
Setelah berkata begitu Reva melenggang pergi meninggalkan ketiga gadis yang saat ini tengah termangu,meresapi setiap kata yang terucap dari bibir Reva.
Reva melangkah keluar dari Mall dan berjalan ke parkiran,menaiki mobil sport terbaru hadiah pernikahan dari sang Ayah mertua.
Reva mengingat kembali ucapan sang Ayah mertua saat mereka hendak pamit pulang setelah menginap semalam di rumah utama."Reva, terima lah hadiah pernikahan yang Ayah berikan untukmu"
"Apa ini?" Ucap Reva,dan Presdir menyerah kan kunci mobil lalu mengajak sang Anak dan menantu untuk pergi ke halaman depan,melihat hadiah yang sudah Ayah mertuanya siapkan.
Sebuah mobil sport berwarna merah,dengan merk La*******i terparkir di halaman rumah utama,Reva terkejut dia tahu berapa harga mobil tersebut,mencapai milyaran. "Ayah ini terlalu berlebihan rasanya tidak pantas untuk ku"
"Reva,kamu pantas mendapatkannya,terimalah" Presdir kembali berucap,Ibu dan Tristan juga ikut meyakinkan Reva, bahwa dia pantas untuk menerima hadiah tersebut.
Dan sekarang kendaraan ini menjadi tunggangan pribadi Reva, dia bebas membawanya kemanapun dia mau.
Tak terkecuali hari ini,secara tidak sengaja dia bisa bertemu dengan ketiga sahabat toxic nya.
Sementara itu di dalam toko tas,Mira,Agnes dan Mona bergegas keluar berniat membuntuti Reva, memastikan kebenaran atas ucapan Reva, yang mengatakan bahwa saat ini dia tinggal di mansion.
"Kalian bawa mobil?" Tanya Mira.
"Iya, Mona yang bawa,memangnya kenapa?"
"Ayo kita ikuti dia,aku jadi penasaran apa benar dia sekarang tinggal di mansion,seperti ucapannya."
"Kalau begitu ayo!" Jawab keduanya kompak.
Mereka bertiga bergegas keluar Mall,setengah berlari mencari keberadaan Reva, dan mereka melihatnya berjalan ke arah parkiran,langkah kaki Reva terhenti di samping mobil sport,berwarna merah.
"Jangan bilang kalau itu mobilnya Reva" Ucap Agnes sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya,karena Reva mulai membuka pintu mobil lalu masuk ke dalamnya.
Mira segera menarik tangan kedua sahabatnya,dan masuk ke dalam mobil Mona lalu mengikuti laju arah mobil sport milik Reva.
"Aku jadi penasaran,siapa sih yang jadi selingkuhannya Reva, pasti orangnya tajir banget,atau mungkin dia seorang crazi rich?" Celetuk Mona.
"Sama Gua juga penasaran" Sambung Agnes.
__ADS_1
"Gue tau siapa orangnya" Ucap Mira dan seketika membuat kedua sahabatnya tercengang.
"Siapa?" Ucap keduanya kompak.
"Tuan Tristan!"
"Apaaa? kamu yakin,dari mana kamu tahu?" Ucap Mona.
"Kalian lupa siapa yang sudah mengeluarkan ku dari kampus?"
"Tuan Tristan!"
"Sekarang coba kalian pikir,untuk apa dia mengeluarkan aku kalau tidak ada alasan yang jelas,bukankah sudah biasa terjadi bila di kampus kita melakukan perundungan,toh selama ini tidak pernah terjadi mahasiswanya di keluarkan,bahkan perundungan yang mereka lakukan lebih ekstrim dari yang aku lakukan pada Reva, aku yakin mereka pasti punya hubungan khusus."
"Menurutku,benar yang Mira katakan,Reva adalah simpanan Tuan Tristan"
Mereka terus mengikuti mobil yang di kemudikan oleh Reva, hingga mobil berbelok memasuki gerbang mansion yang begitu besar,ketiganya kembali terpana tidak menyangka bila ucapan Reva adalah benar adanya.
"Wow,sungguh luar biasa,Reva bisa tinggal di mansion sebesar ini,dengan pasilitas yang fantastis" Ucap Agnes kagum.
"Sial,ternyata ucapannya bukan omong kosong,bagaimana bisa Reva mendapat pasilitas semewah itu,apa Jangan jangan dia menggunakan ilmu pelet" Berbagai dugaan buruk melintas di pikiran Mira.
