DOKTER CINTA CEO

DOKTER CINTA CEO
Bab 44


__ADS_3

Pagi hari di meja makan rumah utama.


Terlihat keempat orang yang berbeda generasi tengah menyantap sarapan mereka.Setelah selesai sarapan Presdir menahan mereka agar tetap duduk di meja makan.Sebab ada hal yang ingin beliau bicarakan.


"Ada apa Ayah,apa ada sesuatu yang penting" Ucap Tristan setelah ia selesai makan.


"Iya,ada hal serius yang ingin Ayah bicaranya dengan kalian berdua,ini menyangkut pernikahan kalian."


"Maksud Ayah?"


"Semua permasalahan dengan Baskoro sudah selesai,itu artinya pernikahan kalian sudah bisa di umumkan ke publik,Ayah ingin menggelar pesta resepsi pernikahan kalian, Ayah ingin mengenalkan menantu terbaikku pada seluruh pelosok negri ini.Apa kalian setuju,atau kamu masih belum siap,Nak?" tanya Presdir pada Reva.


"Kalau aku terserah Ayah dan ibu,tapi kalau Reva belum siap aku juga tidak mau memaksa" Ucap Tristan.


Sedangkan Reva sendiri bingung dengan keputusan Tristan, mengapa dia semudah itu setuju,lalu bagaimana dengan gadis yang dia cintai saat ini,apa tidak akan jadi masalah bila tahu bahwa Tristan sudah menikah,atau mereka memang sudah putus?.Entahlah,Reva bingung sendiri di buatnya.


"Bagaimana Reva, apa kamu setuju dengan usul Ayah?" tanya Presdir penuh harap.


"Aku .... aku...."


"Kalau kamu masih bingung tidak usah dijawab,Nak.Pikirkan saja dulu.Tapi Ibu khawatir pernikahan kalian sudah jalan empat bulan,takutnya nanti kamu sudah terlanjur hamil,kalau sudah hamil akan susah menggelar pesta nantinya." Ucap Ibu.


"Hamil?" Ucap Tristan bingung.


"Iya, bukankah kalian ini pasangan suami istri,sudah sepantasnya Reva hamil,Kan? mengingat kamu yang tak bisa berpisah darinya meski hanya semalam saja" Ucap Ibu menyindir Tristan, namun mampu membuat wajah Reva memerah.


"Benar juga,seharusnya kamu sudah hamil,Kan? tapi kenapa sampai sekarang belum juga hamil,padahal aku sudah menembakkan bibit unggulanku tepat sasaran,tapi kenapa masih tidak jadi juga?apa mungkin ada masalah." Ucap Tristan asal,membuat Reva semakin tertunduk karena malu Sementara Presdir dan ibu menyembunyikan senyum lucu mereka.


Sementara tangan Reva, bergerak mencubit paha Tristan.

__ADS_1


"Aduh kenapa dicubit sih,Yang.Kan aku ngomong yang sejujurnya.Ibu pahaku sakit Reva jahat,Bu."


"Rasakan itu akibatnya mulut yang tidak bisa dijaga.Seenaknya bicara begitu di depan Ayah dan Ibumu,Kan aku jadi malu." Gumam Reva.


Presdir dan ibu tertawa terbahak mendengar ucapan Tristan.


Tidak anaknya tidak ayah ibunya,sama sama membuatku malu,oh mau ku sembunyikan dimana muka ku ini.


"Sudah sudah jangan dilanjutkan lagi,lihatlah wajah menantu mu sudah semerah tomat,Bu." Ucap Presdir kembali,semakin membuat reva malu setengah mati.


Hamil?Ayah Ibu,maafkan aku bila sudah mengecewakan kalian.Batin Reva.


Sebenarnya Ayah dan Ibu sudah ingin menimang cucu,mengingat usia kami yang sudah semakin senja,keinginan terbesar Ayah sekarang adalah menggendong cucu dan bermain bersama mereka,semoga saja bulan ini sudah ada kabar baik dari kalian berdua ya,Nak." Ucap Presdir penuh harap.


"Aamiin" Jawab Ibu dan Tristan serempak.Sementara Reva menelan ludah dengan susah payah.


Ayah Ibu sekali lagi maafkan Reva, kalian pasti kecewa kalau tahu cerita yang sesungguhnya.


