
Saat itu Reva sedang memikirkan cara bagaimana agar Tristan mau menceraikannya. Reva sudah tidak sanggup bila harus hidup seatap dengan Tristan, tapi hati dan cintanya untuk wanita lain.
Ditengah lamunannya seseorang membekap wajahnya dengan sapu tangan yang berbau menyengat,hanya dalam hitungan detik Reva tak sadarkan diri, pandangannya mengabur kemudian gelap seluruh dunianya.
Dan sekarang Reva mulai mengerjap kan mata, tubuhnya terasa kaku, tangan dan kaki tidak bisa digerakkan.Perlahan mata Reva terbuka,memindai seluruh ruangan dengan lampu temaram,dan ruangan ini sangat asing baginya.
Reva mengumpulkan semua ingatannya,dan saat kesadarannya kembali ,Reva baru ingat tadi dia berada di taman.Ingatan tentang peristiwa yang ia alami tadi siang kembali bermunculan.
Mulai dari dirinya memergoki Tristan di cafe, kepergiannya ke taman hingga seseorang membekap wajahnya di taman.Reva sadar saat ini dirinya tidak baik baik saja,pasti ada seseorang yang ingin berbuat jahat padanya.
Reva ingin kabur tapi tangan dan kakinya tidak bisa digerakkan, dia ingin menjerit tapi mulutnya tertutup rapat.Sekarang Reva sadar mengapa dia tidak bisa melakukan semua itu,karena kedua tangan dan kakinya terikat,serta mulutnya di tutup menggunakan lakban.Dia terbaring di ranjang besi yang sudah usang.
"Bagaimana ini,kenapa aku di sekap seperti ini? siapa yang melakukan ini?, Siapapun aku mohon bebaskan aku, Kak Tristan tolong" pekik Reva.namun suaranya tidak bisa keluar sebab mulutnya tertutup lakban.
Sekuat tenaga Reva mencoba melepas ikatan di tangannya tapi tidak bisa.
Tak lama pintu ruangan terbuka seorang pria dengan pakaian serba hitam,memakai topi ala koboi melangkah masuk kedalam ruangan yang hanya berukuran dua kali tiga meter tersebut.
"Hai Nona, bagaimana rasanya disekap dalam ruangan pengap,dan gelap seperti ini,menyenangkan,bukan?" Pria tersebut berjalan mendekat kemudian tangannya terulur mencengkram dagu Reva.
"Apa kau takut Nona?, jangan takut aku ini bukan penjahat,aku hanya menginginkan kekasihmu Tristan datang menyelamatkan mu,kalau dia datang maka kamu akan ku lepas ha ha ha" Tawa menggema dalam kamar tersebut.
"Kamu sangat cantik,pantas Tristan tergila-gila padamu,tapi apa boleh aku mencicipi tubuhmu yang seksi ini ha ha ha" Seketika tubuh Reva bergetar karena takut,ingin berteriak tapi tidak bisa.
"Jangan takut Nona aku hanya bercanda,aku tipe pria yang setia dengan janji,aku menginginkan Tristan, bukan dirimu"
Meski pria tersebut berkata begitu tapi tetap saja Reva merasa takut,bagaimana kalau pria tersebut mencelakai Tristan.
Setelah itu pria tersebut memanggil anak buahnya dan memerintahkan mereka untuk membuka ikatan di kaki dan tangan Reva, lalu membawa Reva keluar dari ruangan tersebut.
Kemudian mereka mendudukkan Reva di sebuah kursi kayu,lalu mengikat kembali kaki dan tangan Reva.
Pria tersebut membuka lakban yang menutup mulut Reva, seketika itu juga Reva, langsung menjerit minta tolong.
__ADS_1
"Tolong ..... lepaskan saya Tuan,saya mohon jangan celakai Kak Tristan,saya mohon Tuan."
Kemudian pria tersebut membuka topi yang menutupi sebagian wajahnya.
Reva merasa mengenal pria tersebut,tapi siapa?.
Siapa Pria ini,kenapa aku seperti pernah bertemu dengannya,tapi dimana?.
"Bagaimana Nona apa anda sudah mengingat saya?" Tanya pria tersebut.
Reva mencoba mengingat sosok yang saat ini berdiri di depannya,sesaat kemudian ingatannya tertuju pada hari ulang tahun Adit.Aku ingat dia papahnya Adit.
"Om Baskoro?,mengapa anda menyekap saya seperti ini?"
