Fierce Boss Or Handsome Assisten

Fierce Boss Or Handsome Assisten
Bab 58. Pertanyaan Asisten Lucas


__ADS_3

Pergi dari apartemen Donita, Saga langsung meluncur ke luar kota, tanpa memedulikan luka yang memenuhi wajahnya. Dalam hati dia hanya berharap, di kota yang akan dia pijak, dia dapat memulai kehidupan baru tanpa adanya rasa sakit dan rasa penyesalan.


Malam itu tak sengaja Saga melewati iLuva Hotels, membuatnya kembali teringat dengan Amanda. Namun, untuk saat ini ia tidak tahu, apakah Amanda masih magang di hotel tersebut atau tidak. Jadi, Saga berlalu begitu saja.


Sementara di sisi lain, Dominic sedang berusaha untuk bangkit dari brankar, dan hal tersebut membuat Lucas langsung sigap membantunya.


"Tuan, anda mau ke mana?" tanya Lucas. "Apakah anda ingin ke kamar mandi?" Melihat kaki Dominic yang sudah mulai turun ke lantai dengan wajah yang meringis, dia tahu pria itu sedang menahan sakit.


"Berikan kunci mobilmu, Lu," ujar Dominic tanpa menjawab pertanyaan sang asisten.


Sontak saja hal tersebut membuat Lucas mengerutkan keningnya. Karena belum juga sembuh, Dominic malah meminta kunci mobil, untuk apa?


Tak mengindahkan ucapan bosnya, Lucas malah menggelengkan kepala dan kembali duduk di sofa.


"Anda belum pulih, Tuan, jadi anda tidak bisa ke mana-mana," tukasnya dengan tatapan serius. Meski sering membuat Dominic kesal, tetapi sesungguhnya Lucas pun sangat peduli pada pria tampan itu.


Dominic mendesaahkan nafas panjang, karena dinilainya Lucas yang terlalu banyak basa-basi.


"Aku ingin menjemput Amanda. Jadi, cepat berikan kunci mobilnya!" ketus Dominic to the point, tak lupa tatapan nyalang ia berikan.


Lucas langsung menaikkan satu alisnya. Ini bukan Dominic sekali, karena biasanya Dominic tidak pernah perhatian pada seorang wanita. Ah iya, dia lupa, kecuali wanita itu adalah Amanda.


"Saya tidak akan mengizinkan!"


"Lu!" teriak Dominic dengan suara menggelegar.


"Tuan, apakah anda tidak berpikir, bahwa apa yang anda lakukan bisa membahayakan diri anda sendiri. Kalau semisal di jalan anda kecelakaan lalu mati bagaimana? Saya bekerja di mana?" jelas Lucas yang membuat Dominic mengepalkan tangannya dengan kuat.


Dominic sudah ingin mengumpat, tetapi Lucas kembali bicara.


"Sudahlah, biar saya yang jemput Nona Amanda dan mengantarnya pulang ke rumah. Lebih baik anda di sini dan berisitirahat, okey? Saya jamin, gadismu akan baik-baik saja," sambung Lucas dengan wajah tanpa dosa.

__ADS_1


Bahkan tanpa menunggu izin dari Dominic, pria itu sudah melenggang ke arah pintu, membuat mulut Dominic menganga. Tak percaya kalau Lucas sudah semakin kurang ajar.


"Shitt, kalau saja keadaanku tidak seperti ini, sudah ku tendang kau, Lu!" teriak Dominic lagi, sementara Lucas justru menyembulkan kepalanya di pintu.


Sebelum benar-benar pergi dia tersenyum dan berkata. "Mau menitip salam?"


Namun, bukannya senang Dominic justru mengambil vas bunga yang ada di atas nakas, dan membuat gerakan seolah ingin melempar benda itu. "Pergi kau sialan!"


***


Amanda sedikit terkejut ketika Lucas tiba-tiba menghampirinya. Lagi pula untuk apa pria itu berada di hotel selarut ini? Bukankah seharusnya Lucas menjaga Dominic atau pulang ke rumahnya?


