DOKTER CINTA CEO

DOKTER CINTA CEO
Bab 13


__ADS_3

Malam telah beranjak larut sementara Reva masih asik dengan acara tv didepannya,sebenarnya bukan benar-benar menonton hanya saja mengulur waktu berharap saat dia masuk ke kamar Tristan sudah tertidur,rasa takut menghantuinya,terdengar suara langkah kaki mendekat, membuat reva kian gemetar.


"Reva sekarang sudah larut ayo pergi tidur" Ucap Tristan.


"Ba...baik Kak" Jawab Reva terbata.


Reva terpaksa bangkit dan mengekor di belakang Tristan,dan segera pergi keruang ganti,mengganti pakaian dengan piyama tidur, dengan langkah ragu dia keluar dari ruang ganti, mengintip sebentar memastikan keberadaan Tristan.


Nampak Tristan sudah berbaring miring menghadap tembok,membuat reva merasa lega dengan langkah perlahan dia mendekati ranjang merebahkan tubuh dan berbaring membelakangi Tristan. "Apa dia sudah tidur ?" deg...deg...deg detak jantung Reva tak beraturan,takut kalau Tristan belum benar-benar tidur.


Reva mencoba memejamkan mata,baru saja dia terlena dan hampir memasuki dunia mimpi,tiba tiba saja tubuhnya terasa berat seperti ada yang menindihnya, dengan mata berat Reva mencoba membuka mata dan mengumpulkan kesadarannya,seketika tubuhnya menegang saat tahu ada tangan besar yang melingkar di pinggangnya,juga sebelah kaki milik Tristan menindih pahanya bahkan kepala Tristan berada di dekat leher Reva, hembusan napasnya mengenai leher membuat bulu kuduknya meremang.


Dan akhirnya Reva pasrah,meskipun dia begitu menyukai Tristan tapi entah mengapa perasaan takut untuk disentuh membuat tubuhnya bergetar."apa aku pura-pura tidur saja, ya sebaiknya begitu" Batin Reva.


Namun tangan besar itu telah menyusup ke dalam baju reva mengusap perut ratanya lalu berpindah ke pinggang cubit kecil kecil di sana membuat Reva menggeliat geli dan akhirnya matanya terbuka sempurna.


Tristan sudah merubah posisi memiringkan tubuhnya dan menjadikan satu tangannya sebagai penopang tubuh, tatapan mata mereka bertemu membuat Reva salah tingkah.


Perlahan Tristan mendekatkan wajahnya,lima senti,empat senti,tiga senti, dua senti dan cup bibirnya mengecup bibir Reva sekilas kemudian mengangkat wajahnya,memandang Reva sebentar,seolah meminta persetujuan, Reva semakin kaku sebab tangan Tristan sudah berpindah ke kancing baju dan mulai membukanya satu persatu.


Kecupan terus berlanjut kecup sana sini dan pakaian reva sudah terlepas sempurna dari tubuhnya hanya menyisakan dua penutup saja,tangan Tristan bergerak liar mengusap,menyentuh bahkan meremas semua bagian tubuh Reva, bibir mereka saling kecap membuat suara ******* sesekali lolos dari bibir mungil Reva.


Dan pada akhirnya pertahanan Reva jebol sebab Tristan sudah menguasai seluruh tubuhnya bahkan membuat tubuh mereka menyatu,jeritan tertahan terdengar dari bibir Reva saat merasakan kesakitan yang luar biasa,namun Tristan mencoba menenangkannya dengan memberikan kecupan halus di bibir,mata dan wajah Reva,setelah reva tenang barulah Tristan kembali melakukan tugasnya.


Malam semakin larut,mungkin semua orang sudah terlelap dengan mimpi indah mereka,namun berbeda dengan dua insan yang tengah berpeluh-peluh mencari kepuasan,tak ada kata puas bagi Tristan untuk mengulang lagi dan lagi dan sudah berapa kali mereka melakukannya,hingga pagi menjelang baru Tristan mengizinkan Reva istirahat.


