
Adit memutuskan untuk mengikuti mobil yang membawa Reva pergi,dia bergegas masuk kedalam mobil dan menyalakannya,dia terus mengikuti mobil tersebut dengan jarak yang tidak terlalu dekat,takut mereka akan curiga.
"Mau kemana mereka,aku harus mengikuti mereka,aku takut pria tadi adalah orang jahat yang ingin mencelakai Reva" Gumam Adit.
Sementara itu di dalam mobil Reva di buat penasaran dengan sosok yang saat ini mengemudikan mobil,sekeras apa dia menebak dan mengingat siapa dia,namun tidak berhasil,Reva benar-benar tidak mengenali pria tersebut.
"Maaf Kak, kalau boleh tau Kakak ini siapa,dan kita mau kemana?."
"Maaf Nona nanti juga anda tahu sendiri,di sini saya hanya menjalankan tugas,yang di perintahkan oleh bos saya." Jawaban tersebut membuat Reva gelisah,berbagai pikiran buruk menghantuinya.Menyesal rasanya mengikuti ajakan pria tersebut.
Sekitar tiga puluh menit perjalanan,mobil kemudian berbelok ke sebuah hotel bintang lima,dan berhenti tepat di depan hotel,Adit terkejut dibuatnya, berbagai pertanyaan melintas di pikirannya,dugaan bahwa Reva menjadi simpanan seolah benar adanya,Adit melihat dengan mata kepalanya sendiri Reva turun dari mobil dan memasuki hotel besama pria yang membawanya.
Adit memutuskan untuk pergi dari sana,dia tidak berniat lagi untuk mengikuti Reva, sebab sudah jelas akan pergi kemana Reva sekarang, pikir Adit.
Reva mengekor di belakang pria yang membawanya ke lantai paling atas dan menuju kamar Hotel Presiden suit.
"Tunggu!siapa sebenarnya kamu?aku mau pergi saja,aku tidak mau bertemu dengan siapapun" Reva mulai gelisah.
"Tenanglah Nona,anda akan baik baik saja,percayalah tidak akan ada yang berani menyakiti anda" Ucap pria itu mencoba menenangkan Reva.
Kemudian dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang,"Halo tuan target sudah saya bawa dan saat ini kami ada di depan kamar anda."
"Kerja bagus,sekarang kamu boleh pergi dan kembali lagi kalau aku memintamu ke sini."
"Baik Tuan, kalau begitu saya akan pergi."
Disaat pria tersebut akan melangkah pergi, Reva mencekal lengan jas yang di gunakan pria itu.
"Kak aku mohon jangan tinggalkan aku disini,aku takut Kak."
Tak lama. pintu terbuka muncul seseorang yang terlihat murka saat melihat tangan Reva memegang lengan jas pria tersebut.
"Hai...b***h apa yang kau lakukan ,bukankah aku memintamu untuk pergi kenapa masih di sini?dan berani beraninya kau menyentuh istri ku."
Terlihat wajah panik dari pria tersebut dengan kening mengkerut,tidak terima dengan tuduhan yang baru saja dia dengar"Hey..tuan lihat dulu siapa yang pegang siapa aku juga mau pergi tapi istri anda yang menahan ku" tapi kata-kata itu hanya ada di dalam hati sebab mana berani dia mengatakannya,jangankan untuk bicara seperti itu menjawab saja sudah di pastikan kepalanya akan melayang.
"Maafkan saya Tuan,saya permisi" setelah lengan jasnya terlepas pria tersebut memilih lari secepatnya,cari aman pikirnya.
Kembali kepada Reva yang saat ini mendapatkan tatapan tajam dari Tristan.
"Sepertinya telingamu bermasalah, bukankah aku sudah bilang jangan dekati pria lain,tapi kenapa kamu malah memegang lengannya seperti tadi?." Tristan bicara sembari masuk kembali kedalam kamar Hotel, diikuti Reva di belakangnya.
"Hey Kak itu bukan lengan tapi jasnya matamu atau telingaku yang bermasalah" Ucap Reva membatin.
"Mana aku tahu kalau yang mau ku temui itu Kakak, aku kira dia orang jahat Kak, sebab dari tadi aku tanya siapa yang akan ku temui tapi dia tidak menjawab" Reva memberanikan diri untuk menjawab,namun kemarahan Tristan tak jua sirna wajahnya tetap menegang.
