
Malam ini Reva dan Tristan sedang bersiap siap.Mereka akan pergi ke acara ulang tahun Adit. Tristan mengenakan setelan jas berwarna hitam, kemeja putih lengkap dengan tuxedo dan dasi.Sedangkan Reva, mengenakan gaun panjang berwarna marun dengan model panjang menjutai
memoles makeup tipis, namun Tristan melihatnya begitu cantik,meski hanya memakai makeup tipis.
"Apa kau sudah siap?"
"Iya Kak aku sudah selesai"
"Kalau begitu Ayo berangkat" Tristan meriah tangan Reva, mereka melangkah turun ke bawah.
Tristan tak memalingkan wajahnya,dia menatap paras cantik Reva, yang seperti magnet menarik perhatian Tristan.Tak bosan untuk selalu menatap wajah cantik Reva.
Mobil yang di kemudikan Roy,sudah menungggu di halaman.Tristan membawa Reva masuk kedalaman mobil.
Roy perlahan melajukan mobil masuk ke jalan raya berbaur dengan padatnya kendaraan lain.
Sementara di dalam mobil,keriuhan mulai terjadi saat Tristan,beberapa kali mencuri kecupan di bibir Reva."Plis Kak,nanti makeup ku berantakan,malu juga dilihat Kak Roy". Ucap Reva setengah berbisik dengan wajah yang mulai memerah,malu karena suaminya yang tak tahu posisi dan waktu.
"Kenapa harus malu,kita ini sudah halal,biarkan saja untuk apa perdulikan dia,kalau dia mau suruh nikah saja kan beres,tapi seperti nya dia jomblo akut selama ini aku tak pernah melihatnya bersama wanita." Bicara dengan suara keras,bermaksud supaya yang di sindir mendengar."Padahal dirinya saja baru beberapa bulan ini menemukan kebahagiaan, tapi sudah seperti tidak pernah menjomblo,ingat tuan anda sudah menjomblo sepuluh tahun jadi jangan sok.
"Saya bukan jomblo tuan,saya punya kekasih hanya saja kami LDR jadi tuan tidak pernah melihat kami kencan" Mencoba membela diri."Aku juga seperti ini gara-gara anda tuan tak pernah memberikan waktu untuk ku pergi kencan atau mencuri kesenangan diluar sana,nasib nasib.
"Kak Roy punya pacar,kapan-kapan bawa ke mansion ya Kak aku mau kenalan" Ucap Reva antusias.
"Jangan percaya dengan omongannya,dia bekerja dengan ku hampir dua puluh empat jam dalam sehari,mana ada waktu untuk berkencan atau mencari pacar." Sahut Tristan tak kalah antusias.
"Saya begini juga karena anda tuan" Mulai berani protes.
"Jadi kalau kamu jomblo dan tidak laku itu semua salahku,enak saja itu salahmu,mengapa tidak memikirkan dirimu sendiri,menikah lah Roy,agar kau tahu rasanya kalau bercinta itu nikmat rasanya" Seketika tangan Reva membungkam mulut Tristan, sebelum suami gilanya berkata lebih vulgar lagi,dengan wajah yang memerah karena malu dan emosi.
__ADS_1
"Jangan dengar kan dia Kak Roy" Ucap Reva dengan mimik wajah yang masih semerah tomat.
Ternyata anda baru tahu ya nona kalau suami anda ini selain mesum dia juga gila.
"Memangnya kenapa?aku bicara benarkan kalau bercinta itu mmmh" Belum sempat Tristan bicara lagi Reva sudah dulu membekap mulut nya kembali.
"Kenapa sih sayang,aku kan bicara yang sesungguhnya."
"Bicara sekali lagi jangan harap malam ini dapat jatah,atau justru tidur di depan tv saja malam ini." Bisik Reva. Seketika membuat bibir Tristan, terkatup tidak berani bersuara lagi.
"Aku tidak bicara yang aneh aneh lagi,tapi tangan tidur di depan tv ya sayang,sama jatahnya juga jangan di tahan,nanti aku bisa gila" Sudah merengek seperti anak kecil yang meminta mainan pada ibunya.
"Maka nya diamlah" Balas Reva.
Wah anda sudah ketemu pawang ya tuan,dimana sikap tegas anda selama ini,kenapa hanya mendapat gertakan kecil dari istri,membuat nyali anda ciut tuan. Gumam Roy.Merasa senang karena tahu kelemahan tuannya.Meskipun berbisik tapi Roy masih bisa mendengar percakapan keduanya.
Roy segera turun membuka kan pintu untuk tuan dan nona mudanya.Setelah itu dia mencari parkiran untuk memarkirkan mobilnya.
Tristan menggenggam tangan Reva, membawanya masuk ke dalam,dan kehadiran mereka disambut oleh Fani yang kebetulan sedang menyambut tamu yang lain.
"Tristan, kamu sudah datang ayo masuk,siapa yang kamu bawa ini" Tanya Fani yang asing dengan wanita yang tangannya di genggam erat oleh Tristan.
"Selamat malam tante,kenalin ini Reva, calon istri saya,tante apa kabar?"
"Tante baik Tristan, seperti yang kamu tahu sejak kepergian Re,tante jadi sakit" Ucap Fani sedih,kemudian dia menyapa Reva."Halo Reva, ternyata Tristan tidak salah pilih kamu memang benar-benar cantik,selamat datang di rumah tante,semoga kamu suka" Ucap Fani dibalas anggukan oleh Reva."Terima kasih tante,anda juga cantik" Reva, membalas pujian Fani.
