
Setelah mendengar pengakuan Reva, ada perasaan kecewa menyusup di hati Adit. Bahkan matanya hampir mengembun,namun buru-buru ia tepis perasaan kecewa itu,sebab dia tidak boleh egois.Biarlah kali ini dia mengalah melepaskan cinta yang belum sempat bersemi untuk seseorang yang dulu pernah dekat dengan keluarganya.Dia harus mengikhlaskan Reva bersama Tristan.
Toh perasaan yang selama ini dia rasakan,tak pernah sanggup ia ungkapkan,bukan salah Reva, tapi dia sendiri yang menyembunyikan perasaan itu.Bertahun sudah mereka bersama,bahkan mereka sangat dekat,tapi entah mengapa dia lebih memilih menyimpan perasaannya,ketimbang harus mengungkapkannya.
Mungkin kita tidak ditakdirkan untuk bersama,tapi setidaknya kamu jatuh ke tangan pria yang tepat,Kak Tristan, pria yang baik.
"Reva, aku ucapkan selamat untuk pernikahan kalian,aku yakin kalian akan hidup bahagia,karena aku tahu,Kak Tristan, adalah orang baik, bila dia sudah mencintai maka tak ada alasan untuknya mendua,dia akan memberikan seluruh hidup nya untuk mu,percaya lah dia adalah orang yang setia"
Mendengar ucapan Adit. Membuat Reva tersenyum getir,andai dia tau bahwa Tristan, menikahinya karena terpaksa, pasti dia tidak akan berkata seperti ini. Tak ada cinta di hati Tristan untuknya.Hubungan mereka hanya sebatas ikatan pernikahan, di mana Reva ingin menyelamatkan sang Ayah,sedangkan Tristan ingin menyenangkan kedua orang tuannya.
Pembicaraan mereka berakhir,dengan kelegaan di hati Reva. setidaknya beban yang selama ini bercokol di hati sudah berkurang,kesalahpahaman yang beberapa bulan ini terjadi diantara dirinya dan Adit sudah di luruskan.
Sedangkan Adit sendiri meski rasa kecewa mengisi rongga dadanya,namun tidak menimbulkan kebencian di hati nya.Sebab orang yang dicintai Reva, adalah Tristan, yang Adit tahu dia adalah pria yang baik, meski sempat sakit hati pada Tristan, namun sekarang Adit sudah bisa mengikhlaskan kepergian sang Kakak.
Tepat pukul tiga sore,mobil yang dikendarai Reva sudah memasuki halaman mansion.Reva segera turun dan masuk ke dalam, dan kamar adalah tujuan nya saat ini,dia ingin segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang nyaman.
Dengan rasa percaya diri yang tinggi, Reva menaiki anak tangga sambil berdendang ria.Perasaan bahagia menyelimuti,karena bisa menceritakan semua beban di hati kepada sahabatnya Adit.
Namun kepercayaan diri seketika lenyap, tatkala saat tiba di kamar, Reva mendapat tatapan tajam dari seseorang yang kini tengah duduk di sofa,memandang dengan tatapan mata yang menghunus,dan siap mengulitinya.
Kenapa dia sudah ada di rumah di jam segini,kan belum jam nya pulang,kenapa aku lupa, dia yang punya kantor jadi suka suka dia kan. Tapi kenapa wajahnya begitu menakutkan.
"Kakak sudah pulang, tumben pulang cepat,apa Kak Tristan sakit?"Reva mencoba mencairkan suasana.
Yang di Tanya hanya diam saja tak menjawab.Sebenarnya Tristan, masih merasa kesal bila mengingatkan bagaimana posisi Reva saat jatuh di pelukannya Adit tadi.
Namun,tatkala dia mengingat akan semua ucapan Reva siang tadi saat di kantin Kampus."Aku sudah jatuh cinta pada Kak Tristan,sejak pertama kali bertemu." Seketika membuat Tristan tertawa terbahak.
"Ha ha ha bahagia nya"
Apa? Kenapa dia malah tertawa,mana wajah yang seram tadi.
"Reva,ayo mendekatlah,kemari." Berkata seraya menepuk paha.
"Apa? kau mau apa? memintaku duduk di pangkuan mu,aku ini baru pulang,belum mandi,aku bau.
Hanya mampu mengumpat dalam hati,dan tubuhnya tak bergeming dari posisi semula.
"Kau tidak mau?" Sudah mulai kesal.
"Iya,Kak aku mau" Bergegas naik ke pangkuan.
