Fierce Boss Or Handsome Assisten

Fierce Boss Or Handsome Assisten
Bab 66. Misi Kedua


__ADS_3

Haish, ini mau tes calon menantu atau mau latihan militer sih, ada-ada saja idenya. Rutuk Dominic dalam hatinya.


Dia meneguk ludahnya berkali-kali, apalagi saat ini Aneeq terus menatap sengit kepadanya. Rasanya memang sangat sulit untuk mengitari mansion sebesar ini sebanyak 20 puluh kali dalam waktu 20 menit. Apalagi dengan gelas berisi air yang ada di tangannya.


Namun, mana mungkin dia menyerah begitu saja. Andai itu terjadi di mana harga dirinya sebagai seorang pria?


Dominic mengambil nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan, ya, hanya itu yang bisa ia lakukan di depan calon mertuanya yang super duper galak bin posesif.


"Baik, Tuan, saya akan melakukannya," ujar Dominic dengan mantap.


Aneeq melipat kedua tangannya di depan dada lengkap dengan satu alis yang terangkat, dia semakin tertarik dengan keberanian yang dimiliki Dominic. Dia ingin lihat apa yang akan dilakukan pria itu untuk melewati semua tantangan yang ia berikan.


"Keputusan yang bagus. Ingatlah, ada banyak kamera pengawas di sekitar sini, jadi jangan harap bisa mengelabuhiku," balas Aneeq dengan seringai kecil yang muncul di sudut bibirnya.


Dominic mengangguk cepat.


"Saya tidak akan mengecewakan anda."


"Dan saya tidak suka orang yang banyak bicara. Satu, dua, tiga, jalan!" teriak Aneeq dengan lantang, membuat jantung Dominic mendadak bergemuruh.


Namun, ia masih beruntung karena dapat mengontrol dirinya sehingga tak bergerak dengan gegabah. Detik selanjutnya Dominic berjalan dengan penuh kehati-hatian, agar air yang ada di dalam gelas tersebut tidak tumpah.


Ayo, Dom, jangan permalukan dirimu, yakinlah bahwa kamu bisa menaklukkan calon ayah mertuamu. Batin Dominic dengan api semangat yang membara.


Dia benar-benar fokus sehingga tak ada yang ia hiraukan. Termasuk Amanda yang berdiri tak jauh dari pintu utama, tak ingin sang ayah mengetahui keberadaannya dia pun memilih untuk bersembunyi.


Dia terus memperhatikan Dominic yang berjalan dengan langkah pendek-pendek, sementara Aneeq hanya menatap dengan seringai di kedua sudut bibirnya. Seperti puas mengerjai calon menantunya.

__ADS_1


"Hah, haruskah aku menghentikan kegilaan ini? Tidak ada Daddy tidak dia, kenapa mereka berdua sama-sama tak waras," gumam Amanda yang merasa kasihan terhadap Dominic.


Hingga tiba-tiba Amanda teringat dengan satu doa yang pernah dia lontarkan. Dia pernah mendoakan Dominic supaya mendapat mertua yang galak. Haish, apakah doanya sedang dikabulkan oleh Tuhan?


PLAK!


Amanda menabok bibirnya sendiri.


"Siapa juga yang mau menikah dengan pria tua dan kaku seperti dia? Tidak, aku pastikan dia gagal untuk menjalankan misi dari Daddy. Karena Daddy tidak akan semudah itu melepasku pada sembarang orang. Ya, tidak mungkin dia menjadi suamiku, bisa gila aku!" gerutu Amanda, dia berbalik dan kembali ke kamarnya, dia terus menggeleng karena pikirannya mendadak dipenuhi oleh bayangan Dominic.


Sementara itu, Dominic masih fokus dengan misi yang sedang dia jalankan. Namun, sialnya saat di pertengahan jalan dia dikejutkan dengan gonggongan anjing berwarna hitam.


Guk, guk, guk! (Gak usah praktekšŸ˜‚)


Dominic yang terkejut sontak langsung panik karena air yang ada di dalam gelas tersebut hampir tumpah. Namun, dengan usahanya yang tak main-main, Dominic berhasil mempertahankan air tersebut.


