DOKTER CINTA CEO

DOKTER CINTA CEO
Bab 45


__ADS_3

Sore tadi saat Tristan pulang dari kantor ia segera menjemput Reva, dan selepas solat isya mereka pulang ke mansion.


Setibanya di mansion keduanya memilih untuk pergi ke lantai atas,menuju kamar mereka.Rasa lelah setelah seharian bekerja,membuat Tristan ingin segera merebahkan badan.


"Kakak mandi dulu ya,aku siapin air hangat"


"Aku maunya mandi bareng kamu"


"Jangan aneh-aneh Kak, aku sudah mandi di rumah ibu tadi."


"Sayang sekali,padahal aku kangen,pengen mandi bareng,Kan sudah lama kita tidak mandi berdua."


Reva mendekati ranjang berniat membuka sepatu dan kaus kaki Tristan yang masih terpasang rapi di kakinya.


"Ayo Kak, buruan mandi nanti airnya keburu dingin." Ucap reva seraya membuka sepatu Tristan lalu membawanya ke ruang ganti.Meletakkan sepatu pada tempatnya,kemudian memilih baju ganti untuk Tristan. Setelan Piyama tidur warna dan motif senada dengan yang Reva kenakan saat ini.


Saat Reva keluar dari ruang ganti,ia mendengar suara gemercik air dari kamar mandi menandakan Tristan sedang melakukan ritual mandinya.


Reva memilih duduk di tepi ranjang sembari memainkan ponselnya,berselancar di dunia maya.


Tak lama pintu kamar mandi terbuka.Menampakkan sosok yang begitu mempesona di hati Reva.


Kegiatan Reva berselancar di dunia maya mendadak terhenti, tatkala menyaksikan pemandangan yang begitu indah di depan sana.


Perasaan yang makin hari kian tumbuh bahkan bertambah besar,yang tengah Reva rasakan saat ini.Reva benar-benar jatuh cinta pada Tristan, sekuat apa dia melawan perasaan tersebut namun tak bisa karena pesona Tristan begitu memukau bagi Reva.


Siapa yang bisa menolak bila dipertemukan dengan pria matang,sukses dalam karir,berwajah tampan, apa lagi dengan postur tubuh yang tinggi tegap,dengan bentuk tubuh yang Atletis.


Seperti saat ini bagaimana Reva tidak menelan ludah bila melihat Tristan yang baru selesai mandi,keluar hanya melilitkan handuk di pinggang,air dari rambut yang masih mengalir dari leher turun ke dada bidangnya, setelah itu meluncur ke arah perut yang berbentuk roti sobek,bukankah sudah jelas akan bermuara kemana tetesan air tersebut?.


Tristan mendekat membuat dada Reva kian membuncah. Karena tidak mau ketahuan sedang mengagumi, akhirnya Reva memilih berpura-pura sibuk kembali dengan ponsel di tangannya.


Aroma sabun dan sampo menguar,memenuhi indra penciuman Reva.


Tristan yang menyadari gelagat Reva, bukannya mengenakan piyama yang sudah Reva pilihkan.Melainkan semakin mendekati Reva, bahkan posisinya sekarang sudah berdiri tepat di depan wajah Reva.


"Kakak,kenapa tidak langsung pakai baju,cuacanya dingin,nanti Kak Tristan masuk angin." Ucap Reva,gugup.


Bukannya mendengarkan ucapan Reva Tristan justru mencubit dagu Reva dengan kedua jarinya,mengangkat wajah Reva membuat tatapan mata mereka bertemu.


Reva menelan ludah dengan susah payah,kala wajah Tristan sudah tak lagi berjarak dengannya.Bibir lembut Tristan menyapu bibir Reva.Hanya dengan hitungan detik tubuh Reva sudah terbaring di ranjang,dengan dua kaki yang menjuntai ke lantai.


Tristan tak memberi Reva celah untuk menghindar,ponsel yang dari tadi digenggaman entah sudah jatuh kemana.


Tangan dan bibir Tristan bergerak ke sana kemari,meraba,menyentuh juga me****s tempat favoritnya.


Tristan membetulkan posisi tubuh Reva, hingga sekarang sudah sepenuhnya berada di atas ranjang.Tangan yang begitu lihai membuka kancing piyama,melepas dan dilemparkannya sembarang arah.