"Asisten Lu, ada perlu apa?" tanya Amanda dengan satu alis yang terangkat. Dia sudah menenteng tas dan siap untuk pulang.


Lucas tersenyum ramah.


"Saya akan mengantar Nona pulang," jawab Lucas apa adanya.


"Lho, bukannya anda sedang menjaga Tuan Dominic di rumah sakit? Lalu sekarang dia sama siapa?"


Mendengar jawaban itu, Amanda langsung terdiam. Kenapa Dominic mendadak perhatian sekali?


"Tapi—" Ada rasa tak enak dalam hatinya, hingga dia bingung untuk berkata seperti apa.


"Tidak perlu buang-buang waktu, Nona. Mari ...," tukas Lucas seraya memimpin langkah. Kalau sudah seperti ini, tentu Amanda tak bisa menolak, dan akhirnya dia pun mengekor pada pria itu.


Mobil yang dikendarai Lucas melaju dengan cukup kencang. Awalnya tak ada pembicaraan apapun di antara mereka, sehingga perjalanan diisi dengan keheningan.


Namun, tiba-tiba Lucas berdehem, membuat Amanda menoleh ke arahnya. Dia pun tampak kikuk, karena bingung juga mau membahas apa? Dia seperti menemui jalan buntu.


"Nona, bagaimana penilaianmu tentang Tuan Dominic?" tanya Lucas tiba-tiba, membuat Amanda semakin terperangah.

__ADS_1


"Maksudnya?" Amanda balik bertanya.


"Menurut Nona, Tuan Dominic itu seperti apa? Apakah dia sangat menyeramkan di mata anda?" jelas Lucas, dia sudah sangat yakin bahwa sang tuan menyukai gadis yang ada di sampingnya. Sementara Amanda, entahlah, karena yang ia lihat, tiap berdekatan dengan Dominic, gadis itu hanya bisa marah-marah.


"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu sih? Jujur saja aku bingung menjawabnya," balas Amanda seraya menundukkan pandangan, dan memilih untuk memilin-milin jarinya.


"Tidak ada maksud apa-apa kok, Nona, saya ingin tahu saja. Apakah anda memiliki rasa yang sama seperti yang Tuan rasakan."


Deg!


"Apa yang anda bicarakan, Asisten Lu?" tukas Amanda langsung menatap Lucas yang fokus ke depan.


"Sebenarnya tadi Tuan memaksa untuk menjemputmu, Nona. Tapi saya larang, karena takut terjadi apa-apa dengannya. Maka dari itu saya menawarkan diri. Bukankah dia terlihat sangat perhatian?" ujar Lucas, mulai membocorkan situasi yang terjadi sebenarnya.


Amanda menelan ludahnya, akhir-akhir ini dia memang sedikit bingung dengan sikap Dominic. Namun, dia tidak bisa mengklime bahwa Dominic menyukainya atau apapun itu.


"Aku tidak tahu. Lagi pula dia kan memang aneh orangnya, kadang marah-marah tidak jelas, kadang baik, dan terkadang sangat menyebalkan!" cerocos Amanda dengan bibir yang mencebik.


"Tapi Nona tahu tidak? Kalau dia hanya bersikap seperti itu pada anda. Sebelumnya Tuan tidak pernah dekat atau pun perhatian pada seorang wanita, kecuali Nyonya Sarah. Tapi, sepertinya sekarang berbeda," kata Lucas, yang membuat Amanda tergagap.


Dia melirik ke arah Lucas dan mengernyitkan kening. "Aku benar-benar tidak paham." Ujar gadis itu dengan terbata.


Lucas melebarkan senyumnya. "Saya tidak yakin kalau Nona tidak paham dengan apa yang saya sampaikan. Nona Amanda kan pintar." Sindirnya halus, membuat Amanda langsung terdiam dengan dada yang tiba-tiba berdebar.


***


Siapa yang kangen 🙈🙈🙈


*


*

__ADS_1


*


Jangan demo gue🤸🤸🤸


__ADS_2