Fierce Boss Or Handsome Assisten

Fierce Boss Or Handsome Assisten
Bab 8. Hih! Menyeramkan


__ADS_3

"Heh, kamu tidak bisa mengubah namaku seenaknya. Kedua orang tuaku sudah memberi nama bagus-bagus, kamu malah memanggilku Maman!" protes Amanda, seperti halnya Dominic yang tak suka dipanggil 'Om Tua'.


"Bukankah namamu Amanda? Aku hanya mempersingkatnya saja," jawab Dominic seraya bangkit dari ranjang.


"Tetap saja aku tidak mau dipanggil Maman! Memangnya aku tukang kebun apa!" ketus gadis itu, dia melipat kedua tangan di depan dada lengkap dengan wajah yang tertekuk.


"Heuh, malah lebih bagus nama tukang kebun dari pada namamu," ledek Dominic, membuat Amanda langsung mendelikkan matanya.


Dia mendengus kasar dengan tangan yang terkepal. Rasanya dia ingin menggeplak kepala Dominic agar tidak bicara sembarangan. Namun, nyatanya dia tidak memiliki keberanian sebesar itu, sebab posisi Dominic adalah tamu.


Domba Tua Sialan! Umpat Amanda di dalam hatinya, karena dia hanya mampu melakukan itu.


Detik selanjutnya Amanda menarik nafas dalam-dalam, menyiapkan stok sabar untuk menghadapi sosok pria berjambang lebat yang kini berjalan melewatinya. Karena ternyata di luar sana ada orang. Dia adalah Lucas.


"Ayo cepat lakukan tugasmu!" cetus Dominic mengingatkan. Suara kerasnya sukses membuat Amanda berjengit.

__ADS_1


"Iya-iya. Biasa saja bisa tidak sih? Sepertinya hobi sekali marah-marah, pantas cepat tua," gerutu Amanda seraya melangkah ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat yang diminta oleh Dominic. Tak lupa dia juga mengambil handuk dan menaruhnya di gantungan.


Saat dia keluar, dia melihat sebuah koper besar berada tak jauh dari Dominic. Sontak saja hal tersebut membuatnya mengerutkan kening. Untuk apalagi pikirnya?


"Selama aku mandi, kamu bereskan pakaianku, masukan ke dalam lemari. Setelah itu baru siapkan aku sarapan," ujar Dominic yang membuat mulut Amanda menganga.


Tidak mungkin Dominic akan selamanya menginap di hotel ini 'kan? Oh my God, rasanya Amanda sudah ketar-ketir duluan.


"Kamu tidak bermaksud untuk tinggal di sini 'kan?"


Dominic menatap Amanda dengan satu alis yang terangkat. Sementara bibirnya menyunggingkan senyum penuh ejekan. "Memangnya kenapa? Suka-sukaku lah mau tinggal di sini apa tidak. Bukankah aku sudah bilang bahwa aku akan menjadikanmu sebagai housekeeper pribadiku? Aku yang akan menilaimu. Kalau pelayananmu bagus, aku akan mengonfirmasi lewat Bu Nayla."


Mulut Amanda sudah gatal ingin menjawab, tetapi baru saja bibir itu terbuka Dominic sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi, membuat dia menggeram kesal.


"Heuh, andai meracun tamu tidak membuatku masuk penjara. Aku ingin sekali meracuninya!" gerutunya lagi dengan getar-getar di dada. Saking gemasnya dia bahkan menyambar bantal lalu menggigitnya.

__ADS_1


Tak ingin menghabiskan waktu lebih lama di kamar Dominic. Akhirnya Amanda membereskan semua barang-barang pria tampan itu. Namun, satu yang membuatnya merasa heran, dia tidak melihat satu pun celaaana dalaam milik Dominic.


"Apakah benda itu dibiarkan menggantung bebas? Hih, menyeramkan," gumam Amanda sambil bergidik. Dan tepat pada saat itu Dominic keluar hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya.


"Astaga, astaga," ceplos Amanda seraya menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. Pria satu ini benar-benar meresahkan. "Bisa tidak jangan membuat orang jantungan?"


"Kenapa sih? Kamu ini tidak lelah ya mengomel terus? Lagi pula aku ini tamu, sopan sedikit kenapa!" timpal Dominic seraya mendekat untuk meminta baju pada Amanda. "Mana pakaianku?"


Amanda langsung menyerahkan satu stel dengan mulut komat-kamit. Dan Dominic benar-benar tak protes saat tak melihat celanaa dalaam di sana, itu artinya Dominic tak memakai benda itu ke mana-mana.


Amanda melirik ke arah Dominic lagi, pikirannya mendadak kotor membayangkan sesuatu yang gondal-gandul tak tentu arah.


"Hih, atasnya saja sangar, apalagi yang bawah," gumam Amanda, kembali bergidik.


***

__ADS_1


Apa sih, Neng 🤣🤣


__ADS_2