
Dari sore hingga malam Roy, lah yang paling sibuk menyiapkan rencana makan malam untuk Tristan dan Reva.
Roy tidak mau mendapat masalah,bila rencana makan malam tersebut sampai gagal.Maka masa depannya yang akan jadi taruhan.
Sementara Tristan sendiri menikmati waktu santai seperti tidak ada beban.
Tristan, menunggu Reva pulang dari Kampus, ingin mengajak Reva, bicara dari hati kehati.
Tak lama mobil Reva sudah terparkir di halaman. Reva, kemudian turun dari mobil lalu melangkah masuk kedalam mansion.
Reva hampir saja terjengkang kebelakang saat melihat wajah imut suaminya.
Bagaimana Reva tidak terkejut saat melihat tingkah Tristan yang begitu menggemaskan.Dengan memasang wajah yang sok imut.Sangat bertolak belakang dengan sifat aslinya.
"Kakak kenapa jam segini sudah di rumah,memangnya Kakak tidak kerja?"
"Kerja,hanya saja aku pulang cepat,sebab aku merindukan istri tercintaku yang cantik ini."
"Mau coba merayuku?"
"Aku tidak merayu,tapi aku sedang rindu berat,soalnya dari semalam aku dianggurin,kasian kan dia tidak mendapatkan jatahnya." Ucap Tristan, seraya menunjuk kearah bawah perutnya.
"Sama saja,itu namanya rayuan maut,jangan harap aku luluh."
Reva melangkahkan kakinya melewati Tristan, yang kembali gagal menjalankan misinya.Namun dia tidak mau menyerah kembali mengejar Reva yang sudah menaiki anak tangga.
"Yang,tunggu.Aku mau ngomong,serius"
"Mau ngomong apalagi sih,Kak?"
"Mau ngomong soal kita."
"Memangnya ada apa dengan kita?"
"Aku mau minta maaf soal yang kemarin,tapi kita ngomongnya di kamar aja ya"
"Kenapa harus dikamar?"
"Biar nyaman aja"
Bilang aja kamu modus tristan 🤣🤣.
"Pasti Kak Tristan, mau modus iya,Kan?"
"Enggak dong,Sayang.Aku beneran cuma mau ngomong doang."
"Ya udah,tapi awas kalau modus aku tambahin jadi seminggu hukuman Kakak."
Reva akhirnya menuruti keinginan Tristan. mereka melangkah menaiki tangga menuju kamar00.
Setidaknya Reva sudah mau aku ajak bicara,itu lebih baik dari pada harus bertengkar terus.
Setelah sampai di kamar Reva segera pergi ke kamar mandi berniat membersihkan badannya,yang terasa lengket karena aktivitasnya seharian.
"Aku mandi sebentar ya,Kak"
"Ok tapi jangan lama ya,Sayang."
"Iya,jangan bawel."
Reva membasuh tubuhnya dengan air dingin.Cuaca hari ini begitu panas,membuat tubuhnya mudah berkeringat.
Reva, sudah selesai dengan ritual mandinya,Setelah itu dia bergegas pergi ke ruang ganti untuk mengambil pakaian ganti.
Setelah itu Reva menuju meja rias untuk menyisir rambut hitamnya.
Tristan, melangkah mendekati Reva, yang duduk sembari mematut dirinya di depan cermin.Tristan, kemudian meletakkan dua tangannya di atas bahu Reva, tidak ada penolakan,membuat Tristan semakin berani melancarkan aksinya.
__ADS_1
Tristan mengusap puncak kepala Reva, lalu mendaratkan kecupan di kening Reva.
"Sayang,maafin aku ya,aku janji tidak akan melakukan kesalahan yang sama,sebenarnya semua aku lakukan, karena aku benar-benar mencintaimu. Percayalah"
"Kak,seharunya Kakak berpikir dulu sebelum bertindak, kenapa Kak Tristan tidak bicara jujur dari awal,apa Kak Tristan tahu kalau aku sudah salah paham dengan sikap Kakak selama ini, aku mengira Kak Tristan, mencintai gadis lain,bukan aku" Ucap Reva, kesal.
"Maksudmu?"
"Kakak tidak pernah jujur tentang perasaan Kakak,membuat aku selalu menekan hati dan perasaan ku untuk tidak lebih dalam lagi mencintai Kakak. Semua itu aku lakukan karena aku takut,cintaku akan bertepuk sebelah tangan,sebab Kakak tidak membalas perasaanku."
