
"Kasih ciuman selamat pagi dulu,seperti. biasa,baru aku mau bangun."
Idih mulai lagi dramanya,dia kira aku tidak tahu akal bulusnya.
"Kak,hari ini aku ada ujian praktek,harus berangkat pagi" Sambil melangkah mendekat,duduk di tepian ranjang meraih wajah Tristan, cup cup cup lakukan dengan cepat,setelah itu kabur niat hati Reva. Reva hendak bangkit,namun tangannya dicekal oleh Tristan, dengan sekali tarikan, sekarang posisinya sudah berada di atas tubuh Tristan.
"Kak,ayo bangun"
"Yang menyuruh mu bangun siapa aku belum puas,sini sini sini" Tristan menunjuk bagian mana saja yang mau di kecup.
"Iya''
Cup cup cup lakukan secepat kilat.
"Kenapa seperti terburu buru,tidak ada rasa ayo ulangi lagi,sini sini sini" Kembali menunjuk bagian mana saja,bahkan kali ini sudah merambat ke leher."Kak,aku bisa telat" Protes lagi."Makanya lakukan dengan benar,dan yang ini buat sampai ada bekasnya" Menunjuk leher.
"Kenapa harus sampai merah sih Kak,nanti terlihat oleh orang kantor,apa lagi kalau Ayah yang lihat aku malu Kak."
"Mau cepat selesai tidak,ayo cepat lakukan dengan hati,jangan terburu-buru"
Dasar orang aneh,kenapa harus disitu,kan banyak tempat yang lain.
Reva membatin, lalu merangkak naik melakukan sesuai arahan,perlahan dan terakhir di pangkal leher lakukan dengan perlahan sedikit hisap lalu gigit.
"Auuuuu Kamu mau membunuhku? kenapa di gigit? sakit"
"Kan Kakak sendiri yang bilang harus ada bekas,ya aku gigit,salahnya di mana coba?"
"Ya tidak harus digigit juga kan,apa kamu sengaja mau membunuhku,awas saja nanti malam aku akan beri hukuman"
__ADS_1
Aku gak takut hukuman nya pasti seperti yang sudah sudah membuat kamu puas kan.Sudah terlintas di pikiran Reva.
Tristan bangkit menuju cermin meja rias, melihat leher yang bekasnya bukan hanya merah tapi sedikit kehitaman,bekas gigi masih terlihat.
Awas saja nanti malam hukuman mu akan lebih berat.Oh leherku yang malang,hampir saja kamu putus.
Setelah beres mereka turun kebawah untuk sarapan,lalu berangkat ke tempat tujuan masing masing.
Di dalam mobil Tristan melepas dasi yang di pasang oleh Reva, membuka satu kancing kemeja paling atas,sengaja memperlihatkan bekas kecupan Reva yang membekas merah kehitaman.
Roy yang di belakang kemudi,melirik melalui kaca spion yang ada di depannya.
"Cih anda mau pamer sama siapa tuan?,dasar otak mesum apa tidak malu kalau terlihat oleh Ayah dan Ayah mertua anda,dasar orang aneh.
"Roy coba lihat,bagus kan? ini hasil karya Reva pagi ini,apa kamu tidak penasaran dengan rasanya, makanya ayo menikah!"
Roy hanya menggeleng, merasa heran dengan kelakuan mesum bosnya.
"Tuan bukankah kita mau meeting, kenapa dasi tuan malah dilepas?,bakal banyak kolega dan para pemegang saham yang hadir,saya takut mereka tidak fokus dengan isi rapatnya,tapi fokus mereka terpecah dengan leher anda" Ayolah jangan bikin malu dan gaduh suasana,aku yang melihatnya saja merasa risih,apa lagi orang-orang kantor nanti.
"Biarkan saja, salah mereka kenapa tidak fokus,aku suka gaya ku seperti ini,lagi pula tanda ini membuatku berenergi dan tambah bersemangat,terserah mereka mau bilang apa"
Suka suka anda saja tuan,ini kan perusahaan anda yang lain cuma kerja.
Menurut Roy, capek bila harus berdebat dengan orang yang aneh seperti bosnya.
Dan ternyata benar ruang meeting yang seharusnya berjalan lancar,berubah jadi ruang gosip.Terdengar bisik bisik dari beberapa orang, tapi Tristan bukannya marah malah tersenyum puas.
Dadar gila.Umpat Roy.Bahkan saat baru masuk kantor tadi dengan sengaja memamerkan lehernya kepada staf yang ada di lobi.Roy hanya menepuk jidatnya,tak habis pikir dengan kelakuan tengil bosnya.
Di tengah tengah rapat yang masih berlanjut,dering ponsel Roy berbunyi,ia segera beranjak dari kursi rapat,melangkah ke luar ruangan.
"Halo,ada apa?"
"******"
"Aku masih rapat''
"*******"
"Memangnya tidak bisa kamu atasi sendiri!"
"********"
"Apaaaa? Bagaimana cara kerja kalian, menjaga nona muda saja kalian tidak becus! kumpulkan semua pengawal,aku akan segera ke sana!"
Roy terlihat bingung,entah kabar apa yang dia dengar,seketika membuatnya panik,bila terjadi hal buruk pada nona muda pasti lehernya yang akan terpisah dari badan.
__ADS_1
Non Reva semoga anda baik baik saja.
Bersambung...........