"Kami tidak pernah menundanya,Bu.Hanya saja memang belum dikasih kepercayaan sama yang maha kuasa,biar nanti kami coba buat lagi,siapa tahu kali ini bisa langsung jadi ya,Kan Yang?"


Bukannya menjawab Reva justru memutar bola mata malas.


"Iya sudah,Ayah dan Ibu hanya bisa bantu doa,hasilnya kita serahkan kepada sang maha pencipta,aamiin"


"Reva hari ini kamu ada kelas apa tidak?Kalau kelasmu kosong,mending ikut Ibu jalan jalan,kita shoping dan juga kita ke salon buat perawatan,setelah itu kita kuras habis isi ATM suamimu,Bagaimana?"


"Iya,Bu. Reva mau ikut Ibu Saja dari pada pulang ke mansion ujung ujungnya tiduran di kamar terus,Kan. Bosen juga Bu."


"Makanya ibu mengajak kamu ikut Ibu,biar kamu tidak gabut di rumah,kalau begitu bersiaplah setelah Ayahmu dan Tristan berangkat kita ikut berangkat juga,Ok"

__ADS_1


"Ok,Bu" Jawab Reva sembari tersenyum.Ibu menangkap raut gelisah di wajah Reva,namun kemudian buru buru beliau tepis.Tidak mungkin Reva ada masalah Tampa menceritakan nya pada Tristan.


Hari ini Tristan akan kembali bekerja,sedangkan Reva tidak ada kelas,jadi ibu memintanya untuk tetap tinggal bersamanya.Hari ini ibu berencana mengajak Reva pergi ke salon untuk melakukan perawatan, setelah itu mereka akan berbelanja sepuasnya.


Setelah selesai dengan segala urusannya Reva turun menemui ibu mertuanya. Mereka segera pergi.


Reva sama sekali tidak menikmati kebersamaan bersama sang ibu mertua,pikirannya masih berpusat pada percakapan mereka di rumah utama tadi pagi


"Reva sayang ...., kenapa ibu perhatian dari tadi kamu hanya bengong,apa ada masalah,Nak.Atau kamu memang lagi ada masalah,kalau iya tidak apa-apa cerita ke Ibu.Siapa tahu Ibu bisa bantu." Ucap sang ibu mertua.


"Tidak ada,Bu.Mungkin Itu cuma perasaan Ibu saja,aku gak apa-apa,Bu." Syukurlah kalau begitu Ayo kita shoping,kita habiskan uang Suamimu,Ok "


"Iya,Bu" Jawab Reva cepat.


Akhirnya siang itu mereka belanja sepuasnya,benar benar menghabiskan isi dompet, Tristan.


Setelah kembali dari berbelanja, Reva segera naik ke atas menuju kamarnya.Tujuannya sekarang ingin melihat sesuatu yang selama ini iya sembunyikan di dalam tas selempang miliknya.


Setelah mendapatkan yang ia mau, Reva kemudian membuka catatan kecil tersebut dan melihat jadwal yang tertulis di sana.


"Ternyata aku sudah lewat setengah bulan dari jadwalku untuk kembali suntik. Bagaimana aku bisa lupa?" Gumam Reva.


Sebenarnya Reva sudah berjaga jaga,sebelum Tristan mengajaknya berhubungan badan, Reva sudah lebih dulu memakai alat kontrasepsi berupa suntik tiap bulannya.


Reva masih takut untuk memiliki anak dari Tristan,sebab bukankah selama ini Tristan tak pernah mengatakan ingin punya anak dari Reva,bahkan Tristan tak pernah mengucapkan cinta padanya.Justru memberikan satu fakta yang semakin membuat Reva tidak ingin hamil anak Tristan.Sebab Tristan mencintai gadis lain,bukan dirinya.


"Bagaimana ini?,apa ku biarkan saja,bukankah Ayah dan ibu begitu menginginkan cucu,bila aku sampai hamil dan melahirkan anak Tristan,anggap itu sebagai balas Budi atas segala kebaikan mereka selama ini padaku" Gumam Reva.


Akhirnya Reva memilih untuk tidak lagi menggunakan kontrasepsi suntik itu lagi.Dia ingin mengandung anak Tristan meski dia tidak menginginkannya.

__ADS_1


Bersambung..........


__ADS_2