
Sementara di sudut yang berbeda, Dominic diminta pulang oleh ibunya, karena lagi-lagi pria itu memilih untuk menginap di hotel.
"Dom, di rumah ada Sesil. Ayo pulang, kita makan malam bersama," ujar Sarah untuk membujuk sang anak melalui sambungan telepon.
Namun, karena tak begitu menyukai wanita pilihan ibunya itu, Dominic justru menghela nafas berat. "Mom, berhentilah membawa wanita itu ke rumah. Aku tidak mau dengannya!"
"Lalu wanita mana lagi yang harus Mommy kenalkan padamu, Dom? Ini sudah yang ke 49, satu lagi pasti Mommy dapat hadiah," kelakar wanita paruh baya itu. Sebagai orang tua, apalagi dia seorang janda. Sudah tentu dia ingin segera melihat anak semata wayangnya menikah dan memiliki keluarga bahagia.
Tidak seperti dirinya yang diselingkuhi oleh sang suami, dan berakhir dia yang membesarkan Dominic seorang diri.
"Aku bisa mencarinya sendiri, Mom. Tenang saja, aku sudah punya kandidat," ceplos Dominic, awalnya dia bercanda. Karena dia ingin sang ibu berhenti mengenalkan para wanita yang berupa-rupa bentuknya.
Namun, ternyata hal tersebut membuat Sarah langsung tersenyum sumringah. Tidak peduli dari keluarga yang mana, dia yakin pilihan Dominic adalah wanita baik-baik.
"Apakah wanita itu bekerja denganmu, Dom? Makanya kamu tidak ingin pulang ke rumah?" tebak Sarah yang membuat Dominic langsung gelagapan.
"Ti—tidak, tidak juga, Mom. Ada lah nanti," sangkal pria itu dengan suara yang terbata-bata.
"Oke, kalau begitu nanti kenalkan pada Mommy ya, Mommy pasti akan merestui kalian," ujar Sarah dengan antusias. Senang sekali karena akhirnya sang anak mau menjalin hubungan.
"Hem, tapi nanti. Sekarang belum saatnya," jawab Dominic lemas karena dia memang tidak serius dengan ucapannya.
Setelah percakapan kecil itu berakhir, akhirnya panggilan pun tertutup. Dominic yang tiba-tiba tercenung, malah membayangkan wajah Amanda. Gadis itu seolah memenuhi pelupuk matanya, membuat dia langsung tersadar dan mengomel tak jelas.
"Haish, kenapa harus gadis gila itu?"
__ADS_1
***
Amanda bangun pagi-pagi sekali, karena dia harus membuat sarapan sendiri. Namun, mengingat ada Saga di sebelah apartemennya, dia pun menambah porsi sarapannya.
Setelah selesai berkutat di dapur, dia segera mandi dan bersiap-siap. Dan sebelum berangkat menuju hotel, dia lebih dulu menyambangi apartemen tetangganya.
Ting Tong!
Mendengar itu, Saga yang masih mengenakan kimono pun langsung mengernyitkan dahinya. Siapa orang yang bertamu sepagi ini?
Tak ingin penasaran dia pun langsung melenggang keluar.
Dan saat pintu terbuka, mata Saga langsung tertuju pada gadis cantik yang sudah memakai seragam houskeeper. Sementara Amanda yang sudah siap-siap tersenyum, malah terpaku pada penampilan Saga.
Glek!
Amanda langsung meneguk ludahnya yang tiba-tiba terasa ingin keluar. Padahal dia sudah sering melihat yang seperti ini, sebab di rumahnya banyak stok pria tampan.
Namun, entah kenapa saat melihat Saga rasanya berbeda. Jantungnya terus berdebar, seperti ingin melompat keluar.
"Ada apa, Nona?" tanya Saga kembali merubah panggilannya. Padahal semalam dia sudah sepakat untuk memanggil Amanda tanpa embel-embel nona.
Mendengar pertanyaan Saga, Amanda langsung tersadar. Tanpa bisa dicegah, pipinya memerah. Akan tetapi semoga saja Saga tidak menyadarinya.
"Ah, ini aku membuat sarapan untukmu, Kak," jawab Amanda seraya menyerahkan makanan yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Oh, kalau begitu terima kasih. Apakah perlu aku antar?" tanya Saga lagi, merasa tak enakan, karena Amanda terus yang berbuat baik padanya.
"Tidak-tidak, Kak. Tidak perlu, aku bawa motor kok. Lagi pula jam kerja Kakak dan aku kan berbeda. Itu bisa memakan waktu."
Saga tersenyum tipis, dia merasa cukup kagum dengan Amanda. Karena gadis itu masih mau hidup sederhana, padahal orang tuanya punya segalanya.
"Baiklah, tapi lain kali aku pasti akan mengantar Nona pergi bekerja."
Huh, jantung Amanda semakin tidak aman melihat senyum Saga pagi ini.
"Aku sudah bilang jangan panggil aku Nona."
Saga sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk menghilangkan rasa canggungnya.
"Ah iya, aku lupa. Mulai saat ini aku akan memanggilmu Amanda."
Sama halnya dengan Saga, Amanda pun mengulum senyum manis. Dan setelah itu dia pamit, karena dia tidak ingin terlambat bekerja.
Ketika sampai di basemen, Amanda langsung menghela nafas panjang.
"Berada di dekatnya benar-benar membuat jantungku tidak aman," gumam Amanda, tetapi tiba-tiba wajah Amanda berubah muram, saat mengingat bahwa dia akan bertemu dengan Dominic. "Cih, berbeda sekali dengan Domba Tua itu. Yang ada cuma bikin sawan!"
***
Aih, membayangkan jadi Amanda 🤣🤣🤣
__ADS_1