
Sementara itu di tempat lain, Dominic benar-benar merasa gila karena seperti tak ada kerjaan dia menghubungi Amanda tanpa tahu harus membicarakan apa.
"Haish, apa yang sudah aku lakukan? Bisa-bisanya aku menelpon dia duluan," rutuk Dominic yang saat itu berada di kamarnya. Malam ini dia pulang ke rumah atas permintaan Sarah.
Bukan hanya Amanda yang merasa aneh, tetapi Dominic juga bingung dengan dirinya sendiri. Semenjak pertemuannya dengan Amanda, dia seolah keluar dari zona yang membelenggunya selama ini.
Saat mereka berjauhan ada gejolak yang membuat dia ingin sekedar mendengar suara gadis itu dan memastikan bahwa dia baik-baik saja.
"Aku yakin, sekarang aku sudah mulai gila. Oh my God, ada apa dengan diriku, apakah aku mendapat semacam kutukan?"
Merasakan kepalanya yang berdenyut, lantas Dominic meraih satu batang rokok dan menyulutnya. Dengan asap yang mengepul, dia terus melihat suasana di luar sana, di mana angin berhembus menampar dan menggoyangkan dedaunan.
Dan tak berapa lama kemudian ponsel pria itu berdering. Dengan tergesa dia meraih benda pipih itu, karena dia pikir Amanda menelponnya. Namun, dia harus merasa kecewa, sebab nama Donita tertera jelas di layar ponselnya.
"Halo, ada apa?" tanya Dominic to the point.
*
__ADS_1
*
*
Keesokan paginya.
Amanda yang sudah siap lantas turun ke bawah. Dan ternyata di basemen dia bertemu dengan Saga yang sedang memanasi mobil. Gadis itu baru ingat, kalau motornya masih berada di hotel, jadi hari ini dia masih memakai kendaraan umum.
"Haish, harusnya aku meminta si Domba Tua untuk membawa motorku ke mari. Bukankah menyenangkan membuat dia repot?" gumam Amanda bicara pada dirinya sendiri.
Melihat itu Saga menaikkan satu alisnya. Sebelum Amanda melangkah pria itu lebih dulu melayangkan sebuah pertanyaan. "Kamu sudah siap untuk pergi bekerja?"
"Iya, Kak, tapi aku baru ingat, motorku masih ada di hotel. Jadi, aku akan memesan taksi," jawab Amanda apa adanya. Sementara Saga mulai berjalan ke arahnya.
"Ya sudah kalau begitu biar aku antar. Kamu tunggu di sini ya, aku akan mengambil setelan kerjaku, karena setelah mengantarmu aku akan langsung pergi ke kantor."
Merasa tak enak hati Amanda mencekal pergelangan tangan Saga. "Bukankah semua itu akan sangat merepotkan? Aku tidak masalah kalau harus naik taksi."
__ADS_1
Saga tersenyum, sambil melepaskan tangan Amanda dia berkata. "Never mind, nanti siang aku kirim montir untuk memperbaiki motormu."
Entah harus dengan apa Amanda mendefinisikan pria baik seperti Saga. Karena setiap tindak-tanduknya nampak sangat manis. Akhirnya Amanda mengangguk setuju, dia menunggu Saga hingga pria itu benar-benar kembali.
Mobil yang dikendarai Saga baru saja melewati gerbang utama. Sementara di sisi lain, Dominic yang saat itu hendak menghubungi Amanda melihat gadis itu pergi bersama pria lain.
Padahal awalnya dia ingin menjemput Amanda. Namun, takdir seolah tak berpihak padanya. Kedua netra Dominic terus mengikuti kendaraan roda empat itu, tatapannya nampak nanar hingga membuat ludahnya terasa tercekat di tengah tenggorokan.
Seketika itu juga Dominic menggenggam ponselnya dengan kuat. Hingga tak sadar kalau panggilannya pada Amanda tak sengaja terhubung.
"Halo? Halo?" sapa Amanda di ujung sana. Namun, sama seperti semalam dia tak kunjung mendapat jawaban.
"Halo, Tuan?" Suara Amanda terdengar lebih keras, membuat Saga yang ada di sampingnya jadi ikut menoleh.
Entah pada menit ke berapa Dominic tersadar. Dia langsung mematikan panggilan dan pergi dari sana. Namun, bukan pergi ke hotel, pagi ini tujuannya tampak berbeda.
***
__ADS_1
Jangan sedih2, Bang, nanti kurus, kalo kurus gak bisa dikorbanin🤭🙈