
"Aaaaaaaah!! ampuuuuun!! bunuh saja aku,akhiri penderitaan ku Reno, jangan siksa aku seperti ini ampuuuuun!!!
Suara jeritan yang memekakkan telinga,terdengar dari balik markas,milik Tristan.
Entah hukuman seperti apa yang mereka berikan,hanya mereka yang tahu.
Sementara itu setelah Reno membawa Baskoro pergi dari rumah Fani.Tristan dan Reva berpamitan. Mereka ingin segera pulang,sebab kedua orang tua mereka sudah sangat khawatir dengan keadaan Reva dan Tristan.
Terlebih lagi Ibu,yang tidak tahu menahu soal rencana yang mereka buat.Kalau saja Ibu tahu sudah pasti beliau tidak akan mengizinkan Reva untuk ikut terlibat dalam rencana tersebut.
Tristan tidak membawa Reva pulang ke mansion, melainkan ke rumah utama.Sebab Ibu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Reva, Ibu ingin memastikan bahwa Reva dalam keadaan baik-baik saja.
Mobil yang membawa Reva dan Tristan sudah memasuki halaman rumah utama.
Ibu terlihat begitu gelisah sebab belum bertemu langsung dengan Reva, meski Presdir mengatakan kalau reva dalam keadaan baik, namun tetap saja ibu mengancam tidak akan memaafkan mereka semua, bila sampai terjadi apa-apa pada menantu kesayangannya.
Mobil berhenti tepat di depan teras rumah,supir segera turun dan membuka pintu mobil.Tristan turun lebih dulu,baru stelah itu reva menyusul turun.
Ibu sudah berdiri di teras merentangkan kedua tangan saat mereka berdua turun.Tristan segera menghampiri sang ibu berniat memeluknya,namun sayang ibu mengacuhkannya justru melangkah meraih tubuh reva kedalam pelukannya.
"Sebenarnya aku atau Reva yang anaknya,kenapa sepertinya aku sudah tersingkir dari posisiku sebagai anak kesayangan" Gumam Tristan kecewa.
Ibu memeluk tubuh Reva dengan erat.Perasaan senang Saat mengetahui putrinya baik-baik saja.Ibu melepas pelukannya, dari tubuh reva lalu menangkup wajah reva dengan kedua tangannya.
"Lain kali jangan dengarkan ide gila mereka, apalagi kamu sampai ikut-ikutan menjalankan ide tersebut,Reva bila terjadi sesuatu padamu Ibu bisa gila,apa kamu mengerti?"
"Iya Bu,maaf karena sudah membuat Ibu khawatir." Ucap Reva seraya mencium punggung tangan sang Ibu mertua.
"Ya sudah, ayo masuk,pergilah mandi agar tubuh kalian kembali segar,setelah itu turun kita makan bersama.Tristan bawa Reva naik ke kamar kalian."
"Iya,Bu" Jawab Tristan dengan wajah cemberut.
"Wajahmu kenapa ditekuk begitu,Nak" Tanya Ibu.
"Bagaimana aku tidak kesal Ibu hanya memperhatikan Reva tapi tidak dengan ku,Ibu benar-benar tidak adil" Jawab tristan dengan wajah yang masih ditekuk.
__ADS_1
"Apa?,kamu cemburu terhadap Reva,hey Tristan sadarlah dia itu istrimu" Ucap Presdir geram,sedangkan di hatinya merasa heran dengan kelakuan konyol anak semata wayangnya.
Sedangkan Reva sendiri merasa lucu,mengetahui sifat manja sang suami.
"Ternyata tampangnya saja yang garang,aslinya manja gak ketulungan" Gumam Reva, namun terdengar oleh Ibu.
"Tristan dari dulu memang manja seperti itu,tapi dia pria yang bertanggung jawab,jadi kamu tidak perlu khawatir ya,Nak"
"Iya,Bu." Jawab Reva, kemudian melangkah menyapa Presdir lalu menyalami tangan ayah mertua serta mencium punggung tangannya.
Tristan meraih tangan Reva lalu menuntunnya naik ke lantai atas menuju kamar mereka.
Reva bukannya bergegas mandi melainkan berjalan menuju ranjang berniat rebahan sebentar, karena tubuhnya terasa lelah setelah dua hari ini memainkan perannya dengan baik.
"Sayang,ibu meminta kita untuk mandi,kenapa malah berbaring,Ayo buruan mandi sebentar lagi maghrib."
"Iya Kak, aku istirahat sebentar aja,nggak lama kok,pinggang aku rasanya pegel banget, mendingan Kakak mandi duluan,selesai Kak Tristan, baru aku mandi."
"Ok,tapi jangan sampai tidur ya."
"Iya,Kak cerewet banget sih,udah sana Kakak buruan mandi nanti telat ke Masjidnya."
Akhirnya Reva bangkit menuju ruang ganti, memilih pakaian yang akan dikenakan Tristan.
