DOKTER CINTA CEO

DOKTER CINTA CEO
Bab 20


__ADS_3

Setelah makan malam yang dibumbui drama kemesraan antara Reva dan Tristan, mereka kembali duduk di ruang tengah,kembali berbincang tentang banyak hal,ketiga lelaki beda usia terdengar membahas tentang pekerjaan kantor,sementara Ibu menarik tangan Reva, mengajaknya masuk kedalam kamar utama.


"Tristan Ibu pinjam Reva sebentar ya ada yang ingin Ibu bicarakan." Mendengar ucapan ibu membuat Tristan seketika menoleh ke sumber suara,tampa sempat memberi jawaban kedua wanita yang berharga dalam hidupnya sudah lebih dulu menghilang.


Ibu menarik tangan Reva sebelum mendengar jawaban dari Tristan,setibanya di dalam kamar Ibu membawa Reva duduk di ranjang,lalu Ibu melangkah ke arah lemari besar yang ada di sudut ruangan,membuka pintu lemari dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam.


Sementara Reva mengedarkan pandangan, memindai seluruh ruangan kamar yang di rasa begitu nyaman, ranjang king size yang dia duduki terasa begitu empuk,di sebelah kanan,ada ruang ganti bersebelahan dengan kamar mandi sedangkan di sudut ruangan terdapat satu lemari besar berwarna hitam sepertinya tempat menyimpan barang berharga,juga terdapat sepasang sofa dan meja bundar .


Ibu mendekat lalu duduk di samping Reva, kemudian dia menyodorkan kotak berwarna hitam yang dia ambil dari lemari.


"Reva, ini adalah perhiasan turun temurun dari keluarga Ayah Tristan, dan sudah saatnya Ibu serahkan padamu,terima ini dan jaga dengan baik." Reva yang mendapatkan pemberian dari Ibu sontak kaget dan menolak karena merasa tak pantas untuk menyimpan sesuatu yang berharga bagi keluarga ini.


"Ibu,aku merasa tidak pantas menerimanya.''


"Kenapa? kamu menantu ibu satu satunya dan hanya Tristan cucu di keluarga ini,jadi tidak ada alasan untuk mu menolak semua ini. Reva, meski semua harta benda yang kami miliki di berikan kepada mu rasanya masih belum cukup untuk bisa membalas semua pengorbanan dan usaha mu untuk bisa mengembalikan Tristan kami seperti sekarang ini."


"Kamu adalah penyelamat hidup Tristan, aku ibunya tapi tidak mampu mengobati luka yang ia simpan selama bertahun-tahun, sedang kan kamu hanya dalam hitungan hari mampu membawa perubahan yang begitu besar untuk Tristan, dan juga keluarga ini."


Reva merasa tidak pantas untuk menerima sanjungan yang di berikan Ibu dan juga keluarga Tristan, Reva menganggap kesembuhan Tristan memang karena kerja keras dan usaha yang Tristan lakukan,dia hanya sedikit membantu.


"Ibu,jangan terlalu berlebihan, aku tidak melakukan apapun,Kak Tristan memang pria hebat,dia mampu mengendalikan emosinya dan juga mau bangkit dari kubangan masa lalunya."


"Roy menceritakan pada kami bagaimana kamu menenangkan Tristan saat trauma tentang kecelakaan itu menyerangnya,kamu mampu membawanya keluar dari rasa takut yang selama ini membelenggunya,Reva salah satu alasan Tristan tidak pernah keluar dari kamar adalah takut melihat mobil truk yang bermuatan penuh,karena hal itulah yang menyebabkan kecelakaan yang menimpa Renata dan membuatnya meninggal di tempat."


Ibu mendesah panjang mengingat betapa terluka hatinya melihat putra tercinta yang hidup dalam ketakutan dan penyesalan yang tak kunjung hilang.


"Reva, untuk kedepannya tetap lah bersabar menghadapi sikapnya,Tristan adalah pria yang baik, kalau sudah memiliki sesuatu maka dia tidak akan pernah melepaskannya,dia penyayang tapi ada sifatnya yang mungkin saja bisa membuatmu kesal bahkan muak,dia sangat posesif tidak suka miliknya disentuh oleh orang lain,tapi percayalah dia itu lelaki setia yang hanya akan tunduk pada satu wanita,yaitu kamu orangnya."


"Ibu, terima kasih atas segala yang sudah Ayah dan Ibu lakukan untuk ku,aku tidak bisa membalas kebaikan kalian,tapi aku berjanji Bu, aku akan berusaha menjadi istri yang baik,akan menerima semua kekurangan dan juga kelebihan Kak Tristan,dan selalu menemaninya baik suka maupun duka."


