
Reva memapah tubuh Fani yang terlihat lemah,meski sakit hati atas perbuatan yang dilakukan Baskoro terhadap keluarganya, namun Fani tak menampik perasaan sayangnya terhadap Baskoro.
Hidup bersama selama puluhan tahun membuat perasaan cinta tumbuh dihatinya,bagaimana tidak Baskoro tak pernah berbuat kasar terhadapnya,yang dia tahu Baskoro sangat menyayangi dan mencintainya.
Baskoro sangat perhatian,dan pengertian serta tanggung jawab dalam rumah tangga mereka,jadi tidaklah salah bila akhirnya perasaan itu tumbuh di hati Fani.
Reva menuntun Fani kearah taman yang ada didekat gudang yang mereka jadikan tempat untuk menyekap Baskoro.Gudang tersebut berada persis paling sudut rumah Fani,jarang sekali dikunjungi oleh siapapun,karena memang sudah tidak digunakan lagi.
Tapi Fani menyulapnya menjadi sebuah room teater, yang kelak akan ia jadikan tempat menonton film bersama keluarga dan juga terbuka untuk para pelayan di rumahnya.
Ruangan tersebut Fani buat menjadi kedap suara,sehingga meski orang-orang yang ada didalam sana berteriak tidak ada yang bisa mendengarnya.
Reva mendudukkan Fani disebuah kursi kayu yang ada di taman tersebut.Setelah memastikan Fani tenang,Reva kemudian bergegas mencari letak dapur,berniat mengambilkan sebotol air minum untuk Fani.
Saat kebingungan mencari letak dapur seorang pelayan menghampirinya.
"Selamat siang Nona,apa ada yang Nona butuhkan? Tanya pelayan tersebut seraya tersenyum ramah.
"Siang Bik,saya mau ke dapur mau ambil botol minum untuk tante Fani,tapi dari tadi belum ketemu dimana letak dapurnya" Ucap Reva.
"Nona tunggu saja disini, biar saya yang mengambilnya untuk anda Nona." Ucap pelayan wanita tersebut.
"Baik Bik, saya tunggu disisi saja"
Pelayan tersebut bergegas masuk ke dapur lalu mengambil beberapa botol air dari dalam lemari pendingin,menaruhnya di nampan tak lupa menaruh beberapa gelas juga di sana. Lalu membawanya keluar untuk diberikan pada Reva.
"Ini Non,minumnya" Ucap pelayan tersebut seraya memberikan nampan di tangannya kepada Reva.
"Terima kasih Bik" Balas Reva, seraya meraih nampan yang berisi botol minum tersebut.
Reva kemudian melangkah ke arah taman,memberikan botol minum yang dia bawa kepada Fani.
"Tante sekarang minum dulu ya Tan,biar hati dan pikiran tante sejuk"
"Terima kasih Reva, kamu sangat baik dan perhatian.Maafkan kami karena telah melibatkan mu dalam masalah kami."
__ADS_1
"Tidak apa-apa Tante,saya juga merasa senang karena bisa membantu menangkap om Baskoro, saya hanya melakukan tugas kecil,sedangkan kalian sudah berjuang begitu besar untuk bisa mengungkap semua ini,saya merasa senang karena bisa membantu kalian" Ucap Reva.
Kejadian di Cafe memang sudah direncakan, wanita yang menggoda Tristan sebenarnya staf yang bekerja di Perusahaan Tristan, serta penculikan Reva sendiri memang rencana Tristan, dan Reno.
Orang-orang kepercayaan Tristan, menyusup masuk kedalam pasukan pengawal Baskoro, mereka memberikan Imformasi kapan Reva seorang diri dan dimana keberadaannya saat itu.Dari merekalah Pengawal Baskoro bisa mengetahui keberadaan Reva kala itu.
Dua pengawal yang membawa Reva malam itu adalah pengawal Tristan. Setelah Baskoro pergi mereka kembali ke pintu lorong yang tertutup batu lalu membukanya dari luar dengan menekan sandi yang ada di balik batu tersebut,mereka membebaskan Tristan, Roy dan pengawal lainnya dari dalam lorong bawah tanah.
"Semua berkat kerja sama dari kita semua,tampa adanya kalian aku tidak yakin kalau rencana ku ini bisa berhasil."Tambah Fani.
" Tante benar semua karena kerjasama semua pihak yang terlibat,tapi saya sangat menyayangkan, mengapa Mira sampai mengorbankan masa depannya,kasihan Mira Tante"
"Kamu benar Reva, pengorbanan Mira tidak akan pernah aku lupakan, dia rela mengorbankan, harga diri,kehormatan masa depan bahkan nyawanya untuk bisa mengungkap kejahatan Baskoro, tapi bila Mira tidak melakukan itu,Tante tidak yakin kalau Baskoro mau mempercayainya."