Mereka memilih pergi,dan melanjutkan rencana mereka untuk bersenang-senang.
Sedangkan Reva kembali pulang dan masuk ke dalam mansion.
...****************...
Di sebuah gedung tinggi pencakar langit,di dalam ruang Presdir,terlihat Baskoro duduk di kursi kebesarannya dengan raut wajah yang sulit di artikan.
Perasaan gelisah,dan rindu membaur jadi satu.
"Baru berapa jam aku berpisah dari Mira, aku sudah rindu dengan sentuhannya,ah...Mira pelayanan mu sungguh memabukkan." Gumam Baskoro.
"Tok...tok...tok..." Suara pintu di ketuk.
__ADS_1
"Masuk"
"Ada apa Reno"
"Orang yang saya tugaskan untuk mengikuti Mira melaporkan bahwa hari ini Mira keluar dari apartemen dan berbelanja di Mall bersama kedua sahabatnya, Tuan.Sejauh ini tidak ada yang berlebihan,mereka hanya makan di cafe dan berbelanja pakaian,sepatu,dan tas di Mall tersebut."
"Bagus,awasi terus kemana dan apa yang di kerjakan nya,bila ada sesuatu yang tidak wajar segera laporkan pada ku."
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi."
"Hmmm" Baskoro menjawab dengan anggukan,Reno pun segera berlalu.
Selepas kepergian Reno, Baskoro kembali termenung,memikirkan jalan keluar untuk selalu bisa menemui Mira tampa harus membuat Fani curiga.
"Aku tidak bisa bebas,orang-orang kepercayaan Fani ada di mana-mana, bagai mana caranya aku bisa mengelabui mereka" Baskoro kembali memijat kepalanya yang terasa berdenyut.
"Apa aku minta Mira untuk bekerja di kantor ini saja,tapi pasti akan menambah kecurigaan,bahkan bisa saja hubungan ini akan terungkap. Aku harus mengatur cara agar bisa menemui Mira lagi."
Tak terasa waktu semakin cepat berlalu,matahari sudah mulai terbenam,menandakan hari sudah memasuki waktu sore,terlihat banyak kendaraan yang begerak perlahan di atas jalan beraspal menembus padatnya aktipitas, Baskoro masih berdiri di depan kaca ruangannya,menyaksikan kesibukan yang terjadi di bawah sana,melalu kaca jendela kantornya.
"Aku sudah banyak berkorban,tidak akan aku biarkan usaha yang ku jalankan selama ini menjadi sia-sia, bagaimana pun caranya,Fani harus tetap bersamaku,dia tidak boleh mencampakkan aku." Gumam Baskoro.
Baskoro mengingat kembali perjuangannya untuk bisa berada di posisi sekarang ini, bagaimana dia menyingkirkan batu yang menghalangi jalannya.Pejuangan yang tidak mudah,tidak terhitung lagi banyaknya keringat,air mata bahkan darah yang menetes untuk bisa mencapai tujuannya.
"Musuh terbesar yang harus aku singkirkan selanjut nya adalah Tristan, aku tidak boleh membiarkan nya tetap hidup,kalau tidak dia akan membongkar semuanya,Aku harus menyingkirkan dia secepatnya,sebab saat ini dia sudah kembali keluar dari sarangnya,kemungkinan besar dia akan membeberkan semuanya." Ucap Baskoro Geram .
"Tristan tunggu giliran mu,aku akan membuat nasibmu sama seperti kekasih mu dulu, mati dalam kecelakaan yang ku rencanakan,Renata maafkan papah ya Nak kamu harus jadi korban ketamakan ku,dan aku berjanji akan secepatnya mengirimkan Tristan, agar kalian berdua bisa bertemu di alam keabadian" Seringai yang begitu mengerikan terbit di wajah Baskoro, membuat siapa saja yang melihatnya akan bergidik ngeri.
Baskoro menyimpan banyak rahasia yang tidak di ketahui oleh Fani,namun ada beberapa orang yang memegang kunci bahkan bukti kejahatannya,salah satunya Tristan dan juga Reno.
Baskoro akan menyingkirkan siapa saja yang menghalangi jalannya,termasuk putri yang dia asuh sejak masih di dalam kandungan Fani.Baskoro mulai menyusun rencana untuk bisa melenyapkan Tristan.
Bersambung...........
Rencana apa yang akan di buat Baskoro, akankah rencananya berjalan mulus,ikuti terus kisahnya.
__ADS_1