"Tristan, ayo ajak Reva masuk,silahkan nikmati sajian yang ada,tante mau menyapa tamu yang lain dulu ya" Ucap Fani seraya menjalankan kursi rodanya. Menyambut para tamu undangan,terlihat pula kedatangan Presdir dan Ibu Tristan, serta Pak Ahmad mereka datang bertiga dengan menggunakan satu mobil.
Sementara itu Baskoro yang melihat kedatangan Tristan, mengepalkan tangannya,geram sekali,ingin rasanya dia menarik Tristan, keluar dari rumahnya. Tapi itu tak mungkin dia lakukan,dia tidak ingin mengacaukan pesta putra tercinta nya,sekuat mungkin Baskoro mengendalikan diri dan emosi nya.
__ADS_1
"Siapa yang mengundang nya kemari,dan siapa wanita yang bersamanya,apa mungkin mereka pacaran,aku harus cari tahu siapa wanita itu,sepertinya bisa ku jadikan umpan untuk menjebak Tristan.
Seringai licik terbit di wajah Baskoro,tersenyum puas karena bisa menemukan umpan yang pas.Kemudian Baskoro menghampiri Fani ikut menyambut kehadiran para tamu.
Sementara itu Tristan, tersenyum simpul,merasa senang karena Baskoro bisa melihat kehadirannya di sana.Tristan, berharap kali ini rencananya bisa berhasil.
Reno yang sedari tadi mondar mandir mengawasi para pelayan takut jika mereka melakukan kesalahan.Melangkah perlahan dan sudah berdiri di samping Tristan, berpura-pura menanyakan kabar,setelah itu berbisik di telinga Tristan, entah apa yang mereka bicarakan,setelah itu Reno buru-buru pergi,sebelum terlihat oleh Baskoro.
Dan akhirnya yang di tunggu tiba,Adit turun dan berbaur bersama beberapa temannya,menyapa para tamu tak lupa juga dia menghampiri Tristan, dan Reva,menanyakan kabar lalu memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua. Begitu pula dengan Tristan, dan Reva mereka memberikan ucapan selamat untuk Adit.Tristan, dan Adit berpelukan,satu momen yang sudah lama sekali tidak pernah mereka lakukan. Sejak kepergian Renata hubungan keduanya jadi renggang,tapi malam ini keduanya mencoba berdamai dengan hati dan keadaan.
Baskoro yang melihat kejadian itu semakin emosi tangannya terkepal dengan suara gigi yang gemerutuk.
"Sayang,kenapa brengsek itu ada di sini apa kau yang mengundang nya" Bisik Baskoro setengah berjongkok mensejajari Fani yang duduk di kursi roda."Iya Mas,aku yang undang,aku rasa sudah saatnya kita saling memaafkan. Re tak mungkin bisa kembali ke tengah tengah kita lagi,bukankah lebih baik kita mengikhlaskannya,agar jalannya menuju surga dimudahkan" Jawab Fani.Sedangkan Baskoro mengangguk pura-pura setuju tetapi di dalam hatinya bertambah kebencian untuk Tristan.
Pesta pun berjalan dengan meriah,riuh tepuk tangan bergema saat Fani dan Baskoro serta Adit naik ke Podium. Mengucapkan salam selamat datang untuk menyambut kehadiran para tamu,mengucapkan selamat untuk Adit yang berulang tahun,dan terakhir acara tiup lilin dan potong kue.Malam semakin merambat, pesta pun berakhir,Reva dan Tristan,sudah berbaur dengan tamu undangan yang lain,sebelumnya mereka sudah menyapa kedua orang tua mereka.
Satu persatu tamu meninggalkan kediaman Baskoro,termasuk Tristan, dan Reva. Mereka berpamitan,sementara Presdir dan ibu serta Pak Ahmad sudah lebih dulu pulang.
"Tante Fani saya dan Reva, pamit pulang dulu" Ucap Tristan, yang mengambil posisi duduk dengan menekuk kedua kakinya di hadapan Fani."Iya Tristan, kapan kapan ajak Reva, main ke sini,kapan rencananya pernikahan kalian di gelar jangan lupa undang tante ya Nak" Ucap Fani sambil tangannya membelai kepala Tristan.
"Tidak lama lagi tante,saya juga sudah tidak sabar untuk menikahi Reva, dia wanita kedua yang hadir dalam kehidupan saya setelah Re,dia juga yang merawat dan menyembuhkan saya dari trauma saya yang berkepanjangan,doakan kami ya tan,agar kami bahagia"
"Pasti Tristan, tante akan selalu mendoakan kebaikan kalian"
Giliran Baskoro yang menyalami Tristan, Baskoro menekan emosi nya sekuat mungkin,mencoba menunjukkan senyum ramah pada Tristan, dan Reva. Memeluk Tristan, dan menepuk bahu seraya mengucapkan selamat kepada Tristan, atas kesembuhan serta kembalinya dia ke perusahaan dan juga kabar pernikahan mereka.
Pura-pura tersenyum tapi di dalam hati membara api kemarahan,yang apa bila sedikit saja tersulut pasti langsung berkobar.
"Aku pastikan hidupmu tak akan pernah berbahagia Tristan, tunggu saja berita kehilanganmu terhadap Reva, akan segera tersiar di seluruh negri ini. Seringai licik kembali terbit di wajah jahat Baskoro.
__ADS_1