
Dua hari lagi jadwal keberangkatan Fani ke luar negri untuk berobat. Fani ingin membawa Reno, sebagai pengawal pribadinya selama di luar negri.
Malam ini Fani berencana meminta izin pada Baskoro untuk mengizinkan Reno pergi keluar negri bersamanya.
"Mas dua hari lagi jadwal keberangkatan ku keluar negri,apa mas bisa mengantarku ke sana?"
"Sebenarnya aku ingin sekali menemanimu pergi,tapi kamu tahu sendiri kan perusahaan kita masih memerlukan aku,banyak proyek yang harus di selesaikan dalam waktu dekat ini,membuatku tak bisa kemana mana" Ucap Baskoro.
"Iya mas aku ngerti,tapi boleh gak mas kalau aku minta satu hal dari kamu"
"Apa pun itu,pasti akan aku kabulkan,apa sih yang enggak buat istri tercinta ku ini" Cup Baskoro mengecup jemari tangan Fani.
"Aku mau Reno, yang nemenin aku pergi,apa mas ngizinin?"
Baskoro nampak berpikir,merasa heran kenapa harus Reno, dari sekian banyak pengawal yang ada di rumah atau pun perusahaan, bukankah Fani punya banyak orang kepercayaan, kenapa malah memilih Reno.
"Apa alasannya kamu memilih Reno?"
"Karena Reno, orangnya sigap,tanggap dan yang pasti dia bertanggung jawab,aku akan pergi dengan tiga orang pengawal,salah satunya Reno, boleh ya mas?"
"Baiklah,jika itu yang kamu inginkan,tapi berjanjilah bahwa kamu akan pulang dengan keadaan yang lebih sehat dari sekarang,janji"
"Iya mas,aku akan berusaha untuk kembali sehat,tapi aku tidak bisa janji mas,karena kesembuhan itu tuhan yang bakal kasih, semua atas kehendaknya,kita hanya bisa berikhtiar dan berdoa,selebihnya biarkan Dia yang menentukan"
"Kamu benar sayang,dan aku akan berdoa pada tuhan semoga dia angkat semua rasa sakit yang ada pada dirimu,dan kamu bisa kembali sehat seperti dulu lagi" Ucap Baskoro seraya membelai mesra puncak kepala Fani lalu mengecupnya dengan sayang.
"Sekarang tidurlah,mas akan temani kamu tidur"
"Iya mas" Baskoro menarik selimut menutup dirinya dan Fani lalu ia rengkuh tubuh lemah istrinya ke dalam pelukan,hingga mereka terlelap bersama.
__ADS_1
...****************...
Di tempat yang berbeda namun di waktu yang sama.Di dalam kamar Tristan dan Reva.
Terdengar percakapan antara keduanya,Tristan masih saja membahas kejadian tadi siang, masalah kepala Reva yang sampai berdarah.
"Sayang lain kali berhati hatilah jangan sampai terluka lagi,kamu tahu Saat aku mendengar kepala mu berdarah aku begitu panik.Aku merasa sudah tidak lagi berpijak di bumi,aku takut benar-benar takut."
"Kak namanya juga musibah,mana aku tahu bakal celaka,aku sudah berhati-hati, ya emang dasarnya aku mau terluka,musibah itu kan datangnya tidak kasih kabar Kak."
"Reva.... aku serius kenapa malah bercanda!"
"Aku tidak bercanda Kak, aku juga serius"
"Berdebat denganmu memang tidak ada habisnya,capek aku tahu nggak!"
"Ya kalau Kakak capek istirahat dulu Kak, nanti atau besok kita lanjut lagi debatnya"
Sementara Reva, hanya tertawa melihat wajah kesal Tristan.
"Reva sayang,aku bicara serius,aku mohon jaga diri dan jangan sampai kamu terluka apa lagi celaka,aku akan menghukum diriku sendiri jika itu terjadi,aku tidak akan pernah memaafkan diriku jika sampai kamu celaka."
"Iya Kak,aku akan berhati hati,dan hidup dengan baik agar kedepannya tidak membuat Kak Tristan khawatir lagi"
"Ayo sekarang tidur,istirahatlah kamu pasti lelah" Ucap Tristan seraya menarik selimut menutup tubuh Reva hingga leher.