"Tidak perlu berterima kasih sayang, Ayah dan Ibu tulus menyayangi mu, kami merasa beruntung bisa bertemu denganmu,dan menjadikanmu menantu di rumah ini,tetaplah kuat,sebab masih banyak batu terjal di depan sana, yang akan menguji kesabaran dan cinta kalian."


" Iya Bu, sekali lagi terima kasih." Reva meraih kedua tangan ibu lalu menciumnya dengan khidmat.


"Sekarang,ayo buka kotaknya" Lalu Reva menuruti ucapan ibu membuka dan mengeluarkan satu set perhiasan, berupa kalung,cincin anting dan juga gelang yang terbuat dari emas murni dan bertaburkan berlian mewah, dengan desain yang amat cantik, Reva mentafsir harganya pasti milyaran.

__ADS_1


"Simpan dengan baik, dan saat hari resepsi kalian nanti ibu ingin kamu memakainya,ibu yakin kamu akan semakin bersinar dengan memakai perhiasan ini."


"Terima kasih Bu"


"Sama-sama sayang" Kembali ibu meraih tubuh Reva, lalu memeluknya penuh sayang,membuat Reva terharu, karena bisa merasakan kasih sayang seorang ibu yang sudah lama dia rindukan.


Malam semakin larut,ibu terus bercerita tentang kisah Tristan sejak kecil hingga remaja, dan saat ibu menoleh dia merasa geli sendiri,karena mendapati Reva yang sudah terbaring memeluk guling,terdengar dengkuran halus menandakan bahwa Reva sudah terlena ke alam mimpi.


"Sudah tidur ternyata,Reva sayang maaf karena sudah mengorbankan masa depan dan kebahagiaanmu,ibu tidak mengerti bagai mana nasib Tristan, bila kamu tidak hadir dalam hidupnya, sekali lagi terima kasih,ibu menyayangimu" Cup... ibu mengecup puncak kepala Reva, lalu menyelimuti Reva, kemudian mematikan lampu dan keluar dari kamar .


Tak lama Pak Ahmad pamit pulang,mereka mengantar hingga ke teras depan,setelah mobil Pak Ahmad menghilang barulah ketiganya kembali masuk ke dalam.


"Reva di mana Bu,aku ingin mengajaknya pulang" Ucap Tristan.


"Tristan ini sudah larut Nak,menginap saja ya,lagi pula Reva sudah tidur di kamar ibu."


"Tidur? di kamar ibu?"


"Iya."


"Anak itu,kenapa sih selalu saja begini, sukanya tidur di sembarang tempat" Gumam Tristan.


"Aku hanya ingin memindahkannya Bu." Ucap Tristan sembari melangkah ke kamar ibu.


Saat tiba di kamar, Tristan melihat wajah teduh yang saat ini tertidur, hati Tristan kembali berdesir, perasaan yang semakin tumbuh berkali lipat setiap harinya, Tristan menyadari perasaan ini bukanlah perasaan kagum tapi rasa cinta, ya Tristan mulai menyadari dia sudah jatuh cinta pada Reva.


Tangannya terulur, membelai mesra pucuk kepala Reva, lalu mendaratkan kecupan di sana. Kemudian Tristan menyelipkan kedua tangannya di bawah tubuh Reva, lalu mengangkatnya membawa Reva untuk pindah ke kamarnya yang ada di lantai atas.


"Pelan-pelan Tristan, jangan sampai membangunkannya, kasian dia sepertinya dia kelelahan."


"Iya Bu" Jawab Tristan, namun di dalam hatinya berkata "Ibu belum tahu ya Bu,menantu kesayangan ibu ini seperti koceng,di mana pun dia merebahkan diri maka akan tertidur" Tristan melangkah sambil tersenyum lucu.


Tristan menggendong Reva menaiki tangga, tapi Reva sama sekali tidak terusik, dia tetap tidur,meski Tristan beberapakali mendaratkan kecupan di bibirnya. "Sudah seperti orang pingsan, sama sekali tidak terusik" Gumam Tristan.


Saat tiba di lantai atas, Tristan melangkah ke kamarnya,membuka pintu lalu merebahkan tubuh Reva di ranjang, kemudian dia melangkah ke kamar mandi berniat mencuci wajah dan kaki,lalu masuk ke ruang ganti menukar pakaiannya dengan piyama tidur, lalu ikut bergelung di dalam selimut yang membungkus tubuh Reva.