" Bukankah sudah saya bilang,saya tidak memiliki urusan dengan mu Nona, urusanku Dengan kekasihmu Tristan. "
"Saya mohon Om,jangan celakai Kak Tristan, kalau Om mau bunuh,bunuh saja saya Om, tapi saya mohon jangan sakitin Kak Tristan."
"Gadis bo**h kenapa kamu mengorbankan nyawamu untuk pria seperti Tristan,dia tidak mencintaimu Nona, cinta sejatinya adalah putri ku yang sudah mati,bukan kamu"
"Baiklah kita tunggu sampai tengah malam nanti,jika Tristan datang menyelamatkan mu itu artinya,rasa cintanya terhadap putriku sudah beralih padamu,tapi jika dia tidak datang,anda jangan kecewa Nona, artinya Tristan memang tidak pernah bisa melupakan cinta sejatinya"
Sementara itu Tristan sudah berhasil masuk kedalam markas Baskoro,dibantu oleh Roy,dan beberapa pengawalnya,mereka berhasil melumpuhkan pengawal Baskoro yang berjaga di pintu masuk markas.
Dan saat ini Tristan sudah berdiri di balik pintu ruangan,dimana Reva di sekap.Tristan bisa mendengar percakapan antara Reva dan Baskoro.
Sedangkan di luar sana Dion dan beberapa pengawal lainnya masih berusaha melumpuhkan pengawal Baskoro yang masih tersisa.Mereka tidak menggunakan senjata yang sudah di siapkan melainkan menggunakan trik menjatuhkan lawan dengan cara melemparkan gas beracun ke arah musuh.
Tristan sudah berhasil masuk,tapi dia tidak mau gegabah,sedikit melakukan kesalahan maka nyawa Reva jadi taruhan.
Tristan memikirkan cara,bagaimana bisa masuk keruangan itu tampa membuat Baskoro curiga.
"Hai!! siapa di sana?"
__ADS_1
Tampa Tristan sadari salah satu pengawal Baskoro sudah melihatnya dan memergoki kedatangannya.Tak lama terdengar suara tembakan.
"Door Door" Pria tersebut dua kali melepaskan tembakan,namun Tristan bisa menghindar,Tristan kemudian berlindung di balik sekat tembok ruangan tersebut
Tak ayal suara tembakan tersebut terdengar sampai ke dalam ruangan,Baskoro yang mendengar itu segera membawa Reva pergi,mereka masuk ke dalam ruang bawah tanah.
"Door door" Baku tembak masih berlanjut,dan Tristan berhasil melumpuhkan musuh yang menghadangnya.
Sementara itu tim Dion dan Roy sudah berhasil sepenuhnya menguasai markas Baskoro.
Tristan segera berlari masuk kedalam ruangan yang di gunakan untuk menyekap Reva.
Namun sial saat Tristan tiba di ruangan tersebut Tristan tidak menemukan keberadaan Reva.
"Sial aku terlambat,kemana mereka membawa Reva." Gumam Tristan.
Tristan menyusuri seluruh ruangan berharap bisa menemukan petunjuk,tapi sayang Tristan tidak menemukan petunjuk apapun.
Tristan menghubungi Roy agar segera membawa pengawalnya masuk kedalam markas,dan membantunya mencari keberadaan Reva.
Beberapa menit kemudian Roy dan seluruh pengawalnya sudah berada di dalam ruangan tempat Tristan menunggu.
"Aku kehilangan jejak mereka Roy, ini salahku aku yang terlambat datang"
"Tenanglah Tuan, kita pasti bisa mendapatkan petunjuk dimana keberadaan mereka sekarang,saya yakin ada pintu rahasia untuk bisa keluar dari ruangan ini."
"Kamu benar Roy kita harus lebih teliti lagi,pasti kita bisa menemukan pintu rahasia itu"
Sementara itu setelah berhasil keluar dari ruang bawah tanah, Baskoro memerintahkan dua orang pengawalnya untuk menyiram bensin ke seluruh markas, lalu mereka membakar markas tersebut.
Hanya dalam hitungan detik api sudah menjalar ke seluruh ruangan.
Tristan dan seluruh pengawalnya terkepung di dalam markas yang sudah sepenuhnya terbakar.
__ADS_1
Bersambung........
Apakah Tristan dan para pengawalnya bisa menyelamatkan diri? ikuti terus kelanjutan ceritanya ya