"Kakak juga istirahat jangan terlalu capek nanti Kakak sakit"
"Iya,aku hanya memeriksa laporan hasil rapat hari ini,setelah itu aku akan kembali." Cup Tristan mengecup kening Reva, mematikan lampu lalu keluar menuju ruang kerja.
__ADS_1
Reva yang sedari tadi mencoba untuk memejamkan mata,tak juga ia tertidur,pikirannya berpusat pada sikap Tristan terhadapnya.
Sikap Tristan yang begitu sayang dan perhatian,membuat Reva semakin nyaman,sekuat apa dia menekan hatinya untuk tidak jatuh cinta,tapi tetap saja perasaan itu tumbuh bahkan semakin besar.
"Kak maaf aku tidak bisa menahan perasaan ku, izinkan alu mencintaimu,aku janji tidak akan mengganggu hubungan kak Tristan dengan kekasihmu Kak" Lelah dengan pikirannya Reva akhirnya terlelap.
Sementara Tristan yang ada di ruang kerja,duduk di kursi kerja,kedua tangan ia taruh dia atas sandaran kursi.Ada perasaan khawatir menyusup ke dalam hatinya, takut bila Reva akan di jadikan incaran para musuhnya.
"Tidak akan aku biarkan kalian menyentuh Reva ku,apa bila itu terjadi aku bersumpah akan ku habisi siapa saja yang mencoba menyakitinya." Gumam Tristan. Kemudian Tristan meraih ponsel yang tergeletak di atas meja kerja,lalu menelpon Roy.
"Halo,selamat malam tuan,kenapa anda menghubungi saya malam malam begini,apa ada hal yang penting?" Roy yang sudah merebahkan diri di ranjang,kembali terganggu oleh dering ponselnya.
"Halo Roy, aku mau perketat penjagaan terhadap istriku,firasat ku mengatakan bahwa akan ada hal buruk yang terjadi,aku tidak tahu apa,tapi sepertinya Baskoro akan memulai kembali aksi jahatnya."
"Kenapa anda berpikir semacam itu,apa ada yang anda curigai."
"Itu hanya firasat ku,tapi aku yakin Baskoro sedang menyusun rencana,untuk kembali mencelakai ku,dan kali ini targetnya adalah Reva, dari itu aku minta katakan pada para pengawal untuk mengawasi istriku,jangan sampai kita kecolongan,karena aku tahu selicik apa Baskoro itu."
"Baik tuan,akan saya perintahkan pada para pengawal untuk memperketat penjagaan nona muda Reva."
"Kalau begitu istirahatlah,sampai bertemu besok di kantor."
"Iya tuan,selamat malam" Sambungan telpon terputus, Roy yang sedari tadi sudah mengantuk,dan hampir memasuki dunia mimpi, kembali terjaga dan kantuknya pun menguar begitu saja.
"Benar-benar tidak bisa melihatku senang,tuan Tristan kapan aku bisa menentang perintah anda?" Hanya mampu bergumam.
Malam semakin merangkak larut,segelintir orang orang sudah terlelap mengejar mimpi mereka,tapi tidak dengan Tristan, dia masih duduk di kursi kerjanya,sembari memikirkan cara,agar Baskoro tak lagi mengganggunya.Sebenarnya Tristan sudah memiliki semua bukti kejahatan Baskoro,tapi dia tidak mau gegabah,dia tahu bagaimana liciknya Baskoro,dia mampu memanipulasi keadaan, menjadikan seseorang kambing hitam sudah jadi hobinya.
"Baskoro sekarang kita lihat siapa yang akan hancur,aku atau kamu,teruslah berpikir aku,dan orang orang yang kau bodohi adalah manusia yang bodoh,hingga tiba masa kehancuran mu,aku pastikan kamu akan merutuki kebodohan mu sendiri."
__ADS_1
Tristan merasa geram sendiri bila mengingat,sikap munafik Baskoro, yang selama ini berpura-pura baik,Seolah-olah dia adalah orang yang paling kehilangan Renata, padahal dialah yang sebenarnya yang merencanakan kecelakaan Renata, hingga tewas.
Bersambung........