__ADS_1


Handuk yang melilit pinggangnya hanya dengan sekali tarikan sudah terlepas dan jatuh melorot ke lantai.Kemudian dia kembali menindih tubuh Reva, yang sudah terlihat pasrah.


Tristan melepas pagutannya sejenak,menatap wajah Reva yang merona.


Tangannya beralih membelai wajah Reva, mengusap bibir yang basah oleh bekas kecupan.


Tristan melepas kain pelindung terakhir dari tubuh Reva, setelah itu mereka kembali melakukan penyatuan.


Suara de****n berkali-kali terdengar keluar dari bibir Reva,meski hati berkata jangan namun tubuh menginginkan yang lebih.Begitulah yang Reva alami.


Setelah selesai,Tristan menarik selimut menutup tubuh polos keduanya.Kemudian ia raih tubuh reva kedalam pelukannya,berharap di dalam hati semoga benih yang ia tanam barusan bisa tumbuh dan berkembang di dalam rahim Reva.


Sayang,bersabarlah denganku,suatu hari nanti pasti akan aku ungkapan semua isi hatiku,bukan hanya di depanmu,tapi juga ke seluruh dunia,bahwa aku mencintaimu.Batin Tristan, seraya mengecup kening Reva, yang sudah terlelap karena lelah melayani kebrutalan Tristan.


Setelah itu Tristan beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya,lalu keluar memakai piyama tidur yang Reva pilih tadi.


Kemudian Tristan melangkah menuju meja rias,berniat mengambil sisir,namun tampa sengaja tangannya menyentuh tas selempang Reva, yang tergeletak di meja rias tersebut.Alhasil seluruh isi tas tersebut berceceran ke lantai.


Tristan pungut satu persatu dan memasukkan kembali ke dalam tas.Barang terakhir yang Tristan ambil adalah sebuah kertas kecil,Tristan penasaran tentang isi kertas tersebut,lalu dibukanya kertas yang berisi catatan yang belum Tristan pahami apa isinya.


Tristan bolak balik kertas kecil itu,yang dia pahami hanyalah nama sebuah klinik yang tak jauh dari tempat tinggalnya sekarang.Tristan penasaran apa mungkin Reva mengidap suatu penyakit serius yang tidak dia ketahui.


Sebab catatan yang tertulis di sana adalah jadwal kunjungan Reva kembali kesana.sedangkan tulisan yang lainnya Tristan tidak mengerti apa maksudnya.


Tristan berinisiatif menyimpan kertas tersebut dan berniat datang ke klinik untuk bertanya apa isi dari catatan yang ada di kertas tersebut.


Setelah itu Tristan kembali ke atas ranjang berbaring di samping Reva.Tristan tatap wajah lelap Reva,nampak Reva baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda bahwa Reva sedang sakit.


Pagi menyapa.Hari ini Reva akan berangkat ke kampus,sedangkan Tristan juga akan ke kantor. Mereka sudah duduk di meja makan untuk menikmati sarapan.


Tristan ingin bertanya,tapi takut Reva tersinggung.Akhirnya dia memilih diam,dan akan mencari tahu sendiri nanti.


"Sayang,apa kamu baik-baik saja?,kamu gak lagi sakit,Kan?" Akhirnya pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Tristan, rasa penasaran membuatnya tidak menyadari ucapannya.


"Aku baik,Kak. Aku sehat,memangnya aku terlihat seperti orang yang lagi sakit ya,Kak?"


"Tidak,aku hanya mau tanya saja,siapa tahu kamu lagi gak enak badan gara-gara kecapean karena semalam." Kilah Tristan berdalih.


"Aku tidak apa-apa, Kak.Aku baik-baik saja"


"Syukurlah kalau begitu,apa hari ini kamu diantar sama si ujang aja,aku khawatir kalau kamu mengemudi sendiri."


"Aku gak apa-apa, Kak. Kenapa sih Kak Tristan aneh gitu,biasanya tiap hari aku bawa mobil sendiri." Reva mulai protes.


"Aku hanya khawatir,tapi kalau kamu bisa sendiri,ya enggak apa-apa."


"Terima kasih Kak, karena sudah peduli sama aku."

__ADS_1


"Sudah semestinya aku perduli,kamu Kan istriku,jadi wajar kalau aku khawatir"


"Iya,Kak."


