DOKTER CINTA CEO

DOKTER CINTA CEO
Bab 46


__ADS_3

Sejak pagi tadi mood Tristan, benar-benar jelek.Semua orang menjadi sasaran kekesalannya.Bukan hanya Roy, tempatnya melabuhkan kemarahan tapi kepada semua orang yang ada di dekatnya tak luput dari amukannya.


Roy yang tidak tahu apa-apa, menjadi bulan-bulannya. Seperti siang tadi,Tristan, meminta Roy untuk datang ke ruangannya.Namun saat Roy mengetuk pintu malah di bentak dan dilempari pena,beruntung Roy, bisa menghindar.


Sore tadi saat akan pulang,Roy menemuinya di ruang kerja Tristan, berniat mengantarnya pulang,bukannya disambut dengan baik justru di maki bahkan di katai bodoh.Sebenarnya Roy, ingin bertanya mengapa sikap Tristan seperti itu,tapi saat melihat wajah masam Tristan,membuat nyalinya menciut.


Setibanya di rumah. Tristan segera turun dari dalam mobil tampa menunggu Roy, membukakan pintu seperti biasanya.


Saat melintas di ruang tengah, ternyata Reva sudah ada di sana sedang menonton tv.Reva segera bangkit ingin mencium tangan Tristan, seperti yang biasa ia lakukan.Reva tersenyum manis menyambut. kedatangan Tristan. Namun diluar dugaan Tristan justru melangkah menaiki tangga menuju kamar.Tristan, mengacuhkan Reva.


Tristan sengaja melakukan itu dia ingin menjaga kewarasannya.Tristan, takut tidak bisa mengontrol emosi bila mengingat perbuatan Reva yang tak jujur terhadapnya.


Reva yang kebingungan ingin segera menyusul,namun buru-buru dicegah oleh Roy, yang kebetulan masuk berniat memberikan tas Tristan, yang tertinggal di mobil.


"Nona Muda!" ucap Roy, membuat Reva urung untuk menaiki tangga.


"Ada apa,Kak?"


"Sebaiknya Nona tidak usah menemui Tuan Tristan, dulu.Sepertinya emosinya benar-benar tinggi,saya takut Nona akan jadi sasaran, kemarahan Tuan, seperti saya seharian ini."


"Memangnya,dia kenapa,Kak?.Perasaan tadi pagi saat berangkat dia baik-baik saja"


"Saya tidak tahu Nona, apa yang menyebabkan Tuan seperti itu,tapi saya rasa moodnya mendadak berubah buruk saat Tuan keluar dari klinik Dokter kandungan yang ada di ujung jalan sana Nona."


"Klinik,Dokter kandungan?" Ucap Reva, dengan wajah yang pias.


"Apa jangan-jangan,Kak Tristan,ah tidak bila benar dia menemukanya, mati aku!" Gumam Reva.


"Ada apa Nona, apa anda memikirkan sesuatu?" Tanya Roy, saat melihat wajah pucat Reva.


"Aku gak apa-apa, Kak.Mungkin Kak Tristan, masih ada masalah,makanya dia seperti itu."


"Mungkin saja.Kalau begitu, saya permisi Nona." Roy pamit seraya menyerahkan tas kerja Tristan, kepada Reva.


"Iya,Kak." Jawab Reva.

__ADS_1


Sepeninggalnya Roy. Reva terlihat gelisah.Dia ingin naik ke atas memeriksa isi tasnya,memastikan dugaannya apakah benar Tristan, sudah mengetahui perbuatannya. Tapi Reva takut akan kemarahan Tristan.


"Apa sebaiknya aku mengaku saja,tapi bagaimana kalau dugaan ku salah?" Gumam Reva.


Akhirnya Reva memberanikan diri untuk naik ke atas,menemui Tristan. Saat tiba di depan pintu,Reva mencoba mengetuk pintu namun tidak ada sahutan.Reva akhirnya memutuskan untuk masuk.Saat tiba di dalam kamar Reva mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi.Artinya Tristan masih mandi.


Reva masuk ke ruang ganti lalu memilih baju santai untuk Tristan pakai.Setelah itu Reva keluar,lalu meletakkan baju ganti Tristan, di atas ranjang.


Tak lama pintu kamar mandi terbuka menampakan sosok Tristan, yang keluar,dengan lilitan handuk di pinggangnya.


Reva segera menunduk, saat melihat wajah sinis Tristan. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Tristan. Setelah berganti pakaian Tristan, lalu pergi keluar menuju ruang kerja.