"Dari mana pemikiran seperti itu,aku mencintaimu sayang,sangat sangat mencintaimu.Aku tidak bisa hidup tampa kamu,sebab kamu sumber kebahagiaanku."
"Kak,bukan salahku jika aku memiliki pemikiran seperti itu,Bukankah selama ini Kakak yang membiarkan aku hidup dalam kesalahpahaman, andai Kak Tristan jujur,aku pasti tidak akan salah paham."
"Sekali lagi aku minta maaf ya,sayang.Sebagai permintaan maaf ku,aku ingin mengajakmu pergi makan malam di luar,malam ini,aku harap kamu tidak akan
menolaknya."
"Kita lihat saja nanti,.sebab sekarang aku lelah ingin istirahat."
"Kamu lelah,Sini biar aku pijit,agar tubuhmu bisa kembali segar" Ucap Tristan, namun membuat Reva ragu dengan ucapan Tristan, sejak kapan dia bisa memijat.Pasti suaminya bercanda,Kan?"
"Jangan ragu begitu,gini-gini aku suka mijitin ibu dulu."
Tristan kemudian menuntun tubuh Reva dan membawanya ke ranjang.
Meminta Reva untuk rebahan kemudian mulai memijatnya.
Reva, yang merasa tubuhnya kelelahan,menurut saja dengan ucapan Tristan.
Benar saja,Pijatan Tristan, sungguh enak,membuatnya jatuh terlelap.Tristan tahu dimana titik yang harus dia pijat.
Tristan menyudahi pijatannya, lalu ikut berbaring di samping Reva, menatap dalam wajah Reva, lalu mengulurkan tangan membelai wajah teduh itu.
"Maafkan aku sayang,Mulai sekarang aku janji tidak akan membiarkan mu,marah dan salah paham lagi" Cup,Tristan mengecup kening Reva, kemudian meraihnya,kedalam pelukan,lalu diapun ikut menyusul sang istri ke alam mimpi.
Sedangkan Roy yang seharian ini mengurus semua permintaan Tristan, bisa bernapas lega. Sebab sudah berhasil memenuhi keinginan sang Tuan.Kolam renang sudah disulap menjadi kolam dengan sejuta kelopak bunga mawar yang bertaburan diatasnya.Dengan inisial nama Tristan dan Reva.
Sementara meja makan dengan dua kursi yang terletak di samping kolam renang,juga sudah selesai disulap menjadi tempat makan malam yang romantis.Juga kamar hotel president's suite telah di dekorasi secantik mungkin dengan rangkaian bunga mawar yang berbentuk hati.
Pokoknya semua sudah beres,sesuai dengan permintaan sang Tuan.
Sekarang tinggal menghubungi Tristan.
Namun sudah beberapa kali panggilan, tidak juga terhubung.
Akhirnya Roy memutuskan untuk pergi ke mansion menjemput Tristan dan Reva.
Tak lupa Roy, mampir di butik untuk mengambil gaun yang di pesannya untuk Reva, pakai nanti.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam,Roy memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai.Takut terlambat membawa kedua majikannya ke Hotel.
Mobil yang di bawa Roy, sudah memasuki gerbang,dan berhenti di halaman mansion.
Roy bergegas keluar dari mobil.Masuk kedalam mansion yang terlihat sepi.
Roy menemui Bik Asih untuk menanyakan keberadaan Tristan.
"Selamat malam Bik."
"Malam Tuan Roy, ada apa kok tumben datangnya malem,ada perlu apa?"
"Aku mau menjemput Tuan Tristan, dan Nona Muda,dimana mereka,Bik.Kenapa tidak keliatan?"
"Sejak mereka pulang dari tadi sore belum pernah keluar kamar,makan malam saja belum,memangnya mereka mau kemana Tuan?"
"Mereka mau pergi kencan,Bik.Aku sudah menyiapkan tempat yang romantis untuk mereka."
__ADS_1
"Mungkin mereka sedang bersiap Tuan, tunggu sebentar lagi pasti Tuan dan Nona turun"
"Iya,Bik.Kalau begitu saya tunggu di ruang tengah saja,Bik."
"Apa Tuan Roy, sudah makan? Kalau belum Bibi siapkan."
"Enggak perlu Bik saya sudah makan tadi."