Tak lama Tristan, keluar dari kamar mandi berbarengan dengan Reva yang keluar dari ruang ganti. "Kak ini baju ganti kak Tristan,aku mandi dulu ya,Kak."
"Terima kasih istriku sayang." Jawab Tristan,meraih pakaian yang di berikan Reva lalu mencuri satu kecupan di pipi kiri Reva.
Setelah selesai Tristan segera turun mengajak ayahnya pergi ke masjid,karena sebentar lagi memasuki waktu maghrib.
Usai sholat mereka makan malam bersama kemudian berbincang sejenak membahas tentang aksi mereka selama dua hari ini.Setelah itu mereka pamit untuk pergi tidur,sebab Reva sudah sangat mengantuk.
Setelah di kamar Tristan segera membawa Reva berbaring di ranjang,menyelimuti lalu meraih tubuh Reva kedalam pelukannya.
"Tidurlah,pasti kamu lelah setelah melewati hari yang menegangkan. Terima kasih sayang,karena kamu sudah mau membantu ku memperjuangkan keadilan untuk banyak orang" Ucap Tristan.
__ADS_1
"Iya,Kak sudah sepantasnya kita memperjuangkan hak dan juga keadilan untuk para korban si Baskoro itu.Kedepannya lebih berhati-hati lagi Kak, sebab aku belum yakin kalau Baskoro tidak memiliki siapapun yang akan membelanya."
"Iya,Mari kita saling menjaga serta menguatkan, aku yakin sebesar apapun ujian bila kita bersama sama menghadapinya,pasti akan terasa ringan."
"Betul Kak, dari itu beri tahu aku apapun yang Kak Tristan, alami.Begitu juga aku akan memberitahu Kak Tristan, semua keluh kesah ku."
Tristan semakin mempererat pelukannya seraya memberikan kecupan bertubi-tubi ke wajah Reva.
"Kak,aku penasaran kemana Aditya,kenapa tadi aku tidak melihatnya?, bagaimana kalau sampai dia tahu kelakuan buruk Papahnya,pasti aditya bakal kecewa banget ya,Kak." Ucap Reva.
Reva merasakan pelukan Tristan makin erat,membuatnya sulit bernapas.
"Reva,Kan aku sudah sering bilang jangan menyebut nama lelaki lain,saat bersamaku.Apalagi sampai memberi perhatian padanya,aku akan marah!."
Apa? kenapa jadi marah sih Kak? aditya itu teman ku di kampus,Dia juga adik dari kekasihmu dulu,Kan.Ayo lah Kak jangan suka posesif begitu.Batin Reva.
"Maaf,Kak.Aku hanya penasaran, bukan ingin memberi perhatian,tapi ini benar-benar karena aku penasaran, dia dimana saat kita mengungkap kejahatan ayahnya" Ucap Reva, sembari membelai dada bidang Tristan.
Reva merasakan pelukan Tristan mulai mengendur.
"Sebenarnya, Adit sudah mengetahui kejahatan Baskoro,tapi untuk penangkapannya kemarin Adit sama sekali tidak tahu,sebab Fani sudah mengirimnya ke luar negri,Aditya akan melanjutkan kuliah di sana."
"Apa? kenapa Adit harus pindah ke luar negri,mana dia tidak pamit lagi sama aku,benar-benar jahat kamu, Dit." Ucap Reva, kesal.
"Aku tidak tahu apa alasannya, dia hanya meminta tante Fani untuk mengurus surat kepindahannya.Dan kepergian tante Fani keluar negri bukan untuk berobat,tapi mengurus kepindahan, serta mengantar Adit ke sana.Jadi mulai sekarang berhenti memikirkan si Adit itu, fokus saja mengurus hubungan kita,kalau kamu terus memikirkan pria lain,aku akan marah."
Terdengar napas Reva mulai teratur,ternyata Reva mulai memasuki alam mimpi."Jadi aku bicara dari tadi kamu tidak mendengarnya?,Sia-sia aku bicara panjang lebar kalau ternyata kamu malah tidur." Gumam Tristan kemudian ikut menyusul Reva ke dunia mimpi.
Mereka tertidur saling peluk,melepaskan semua rasa lelah,dan ketegangan yang mereka alami selama dua hari ini.
Mereka memiliki cerita dan perasaan yang berbeda-beda, Baskoro dengan segala rasa penyesalan serta kesakitan yang iya rasakan.Fani dengan perasaan sedih karena harus mengetahui fakta yang begitu mengejutkan dari sang suami,serta kepergian Adit keluar negri menambah rasa sedih di hati Fani.
Burhan dan Mira yang merasa puas sebab sudah bisa menangkap penjahat yang selama ini membuat mereka terluka dan sedih.
Juga Reno yang merasa senang karena bisa membalaskan dendamnya.
__ADS_1
Malam ini mereka bisa beristirahat dengan tenang,serta menjemput mimpi terindah mereka.Dengan harapan saat terbangun esok mereka sudah memulai lembaran hidup yang baru.
Bersambung.....