
Saat waktu pulang telah tiba, Amanda segera mengemasi barang-barangnya dan keluar dari iLuva Hotels. Hampir seluruh karyawan memang segan padanya, tetapi tak ayal ada juga yang tak suka.
Amanda dianggap suka menggunakan kesempatan karena dia dekat dengan Dominic. Padahal tidak demikian. Saat dirinya melangkah melewati lobby beberapa seniornya mulai berbisik.
Alhasil hal tersebut membuat Amanda merasa tak nyaman. Sebab meskipun tak mendengar begitu jelas, tapi semua tatapan sinis itu tentu membuatnya sadar, bahwa dia sedang dibicarakan.
"Andai aku bisa menggoda Tuan Dominic lebih dulu, mungkin aku tidak akan terus-menerus menempati posisi ini," celetuk seseorang yang begitu jelas di telinga Amanda, sehingga menghentikan langkah gadis itu.
"Benar, sayangnya kita hanya orang biasa, jadi Tuan Dominic tidak akan mungkin melirik kita. Dia hanya suka gadis kaya yang berpura-pura miskin," timpal yang lain, semakin menunjukkan taring.
Sementara itu Amanda masih mematung, dia meneguk ludahnya dengan getir. Dia tidak bisa tinggal diam, sehingga akhirnya dia pun berbalik dan mendekati 3 orang seniornya yang sedang berkumpul.
"Maaf sebelumnya, apakah kakak-kakak ini sedang membicarakanku?" tanya Amanda terlebih dahulu, dia bukan Gloria yang selalu memiliki emosi menggebu-gebu.
"Kamu tersindir dengan ucapan kami?" salah satu dari mereka balik bertanya lengkap dengan tangan yang melipat di depan dada.
"Tapi bukankah sudah jelas kalau kalimat sindiran itu untukku? Maaf jika aku lancang, tapi aku tidak pernah memiliki urusan dengan kalian, jadi aku minta berhenti membicarakan aku, apalagi dengan sesuatu yang tidak benar," balas Amanda dengan gelagatnya yang terlihat tenang, sifat yang diturunkan dari Aneeq.
Mereka mulai tertawa kecil, seolah Amanda baru saja melontarkan sebuah lelucon.
"Tidak benar bagaimana? Jelas-jelas kamu memang menggoda Bos kami dan berpura-pura lugu. Dari awal aku sudah curiga dan setelah aku amati dari hari ke hari, kamu terlihat semakin naif! Dan aku tidak suka itu!" tuturnya dengan tatapan sinis dan juga dorongan kecil di bahu Amanda yang membuat tubuh gadis itu bergeser.
"Aku tidak pernah menggodanya!" tegas Amanda.
"Tapi buktinya Tuan Dominic pilih kasih terhadapmu!" balasnya dengan ketus. "Oh iya aku lupa, mungkin itu juga karena ayahmu. Jangan mentang-mentang kamu anak orang kaya, kamu bisa seenaknya di sini."
Hal tersebut tentu membuat kekesalan Amanda semakin menjadi-jadi. Dia mengepalkan tangan dengan kuat, tetapi sebelum dirinya bicara salah satu dari mereka tiba-tiba mendorongnya.
Bruk!
Amanda terjungkal ke lantai, memicu emosi yang semakin memuncak. Amanda bangkit dan membuat serangan balik, tetapi karena lawannya tak hanya satu, Amanda mendapat tamparan keras yang membuat sudut bibirnya terluka.
Perkelahian itu tentu mengundang banyak perhatian, terlebih para staf yang masih hulu hilir mengerjakan tugas mereka.
Mereka pun lantas berusaha untuk menghentikan perkelahian itu sebelum para tamu melihat kegaduhan yang terjadi, tetapi mereka tetap tak mau dengar. Sehingga staf keamanan pun mulai turun tangan.
"Sudah aku kira, kamu tidak sepolos itu. Kamu hanya menggunakan wajah itu di depan Tuan!" cetus sang senior seraya menjambak rambut Amanda dengan kuat. Namun, dengan sekali tepis tangan itu langsung terlepas dan menyisakan rasa kebas yang luar biasa.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan?" ketus Dominic yang saat itu segera turun saat mendengar keributan yang terjadi di lobby. Bukan hanya tentang Amanda, tetapi hal tersebut juga berpengaruh pada nama baik hotel milik ibunya.
Seketika semua orang terdiam, menyisakan deru nafas yang terdengar mengudara dengan begitu kasar. Amanda tertunduk dalam, tak berani melihat ke arah Dominic, karena dia mengaku salah.
Dia menyesal karena sudah meladeni ketiga seniornya. Seharusnya dia tidak perlu berbalik, seharusnya dia langsung pulang saja.
