
Siang ini Tristan dan Roy,sudah berada di dalam mobil.
Mereka akan mengadakan meeting kembali bersama Sonya, dan juga sekretarisnya Raysa.
Saat tiba di Cafe mereka melihat Sonya, dan Raysa sudah lebih dulu ada di sana.
Tristan, memasang wajah datar.Masih bersikap seolah tak mengenal Sonya.
"Selamat siang Tuan Tristan,Pak Roy.Selamat datang kami sangat senang karena anda berdua mau meluangkan waktu untuk kembali memenuhi undangan kami,silahkan duduk,Tuan" Ucap Raysa memberikan sambutan untuk dua orang tamunya.
"Tidak perlu banyak drama,saya tidak punya banyak waktu untuk melayani basa basi anda,sekarang mari kita bahas soal kerjasama yang kalian bilang bermasalah kemarin!" Ucap Tristan, to the poin.
"Maaf Tuan Tristan, kalau sekiranya permintaan kami mengganggu waktu anda,tapi saya rasa bukankah pantas bila saya mengajukan komplain bila ada masalah dalam kerjasama tersebut." Ucap Sonya, sarkas.
"Kami tahu anda orang yang sibuk,Tuan.Tapi ada baiknya kalau kita membicarakan masalah ini dengan santai,lagi pula bukankah ini jam makan siang,sebaik ya kita pesan makan siang terlebih dahulu.Tawar Raysa.
"Terserah kalian saja,tapi saya harap setelah ini tidak akan ada komplain apapun lagi,sebab selama saya menjabat sebagai seorang Ceo,saya tidak pernah melakukan kesalahan sekecil apapun,saya juga sudah melakukan ratusan kerjasama dengan perusaahan lain tapi tidak sekalipun saya mendapatkan komplain dari mereka,karena memang saya orang yang profesional."
Ucap Tristan, kesal.Menurutnya pihak Sonya, ingin bermain main dengannya.
"Tristan,kita ini sahabat sejak dulu,mungkin kamu tidak mengingatku,tapi aku sangat mengenali dirimu.Aku tahu seperti apa dirimu,bahkan aku tahu hobi dan kegemaran mu,warna kesukaan mu,makanan favorit mu.Dan juga gadis seperti apa yang menjadi incaran mu.Jadi walaupun kamu tidak menjelaskan secara rinci seprofesional apa dirimu,aku tahu." Ucap Sonya mencoba memperkenalkan dirinya kembali.
"Baguslah kalau kamu tahu,jadi aku tidak perlu repot repot mengulang ucapan ku.Sekarang aku mau kalian tunjukkan data mana yang bermasalah,agar masalah ini cepat selesai,aku juga masih banyak pekerjaan yang lain."
"Sebaiknya kita makan siang dulu,baru setelah itu kita bahas ini lagi"
"Cih ... sudah kuduga,kamu memang tidak pernah berubah Sonya, selalu mementingkan ego mu sendiri."
"Tristan, kita ini baru bertemu,aku ingin bicara banyak denganmu,apa kamu tidak merindukan aku?"
"Sonya,jangan campur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan.Aku datang kemari karena ingin memperbaiki data yang bermasalah,tapi dari tadi aku mau memeriksa data yang kalian bilang justru kalian yang mempersulitnya,jadi mau kalian apa?"
"Maaf Tristan, aku terpaksa melakukan ini.Kalau aku tidak berbohong mana mungkin kamu mau menemui ku."
"Sudah ku duga,dari dulu kamu memang tidak pernah berubah.Ayo Roy, kita pulang.Percuma saja membuang waktu bicara dengan orang yang tidak profesional seperti mereka!"
"Tristan, aku mohon kamu jangan pergi,setidaknya makan siang dulu bersama ku.Anggap ini sebagai permohonan maaf atas kesalahan yang aku buat selama ini.Aku juga minta maaf karena aku baru tahu kalau Renata, sudah meninggal"
"Maaf?kamu bilang maaf.Mudah sekali kamu mengucapkan kata itu.Setelah apa yang sudah kamu buat selama ini.Bahkan dihari pertama pertemuan kita pun kamu masih mengulang kesalahan yang sama,yaitu membuatku kesal.Untuk Renata,tidak perlu kamu bahas lagi,karena aku juga sudah mulai belajar melupakannya. Jadi mulai sekarang jangan ganggu aku lagi.Karena kita hanya relasi bisnis tidak ada hubungan lain."
"Kenapa?kenapa kamu selalu menolak ku,apa kurang ku,lihat aku.Sekarang aku sudah berbeda,aku bukan lagi Sonya, yang culun,aku wanita sempurna sekarang.Coba sekali saja kamu lihat aku,lihat keberadaan ku ,Tristan."
