
Karena hari hampir pagi, Dominic tak berpikir untuk membawa Amanda pulang ke apartemen. Dia justru menyewa sebuah kamar kelas atas di hotel terdekat. Namun, semua itu tak lantas membuat Amanda menghentikan kelakuan nakalnya.
Begitu masuk ke dalam kamar dengan double bed, Amanda masih melakukan serangan terhadap Dominic. Entah sebuah keberuntungan atau bencana, karena pada kenyataannya Dominic menyukai semua yang dilakukan Amanda.
Di dalam gendongan Dominic, Amanda terus menyusuri leher hingga ke belakang telinga pria itu. Menciptakan geleyar aneh, yang membuat seluruh aliran darah di tubuh Dominic terasa panas.
"Amanda, stop it! Sadarlah apa yang sudah kamu lakukan ini salah. Jangan membangunkan singa yang sedang tidur, atau kau akan ada dalam bahaya," ketus Dominic dengan tatapan serius, sebab gejolak hasratnya semakin membesar dan nyaris meledak. Akan tetapi gadis yang tengah mabuk itu justru terkekeh kecil. Di matanya Dominic hanya sedang bermain-main.
Jemari lentik Amanda menyapu bibir Dominic, sementara pria itu terus melangkah ke arah ranjang. Sedari tadi dia mencoba untuk tidak terpancing, meski godaan Amanda teramat dahsyat.
Andai dia tidak memikirkan apapun lagi, mungkin dia sudah membawa gadis itu ke puncak nirwana. Melenguh bersama dan menikmati tiap lelehan gairah yang mereka ciptakan.
Dominic berhasil merebahkan tubuh Amanda di atas ranjang, tetapi gadis itu tak berniat sedikit pun untuk melepaskannya.
"Lihat, aku sudah hampir berhasil membuatmu mengakuinya. Kamu sudah tidak tahan 'kan? Ayo bilang padaku, bagian tubuh mana lagi yang harus aku sentuh?" rancau Amanda dengan tersenyum lebar. "Di sini?" tanyanya sambil merabaa dada. Dominic langsung menahan nafas, dia berusaha untuk menegakkan tubuhnya. Namun, Amanda kembali menarik dia hingga terjerembab di ranjang yang sama.
__ADS_1
"Atau diβ" Tangan Amanda hampir saja menyentuh bagian paling sensitif milik Dominic, sesuatu yang sudah tegang sedari tadi, tetapi dengan cepat Dominic menahannya.
Nyaris tak ada jarak di antara mereka, karena kedua pucuk hidung itu hampir bergesekkan. Amanda terus menatap kedua netra Dominic dengan tatapan sayu, sementara pria itu terdiam dan menikmati pahatan indah yang ada di hadapannya.
"Kali ini usahaku harus maksimal, karena aku tidak ingin patah hati lagi. Aku akan terus berusaha, sampai kamu mengatakan sendiri bahwa kamu menyukaiku. Ingat itu Tuan Dominic, Domba kesayanganku," ucap Amanda seolah tengah mengejek, karena bibirnya pun ikut mengerucut, membuat Dominic kian gemas.
Jantung Dominic berdebar keras, sementara otak dan nalurinya mulai tak sejalan. Dia berusaha untuk menahan diri untuk tidak menyentuh Amanda lebih dari ini, tetapi sang gadis terlalu mengujinya.
Hembusan nafas yang menerpa wajah Dominic semakin membuatnya lupa diri, hingga dengan cepat ia kembali meraup benda ranum milik Amanda. Karena tak sadar, gadis itu hanya bisa menerima semua yang dilakukan Dominic, bahkan ia pun turut membalas, membuat suasana bertambah semakin panas.
Dengan cepat Dominic melepas jas yang sedari tadi melekat di tubuhnya, lalu membawa diri untuk mengungkung tubuh Amanda. Lenguhan kecil itu semakin membuat naluri kelelakian Dominic menjerit, hingga ia tak memiliki kosakata berhenti.
Suara-suara itu terus terdengar saat bibir Dominic menyapu tiap inci tubuh Amanda. Turun ke bagian leher hingga sampai di dada. Di sana dia menciptakan maha karya untuk pertama kalinya, tak hanya satu, karena ia terlihat sangat menyukainya, tetapi tiba-tiba dia menghentikan itu semua dengan menatap wajah sang pujaan yang sudah tampak memerah.
Seolah ada tangan tak kasat mata yang menampar pipinya, akhirnya Dominic mulai menemui kewarasan.
__ADS_1
"Amanda, you are the first for me. And you need to know, i really like you. Because of that, i can't do it, i can't fuckking you, Babe," ungkap Dominic yang kini berada di atas tubuh Amanda. Sang gadis seolah paham dengan apa yang dikatakan Dominic, hingga dia mengulum senyum seraya melingkarkan tangannya di sepanjang leher pria itu.
"Aku sudah tahu kalau kamu menyukaiku. Tebakanku benar 'kan?"
Dominic terdiam, hingga tangan Amanda beralih untuk memeluk tubuh pria itu, membuat Dominic terpaksa menekuk kedua sikunya. Tak ada lagi rancauan yang keluar dari bibir Amanda, dan membuat Dominic yakin kalau sang gadis mulai tertidur.
Akhirnya dia bisa bernafas dengan lega, meski bagian bawah tubuhnya terasa cukup sesak, karena tak mampu melepaskan hasrat.
Setelah cukup lama dalam posisi seperti itu, Dominic yang mulai merasa pegal mencoba untuk berbaring di sisi Amanda. Dia mengambil selimut menggunakan kaki, karena sang gadis tak sedikit pun berniat untuk melepaskannya.
Namun, gerakan itu ternyata membuat Amanda kembali membuka mata, dia menengadah dan tanpa diduga mengecup bibir pria tampan itu.
Dominic yang kembali ketar-ketir langsung membenamkan wajah Amanda ke dada bidangnya, takut gadis itu kembali menggodanya. "Tidurlah, jangan membangunkan yang lain." Ucap Dominic lalu mengecup puncak kepala gadis itu.
Pada akhirnya satu ranjang di sebelah terabaikan. Karena mereka hanya membutuhkan satu pelukan untuk menyambut fajar.
__ADS_1
***
Berharap apa lu padaπππ