
Sementara di lain sisi, Saga sudah menginjakkan kaki di ibu kota. Tepatnya semalam dia telah tiba di sebuah penginapan. Dan pagi-pagi sekali dia pergi ke perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan tempatnya bekerja. Di sana dia disuruh presentasi untuk produk yang akan launching, kemudian meminta sampel secara langsung untuk kebutuhan promosi.
Semua pekerjaan Saga selesai pada pukul 11 siang. Sebelum pulang dia menerima tawaran makan bersama, tetapi dia justru menolak. Seolah-olah dia telah memiliki rencana lain.
Dan semua itu diperkuat dengan langkah Saga yang begitu lebar menuju basemen. Begitu masuk ke dalam mobil, Saga langsung menjalankan kendaraan roda empat itu untuk membelah jalan raya. Tujuannya saat ini adalah penginapan.
Saga membutuhkan waktu selama satu setengah jam di perjalanan. Begitu tiba di hotel, dia langsung pergi menuju restoran. Dia memanggil satu staf, lalu meminta tolong sambil memberikan uang tips.
Staf tersebut segera pergi setelah Saga selesai membisikinya. Tanpa diduga sang staf menarik tangan Amanda ketika gadis itu ingin melangkah bersama Lara. Kebetulan dia adalah seorang senior di sana.
"Kak, ada apa?" tanya Amanda dengan raut terkejut, karena tangannya tiba-tiba ditarik seperti itu.
"Ada orang yang mencarimu," jawabnya tanpa menyebutkan identitas. Tentu saja Amanda langsung mengerutkan dahi, karena baru kali ini ada orang yang mencarinya ketika dia sedang bekerja.
"Siapa?"
"Aku tidak tahu namanya. Dia hanya bilang, dia ingin bertemu denganmu. Dan sekarang, dia ada di restoran hotel."
Mendengar itu rasa penasaran Amanda semakin besar saja.
"Temui saja dulu. Paling kamu juga mengenalnya, dia tamu yang baru check in semalam," sambung staf tersebut, membujuk Amanda untuk menemui Saga yang sengaja menginap di iLuva Hotels.
"Iya-iya deh. La, kamu duluan saja, nanti aku menyusul," ujar Amanda akhirnya.
"Tapi jangan lama-lama ya," balas Lara dan Amanda langsung menganggukkan kepala.
Setelah itu Amanda berjalan mengekor pada sang senior. Sepanjang langkahnya dia terus menduga-duga siapa gerangan yang mencarinya. Hingga gerakan kaki itu berhenti di tempat yang dimaksud.
"Itu dia orangnya," ucap staf tersebut sambil menunjuk Saga yang tampak menunggu kedatangan Amanda.
__ADS_1
Gadis itu pun langsung mengangkat kepala sehingga pandangannya lurus ke depan.
Deg!
"Kak Saga?" lirih Amanda dengan raut wajah terperangah.
***
Esok paginya.
Hari ini Amanda libur bekerja, alhasil dia bangun tidak seperti biasanya. Amanda mengerjapkan mata begitu matahari sudah mulai naik, dan hal yang pertama kali dia lakukan adalah minum air putih. Namun, ternyata gelas yang ada di atas nakas kosong. Alhasil dia harus ke dapur terlebih dahulu.
"Hoam, boleh tidak ya kalau aku pergi ke spa hari ini? Rasanya aku ingin memanjakan diri," gumam Amanda bertanya pada dirinya sendiri.
Ketika sampai di dapur dia melirik meja makan, di sana sudah tersedia sarapan, dan semua orang sudah menyantapnya sebelum melakukan kegiatan pagi ini. Bahkan sang ibu sudah pergi bersama sang Tante, Eliana, sejak satu jam yang lalu untuk menghadiri acara arisan dengan teman-temannya.
Amanda mengisi gelas dengan penuh, kemudian meneguknya seperti orang yang benar-benar kehausan. Di samping itu ia membuka jendela yang menghubungkan suasana di taman belakang, detik itu juga ia dibuat terkejut dengan pemandangan yang ada di depan matanya.
Seketika itu juga Amanda menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya. Benar-benar tak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi. Sebenarnya apa yang sedang ketiga pria itu lakukan?
"Ini tidak benar, mereka harus dihentikan!"
Karena merasa khawatir hal tersebut akan melukai salah satu di antara mereka, Amanda pun langsung berlari tunggang langgang.
Sesampainya di sana, Amanda langsung berteriak kencang. "Stop!"
__ADS_1
Mendengar itu, ketiga pria itu pun langsung mengalihkan pandangan ke arah Amanda. Nampak sekali bahwa Amanda sangat cemas.
"Daddy, apa yang sedang kalian lakukan? Bukankah semua ini bahaya? Kalau salah satu di antara kalian benar-benar tertembak bagaimana?" sambung Amanda dengan menggebu-gebu.
Aneeq mendekati putrinya, sementara Caka dan Dominic langsung menurunkan senjata masing-masing.
"Sayang, ini permainan yang mengasyikan," jawab Aneeq, karena senjata yang mereka pegang juga bukan senjata sungguhan. Senjata itu akan mengeluarkan tinta warna-warni, dan membuat musuh tumbang jika tepat sasaran.
"Ini bukan permainan, Daddy! Ini sama sekali tidak asyik!" jawab Amanda dengan tegas.
"Amanda—"
"Hentikan! Aku tidak mau Daddy bermain mainan ini!" potong Amanda cepat. Sementara yang lain hanya bisa menonton. "Uncle juga. Segera ganti pakaian kalian!" Amanda sedikit melirik ke arah Dominic, tetapi pria itu hanya bisa menunduk.
"Amanda ini hanya permainan. Senjata ini juga palsu!" ujar Aneeq, kemudian mengangkat senjata yang ada di tangannya untuk diarahkan kepada Dominic.
DOR!
Tinta berwarna merah langsung menempel pada pakaian Dominic. Dan hal tersebut membuat Amanda menganga, dia sedikit tergagap karena berpikir senjata yang dipakai ayahnya adalah senjata sungguhan.
"Jadi jangan khawatir okey?" Ujar Aneeq sambil mengusap-usap rambut Amanda dengan sayang. Melihat itu Dominic bisa merasakan ketulusan antara seorang ayah dan putrinya. Membuat dia paham kenapa Aneeq sangat menjaga Amanda.
Amanda menghela nafas lega, sementara Aneeq mulai mengajak Caka dan Dominic kembali ke permainan.
Namun, saat mereka sudah pada posisi masing-masing. Sebuah teriakan dari atas balkon mengejutkan semua orang. "ANEEQ CONDA TANSON, CAKA DEEHAN LIEM, KER-JA!!!"
Dia adalah Ken. Setelah berteriak seperti itu sang raja ular langsung terbatuk-batuk.
***
__ADS_1
Amuk aja, Dad, anak dan mantumu🤣