"Sonya, selama ini aku selalu menganggap mu,sahabat.Tapi kamu sendirilah yang menghancurkan persahabatan kita.Aku tidak pernah menilai fisikmu,tapi aku membenci sifat mu yang ambisius. Selalu melakukan cara apapun untuk mendapatkan keinginanmu."
"Itu semua aku lakukan karena,aku memang mencintaimu Tristan,kenapa kamu tidak sadar juga!"
"Itu bukan cinta Sonya, tapi itu ambisi,kamu hanya berambisi memiliki ku,bukan mencintaiku.Kalau kamu masih seperti ini aku pastikan kerjasama yang sudah kita sepakati Batal!"
"Jangan lakukan itu Tristan, baiklah aku berjanji aku tidak akan mengganggu mu lagi.Tapi aku minta izinkan aku tetap jadi sahabatmu,aku mohon."
"Terserah kamu saja.Tapi ingat sekali saja kamu membuat aku marah,kamu akan tahu sendiri akibatnya!" Ancaman Tristan, tidak main main.
"Ayo Roy, kita kembali ke kantor karena jam makan siang sudah berakhir.Ucap Tristan, seraya berlalu pergi diikuti oleh Roy.meninggalkan Sonya, dengan rasa kecewa yang semakin dalam.
"Lagi lagi kamu menolak ku,tapi baiklah kita lihat sampai dimana kamu bisa bertahan dengan keangkuhan mu itu.Kalau dengan cara seperti ini tidak mempan maka akan aku tempuh dengan cara yang lain." Batin Sonya.
Sementara itu Roy dibuat penasaran akan hubungan Tristan, dan Sonya.
Roy ingin bertanya tapi ragu saat melihat wajah masam Tristan.
"Apa Tuan, ingin makan di suatu tempat?" Tanya Roy, hati hati karena dia pun merasakan perut yang melilit.
__ADS_1
"Cari tempat makan yang kamu sukai,kita makan di sana."
"Baik,Tuan.Makan sea food sepertinya enak"
"Terserah,asal jangan makanan pedas"
"Iya,Tuan.Saya akan pesan udang asam manis,dan ikan serta ayam bakar,apa Tuan suka?"
"Iya,apapun itu asal tidak pedas aku akan makan."
Akhirnya Roy, bisa bernapas lega,sebab sebentar lagi perutnya akan terisi dengan makanan kesukaannya.
Yang lebih membuatnya lega adalah sikap Tristan, yang sudah kembali normal.
"Roy. Bila pihak Sonya, meminta untuk bertemu denganku,sebisa mu untuk mencari alasan menolaknya.Bila sudah sangat mendesak kamu saja yang menemui mereka"
"Baik,Tuan.Apa Tuan ada masalah dengan ibu Sonya,kenapa Tuan, seperti begitu membencinya."
"Itu cerita masa lalu yang malas untuk aku membahasnya.Intinya jangan pernah libatkan aku dengan mereka lagi.dan satu lagi aku ingin Sonya, jangan sampai tahu kalau aku sudah menikah,jangan sampai dia tahu bahwa Reva adalah istriku, karena aku khawatir dia akan mencelakai Reva, seperti dulu dia ingin mencelakai Renata."
"Baik,Tuan.Saya akan mengusahakan agar ibu Sonya, tidak mengetahui keberadaan Nona Muda."
"Perketat penjagaan terhadap Nona kalian,sebab aku tahu seperti apa sifat asli Sonya, dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan ambisinya."
"Iya Tuan, saya akan meminta Dion untuk selalu mengawasi Nona muda"
Tristan, tidak lagi menjawab,dia masih bingung mengapa Sonya, harus muncul sekarang. Kenapa dia tidak pernah kembali sejak sepuluh tahun terakhir.Tristan, tidak yakin kalau Sonya, baru mengetahui tentang kabar kematian Renata.Bukankah tragedi itu gempar sejagat maya,bahkan menjadi berita trending kala itu.
"Mana mungkin Sonya, bisa ketinggalan berita menggemparkan kala itu,pasti ada sesuatu yang Sonya sembunyikan" Gumam Tristan dalam hati.
Mobil yang membawa mereka sudah memasuki halaman salah satu Cafe seafood yang terkenal di kota itu.Roy,segera turun lalu membukakan pintu mobil untuk Tristan.
Tak butuh waktu lama makanan yang ada di piring sudah berpindah seluruhnya kedalam perut mereka berdua.
"Segera kembali ke kantor,aku ingin menyelesaikan pekerjaan ku,agar aku bisa pulang cepat.Reva sepertinya merindukanku"
"Baik,Tuan" Jawab Roy, cepat.Namun dalam hatinya berkata."Nona muda atau anda yang rindu tuan? Sepertinya anda sudah terkena virus bucin,Tuan Tristan. Tapi anda malu mengakuinya."
"Salah Roy, sebaiknya langsung pulang ke rumah saja,hatiku berkata Reva sedang membutuhkan ku saat ini"
"Baik,Tuan." Roy, menyembunyikan senyum lucunya.Dia geli sendiri melihat tingkah bucin Tuannya itu.