__ADS_1


Mereka tertidur dalam damai,menjemput mimpi indah yang menanti.


...****************...


Sementara itu dilain tempat,dan di waktu yang bersamaan,di sebuah apartemen yang baru tiga malam ini di huni oleh Mira. Terlihat sepasang insan yang berbaring di ranjang dengan selimut yang menutupi tubuh polos keduanya,nampak peluh masih tersisa di wajah keduanya sisa dari pendakian mereka mencapai puncak nirwana.


Baskoro meraih dompet yang ada di atas meja di samping ranjang,membuka dompet lalu mengambil sebuah kartu ATM lalu memberikannya pada Mira.


"Ambil ini,di dalamnya ada uang sebesar tiga Milyar, pergunakanlah untuk keperluan mu, jangan terlalu boros, gunakan sebaik mungkin, karena aku akan jarang mentransfer uang, jadi jangan di hambur-hambur kan, mengerti?"


"Iya Om, terima kasih,aku akan berhemat"


"Bagus, dan satu lagi, besok aku sudah harus pulang ke rumah,ingat pesan ku,jangan mencoba untuk berkhianat karena kamu akan menanggung sendiri akibatnya!." Ucap Baskoro dan ancaman yang dia berikan bukanlah main-main karena dia akan membalas siapapun yang berani mengkhianati nya.


"Om tenang saja, aku tidak mungkin berkhianat, selagi Om masih memperdulikan aku,aku akan tetap setia sama Om,dan akan menurut sama Om" Mira berkata seraya tangannya membelai halus dada bidang baskoro.


Usia memang sudah tak lagi muda,namun bentuk tubuh Baskoro masih terlihat gagah,seperti pria muda lainnya,bahu berotot,dada bidang dan perut kotak seperti roti sobek,membuat Mira selalu puas setiap kali mereka melakukan hubungan terlarang itu.


Malam semakin larut,keduanya kembali berpacu,tampa mengenal lelah sebab besok mereka akan berpisah dan malam ini Mira ingin merasakan pelukan dan belaian dari Baskoro,karena sudah pasti dia akan kesepian dan merindukan sentuhan Baskoro untuk beberapa hari ke depan.


Entah sudah berapa kali mereka mengulang adegan panas itu,hingga pagi menyapa barulah mereka mengakhirinya, Baskoro memilih membersihkan diri terlebih dahulu lalu memakai pakaian lengkap dengan jas, dan dasi.Sengaja dia berpakaian seperti itu bermaksud agar Fani tidak curiga.


Setelah selesai, Baskoro menghubungi Reno memintanya untuk menjemput. Wajah mira tampak di tekuk,sepertinya dia tidak rela untuk di tinggal sendiri.


"Ayolah Mira sayang,tersenyum jangan cemberut begitu, dua hari lagi aku akan berkunjung kemari dan akan aku usahakan setiap hari menemui mu,jadi jangan sedih lagi." Baskoro meraih dagu Mira lalu mengecup bibirnya lama,perasaan yang sama dia rasakan terasa berat berpisah,tapi bagai mana lagi tuntutan pekerjaan dan tanggung jawabnya terhadap Fani menunggu.


Suara pintu di ketuk,lalu Baskoro keluar namun Mira enggan mengantarnya hingga ke depan pintu sebab Mira merasa malu untuk bertemu dengan Reno, sebaliknya Reno justru sedikit melongo ke dalam ingin memastikan keadaan Mira, tapi sayang dia tidak menemukan keberadaan mira di dalam ruangan itu.


"Ayo Reno, nanti kita terlambat,aku harus pulang ke rumah dulu, baru setelah itu kita ke kantor."


"Baik Tuan."


Reno menjinjing koper yang berisikan pakaian Baskoro,membawanya turun ke lantai bawah menuju parkiran untuk mengambil mobil,lalu kembali ke lobi apartemen untuk menjemput Baskoro.


Mobil Sudah keluar dari area apartemen, membaur bersama kendaraan lain di jalan raya.Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan di antara keduanya,meski banyak pertanyaan yang ada di hati dan pikiran Reno,namun dia tidak sanggup untuk bertanya apa pun pada Baskoro,Reno memilih diam dan menyimpan berbagai pertanyaan itu di otaknya.

__ADS_1


"Semoga saja Mira baik-baik saja,aku merasa berdosa pada Pak Burhan, karena tidak bisa menepati janjiku." Gumam Reno dalam hati


**Bersambung**........


__ADS_2