"Saya tidak apa-apa Nyonya, saya sama sekali tidak menyesal bila harus kehilangan semuanya,bila balasannya adalah kehancuran Baskoro brengsek itu!" Ucap Mira yang ternyata sudah berdiri di sana bersama sang ayah,Burhan.
Seketika Fani dan Reva menoleh ke sumber suara.Fani memanggil Mira lalu meraihnya dalam pelukan.Tangis Mira pecah seketika,terdengar isak tangis yang begitu memilukan dari Mira.
Lama mereka saling peluk,bersama memberikan kekuatan satu sama lain.
Fani mengurai pelukannya, menangkup wajah Mira dengan kedua tangannya, mengusap air mata yang mengalir pilu di wajah Mira.
"Iya Tante Mira juga berharap demikian" Ucap Mira, seraya membuka tas mengambil kunci apartemen, kunci mobil sport,yang diberikan Baskoro tempo hari,serta kartu Atm yang sempat diberikan Baskoro padanya beberapa waktu lalu.
"Tante ini saya serahkan semua pemberian om Baskoro pada saya,sekarang saya tidak membutuhkannya lagi"
"Tidak Mira, ini semua milikmu, bukan berarti aku membayar mu,tapi kamu berhak menerima semua ini,bahkan aku akan memberimu hadiah yang layak sebagai penghargaan atas semua pengorbanan mu."
"Tapi saya tidak pantas untuk menerimanya Tante,saya tidak mengharapkan imbalan apapun,semua yang sudah saya lakukan tulus,jadi tidak perlu merasa bersalah seperti itu."
"Aku tahu kamu gadis baik,semoga kelak kamu akan menemukan seorang pria yang tulus menyayangi mu"
"Iya,aamiin Tante"
"Aamiin" Ucap semua orang yang ada di sana termasuk Reno juga sudah berdiri di belakang mereka.
__ADS_1
Reno berjalan mendekat menepuk bahu Mira, sambil mengucapkan banyak terima kasih pada Mira.
"Nona Reva, saya minta maaf bila selama ini sudah bertindak dan berkata kasar pada anda,itu semua saya lakukan agar bisa menarik kepercayaan Baskoro pada saya,sekali lagi Maafkan saya Nona reva" Ucap Mira, seraya menunduk di depan Reva.
"Mira apa yang kamu lakukan,kita ini sahabat,aku tidak suka kalau kamu melakukan itu padaku" Ucap Reva seraya memapah tubuh Mira mendudukkannya di samping Fani.
"Nona Reva anda adalah istri Bosnya saya,jadi sudah sewajarnya saya menghormati anda, Nona."
"Pokoknya saya tidak suka Mira,bila kamu melakukan hal seperti tadi,mengeri?''
"Lalu saya harus bagaimana Nona?"
"Bersikaplah seperti biasa,karena kita sahabat dan selamanya kita akan menjadi sahabat."
"Reva benar Mira, mulai sekarang kalian berdua panggil aku Mama ya,anggaplah aku Mama kalian,dan aku akan menganggap kalian berdua sebagai putriku,bagaimana?" Mira mengucapkan itu bukan tampa alasan karena dia memang benar-benar menyayangi Reva dan Mira, seperti anak sendiri.
"Mama?" Tanya mereka berdua secara bersamaan.
"Iya panggil aku Mama,aku menyayangi kalian berdua seperti putri kandungku,jadi anggaplah aku mama kalian." Baik Mama" Ucap keduanya secara bersamaan.
Fani kemudian bangkit meraih kedua putrinya ke dalam pelukannya, seraya mengecup kening keduanya secara bergantian.
Terbit rasa bahagia di hati Mira,dan Reva.Mulai sekarang mereka bisa merasakan kasih sayang seorang ibu,yang selama ini tak pernah mereka dapati dari ibu mereka.
Burhan dan Reno, ikut bahagia menyaksikan kebahagiaan mereka bertiga.
Sementara itu, Tristan sudah selesai dengan segala urusannya dengan Baskoro,Tristan sudah membuka semua rahasia yang terpendam cukup lama diantara mereka,Sekarang saatnya menyerahkan Baskoro kembali pada Reno, biarkan dia yang akan menentukan hukuman apa yang pantas untuk mereka berikan pada Baskoro.
"Reno aku sudah selesai, sekarang bawa dia ke markas, dan berikan dia hukuman yang setimpal atas perbuatannya,buat dia menyesal karena sudah berurusan pada kita, buat dia tidak bisa melupakan hukuman itu!"
"Baik Tuan, akan saya lakukan semua perintah anda,kalau begitu saya permisi."
"Silahkan"
Reno melangkah dengan pasti dia akan membawa Baskoro ke markas, dan akan menghukum Baskoro, sesuai ke dengan keinginannya.
__ADS_1
Baskoro kita mulai permainan,sekarang kamu akan mulai merasakan neraka yang sesungguhnya.Gumam Reno.
Bersambung............