
Mobil yang di tumpangi Baskoro dan Reno sudah memasuki halaman rumah mewah milik Baskoro.Wajah Baskoro tampak gelisah,berkali-kali dia menarik napas panjang,merasa takut kalau Fani akan curiga dengan kebohongannya.
"Kenapa anda tampak gelisah Tuan, apa ada yang mengganggu pikiran anda?" Reno menangkap kegelisahan yang di alami Baskoro.
"Entahlah,aku merasa takut, kalau Fani curiga pada ku,apa menurut mu dia akan mencurigai kebohonganku?" Reno tersenyum tipis mengetahui kegundahan hati sang Majikan. "Kenapa saat melakukannya anda sudah seperti super Hiro,tapi sekarang malah takut ketahuan,dasar tua bangka." Reno hanya mampu mengumpat di dalam hati.
"Tenanglah Tuan,bersikaplah sewajarnya,jangan terlalu gugup,kegugupan anda justru akan menimbulkan kecurigaan pada Nyonya."
Mobil pun berhenti, Baskoro menarik napas panjang beberapa kali,sedangkan Reno turun mengitari mobil lalu membukakan pintu.
"Silahkan tuan"
"Sebaiknya kamu ikut masuk,karena pasti Fani akan menanyakan keberadaan mu,dan berusahalah untuk menjawab setiap pertanyaan yang nanti akan dia berikan padamu,ingat jangan sampai kamu membuat kesalahan."
"Baik Tuan"
Mereka melangkah masuk,dan jantung Baskoro berdebar kencang,perasaan takut ketahuan kembali menyerangnya.
Saat tiba di ruang tamu mereka disambut oleh kepala pelayan yang bernama Sumi.
"Tuan sudah pulang,dari kemarin Nyonya uring-uringan karena tidak mendapat kabar dari tuan"
"Di mana dia?"
"Ada di kamar tuan"
Baskoro bergegas pergi ke kamar sementara Reno memilih menunggu di ruang tengah.
Baskoro memasuki kamar,terlihat seorang wanita duduk di kursi roda dengan posisi memunggunginya.
"Sayang" Baskoro mendekat dan duduk mensejajari tubuh Fani yang bersandar di kursi roda,kemudian tangannya terulur membelai wajah yang sudah tidak muda lagi,namun masih tetap cantik,meski sedikit pucat.
Seketika Fani menengadah menatap wajah yang di rindunya tiga hari ini.
"Mas, kamu sudah pulang,kenapa tidak memberi kabar membuatku khawatir,sudah berapa kali aku menelpon tapi tidak bisa terhubung, Mas ngapain aja,kenapa tidak sempat mengabari?."
"Sayang,maafkan aku,di sana daerah pelosok,sangat susah sinyal, aku juga berusaha menghubungi mu,tapi tetap saja tidak bisa terhubung."
"Benarkah? yakin tidak ada yang kamu sembunyikan dari ku?"
"Fani sayang,sejak kapan istri cantik ku ini mencurigai ku,seingat ku kamu adalah istri yang paling pengertian,tapi kenapa sekarang sepertinya tidak mempercayaiku."
"Bukan begitu Mas,entah mengapa sejak kepergian mu tiga hari yang lalu perasaanku begitu gelisah,bahkan tiga malam ini aku selalu bermimpi buruk,aku mimpi kamu pergi meninggalkan ku."
"Sayang,mimpi itu bunga tidur,jangan terlalu dipikirkan,bukankah selama ini aku selalu setia,apa pernah aku mengkhianatimu?."
"Maaf ya mas, aku sudah mencurigai mu"
"Tidak apa sayang,aku senang kalau kamu cemburu,itu artinya kamu masih mencintaiku"
Baskoro meraih tubuh Fani dan membawanya dalam pelukan,kecupan hangat dia daratkan di kening Fani, menghirup wangi tubuh yang beberapa hari ini dia rindukan,Baskoro tidak memungkiri perasaan cinta yang dia rasa untuk Fani dari dulu tak pernah berubah,meski sudah usia senja,bahkan Fani sakit pun dia tetap setia,walau sudah ada Mira yang hadir di antara keduanya,tapi tetap perasaan cintanya tak berubah sedikitpun.
__ADS_1
"Maafkan aku Fani,kamu lah satu-satunya wanita di hatiku,bila saat ini aku mendua itu hanyalah pelampiasan hasrat ku semata." Gumam Baskoro dalam hati.
Kalau ditanya apakah dia menyesal karena sudah mendua,jawabannya adalah "Iya" ada rasa penyesalan di hati Baskoro,tapi mau bagaimana lagi dia pria normal yang membutuhkan seseorang untuk menyalurkan hasratnya.Alasan klasik sebenarnya.
Sementara itu Bik Sumi yang di tugaskan untuk membereskan koper yang berisikan pakaian Baskoro nampak terkejut, ada perasaan ragu yang melandanya, mengingat kesetiaan yang di miliki Baskoro tidak mungkin jika dia mendua tapi bukti yang dia temukan di dalam koper seakan mematahkan rasa kepercayaan terhadap sang Majikan.