Tristan ingin menenangkan pikirannya,dia belum bisa mengajak Reva bicara sekarang.Tristan, takut kecewa dengan jawaban yang akan dia dengar dari Reva nanti.


Reva yang mendapat perlakuan sinis dari Tristan, merasa khawatir, buru-buru ia beranjak ke meja rias meraih tas selempang yang ia gunakan kemarin.


Jantung Reva, terasa runtuh saat mengetahui bahwa catatan kecilnya telah hilang dari dalam tas.Itu artinya Tristan sudah mengetahui perbuatannya.


Reva terlihat gelisah,sudah berapa kali dia mondar mandir di dalam kamarnya.Memikirkan cara bagaimana menjelaskan pada Tristan, mengapa dia bisa melakukan perbuatan tersebut.


Reva turun menuju dapur membantu Bik Asih menyiapkan makan malam.Reva berniat setelah makan malam dia akan mengajak Tristan, untuk bicara.


Setelah beres menata hidangan makan malam.Reva segera naik ke lantai atas menuju ruang kerja Tristan. Memanggilnya turun untuk makan malam.


"Tok tok tok Kak Tristan,,ayo turun kita makan malam" Ucap Reva gugup. Reva hanya berani bicara dari balik pintu tampa sanggup untuk masuk seperti biasanya.


Tristan, membuka pintu lalu turun melewati Reva yang berdiri di depan pintu. Tristan, benar-benar mengacuhkan Reva.


Hati Reva, berdenyut nyeri saat diperlakukan sinis oleh suaminya.


"Kenapa hatiku sakit,saat melihat Kak Tristan, mengabaikan aku." Gumam Reva.


Reva mengekor di belakang Tristan, tampa berani mengucapkan sepatah kata pun.


Mereka makan dalam diam.Tristan, sibuk dengan sendok dan garpu di tangannya. Sedangkan Reva sibuk mengaduk aduk makanan di piring tampa ada niat untuk memakannya.

__ADS_1


Tristan, melirik Reva dengan ekor matanya.


"Habiskan makan malammu,setelah itu temui aku di kamar!" Ucap Tristan dingin, kemudian berlalu dari meja makan.


Reva yang mendengar ucapan Tristan, buru-buru menghabiskan makanan di piringnya, kemudian menyusul Tristan, ke dalam kamar.


Reva masuk ke dalam kamar tampa mengetuk pintu.Saat dia tiba di kamar,dia tidak menemukan keberadaan Tristan. Namun pupil matanya menangkap tirai balkon yang terbuka,Reva yakin Tristan berada di sana.


Reva melangkah perlahan menguatkan hati, untuk bisa menjawab semua pertanyaan dari Tristan, nantinya.


Tristan, berdiri di sisi balkon dengan kedua tangan bersedekah di dada.Dengan posisi menghadap ke arah taman di bawah sana.


Tristan, beberapa kali menarik napas kasar,mencoba menenangkan hati, agar tidak emosi dengan jawaban yang akan didengarnya dari Reva nanti.


Saat mengetahui Reva sudah berdiri di belakangnya. Tristan segera berbalik badan ,menghadap kearah Reva.Tiba-tiba Reva menabrakkan diri kedalam pelukan Tristan.


"Kak,maafkan aku. Kakak jangan marah aku bisa jelaskan semuanya" Ucap Reva seraya memeluk pinggang Tristan, erat.


Tristan yang tadinya emosi tiba-tiba hatinya menghangat,saat Reva mengakui kesalahannya.


"Memangnya apa yang ingin kamu jelaskan?" Tanya Tristan.


"Aku salah,Kak.Aku tidak membicarakan ini terlebih dulu dengan Kakak, tapi aku punya alasan tersendiri mengapa sampai menggunakan alat kontrasepsi itu."


"Memangnya apa alasan mu?"


"Aku ....."


****Bersambung****..........


Kira-kira Tristan, mau atau tidak ya mendengarkan alasan Reva. apakah mereka akan kembali berbaikan,atau sebaliknya permasalahan mereka kian memanas! ikuti terus kelanjutan cerita mereka.


Author bakal usahakan update tiap hari,tapi mohon dukungannya agar karya aku bisa masuk rekomendasi selanjutnya.


Karena satu vote mingguan dan juga like dari kalian sangat berarti buat author terima kasih buat kalian semua.😘🥰

__ADS_1


__ADS_2