
Perasaan Amanda semakin tak karuan karena Dominic benar-benar tak menjelaskan apapun padanya. Padahal dari awal pria itu yang begitu meyakinkan Aneeq tentang apa yang sudah terjadi di antara mereka berdua.
Bahkan hingga terlewat tiga hari lamanya, Dominic sama sekali tak menegur Amanda. Saat mereka berpapasan, pria itu hanya bisa melengos pergi tanpa melirik sedikit pun. Tentu semua itu membuat perasaan Amanda semakin bertambah kacau.
"Apa aku sudah membuat kesalahan? Tapi apa?" gumam Amanda, untuk yang kesekian kalinya dia bertanya seperti itu pada dirinya sendiri. Namun, hingga saat ini dia tak kunjung mendapat jawaban.
"La, kamu mau ke mana?" tanya Amanda, melihat Lara membawa secangkir kopi dan juga makanan dalam satu nampan. Dia berusaha merubah mimik wajahnya yang sendu, agar Lara tidak berpikir jauh tentangnya.
"Aku ingin mengantar ini ke ruangan Tuan Dominic," jawab Lara apa adanya, wajah gadis itu nampak sedikit kikuk, karena tak enakan dengan Amanda. Karena biasanya gadis itu yang melayani Dominic.
"Tuan Dominic menyuruhmu?" Amanda bertanya lagi dengan nada terbata. Perubahan raut wajah itu nampak jelas dalam penglihatan Lara, sehingga gadis itu pun menyimpulkan bahwa di antara keduanya sedang ada masalah.
Lara menjawab dengan sebuah anggukan lemah. Sementara Amanda sedang berusaha mengendalikan dirinya agar tidak menangis di hadapan sang sahabat.
"Man, aku—"
"Ke mari, biar aku saja yang mengantarnya ke atas!" potong Amanda, dia benar-benar tak tahan dengan keadaan yang seperti ini. Dia ingin menemui Dominic sekarang juga, agar semuanya jelas dan tak membuatnya selalu menduga-duga.
Lara setuju, dia pun segera menyerahkan nampan itu pada Amanda. Dia memahami, bahwa Amanda memang butuh bicara dengan Dominic.
__ADS_1
Detik selanjutnya Amanda naik ke atas ruangan Dominic. Selama langkahnya dia terus menyiapkan hati dan beberapa pertanyaan yang selama ini mengitari otaknya.
Hingga saat Amanda sudah berdiri di depan ruangan pria itu. Amanda menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya secara perlahan.
Tok Tok Tok!
"Masuk!"
Tanpa menunggu lama Amanda sudah mendengar instruksi itu, dia pun segera membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Dominic.
Di sana Dominic sedikit terperangah karena Amanda yang datang menemuinya. Namun, secepat kilat Dominic kembali bersikap acuh tak acuh.
Amanda menghela nafas kasar, kemudian berjalan menuju meja kebesaran Dominic untuk meletakkan apa yang ia bawa. Selanjutnya Amanda tak berniat sedikit pun untuk keluar sebelum Dominic melihat ke arahnya.
"Kamu sengaja bersikap seperti ini padaku?" tanya Amanda untuk pertama kalinya. Lucas yang mendengar itu pun merasakan sinyal yang tak baik, sehingga dia memilih untuk keluar secara diam-diam.
"Bersikap seperti apa maksudnya?" balas Dominic, berpura-pura bodoh.
"Kamu tidak paham maksudku atau kamu hanya sedang berpura-pura?" tanya Amanda lagi, sambil menelisik tatapan mata itu.
__ADS_1
"Aku tidak paham, sikap mana yang kamu maksud!" jawab Dominic dengan tatapan tak kalah seriusnya.
"To the point saja, kenapa kamu tiba-tiba menyerah pada Daddy dan bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita!"
Suara Amanda sedikit meninggi, karena dia yakin betul Dominic sedang berlagak di depannya.
Mendengar itu, Dominic yang semula duduk pun akhirnya bangkit. Dia berhadapan langsung dengan Amanda, membuat jantung gadis itu mendadak berdebar keras.
"Bukankah di antara memang tidak pernah terjadi apa-apa? Seperti apa yang sering kamu bilang. Lalu kenapa kamu mempertanyakan itu sekarang? Ini kan yang kamu mau? Kamu ingin aku berhenti mengejarmu, karena bukan aku yang kamu inginkan. Awalnya aku sangat optimis, tapi melihat sikapmu yang selalu acuh tak acuh terhadapku. Aku sadar, aku tidak memiliki tempat di hatimu. Kamu tidak pernah bisa melihat ke arahku, karena kamu hanya memiliki satu arah tujuan. Saga, di matamu, di matamu hanya ada Saga. Dan dengan bodohnya aku mengikuti jejakmu, aku hanya bisa melihat kamu meski banyak sekali ribuan wanita di luar sana. Tak peduli kamu menyukaiku atau tidak, aku tetap melakukan itu," jawab Dominic menjelaskan panjang lebar perasaannya terhadap Amanda. "Tapi ... sekarang aku tidak ingin bodoh lagi. Pertemuanmu kemarin dengan Saga sudah cukup membuatku yakin, bahwa aku memang harus melepaskan kamu. Aku tidak ingin egois. Jadi, aku harap kamu bisa bahagia dengan pilihanmu sendiri."
Akhir kalimat Dominic berhasil meloloskan air mata Amanda dengan begitu mudahnya. Entah kenapa perasaannya sangat sakit mendengar itu semua dari mulut Dominic.
Hening, ada jeda yang tercipta dengan begitu hebat di antara mereka. Karena lidah Amanda begitu kelu untuk menimpali itu semua. Dia tidak tahu kalau ternyata Dominic melihat pertemuannya dengan Saga. Namun, andai ia bisa menjelaskan, dia ingin menjelaskan bahwa pertemuan itu tidak memiliki arti apa-apa. Saga hanya meminta maaf padanya untuk semua yang sudah terjadi.
"Bujuklah ayahmu untuk menerima Saga, aku yakin perlahan beliau akan memahami pilihan putrinya," sambung Dominic semakin membuat hati Amanda terasa sakit.
"Aku—"
Baru berkata seperti itu, telepon kantor berbunyi dengan nyaring. Dominic langsung menerimanya, lalu berkata. "Ya, saya akan segera ke sana."
__ADS_1
Sambungan telepon langsung ditutup.
"Aku ada pekerjaan, aku pamit dulu," ujar Dominic seraya melangkah ke arah pintu, mengabaikan Amanda yang sedang terisak-isak di depannya.