Saat Sumi membongkar koper,memisahkan pakaian bersih dan pakaian kotor,Sumi menemukan pakaian dalam wanita yang terselip di dalam pakaian kotor milik Baskoro."Siapa pemilik pakaian dalam ini?,apa mungkin Tuan Baskoro selingkuh?,apa aku beri tahu nyonya saja,tapi bagaimana kalau Nyonya sakitnya kambuh?" Gumam Sumi,yang dilanda kebingungan.
Setelah cukup lama menimbang,akhirnya Sumi berinisiatif memberi tau Fani tentang penemuannya,dia berpikir lebih baik sekarang Fani mengetahui kelakuan bejat Baskoro,agar Fani bisa mengambil keputusan terbaik untuk hubungan mereka kedepannya.
Sumi melihat Baskoro keluar dari kamar dan pergi ke luar,sepertinya dia akan berangkat ke kantor, Sumi segera masuk kedalam kamar dan menemui Nyonya Fani.
"Tok.... tok....tok..Nyoya apa saya boleh masuk?"
"Iya Sumi,masuklah" Sumi membuka pintu lalu masuk kedalam kamar dan menghampiri Fani yang saat ini berbaring di ranjang.
"Ada apa Sumi,apa ada hal penting yang ingin kamu sampaikan?" Fani bertanya sembari dahinya berkerut,dia merasa ada sesuatu yang penting, tidak biasanya Sumi menemuinya di saat jam sibuk begini.
"Begini Nyonya" Sumi menjeda kalimatnya perasaan ragu kembali melanda. "Katakan lah Sumi, jangan ragu" Ucap Fani sebab dia menangkap keraguan di wajah Sumi.
"Saya harap Nyonya bisa bijak dalam masalah ini" Sumi kembali menjeda kalimatnya.
"Katakan saja,jangan bertele-tele" Jawab Fani.
"Saya menemukan ini Nyonya, terselip diantara pakaian kotor milik Tuan Baskoro" Sumi menjulurkan tangan yang memegang jijik pakaian dalam wanita,yang sudah bekas di pakai itu.Dan seketika Fani menegang,dadanya bergemuruh,perasaan marah merasuki hatinya.
"Kamu yakin itu ada di dalam koper Tuan?"
"Kemari kan,aku mau lihat" Fani mengulurkan tangan dan meminta Sumi menyerahkan barang temuannya, Fani memindai pakaian dalam wanita berwarna merah yang saat ini ada di tangannya,dia pegang dengan cara mencapit menggunakan dua jarinya,dan sontak tubuhnya bergetar hebat,kemarahan yang dia tahan sedari tadi siap meledak,namun saat dia mengingat kembali akan kesetiaan sang suami amarahnya seketika mereda,Fani berpikir pasti ada seseorang yang iseng yang ingin mengerjai dia dan suaminya.
"Aku yakin pasti salah satu relasi bisnis Mas Baskoro ingin mengerjai kami." Ucap Fani,dan membuat Sumi terkejut saat melihat senyum tipis di wajah sang Nyonya.
"Kalian kira aku akan terpancing dengan gurawan murahan kalian" Fani berkata sembari tersenyum tipis,Fani meyakini bahwa sang suami tidak akan pernah mengkhianatinya.
"Sumi kamu bereskan semuanya,aku yakin ini pasti perbuatan seseorang yang iseng dan ingin kami bertengkar,buang pakaian dalam ini,jangan sampai Tuan melihatnya."
"Baik Nyonya" Sumi keluar dengan membawa barang temuannya, meski di hati masih terselip rasa curiga namun Sumi menepisnya.Toh sang Nyonya saja tidak marah apa lagi dia,kenapa dia harus marah pikir Sumi.
...****************...
Sementara itu di dalam kamar apartemennya, Mira terus saja menyunggingkan senyum puas,beberapa kali ia pegang kartu yang di berikan Baskoro,dan sesekali menciumnya.
"Hah,ternyata sangat mudah untuk bisa mendapatkan uang sebanyak ini,cukup memberikan kepuasan maka dia akan memberikan apa yang aku ingin kan"
"Pantas saja Reva betah jadi simpanan,karena bayarannya sangat fantastis."
"Tapi meski Om Baskoro sudah beristri dan berumur tapi uangnya banyak,bahkan tenaganya masih kuat aku saja yang masih muda tidak bisa mengimbanginya" Mira terus bergumam.
Mira beranjak dari ranjang,melangkah menuju meja hias meraih tas yang tergeletak di sana,mengeluarkan dompet lalu memasukkan kartu pemberian Baskoro.
"Sebaiknya aku mandi,dan hari ini aku mau berbelanja kebutuhan ku,apa aku ajak Agnes dan Mona itung-itung melepas rindu, kan sudah lama kami ga jalan bareng" Mira merangkai rencana,lalu mengambil ponsel dan menghubungi kedua sahabatnya.
__ADS_1
Dan ketiganya sepakat akan bertemu satu jam lagi di mall favorit mereka.
