
Flash back hari keenam.
Setelah menerima misi dari Aneeq, Dominic tak langsung pulang, dia justru meminta waktu pada Aneeq untuk bicara berdua.
"Tuan, bolehkah saya meminta waktu anda?" tanya Dominic saat mereka sudah berganti pakaian. Aneeq mengernyit, dia pikir Dominic sudah pulang.
"Untuk apa?" Aneeq balik bertanya, kemudian berjalan menuju teras rumah. Di dalam mobil Caka sudah menunggunya.
"Ini tentang Amanda, aku ingin mengobrol tentangnya bersama anda," jawab Dominic dengan jujur. Aneeq pun setuju, dia menyuruh Caka untuk berangkat lebih dulu.
"Ca, aku ikut mobil Dominic, kamu duluan saja," ucap pria itu, dan Caka langsung mengiyakan apa kata atasan sekaligus kakak iparnya itu.
Kini kedua pria berbeda generasi ada dalam satu mobil. Dominic duduk di balik kemudi, sementara Aneeq ada di sampingnya.
"Ada apa? Bukankah waktu misimu tersisa satu hari lagi. Lalu apa yang ingin kamu bicarakan mengenai putriku? Kamu ingin tahu kebiasaannya?" tanya Aneeq membuka obrolan. Menebak apa kiranya yang ingin ditanyakan oleh Dominic.
__ADS_1
Dominic terlihat ragu, karena sebenarnya dia ingin jujur bahwa di antara ia dan Amanda memang tak pernah terjadi apa-apa. Amanda hanya mabuk, dan ia menemani gadis itu.
Namun, kalau dia tetap melanjutkan rencananya. Dia tidak tahu Amanda akan menerima, atau justru menolaknya terus-menerus. Sebab dari sikap gadis itu, Dominic bisa merasakan akan sebuah ketidakinginan.
Dominic menghela nafas kasar dengan terpaksa dia pun jujur di depan Aneeq. Dia sudah siap untuk menerima resikonya, sebab sudah berani membohongi pria itu.
"Maafkan saya, Tuan, saya hanya berusaha menggunakan kesempatan untuk mendapatkan gadis yang saya cintai," ucap Dominic di ujung ceritanya. Namun, reaksi Aneeq sungguh di luar dugaan, sebab pria itu justru terkekeh kecil. Membuat perhatian Dominic teralihkan.
"Tuan, kenapa anda tertawa?" tanya Dominic dengan kening yang berkerut. Dia pikir Aneeq adalah orang bodoh yang tidak tahu apa-apa? Oh jelas pikiran itu salah, Aneeq tahu bahwa sesungguhnya mahkota Amanda masih terjaga. Namun, dia ingin melihat kesungguhan Dominic dalam mendapatkan putrinya.
"Itulah masalahnya, Tuan, saya sedikit pesimis. Karena saya tidak tahu sebenarnya Amanda menyukai saya atau tidak. Bagaimana kalau saya berhasil melewati misi, tetapi ternyata saya ditolak?" ujar Dominic dengan raut gelisah. Bukankah jika seperti itu perjuangannya akan menjadi sia-sia?
Mendengar itu Aneeq semakin tergelak kencang. Sebab sudah enam hari berlalu Dominic baru berpikir tentang itu semua? Kenapa tidak dari awal coba?
"Kau ingin tahu jawabannya?" tanya Aneeq.
__ADS_1
Dan sudah jelas bahwa jawabannya iya. Dominic sangat ingin tahu apa yang sebenarnya ada dalam hati Amanda. Benarkah tak ada namanya sedikit pun di sana?
"Kalau begitu jangan pedulikan dia lagi."
Dominic langsung mendelik, karena sepertinya semua itu bukan solusi. Aneeq pasti sedang mengelabuinya.
"Jangan pedulikan bagaiman maksudnya, Tuan? Anda ingin saya menjauhi Amanda?" tanya Dominic, yang membuat si penakluk wanita menghela nafas panjang.
"Bukan itu maksudku. Kamu ini bodoh atau bagaimana sih? Pantas saja Amanda tidak terpikat padamu, cara seperti itu saja tidak tahu, aneh!" cerocos Aneeq yang membuat bibir Dominic mencebik. "Kalau kamu semakin mengejarnya. Dia akan merasa besar kepala. Jadi, coba beberapa hari untuk tidak bicara dengannya. Lihat bagaimana reaksinya, kalau dia sedih dan mendadak murung. Sudah dipastikan kalau dia tertarik padamu. Tapi kalau dia malah balas cuek, sudah tentu kamu tidak ada artinya sama sekali," sambung Aneeq menjelaskan membuat Dominic paham.
Kalau begitu dia harus mulai membentengi diri terhadap Amanda.
"Tapi, Tuan. Kalau Amanda ternyata memilih cuek?"
"Ya artinya kamu harus mundur!" cetus Aneeq yang membuat Dominic langsung terlihat lesu. Sebab ada dua kemungkinan yang akan terjadi di antara mereka.
__ADS_1