
Tristan dan para pengawal sudah terkepung asap,Beruntung para pengawal sudah memakai masker pelindung asap,saat mereka melakukan penyerangan terhadap pengawal Baskoro.
Roy tetap bisa mengendalikan situasi,mencoba untuk berpikir jernih.Di tengah keputusasaan mata Roy menangkap sedikit celah dari sebuah batu yang ada di lantai ruangan,di bawah kursi kayu yang dijadikan Baskoro untuk mengikat Reva.
Roy kemudian mengangkat kursi lalu menggeser batu,membuat lantai ruangan tersebut bergeser,Roy kemudian mengambil senter melihat ke ruang bawah,seketika harapan untuk selamat terlihat jelas di depan sana.
Roy kemudian turun berniat memeriksa keadaan di bawah setelah di rasa aman,kemudian Roy meminta Tristan dan para pengawal untuk turun kebawah.
Mereka mengikuti lorong panjang yang diduga jalan untuk keluar dari ruang bawah tanah tersebut.
Roy slalu berada di depan memastikan bahwa Tristan dalam keadaan aman.
Didalam kekalutannya Tristan tetap memikirkan bagaimana keadaan Reva.
Butuh waktu lima belas menit untuk mereka bisa sampai di ujung lorong yang ternyata tertutup batu,mereka kembali menemui jalan buntu.
Roy tidak kehilangan akal,dia mengajak Dion dan beberapa pengawal lainnya untuk menggeser batu tersebut namun tetap tidak bisa terbuka.
Roy memikirkan cara lain pasti ada sandi dari pintu yang terbuat dari batu tersebut.
...****************...
Sementara itu Baskoro dan dua orang pengawal yang saat ini selamat,tertawa puas karena mengira Tristan dan yang lainnya sudah pasti tewas terpanggang kobaran api yang makin membesar.
Reva yang menyaksikan itu berteriak histeris,dia menangis sejadi jadinya.
Baskoro yang merasa kesal segera menutup mulut Reva kembali menggunakan lakban.
"Sekarang bawa dia ke rumah utama dan pastikan tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya,kurung dia di gudang belakang yang sudah lama tak terpakai.''
"Baik tuan" Kedua pengawal Baskoro menyeret tubuh Reva menuju mobil,mendudukkannya di jok belakang lalu mereka pergi mengendarai mobil tersebut menuju Rumah utama.
Sementara Baskoro memilih pergi ke apartemen milik Mira.Disana dia akan merayakan kemenangannya.
Di apartemennya Mira terlihat gelisah menunggu kedatangan Baskoro, yang berjanji akan mengunjunginya,namun hingga tengah malam Baskoro tak kunjung datang.
__ADS_1
Sesaat kemudian terdengar pintu terbuka Mira yakin itu adalah Baskoro,sebab hanya mereka berdua yang tau kode sandi pintu apartemen tersebut.
Terbit seringai licik dari wajah Mira.Kali ini dia akan menjalankan misinya untuk menguasai Baskoro.
Mira memilih untuk pura-pura tidur dengan posisi membelakangi pintu masuk.Dia bisa mendengar pintu kamar dibuka kemudian langkah kaki yang kian mendekat.
"Mira sayang ayo bangun,Om dateng nih,ayo dong puasin Om" Cup Baskoro mendaratkan beberapa kali kecupan di bahu Mira yang terbuka.
Mira menggeliat,dan sedikit tersentak berpura-pura terkejut dengan kedatangan Baskoro.
"Om sudah datang,kenapa lama banget om,aku udah kangen banget sama Om" Ucap Mira seraya membelai dada bidang Baskoro.
Malam itu mereka kembali mengulangi adegan panas mereka,Mira harus berakting dengan baik agar Baskoro tidak curiga.
Usai Mira melayani Baskoro dia bangkit dari ranjang lalu pergi ke lemari pendingin,kemudian mengeluarkan dua minuman kaleng,dan salah satunya ia berikan pada Baskoro.
Baskoro dengan senang hati menerimanya karena memang tenggorokannya terasa haus,lalu Baskoro menegak habis minuman tersebut tampa ada rasa curiga,kemudian memberikan kembali kaleng bekasnya pada Mira.
"Om istirahat dulu ya,pasti Om capek, Kan?" ucap Mira sembari tersenyum miring.
Lalu Mira memastikan keadaan Baskoro,beberapa kali iya goncang tubuh Baskoro namun tak bereaksi,tandanya Baskoro benar-benar sudah terlelap.
Mira meraih ponsel di meja lalu menghubungi seseorang di sebrang sana.
"Halo Bos,target sudah di dalam genggaman, dan sudah berhasil saya kuasai, saya menunggu perintah Bos selanjutnya"
"Kerja bagus mira,aku akan mengirim dua orang pengawal untuk membawanya,kamu bersiaplah untuk meninggalkan tempat itu"
"Baik Bos,akan saya lakukan"
Sambungan telpon terputus,Mira segera berkemas,tak lama terdengar suara bel dari pintu depan,Mira bergegas pergi ke arah pintu memastikan siapa yang datang dari celah pintu. Setelah dia yakin barulah Mira membuka pintu tersebut.