Reva berpikir bagaimana cara meluluhkan amarah Tristan,dan ide gila itu pun muncul,seketika Reva memeluk tubuh tinggi Tristan lalu mengusel wajahnya di dada Tristan,"Kak, maaf ya aku beneran gak tahu kalau dia membawaku kemari untuk menemui Kakak, aku kira dia mau menculik ku" Masih dengan posisi yang sama dan sekarang tangannya bergerak membelai dada bidang Tristan.
__ADS_1
Ketegangan sedikit mengendur,bahkan Tristan tersenyum samar,saat melihat Reva berusaha membujuknya.
Tristan membawa Reva ke sofa,dan duduk di atas pangkuannya."Aku ini masih marah Reva, ayo bekerja keraslah untuk membujuk ku." Mata Reva mengerjap mencerna ucapan Tristan.
Seketika otaknya loading dan langsung saja bergerak,memberikan kecupan basah di seluruh wajah dan juga bibir Tristan. Usahanya berhasil,Tristan sudah tidak lagi marah justru sekarang dia yang mengendalikan permainan.
"Kak, aku ini masih ada kelas,kenapa Kak Tristan malah mengajakku kemari?."
"Kamu tidak suka?" Emosi lagi.
"Bukannya gitu Kak, aku takut di skors karena banyak bolos" Ucap reva pelan.
"Sayang,tidak ada yang berani melakukan itu padamu,aku yang berkuasa atas kampus itu jadi tenanglah."
"Ya..ya...ya Kampus itu milikmu tapi bukan berarti bisa seenaknya kan?" Hanya berkata dalam hati.
"Sekarang kamu harus di beri hukuman karena sudah berani melanggar janji."
"Hukuman apa Kak?" Mendadak takut lagi.
"Kamu harus membuatku puas hari ini,jangan harap bisa keluar dari hotel ini sebelum tugasmu selesai."
"Aaaaa mati aku,kenapa hukumannya selalu seperti ini sih kak?kalau gini kan aku yang banyak kerja" Lagi lagi ngedumel dalam hati.
"Ayo lakukan tugasmu dengan baik ,kalau kau berhasil aku akan memberimu hadiah."
"Apa kamu tidak penasaran dengan hadiah yang akan ku berikan?" Tanya Tristan.
"Memangnya apa hadiahnya Kak?"
"Aku akan bergantian memuaskan mu."
"Hadiah macam apa itu? itu bukan hadiah hanya akal bulus mu kan?" gumam Reva.
"Apa kau suka dengan hadiahku?" Reva mau menjawab namun sebelum bibirnya bicara kecupan Tristan sudah mendarat di sana,membuat Reva lupa dengan apa yang ingin dia ucapkan.
Dan pada akhirnya siang itu menjadi hari yang memabukkan untuk dua insan yang saat ini tengah di mabuk cinta.Panasnya cuaca matahari tidak menghalangi keduanya untuk terus berpacu menggapai kepuasan.
Hukuman yang di berikan Tristan, hanyalah akal bulusnya saja,nyatanya dia yang banyak bekerja sedangkan Reva hanya berusaha mengimbanginya.
"Sayang ,katakan kau mencintaiku" Di akhir permainan Tristan meminta Reva mengucapkan kata cinta,yang tak terhitung lagi jumlahnya,dan dengan napas yang ngos-ngosan Reva mengucapkannya. "I love you Kak Tristan." Aaa apa aku sudah gila" Gumam gumam kecil.
Entah karena lelah atau apa Reva tertidur dalam pelukan Tristan, terlihat sisa peluh masih membanjiri wajah cantiknya.Tristan mengusap wajah Reva yang basah oleh keringat dengan jari tangannya,dan mendaratkan beberapa kali kecupan,Tristan menarik selimut dan menutupi tubuh polos istrinya,dan dengan bangganya dia menatap tanda merah yang dia ciptakan hampir di seluruh tubuh Reva.
...****************...
Sementara di mansion milik Tristan terjadi kehebohan,dimana sang Ibu tengah mengobrak abrik isi lemari ganti milik Reva, Ibu meminta Bik Asih mengeluarkan piyama tidur dan menggantinya dengan gaun tidur model terbaru.Gaun transparan dengan model satu tali hanya dengan sekali tarik maka akan terlepas."Semoga Reva suka dengan kejutan yang ku berikan." Gumam Ibu.
__ADS_1
Setelah puas dengan aksinya, Ibu memilih pulang karena takut Reva akan sungkan bila tahu dia yang sudah mengganti isi lemarinya.