Tepat pukul sepuluh, taksi online yang di pesan Mira sudah tiba,Mira bergegas turun,dan masuk ke dalam mobil yang akan mengantarnya ke tempat tujuan.
Sekitar lima belas menit mobil yang di tumpagi Mira sudah berhenti tepat di halaman mall,Mira kemudian turun setelah membayar ongkos taksi lalu berjalan masuk kedalam,setibanya di dalam mall, Mira mengedarkan pandangan mencari keberadaan kedua sahabatnya.
"Hai..Mira" Saat Mira sedang kebingungan mencari Agnes dan Mona,tiba-tiba saja pundaknya di tepuk dari belakang,Mira sontak menoleh, ternyata Agnes dan Mona sudah berdiri di belakangnya.
"Kangen tau,kemana aja sih udah berapa hari ini ga ada kabar,ponselmu pun tidak aktif,kami berdua nyariin kamu,bahkan ke rumah mu,tapi ternyata kamu sudah ga ada di sana lagi." Ucap Mona sedih.
"Maaf ya guys,aku belum sempet cerita,dan ngabarin kalian,nanti aja ceritanya sekarang kita pesan makan,aku lapar nich."
"Ok tapi habis ini kamu cerita ya Mir"
"Iya,janji nanti aku cerita". Ketiganya lalu pergi ke salah satu Cafe tongkrongan mereka yang ada di Mall tersebut.
Selesai makan,ketiganya berkeliling Mall masuk ke beberapa toko pakaian, tas dan sepatu mereka berbelanja sepuasnya.
Dan saat mereka masuk ke dalam toko tas yang terkenal dengan beberapa merk ternama,mereka di kejutkan dengan keberadaan Reva di sana.Reva terlihat sedang memilih sebuah tas selempang yang terlihat sangat unik,dan yang pasti limited edition.
Mereka bertiga segera mendekat dan tampa basa basi Mira merebut tas yang ada di tangan Reva.
"Mira! apa yang kamu lakukan?, bukankah aku yang lebih dulu memegang tas itu?,ayo balikin" Ucap Reva seraya mencoba merebut kembali tas tersebut.
"Memang benar kamu yang lebih dulu memegangnya,tapi aku yang akan membelinya,memangnya kamu banyak uang, harga tas ini sudah pasti mahal, apa kamu sanggup untuk membayarnya?" Ucap Mira angkuh.
"Mira balikin tasnya aku lagi malas untuk berdebat" Ucap reva kesal.
Namun sikap Mira semakin menjadi,dia terus mengeluarkan kata-kata penghinaan untuk Reva.
Karena tidak tahan untuk berdebat akhirnya Reva memilih untuk mengalah,membiarkan Mira mengambil tas tersebut.
Reva memilih salah satu tas dengan merk yang sama tapi beda model,setelah mendapat apa yang dia mau Reva segera pergi ke kasir untuk melakukan pembayaran.
Begitupun Mira dan kedua sahabatnya, mereka juga berniat untuk membayar,Mira mengeluarkan kartu dari dalam dompetnya lalu melakukan transaksi pembayaran. "Gini dong guys,kalau jadi simpanan itu jangan tanggung- tanggung, kita harus dapet duit yang banyak, di dalam kartu ini ada uang tiga milyar, selain itu aku juga di berikan apartemen mewah,kalau kamu Reva, apa yang kamu dapet dari si Tristan itu?."
Mendengar pertanyaan yang di berikan Mira, membuat Reva jadi tahu ternyata Mira selama ini mengira bahwa dia adalah simpanan Tristan.
Reva tidak menanggapi lalu dia mengeluarkan kartu black card dari dalam dompetnya,lalu menyerahkannya pada kasir,sontak membuat ketiga ternganga,lalu bungkam tampa ada lagi kata-kata yang mampu mereka ucapkan.
"Wah,ternyata Reva lebih berkelas dari pada Mira, buktinya dia bisa memegang kartu yang hanya dimiliki beberapa orang saja." Gumam Agnes.
"Wow,kartu black card, benar-benar harga yang fantastis, ternyata tidak sia-sia Reva menjadi seorang simpanan kalau bisa mendapatkan pasilitas yang luar biasa,kalau seperti itu aku juga rela jadi simpanan aki-aki" Gumam Mona.
Sementara Mira ketar ketir di buatnya. "Apa?, Reva mendapatkan pasilitas semewah itu,ini tidak bisa dibiarin,aku juga harus mendapatkan pasilitas yang sama" Gumam Mira.
Belum hilang keterkejutan mereka bertiga Reva kembali bicara. "Oh ya Mona,Agnes juga kamu Mira kapan-kapan mampir ke mansion aku ya,sekarang aku duluan ya soalnya udah ada yang nungguin di mansion, daaahh" Ucap Reva membuat ketiganya bertambah lesu.
Mira hanya mampu bergumam dalam hati tampa bisa berkata lagi."Awas kamu Reva,lihat saja aku pasti bisa mendapatkan pasilitas yang lebih dari kamu" Rutuk Mira .
**Bersambung**........
__ADS_1