Kedua orang tersebut membopong tubuh Baskoro yang tertidur lelap. Memasukannya kedalam mobil kemudian berlalu dari sana,Sementara Mira segera berlari keluar dari apartemen, menuju lantai dasar dan masuk kedalam mobil yang di berikan seseorang yang dia panggil Bos.
"Selamat menikmati kehidupan baru yang seperti neraka Om,maaf aku harus mengorbankan mu,bukan korban tapi balas dendam,ya aku akan membalas dendam atas segala kejahatan yang telah kamu lakukan terhadap keluargaku, dan orang-orang yang ada di sekitar ku,meski aku harus mengorbankan masa depan dan kesucian ku,aku tidak menyesal bila balasannya adalah kehancuran mu!" Gumam Mira sembari kedua tangannya mencengkram setir,dan menampakkan buku tangan yang memutih.
__ADS_1
Pagi menjelang,Baskoro mulai mengerjapkan mata yang terasa berat,ia merasakan kepalanya yang berdenyut sakit.
Beberapa kali Baskoro menggeleng kan kepala berusaha menghilangkan nyeri yang menyiksa,ia buka mata perlahan meskipun terasa berat ia tetap memaksa matanya agar terbuka,Baskoro tersentak saat menyadari dirinya kini berada di ruangan yang serba putih.
Baskoro berusaha bangkit,namun tidak bisa,ternyata kedua tangannya terikat di pinggiran kursi kayu,tempat yang saat ini dia duduki,dan kedua kaki ikut terikat.
Baskoro mencoba mencerna apa yang terjadi,ingatannya kembali pada kejadian malam tadi,dimana dirinya menyekap Reva, lalu Tristan datang menyelamatkan Reva, kemudian membakar markas dan memerintahkan kedua pengawalnya membawa Reva ke rumah utama,dan terakhir dia pergi ke rumah Mira,lalu mereka bercinta kemudian dia tertidur setelah meminum minuman kaleng yan di berikan Mira.
Seketika amarah Baskoro memuncak,dia berteriak sekerasnya menyebut nama Mira.
"Miraaaaa dasar wanita ja***g kurang ajar kamu,kemari ku beri kamu pelajaran,dasar wanita iblis,berani-beraninya kamu mengkhianati ku! Dasar perempuan j****g,lepaskan aku!"
Baskoro menjerit bagai orang kesurupan,mencaci dan mengumpat,sumpah serapah keluar dari mulutnya untuk Mira.
Tak lama lampu ruangan padam,dunia menjadi gelap.Baskoro tidak bisa melihat apapun.Kemudian terdengar suara seseorang yang menjerit kesakitan,dengan suara yang begitu memilukan.
"Siapa di sana jangan bermain main denganku,ayo tunjukan wajah kalian,jangan beraninya di dalam kegelapan seperti ini" Baskoro bicara denan suara bergetar.
"Baskoro apa kamu puas sudah bisa membunuhku,aku sakit Baskoro tolong aku,panas!"
"Tristan Kau kah itu?Tunjukkan dirimu,jangan hanya bisanya menakuti ku,ayo keluar iblis!" Suara Baskoro makin gemetar,perasaan takut begitu menghantuinya.
Tristan sudah mati?Apa mungkin itu hantu Tristan yang ingin balas dendam.
Ditengah ketakutannya sebuah cahaya dari lampu sorot menyala,menampilkan rupa Tristan yang berantakan dengan tubuh penuh luka gosong,dan juga bau anyir yang menyengat,Baskoro semakin gemetar.
"Pergi!!!Jangan mendekat,kamu sudah mati jangan ganggu aku pergi!!!!" Baskoro berteriak histeris.
Tak lama lampu sorot padam,dan sosok Tristan ikut menghilang.Baskoro mulai mengatur napas,membuang rasa takut yang membuncah.
Tak lama sebuah layar lebar menyala,Baskoro kembali dilanda rasa takut.Kali ini menampilkan beberapa gambar orang-orang yang Baskoro kenali,gambar gambar tersebut mengingatkan Baskoro pada perbuatan dosanya di masa lalu.
"Siapa kalian,kenapa kalian muncul disini,kalian sudah mati,aku sudah membunuh kalian,pergi!!!! jangan ganggu aku,aku mohon maaf tolong ampuni aku Hiks....." Baskoro berkata seraya menangis mengakui dosanya dimasa lalu.
Bersambung........
__ADS_1
Terima kasih untuk kalian semua yang sudah bergabung dan mengikuti cerita di karya aku,dan terima kasih juga buat yang sudah memberikan dukungannya,yang tak bisa saya sebutkan satu persatu sekali lagi terima kasih tampa kalian author bukan apa apa.🙏😘🥰