Tiga puluh menit kemudian mobil yang di kemudikan Roy, sudah melewati gerbang tinggi mansion milik Tristan.
"Sekarang kembalilah kekantor kamu hendel semua pekerjaanku,besok aku akan memeriksa laporan mu"
"Iya,Tuan.Kalau begitu saya permisi"
"Pergilah"
Roy memutar mobilnya,dia akan kembali kekantor.Sedangkan Tristan merasa senang karena bisa pulang cepat menemui istri tercinta.
"Kakak pulang cepat,apa ada masalah,Kak." Sapa Reva saat mendapati Tristan sudah berdiri di depan pintu.
"Iya aku ada sedikit masalah dengan hatiku"
"Hati Kakak kenapa,apa ada yang sakit"
"Iya,sebelah sini sakit sekali" Ucap Tristan, seraya menunjukkan dada sebelah kirinya.
"Jantung Kakak kenapa,sakit?"
__ADS_1
"Iya,sakit karena pengen di belai sama pawangnya?"
"Hah?..." Otak Reva, masih loading.
"Maksud Kakak apa,aku tidak paham"
"Maksudku ini,sayang." Ucap Tristan, seraya menggendong tubuh Reva, ala bridal style.
Tristan melangkah menaiki tangga satu persatu tampa menurunkan tubuh Reva.
"Ishh ...Kakak,kenapa tidak langsung bilang saja kalau Kakak kangen,kenapa malah membuatku penasaran."
"Habisnya aku suka melihat otakmu yang suka loading begini Ha ha ha ..."
"Kakak jahat,sukanya mengerjai ku"
"Jahat bagaimana, aku ini suami siaga,aku tahu kalau kamu sedang memikirkan aku.Makanya aku pulang cepat"
"Memangnya Kak Tristan, cenayang bisa membaca isi pikiranku?"
"Iya,aku bisa merasakan kalau kamu merindukan ku,iya,Kan?"
"Dari mana Kakak bisa tahu,seharian ini aku sibuk mendekorasi ulang kamar kita,jadi aku tidak ada waktu memikirkan Kakak."
"Benarkah,kamu tidak merindukanku,berarti sia sia aku pulang cepat kalau orang yang aku rindukan tidak merindukanku juga"
"Kak,jangan kecewa begitu,tidak memikirkan bukan berarti tidak rindu.Ayo kita lanjut di kamar,Kakak juga harus melihat hasil karyaku hari ini"
Tristan segera membuka pintu kamar,dan benar saja matanya seketika membelalak, saat melihat warna kamar yang sudah berubah pink semuanya.
Dari cat dinding,wallpaper,ranjang,lemari sofa dan semua peralatannya sudah berubah warna.
Tidak ada satupun warna kesukaan Tristan di sana.Semua warna yang semula berwarna putih dan gold kini sudah berubah menjadi warna feminim.
"Bagaimana cantik,Kan.Apa Kakak suka?"
"Iya aku suka,apapun itu kalau membuatmu bahagia aku akan menyukainya" Ucap Tristan, lesu.
"Syukurlah kalau Kakak suka,aku pikir Kak Tristan akan marah tadi,karena aku mengganti warna kamar tampa ngomong dulu"
"Kapan aku bisa marah padamu,Sayang."
"Terima kasih ya,Kak.Karena sudah membiarkan aku mewujudkan mimpiku memiliki kamar idamanku"
"Iya,tapi ngomong ngomong siapa yang mengerjakan ini semua,jangan bilang lalau kamu yang melakukannya"
"Tidak,Kak.Aku hanya merekomendasikan warnanya saja,selanjutnya aku serahkan pada pihak desain interior.Jadi merekalah yang menyulap ruangan ini menjadi secantik ini."
"Istri pintar,sekarang saatnya menyembuhkan sakit yang ada di sini" Ucap Tristan menunjukkan sebelah hatinya."
"Siang siang begini,Kak?"
"Memangnya ada peraturannya,harus menunggu malam.Anggap saja sebagai hukuman karena kamu sudah merubah warna kamar ini tampa izin dariku"
"Mana bisa begitu,tadi Kak Tristan, bilang tidak akan marah,tapi kenapa sekarang Kakak malah menghukum ku?,Kak Tristan curang"
"Curang bagaimana, bukankah kamu juga yang menikmatinya,bahkan kamu yang banyak mengerang keenakan dibanding aku."
"Sudah stop,Kak. Ayo kita mulai saja dari pada bicara terus ujung ujungnya membuatku malu."
"Kalau begitu aku mau let's goo ..."
__ADS_1
Dan terjadilah pertempuran sengit antara keduanya, tapi author ga bisa ngasih tahu mereka ngapain aja soalnya jempol udah pegel,Besok aja kita lanjut ya guys.
Bersambung