"Kalau begitu saya permisi Tuan, mau melanjutkan pekerjaan dulu"
"Iya,Bik.Silahkan"
Setengah jam sudah Tristan, menunggu namun yang di tunggu tidak juga menampakkan diri.Roy terlihat gelisah beberapa kali menoleh kearah tangga,lalu bergantian melirik jam tangan.
Akhirnya dengan mengumpulkan keberanian Roy, melangkah menaiki tangga menuju kamar Tristan.
Tok tok tok.Beberapa kali Roy, mengetuk pintu namun tidak ada jawaban.
Roy kemudian kembali merogoh ponsel yang ada di saku jasnya.Lalu kembali menghubungi nomor ponsel Tristan, namun tetap tak mendapat jawaban.
Roy mencoba mengetuk kembali pintu kamar.Kali ini sedikit keras agar terdengar oleh Tristan.
Sementara Tristan, yang sedari tadi ikut terlelap menjadi terganggu oleh suara berisik dari balik pintu kamarnya.
Tristan, beranjak turun dari ranjang lalu membuka pintu.Memunculkan separuh tubuh dengan wajah bantalnya.
"Ada apa? Kenapa berisik sekali,kami sedang tidur, awas saja kalau sampai suara ketukan mu membangunkan istriku, ku patahkan tangan mu!" Ucap Tristan, kesal.
"Maaf Tuan, saya mengganggu. Tapi apa Tuan lupa,mau mengajak Nona Muda,makan malam.Tempatnya sudah saya siapkan Tuan, semuanya sudah beres sesuai permintaan anda." Ucap Roy seraya menunjukkan layar ponsel yang berisikan gambar,kamar,kolam,dan juga meja yang sudah ia sulap menjadi tempat makan malam yang romantis.
Tristan menepuk jidatnya dia melupakan rencana makan malam tersebut.
"Batalkan saja Roy, istriku sudah tidur. Lagian kami sudah berbaikan, jadi tidak perlu makan malam romantis itu lagi.Silahkan kamu saja yang menikmatinya.Aku mau lanjut tidur lagi"
Tristan berkata seraya mengibaskan tangannya meminta Roy, pergi.
Roy masih terpaku di depan pintu kamar yang kembali tertutup rapat.
Dasar manusia aneh,tadi siang saat masih ada masalah merengek-rengek seperti bayi,sekarang setelah masalahnya selesai seenaknya membatalkan permintaannya.Mana aku yang dijadikan bola disuruh kesana kemari.Nasib nasib memang susah kalau jadi bawahan.
Roy melangkahkan kaki dengan malas.Memikirkan bagaimana caranya membuat usahanya hari ini tidak jadi sia-sia.
Roy menemukan ide,dia ingat malam ini salah satu staf di kantor ada yang sedang merayakan hari jadi pernikahannya. Tapi tadi siang staf tersebut bingung bagaimana memberikan kejutan untuk sang istri karena gajian masih setengah bulan lagi.
Roy tidak sengaja mencuri dengar obrolan staf tersebut dengan temannya saat makan siang di kantin.
Roy tersenyum puas karena usahanya hari ini tidak akan sia-sia. Roy segera merogoh ponselnya.Menghubungi staf yang kebetulan malam ini sedang merayakan hari anniversary.
Dan akhirnya ada yang menggantikan tempat tersebut.
Mungkin bagi Tristan, uang yang terbuang untuk membuat acara makan malam romantis malam ini tidak seberapa.
Namun bagi orang yang tidak mampu seperti pak Joko,menjadi hadiah yang sangat luar biasa.Karena bisa membawa istrinya makan dan menginap di hotel bintang lima.
Entah kapan pak Joko bisa mewujudkan mimpi tersebut karena gajih bulanannya, hanya cukup untuk biaya makan dan juga sekolah anak serta kontrakan ditambah cicilan lainnya.
Roy,merasa bahagia sebab bisa memberikan kebahagiaan untuk orang lain.Meski itu secara tidak sengaja.
Roy melajukan mobil untuk segera pulang ke apartemennya,karena tubuh dan pikirannya yang lelah setelah seharian bekerja keras untuk bisa mewujudkan keinginan sang Tuan,tapi tidak dihargai.
"Awas saja kalau mau minta tolong lagi,aku tidak akan membantumu lagi Tuan."
Gumam Roy,meski dia tahu tidak mungkin bisa menolak perintah sang Tuan arogan.
Bersambung.........
n
__ADS_1