__ADS_1
"Apa saja kegiatan mu hari ini,apa harimu menyenangkan?" Bicara tapi tangan dan bibir sudah merayap ke mana-mana. Membuat tubuh Reva seperti cacing kepanasan.
"Iya Kak, hari ini sangat menyenangkan,au..." Reva menjerit saat tangan dan bibir Tristan bergerak dengan kasar.Apa ada yang salah,kenapa kau marah?sakit tau Kak, Oh tengkuk dan pinggangku.
Keluh Reva, saat dua bagian tubuhnya mendapat sentuhan kasar dari Tristan.
"Sangat senang ya sampai lupa memberi kabar padaku!"
Hah...apa?kenapa dia marah,sejak kapan aku harus memberi kabar padanya?.
Bingung sendiri di buatnya.
"Maaf Kak, aku lupa"
Ya saking hangatnya pelukan Adit membuatmu melupakan ku.
"Karena aku masih senang,jadi kamu,aku maafkan" Tangan dan wajah sudah kembali normal.
"Terima kasih Kak" Bilang terima kasih saja dulu,biar dia senang.
"Apa kamu tidak penasaran, kenapa aku sesenang ini" Tanya Tristan.
"Memangnya Kakak senang kenapa,apa Kak Tristan menang tender" Ucap Reva asal tebak.
Deg. Hati Reva menciut,terkejut mendengar ucapan Tristan. apa dia salah dengar.
" Maksud Kak Tristan apa?" Mulai panik.
"Hari ini gadis yang sedang ku incar menyatakan cinta padaku,aku hebat kan"
"Iya Kakak hebat,tapi ngomong-ngomong siapa gadis beruntung itu kak"
Kamu Reva, kamu orangnya.
"Rahasia,sekarang belum saatnya aku kasih tau,nanti saja kalau waktu ya sudah tepat baru aku kasih tau." Jawaban Tristan, semakin Membuat Reva kesal.Mata sudah mulai mengembun tapi sekuat mungkin dia tahan.
"Karena aku sedang bahagia,kamu boleh minta hadiah apa saja"
"Benarkah?"
"Iya,aku serius,katakan lah"
__ADS_1
"Aku mau pulang ke rumah Ayah, apa boleh aku menginap di sana?"
"Apa? Reva, itu bukan hadiah, yang lain saja"
Kenapa Kak, beri aku waktu untuk menenangkan kan hati.
"Aku kangen Ayah Kak"
"Baik lah nanti malam kita ke sana,sekarang beri aku ciuman selamat datang"
"Hah..." Reva segera mengubah posisi duduknya menjadi menghadap ke wajah Tristan.Cup satu kecupan iya darat kan di pipi kanan Tristan, tapi mana cukup,tangan Tristan bergerak menunjuk satu persatu anggota tubuh yang ingin minta di kecup.
Bukan hanya wajah,sekarang sudah menunjuk leher,lalu membuka baju kaos yang ia gunakan.Menunjuk lagi bagian dada bidangnya.
Apa sih Kak, kenapa aku jadi dapat hukuman lagi,Kakak bilang lagi senang,tapi kenapa menghukum ku.
"Kak, aku mandi dulu ya,soalnya aku masih bau" Mencari cara agar bisa bebas.
"Kalau begitu,Ayo aku mandikan"
"Hah Tidak perlu Kak, bukankah Kak Tristan masih capek,biar aku mandi sendiri saja."
Tampa menjawab ucapan Reva, Tristan sudah berdiri,tampa melepas Reva dari pangkuannya,berjalan melangkah menuju kamar mandi.
Biar aku bersihkan tubuh mu dari bekas sentuh anak ingusan itu.
Dan akhirnya Tristan benar-benar memandikan Reva, melumuri tubuhnya dengan satu botol sabun (kebayang dong seberapa banyak busanya) menggosok dengan tangannya.
Sudah selesai,kamu sekarang bukan hanya wangi tapi juga bersih dari virus dan kuman.
Tristan membilas tubuh Reva, dengan menggunakan shower,setelah bersih kemudian ia mengambil piyama mandi lalu memakaikannya pada Reva.
"Sekarang pakai bajumu"
"Baik Kak,terima kasih" Sahut Reva sambil menggigil kedinginan.
Apa coba tujuannya memandikan ku seperti tadi,memang benar-benar aneh.dia yang senang aku yang di hukum. Gumam Reva seraya memilih pakaiannya di lemari.
"Awas saja nanti malam aku yang akan menghukum mu" Seringai licik terbit di bibir Reva, sudah menemukan ide untuk mengerjai Tristan saat di rumah Ayah nanti.
Bersambung........
__ADS_1
"