Setelah itu mereka berangkat ke tujuan masing-masing. Reva berangkat lebih dulu,sedangkan Tristan menunggu jemputan Roy.


Setelah di dalam mobil Tristan meminta Roy, untuk singgah di klinik yang ada di catatan yang ia temukan semalam.


Beruntung saat mereka sampai, klinik sudah buka,dan Dokter juga sudah tiba.Tristan membaca nama klinik tersebut ternyata klinik Dokter kandungan,Tristan semakin penasaran apa mungkin Reva hamil,tapi kenapa Reva tak pernah bercerita padanya,atau ada alasan lain.Sudahlah nanti saja bertanya pada Dokternya langsung,pikir Tristan.


Tibalah antrian Tristan disebut.Tristan segera beranjak dari tempat duduknya.Melangkah masuk ke dalam ruang periksa.


"Selamat pagi Tuan,apa ada yang bisa saya bantu?" ucap dokter wanita yang duduk di kursi kerjanya.


"Pagi,Dok.Ada yang mau saya tanyakan tentang isi catatan yang ada di kertas ini.Kalau boleh tau ini maksudnya apa Dok,apa istri saya sedang sakit keras, Dok?" Tanya Tristan seraya menyerahkan kertas temuannya semalam.


Dokter yang bernama Azizah meraih kertas tersebut lalu membacanya.


"Maaf Tuan,apa istri anda melakukan suntik Kb ini tampa sepengetahuan anda?" Ucap Dokter Azizah.


"Suntik,Kb.Apa maksudnya Dokter saya tidak paham" Ucap Tristan bingung.


"Begini Tuan,Kb atau alat kontrasepsi adalah sebuah metode yang di jalankan supaya menunda kehamilan,salah satunya adalah dengan cara suntik tiap bulan atau tiga bulan sekali.Tujuannya adalah agar si ibu tidak hamil meski melakukan hubungan suami istri,begitu Tuan."


Seketika tubuh Tristan, bergetar hebat perasaan marah menyelimuti hatinya.


Reva sengaja menunda kehamilan,kenapa?apa dia tidak mau mengandung benih Tristan, apa ungkapan perasaan yang ia dengar dulu tidak benar,Reva hanya berbohong pada Adit.


"Apa ada lagi yang ingin Tuan tanyakan?" Ucap Dokter Azizah kembali.


"Apa ada efek samping lain,Dok.Selain menunda kehamilan apa suntik tersebut membuat seseorang tidak bisa hamil lagi?"


"Sebenarnya tidak ada efek samping yang lain,hanya saja setelah tidak menggunakan metode ini si ibu harus mengembalikan masa suburnya terlebih dahulu.Minimal satu atau dua bulan baru setelah itu dia bisa kembali hamil."


"Tapi istri saya seorang gadis Dok,maksud saya belum pernah hamil atau melahirkan apa tidak akan mempengaruhi masa suburnya,Dok?"


"Tergantung Usia istri anda,dan juga berapa lama metode ini mulai dijalankan" Terlihat Dokter Azizah membaca catatan tersebut.


"Usia istri anda,baru dua puluh tahun,dan baru menjalankan metode ini selama kurang dari empat bulan itu berarti,efek sampingnya masih terbilang aman.Hanya perlu mengatur pola makan dengan gizi seimbang serta gaya hidup sehat,mudah mudahan istri anda bisa secepatnya hamil,Tuan."


"Kalau begitu terima kasih atas penjelasan anda Dokter, saya permisi"


"Sama sama Tuan, bila ada hal yang ingin anda konsultasikan lagi,silahkan datang kemari mudah mudahan saya bisa membantu."


"Baik,Dokter." Ucap Tristan seraya melangkah keluar. Tristan segera masuk kedalam mobil dengan raut wajah yang sulit di artikan.


Sebenarnya ada rasa penasaran di hati Roy, namun dia memilih diam,sebab takut akan jadi sasaran kemarahan Tristan.

__ADS_1


Baiklah Reva sepertinya kamu tidak ingin membuat ini jadi lebih mudah,kamu lebih senang bermain main di belakangku,akan ku buat kamu mengakui semuanya.Jangan harap kamu bisa pergi dari sisiku,aku tidak akan pernah melepaskan sesuatu yang sudah ada di genggamanku!.


Bersambung........


__ADS_2