Fierce Boss Or Handsome Assisten

Fierce Boss Or Handsome Assisten
Bab 19. Nasib


__ADS_3

Setelah mengantarkan Amanda, Saga diminta untuk langsung berangkat ke perusahaan, karena Ziel, sang bos, akan datang lebih siang. Begitu tiba di ruangan Ziel, dia dibuat terkejut karena sudah ada Aneeq yang tengah duduk santai di sofa.


Melihat tatapan pria itu, entah kenapa Saga selalu merasa diintimidasi sehingga yang bisa dia lakukan adalah menundukkan kepala.


"Selamat pagi, Tuan," sapanya lebih dulu. Jujur saja tubuh Saga mendadak bergetar, karena mengingat semalam dia tidur dengan Amanda secara tidak sadar. Andai Aneeq tahu, sudah pasti dia akan dimintai pertanggungjawaban.


"Pagi," balas Aneeq singkat, dia meraih gelas kopi yang ada di atas meja lalu menyesapnya sedikit. "Aku sengaja datang ke mari untuk menanyakan perihal putriku. Bagaimana sejauh ini dia tidak berbuat macam-macam 'kan?"


Reflek, Saga menelan ludahnya susah payah. Namun, karena tak ingin pria yang ada di hadapannya ini curiga, dia pun berusaha bersikap seperti biasa.


"Tidak kok, Tuan. Nona Amanda selalu berangkat dan pulang tepat waktu," jawab Saga. Setiap berhadapan dengan Aneeq, dia tidak akan berani untuk memanggil nama Amanda tanpa embel-embel nona.


Aneeq tampak manggut-manggut.


"Eum, baguslah. Terus awasi dia ya."


"Baik, Tuan."


"Tapi ingat, jangan sampai kamu yang berbuat macam-macam pada putriku. Sekali kamu sentuh dia, heuh, peluru yang ada di pistolku akan tembus ke kepalamu!" Aneeq memberi peringatan, tetapi di telinga Saga itu sudah cukup seperti sebuah ancaman.


Bahkan saking gemetarnya ia sampai lupa caranya bernafas.


Dan setelah mengatakan itu, Aneeq langsung bangkit dan berniat pergi meninggalkan Saga. Namun, sebelum benar-benar melewati pintu, dia berkata. "Gajimu bulan ini aku naikkan jadi bekerja lah dengan baik."


"Siap, Tuan," balas Saga dengan sigap. Ketika pintu baru saja tertutup, dia langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Hah, baru saja aku merasa keluar dari kandang singa," gumamnya dengan tengkuk yang terasa dingin.

__ADS_1


***


Dominic benar-benar menetapkan aturan tidak masuk akal itu, di mana semua karyawan wanita tidak boleh memakai riasan berlebihan, apalagi lipstik berwarna merah.


Amanda tidak habis pikir, di mana letak salahnya? Namun, semakin dia mencari jawaban yang ada dia bertambah pusing. Baginya Dominic adalah pria aneh, dan sulit ditebak maunya apa.


"Sudahlah lupakan saja! Lebih sekarang aku makan siang, lagi pula tidak ada untungnya memikirkan dia," ujar Amanda pada dirinya sendiri, dia pun mengajak Lara untuk makan bersama.


Sementara di lantai atas, Dominic baru saja kedatangan tamu. Dia adalah Sesil, wanita ke 49, pilihan ibunya.


Belum apa-apa Dominic sudah tampak jengah, karena dia benar-benar tak menyukai Sesil yang selalu tampil terbuka.


"Aku masih banyak pekerjaan, jadi pergilah!" cetus Dominic tanpa melihat ke arah wanita itu. Namun, Sesil tak menyerah, meski Sarah sudah pernah mengatakan bahwa Dominic telah memiliki seorang kandidat wanita yang akan menjadi kekasihnya.


"Ini jam makan siang, Dom. Untuk apa bekerja terus, lebih baik kita makan, aku sengaja membelinya lho," balas Sesil seraya meletakkan dua paper bag berisi makanan ke atas meja Dominic.


"Aku tidak nafsuu!"


"Terus kamu maunya apa?" tanya Sesil dengan suara menggoda, berharap Dominic bisa tertarik padanya. Bahkan tanpa tahu malu wanita itu berjalan ke belakang kursi Dominic untuk menyentuh bahu kekar pria itu.


"Singkirkan tanganmu!" tegas Dominic. "Kamu bilang mau makan 'kan? Kalau begitu duduklah!"


Sesil langsung mendengus kasar, sementara Dominic langsung meraih gagang telepon. "Suruh si Maman datang ke ruanganku."


Mendengar nama itu, Sesil pun mengerutkan keningnya. "Maman? Siapa dia? Apakah dia cleaning servis?"


Namun, Dominic tak menjawab, dia lebih memilih untuk diam dan menunggu Amanda datang.

__ADS_1


Sementara di bawah sana rasanya Amanda ingin mengumpat, baru saja memasukkan beberapa sendok makanan ke dalam mulutnya, Dominic sudah kembali berulah.


"Kenapa sih dia ini? Senang sekali sepertinya menggangguku!" cetus Amanda dengan dada yang naik turun, dan Lara hanya bisa mengusap-usap punggung gadis itu.


"Sabar, Man."


"Kurang sabar apa aku?!" cetus Amanda, meski kesal dia tetap bangkit dari tempat duduk dan naik ke atas ruangan Dominic.


Tok Tok Tok ...


Amanda mengetuk pintu ruangan itu dengan sangat keras, seolah siap meledakkan amarahnya. Namun, saat benda itu terbuka, mendadak dia tak bisa berkata-kata, karena melihat wanita seksi yang duduk tepat di sebelah Dominic.


"Ada apa Tuan memanggilku?" tanya Amanda, tetapi tatapan matanya tak berhenti untuk menelisik penampilan Sesil.


"Duduklah, kita makan siang bersama," jawab Dominic dengan enteng, tetapi sukses membuat mata Amanda membulat sempurna.


"Makan bersama? Maksudnya?" tanya Amanda seolah tak mengerti dengan kalimat itu.


"Kamu ini apa-apaan sih, Dom? Dia ini bawahanmu!" timpal Sesil tak suka. Hih, cantik sih, tapi tidak level.


"Karena dia bawahanku, maka terserah aku 'kan? Duduklah, siapkan makanan untukku!" ujar Dominic pada Amanda.


"Tapi—"


"Maman, duduk!" potong Dominic tak ingin dibantah. Alhasil Amanda pun mematuhi perintah pria itu, dia duduk dan menyiapkan makanan untuk Dominic, sementara Sesil terus menatapnya dengan bibir mencebik.


Ya Tuhan ... kenapa nasibku selalu berada di tengah-tengah pria dan wanita? Batin Amanda berteriak.

__ADS_1


***


Jangan lupa votenya gaes🤗🤗🤗


__ADS_2