"Kalian ingin membuatku malu? Hah, kalau kalian ingin berkelahi, berkelahi di luar jangan di sini! Ini bukan ring tinju ataupun tempat karate, ini tempat kerja!" sambung Dominic dengan suara yang lebih meninggi. Membuat semua orang tak berkutik.
Dominic melihat ketiga karyawannya yang terlibat perkelahian dengan Amanda, lalu beralih pada gadis itu. Dari semuanya Amanda lah yang terlihat sangat berantakan.
Dominic menghela nafas kasar, lalu melangkah ke arah Amanda sehingga gadis itu mengangkat kepalanya sedikit. Dominic terkejut ketika melihat sudut bibir Amanda yang terluka. Akan tetapi Amanda segera memalingkan wajah.
"Benahi diri kalian, dan setelah itu kalian harus menghadapku. Dan kamu—ikut aku ke atas!" cetus Dominic menahan geram di dadanya.
Secara otomatis semua orang pun membubarkan diri. Dominic segera melangkah ke arah lift dengan langkah lebar, terlihat sekali bahwa dia sedang murka, sementara Amanda mengekor di belakangnya dengan tanpa bicara.
Ketiga senior yang berurusan dengan Amanda tampak kikuk, belum lagi rasa sakit yang mereka terima, karena tendangan Amanda yang tak main-main.
"Sial, tenaganya kuat juga!" keluhnya sambil memegang pinggang.
"Haish, sudah bukan saatnya kita menggerutu seperti ini. Tuan Dominic pasti membela dia, awas saja kalau dia sampai bicara yang macam-macam."
Meski ada perasaan takut, tetapi rasa kesal terhadap Amanda tetap saja menggunung di hati mereka.
*
*
*
Amanda terus mengikuti langkah Dominic hingga masuk ke dalam ruangan pria itu. Namun, tiba-tiba lengannya ditarik dan jatuh di pangkuan Dominic.
"Apa yang kamu lakukan?!" tanya Amanda, tetapi Dominic justru memeluknya dengan erat, membuat Amanda gelagapan. Bahkan rasanya jantung Amanda kembali meletup-letup seperti berondong jagung.
"Harusnya aku yang tanya, apa yang sudah kamu lakukan sampai terluka seperti itu? Kamu tahu aku sangat khawatir?" balas Dominic dengan suara parau, terdengar berbeda sekali dengan beberapa saat lalu.
Amanda sedikit meloloskan diri sehingga pelukan itu terlepas, tetapi tangan Dominic justru beralih pada pinggang Amanda, membuat gadis itu tak bisa ke mana-mana.
__ADS_1
Posisi mereka benar-benar tak aman, Amanda saja sampai merasakan sesuatu yang lain.
"Ingatlah kamu baru saja marah-marah. Sekarang kamu merengek manja seperti itu. Lagi pula aku tidak apa-apa, ini hanya luka kecil," jelas Amanda kembali meronta, tetapi tenaga Dominic benar-benar tak terkalahkan.
"Mau besar mau kecil, itu sama-sama luka. Sebenarnya apa masalah kalian?"
"Itu bukan urusanmu, Tuan Dominic!" tegas Amanda.
"Jelas ini urusanku, selain karena kamu calon istriku, kalian juga berkelahi di hotel. Jadi aku berhak tahu!"
Amanda terdiam, karena apa yang dikatakan Dominic memang benar. Hei, benar apanya? Iya, benar mereka berkelahi di hotel, tapi untuk calon istri sepertinya masih samar-samar.
"Kamu tidak mau cerita? Kalau begitu aku akan memecat mereka!"
"Hei, sebagai bos kamu tidak boleh seenaknya!" cegah Amanda saat mendengar ancaman Dominic. Dia sampai mengalungkan kedua tangannya di bahu Dominic agar pria itu tidak bangkit dari sofa.
"Kalau begitu ceritakan, kenapa bisa bibirmu jadi terluka begini?"
Tangan besar Dominic terangkat dan merabaa pelan sisi bibir Amanda. Sementara mata yang setajam elang itu terus menatap lurus, seolah tak ada objek lain yang ingin dia lihat.
Kepala Dominic mulai bergerak, Amanda yang sadar akan hal itu langsung waspada. Namun, suasana senyap itu langsung dikacaukan oleh deheman keras Lucas yang sedari tadi duduk di mejanya.
"Ehemm, masih ada saya di sini, Tuan," ucapnya yang membuat Dominic dan Amanda salah tingkah.
*
*
*
Aku benar-benar ingin membunuhmu, Lu! Teriak Dominic dalam hati.
**
Jangan lupa mampir karya baru kak Itta Haruka07 ya gaes🤗🤗 dan jangan lupa votenya juga luv buat kalian 😘
__ADS_1