Guk, guk, guk!


"Diamlah, jangan menggangguku. Kamu ini sengaja ya, supaya aku tidak berhasil, dasar anjingg sialan, sama seperti—ah tidak, aku tidak akan terpancing!" cerocos Dominic lalu kembali melangkahkan kakinya, tak peduli meski anjing di belakang terus menggonggong dan berusaha melepaskan diri dari rantai yang menjerat lehernya.


Detik demi detik terus berjalan, dan Dominic merasa apa yang ia lakukan terlalu bertele-tele, sementara waktu yang diberikan oleh Aneeq sudah semakin berkurang. Bisa-bisa dia terjebak dalam misi ini seharian, kalau dia tidak bisa menemukan cara yang efektif.


Akhirnya Dominic merenung sejenak, berpikir keras untuk menyelesaikan semuanya dengan cepat. Hingga tiba-tiba sebuah ide tercetus dalam otaknya, dia menatap gelas yang penuh dengan air yang ada di tangannya.


Seringai tipis muncul, kemudian dia bergumam, "Bukankah Tuan Aneeq tidak bilang kalau aku harus membawa gelas ini untuk mengelilingi mansion? Kalau begitu, bolehkan aku taruh dulu gelasnya?"


Akhirnya Dominic mencari tempat untuk menaruh gelas tersebut. Dia kembali menyunggingkan senyum, merasa bahwa ide yang tercetus dalam otaknya sangat brilian.

__ADS_1


"Kalau begini kan enak, sekarang aku tinggal fokus untuk berlari," gumam Dominic seraya melihat arloji yang melingkar di tangannya. "Sial, waktunya sudah hampir habis. Aku harys mengerahkan seluruh tenagaku."


Dengan secepat kilat Dominic mengayuh kakinya untuk kembali mengitari mansion megah milik keluargamu Amanda. Dia tidak memedulikan apapun, karena tujuannya hanya satu yaitu menyelesaikan misi dari Aneeq.


Nafas Dominic tampak sangat terengah-engah dengan keringat yang mengucur deras. Namun, dia tak menyerah sedikit pun, meski ternyata Aneeq sudah tidak ada di sana.


Karena saking fokusnya, dia sampai tidak tahu kalau Aneeq sudah berangkat dari tadi. Hingga entah di menit ke berapa, Dominic berhasil menyelesaikan 20 putaran, di putaran terakhir dia kembali membawa segelas air yang semula diberikan kepadanya.


"Tuan, saya berhasil—" Ucapan Dominic terpotong karena tak melihat Aneeq disana, yang ada hanya seorang pengawal yang sedari tadi memperhatikannya. "Lho ke mana Tuan Aneeq?" sambungnya bertanya dengan nafas yang masih terengah-engah.


"Tuan Aneeq sudah pergi dari tadi, Tuan, karena beliau sudah mengatakan bahwa ada meeting hari ini," jawab sang pengawal menjelaskan.


"Lalu bagaimana denganku?" tanya Dominic dengan menuding wajahnya sendiri.


"Setelah ini anda boleh pulang."


"Pulang? Maksudnya, tidak ada penilaian atau?" Dominic tergagap sendiri, sementara pengawal tersebut hanya tersenyum tipis, sebab hanya itu yang disampaikan Aneeq.


Merasa gemas sekaligus geram sendiri akhirnya Dominic menenggak air yang ada di tangannya hingga tandas. Setelah itu tubuhnya mendadak lemas, hingga ambruk di antara rerumputan.


Ya Tuhan, salah dan dosa apa diriku punya calon mertua seperti ini? Batin Dominic sambil menatap langit yang cerah membiru.


Sementara di dalam mobil Aneeq yang sedang mengecek situasi mansion melalui tablet yang ada di tangannya nampak menyeringai penuh.


"Ternyata otaknya berguna juga," gumam Aneeq.


***

__ADS_1


Hai, aku kembališŸ¤—šŸ¤—


__ADS_2