Reva tidur di dalam pelukan Tristan,tangan Tristan terulur menyentuh wajah lelah Reva, "Kamu pasti kelelahan,karena melayaniku,maaf ya sayang,dan terima kasih kamu sudah hadir di dalam hidupku,jangan pergi dari ku tetaplah di sisiku meski apa pun yang terjadi,dan bersabarlah terhadapku" Gumam Tristan sambil kecup kecup basah di wajah Reva membuat Reva sedikit terganggu,terdengar gumaman kecil dari bibirnya.


Setelah puas Tristan ikut terlelap menyusul istrinya ke alam mimpi.

__ADS_1


...****************...


Matahari sudah meninggi menandakan bahwa hari sudah siang,namun dua insan yang sedang kelelahan masih setia dengan mimpi indah mereka, Tristan membuka mata lebih dulu,dan pemandangan pertama yang dia lihat adalah wajah cantik istrinya yang masih terlihat lelah.Tristan tidak tega untuk membangunkannya, dia perlahan melepaskan pelukan,lalu beranjak pelan takut Reva terganggu,dia bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah itu dia turun dan pergi ke meja makan untuk sarapan, Bik Asih yang melihat Tristan turun sesiang ini dan tampa adanya Reva, menebak apa yang terjadi semalam,dia yakin pasti sudah terjadi sesuatu diantara mereka.


"Pasti Tuan dan Non Reva sudah melakukannya, sebaiknya aku kabarin Presdir dan Nyonya" Batin Bik Asih, terlihat wajahnya begitu bahagia mengetahui bahwa sang majikan telah menemukan tujuan hidupnya kembali.


"Bik, Bik Asih"


"Iya Tuan, apa ada yang Tuan butuhkan?"


"Tolong buatkan sarapan untuk Nona dan antar ke kamar,buatkan juga dia susu hangat ya Bik."


"Baik Tuan" Bik Asih segera berlalu menyiapkan sarapan dan susu hangat sesuai permintaan Tristan.


Saat Bik Asih akan menaiki tangga dan membawa nampan berisi sarapan dan susu untuk Reva, Tristan memanggilnya dan meminta nampan dari tangan Bik Asih,dia berniat akan mengantar sendiri sarapan untuk istrinya.


Reva masih mengumpulkan kesadarannya, dia merasakan tubuhnya lemas tak berdaya terasa pegal di mana mana bahkan dia merasakan bagian intimnya yang terasa nyeri,barulah dia tersadar dan menutupi wajahnya yang memerah dengan selimut,ingatannya tertuju pada kejadian semalam,dia begitu malu untuk menatap wajah Tristan, dia mengingat semua detail kisah semalam bagai mana dia mendesah bahkan meracau saat mencapai puncak ah....malunya.


"Sayang ayo bangun,sarapan dulu baru setelah itu mandi,atau mau mandi dulu?,kenapa,kok sembunyi gitu?gak usah malu aku udah liat semuanya kok,ayo buka selimutnya! bangun nggak, apa mau ngulangin satu ronde lagi? kalau gitu ayo aku siap." Goda Tristan.


Mendengar ucapan Tristan membuat Reva spontan membuka selimut dan bangun,namun rasa lemas di tungkai kakinya membuatnya urung untuk bangkit dia duduk menyenderkan tubuhnya di sandaran ranjang.


Tristan lalu bangkit dan mengambil nampan yang berisi sarapan dan susu hangat,lalu memberikannya untuk Reva, "Ayo minum susunya dulu biar tubuhmu segar" Dan Reva meraih gelas dan meneguk habis susunya,lalu tristan mulai menyuapi Reva nasi dengan sayur sup dan juga ayam goreng.


"Ternyata sudah pagi ya Kak, kenapa Kakak tidak membangunkan aku,hari ini aku ada praktek" Ucap Reva.


"Sayang tidak usah berangkat ke kampus dulu ya hari ini,kamu masih terlihat capek dan lemes gitu,lagian ini sudah jam berapa?, pasti kamu telat."