Namun hingga malam menyapa Tristan tak berniat mengajak Reva pulang,justru dia ingin menginap untuk beberapa hari kedepan.Itung-itung bulan madu katanya.
Tristan tak mengizinkan Reva untuk beranjak dari ranjang,dia benar-benar mengurung Reva.
"Kak,aku mau ke kamar mandi sudah kebelet nih...."
"Ayo aku gendong."
"Kak aku ini bisa jalan,dan juga tidak sakit kenapa harus digendong coba?" Reva merenggut.
"Aku gak mau kamu capek sayang,nanti kalau kamu kelelahan dan tidak bisa melayani aku,bagaimana?."
"Ish...terbuat dari apa sih otak mesumnya itu" gumam Reva.
Dengan sekali gerakan Reva sudah ada di dalam gendongan Tristan, membawanya ke kamar mandi lalu mendudukkannya di kloset.
"Sana Kak,keluar dulu gimana hajatku bisa keluar kalau ada Kakak disini" Usir Reva, membuat Tristan terpaksa keluar.
Malam begitu indah,suasananya cerah dengan bulan purnama yang bergantung sempurna dan jutaan bintang yang terhampar berkelap kelip di langit.Sementara di atap gedung Hotel beberapa pelayan tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk tamu kehormatan mereka.
Tristan akan membuat kejutan untuk Reva, yaitu makan malam romantis di atap gedung Hotel.Sebuah meja bulat yang sudah di tata rapih dengan dua kursi yang saling berhadapan, dekorasi cantik berwarna pink dan balon berwarna senada yang dirangkai indah,serta lilin yang berjejer di sepanjang jalan menuju meja.
Sebuah buket bunga mawar besar,dan juga kotak bludru warna merah berbentuk hati telah Tristan persiapkan sejak tadi.Tristan keluar dari kamar Hotel tampa berpamitan pada Reva.
Saat Reva keluar dari kamar mandi dia mendapati kamar kosong tidak ada Tristan di sana.
"Kemana Kak Tristan,kenapa keluar tampa memberi tahu ku" Gumam Reva.
Tak lama pintu diketuk,Reva beranjak berniat membukanya dan mengira Tristan yang datang,namun ternyata bukan Tristan melainkan dua orang gadis cantik yang datang menyapanya.
"Selamat malam Nona Reva perkenalkan saya.. almira dan ini teman saya resta,kami diminta Tuan Tristan untuk merias anda" Untuk sesaat Reva hanya hanya melongo,bertanya di dalam hati untuk apa berias malam malam begini.
"Maaf Kak, memangnya mau pergi kemana malam malam begini" pertanyaan yang terdengar lucu di telinga kedua gadis itu.
"Kami tidak tahu Nona, kami hanya menjalankan tugas,mari Nona kita mulai" Gadis bernama almira masuk tampa menunggu jawaban dari Reva.Dan mereka merias wajah Reva dengan makeup artis,lalu membentuk rambut lurus Reva menjadi sedikit ikal dibawahnya dan memasangkan hiasan kepala di sisi kiri rambutnya,mengeluarkan gaun dari baper bag yang mereka bawa,gaun berwarna biru navi,panjang menjuntai dan menampakkan bahu putihnya,serta memakaikan aksesoris berupa anting,kalung gelang dan cincin yang terbuat dari berlian asli.
Membuat penampilan reva begitu memukau.
Setelah beres mereka mengajak Reva melangkah keluar dan naik ke lift untuk bisa tiba di atap gedung.
Setelah itu mereka mengantar Reva hingga sampai pada tempat yang sudah disiapkan Tristan.Kemudian kedua gadis itu pergi meninggalnya di sana.Tristan melangkah menyambut kedatangan Reva,matanya tak berkedip menatap wajah cantik Reva.
Reva merasa terharu dengan kejutan. yang Tristan berikan,Tristan membawa Reva ke kursi dan mendudukkannya,kemudian dia mengambil buket bunga dan juga kotak perhiasan dari atas meja lalu memberikannya pada reva,lagi-lagi reva merasa bahagia dengan perlakuan Tristan,.
Berbagai kejutan telah Tristan siapkan,dan harapan Reva untuk bebas malam ini rupanya hanya mimpi belaka,karena Tristan sudah menyiapkan hadiah khusus untuk mereka lanjutkan di kamar nanti.
__ADS_1
**Bersambung**.........