__ADS_1


"Memangnya sekarang jam berapa?" Reva bertanya sembari mengunyah makanan yang ada di mulutnya.


"Jam sebelas siang"


"Apa?....kenapa aku bisa tidur seperti orang pingsan? Yang benar saja aku sudah seperti kerbau tidur" Gumam Reva namun terdengar oleh Tristan.


"Ya wajarlah kalau kamu tidur seperti itu,bukan kah semalam kamu juga mengalami beberapa kali pelepasan otomatis tubuhmu akan mengalami kecapean" Tristan berbicara tampa tahu malu,membuat wajah reva memanas dan sudah semerah kepiting rebus.


"Kak....aku kan jadi malu" Reva kembali menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Tidak perlu malu,kita inikan suami istri,bahkan sudah sama sama merasakannya,sekarang habiskan sarapan, lalu mandi biar badan mu segar kembali." Tristan menyuapi Reva sampai nasi yang di piringnya habis.


Lalu dia beranjak meletakkan nampan di meja kemudian ke kamar mandi mengisi bak dengan air hangat,setelah itu dia keluar lagi berjalan ke arah ranjang,kemudian menyibakkan selimut lalu menggendong tubuh polos Reva ala bridal style. Mau tak mau Reva menggelayut kan tangan nya di leher Tristan.


Tristan mendudukkan tubuh Reva di dalam bak mandi kemudian meneteskan aroma terapi,baru setelah itu dia memandikan Reva layaknya bayi mungil.Tristan membubuhkan sampo di rambut Reva lalu memijat kepalanya perlahan,kemudian menggosok tubuh reva dengan sabun dan memberikan pijatan halus di pundak dan bahu Reva membuat Reva merasa rileks,setelah itu dia membilas tubuh Reva kemudian memakaikan piyama handuk lalu kembali menggendongnya keluar.


Tristan mendudukkan tubuh Reva di kursi,mengambil handuk kecil lalu mengeringkan rambut Reva,kemudian masuk keruang ganti dan mengambil pakaian ganti untuk Reva.Saat hendak memakaikannya Reva menolak dia merasa malu,sudah merasa seperti orang lumpuh saja semuanya Tristan yang melakukan pekerjaannya, batin Reva.


Tristan kemudian berjalan ke arah ranjang berniat mengganti seprai yang sudah tidak beraturan lagi bentuk dan rupanya,saat melepaskan seprai dia melihat bercak darah di sana,membuat Tristan tersenyum puas karena merasa menjadi yang pertama mendapatkan kesucian Reva. "Terima kasih Reva sayang karena sudah menjaganya untuk ku" Batin Tristan.


"Terima kasih ya Kak, seharusnya aku yang melayani Kakak, tapi ini malah sebaliknya" Reva berbicara sambil wajahnya menunduk malu.


"Tidak apa-apa sayang,kan aku yang buat kamu jadi lemah begini." Ucap Tristan tulus,tapi lagi lagi perbuatan dan ucapan Tristan membuat hati Reva berbunga-bunga.


"Habis ini kamu istirahat lagi ya,biar badanmu kembali pulih,kamu harus punya tenaga ekstra,sebab nanti malam kita akan melakukannya lagi." Goda Tristan sambil tersenyum penuh arti membuat Reva memukul bahunya,"ish......udah dong Kak, aku malu" Reva kembali merajuk.


"Ya sudah ayo istirahat lagi, aku mau ke ruang kerja kalau butuh apa-apa panggil saja ya" Tristan berniat menggendong Reva kembali namun buru-buru Reva menolak dan melangkah ke ranjang, kemudian merebahkan tubuhnya,setelah itu Tristan menarik selimut dan menyelimuti tubuh Reva, sebelum berlalu dia memberikan beberapa kecupan di bibir dan wajah Reva.


Baru setelah itu dia keluar dari kamar dan melangkah keruang kerjanya,sementara Reva kembali memasuki alam mimpi.

__ADS_1


... Bersambung.........


__ADS_2