
"Ya Tuhan, ada saja cobaannya," batin Dominic, seolah semesta tak pernah merestui dia bermesraan dengan Amanda.
"Hei, aku bilang buka!" sentak Aneeq menyadarkan lamunan dua sejoli itu. Amanda segera turun dengan gerakan tergesa, sedangkan Dominic nampak gelisah sendiri, takut diapa-apakan oleh Aneeq.
"Daddy," panggil Amanda seraya menyalimi tangan ayahnya. Aneeq menerima itu meski hatinya dipenuhi amarah, terlebih saat melihat sudut bibir Amanda yang memar. Seketika itu juga mata Aneeq membola.
"Kali ini ke mana kamu membawa putriku pergi?" ketus Aneeq dengan tatapan yang tak biasa, nampak sekali kecemasan di wajah pria yang sudah semakin matang itu, dia memang tidak melihat mobil Dominic saat mereka berpapasan, tetapi ternyata ada anak buahnya yang selama ini membuntuti Amanda.
Tahu kalau sang putri bersama pria lain. Sontak Aneeq menancap hingga kini ia berdiri di hadapan Dominic dan Amanda.
Mendengar pertanyaan itu sontak saja Dominic mengangkat kepala. Dia bingung sekarang, harus menjawab dengan jujur atau justru sebaliknya.
"Tadi—"
"Kita tidak ke mana-mana, Dad, dia hanya mengantarkan aku pulang," potong Amanda, tak ingin terjadi perdebatan di antara Dominic dan ayahnya. Apalagi di waktu selarut ini, sungguh hal itu akan mengganggu waktu istirahat semua orang.
"Lalu kenapa bibirmu bisa memar begitu? Dan kenapa kamu juga pulang terlambat? Apakah karena dia?" tanya Aneeq penasaran, melirik Dominic dengan tatapannya yang setajam elang.
Amanda menghela nafas panjang, sumpah demi apapun dia benar-benar tak enak pada Dominic karena dari kemarin pria itu terus-menerus menerima teriakan dari sang ayah. Hah, salah pria itu juga, kenapa berani bermain drama. Sekarang beginilah jadinya.
Hiks, doaku benar-benar terkabul. Batin Amanda dengan wajah sendunya.
"Ini tidak ada hubungannya dengan dia, Dad, malah seharusnya Daddy berterima kasih, karena dia sudah mengantarku pulang. Daddy tahu sendiri bagaimana menakutkannya di luar sana bagi seorang gadis," jelas Amanda, masih terus membela Dominic.
"Tapi—"
__ADS_1
"Dad, stop!" Terdengar suara Jennie menyeru dari arah lain. Wanita itu keluar dari gerbang pintu dan menghampiri ketiga orang itu. "Ini sudah tengah,apakah Daddy tidak lelah seharian terus seperti ini? Masuklah, sudah waktunya kita beristirahat." Sambung Jennie dipenuhi ketegasan.
"Dear, aku—"
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Jennie memghiraukan suaminya, sambil memeriksa keadaan Amanda, dia sedikit mengelus sudut bibir Amanda yang terluka hingga membuat sang anak meringis.
"Aku tidak apa-apa, Mom, ini hanya luka kecil , bukti dari kesungguhan bekerja," jawab Amanda.
"Syukurlah," balas Jennie, kemudian tatapannya beralih pada Dominic yang sedari tadi berdiri bagai patung. Ya, lagi-lagi Aneeq tidak dipedulikan, membuat pria itu bertambah meradang. "Dom, pulang dan beristirahatlah. Terima kasih sudah mengantar Amanda."
Dominic hampir saja mengulas senyum. Namun, tatapan membunuh dari Aneeq seolah mengulitinya hidup-hidup. Alhasil Dominic tarik kembali lengkungan itu, hingga terlihat datar saja.
"Baik, Nyonya. Kalau begitu saya permisi, selamat malam," jawab Dominic dengan sopan, dia membungkukkan badan sebagai pengunduran dirinya.Tak lupa dia melakukan itu di depan Aneeq, supaya mendapat nilai plus.
Detik berikutnya Dominic benar-benar kembali masuk ke dalam mobil. Dia sangat bersyukur malam ini dua perempuan kesayangan Aneeq justru terlihat membelanya.
"Malam ini tidurlah sendirian. Aku akan tidur di kamar Amanda," ucap Jennie seraya menggandeng tangan putrinya untuk masuk ke dalam. Sementara Aneeq hanya bisa menganga, menyaksikan kepergian anak dan istrinya.
"Ck, sialan! umpat Aneeq sambil meninju udara.
*
*
*
__ADS_1
Pagi di sebuah kota, di saat hari masih terasa cukup gelap, ponsel Saga nampak sudah berdering dengan nyaring. Karena semalam begadang untuk menyelesaikan laporan, Saga pun masih enggan untuk bangun, apalagi menerima telepon di pagi-pagi buta seperti ini.
Namun, semakin dibiarkan, nyatanya benda pipih itu tetap tak mau diam. Alhasil Saga yang masih setengah sadar pun menyambar ponsel yang tergeletak di atas nakas.
"Halo, ada apa menelponku sepagi ini?" tanya Saga dengan suara serak khas seseorang ketika baru bangun tidur, apalagi terlihat matanya yang setengah terbuka.
"Ada apa? Bagaimana dengan laporan yang kamu buat, kenapa tidak ada yang beres?" cerocos seseorang yang ada di ujung sana, membuat Saga mengerutkan kening.
"Laporan yang mana?" tanya Saga.
"Laporan yang kamu kerjakan semalam, kamu ini asal-asalan ya?!"
Terdengar suara yang semakin meninggi, membuat Saga akhirnya membuka mata lebar-lebar, dia melihat siapa yang menelponnya pagi-pagi, begitu sadar Saga langsung membelalakan matanya.
"Ya, bagaimana, Tuan? Apakah ada yang perlu saya revisi?" tanya Saga dengan cepat.
"Banyak! Hari ini kamu harus kerjakan ulang, karena saya butuh secepatnya. Dan sebagai konsekuensinya kamu sendiri yang harus mengambil sample gambar pada klien di ibu kota. Jadwalnya tiga hari lagi, awas kamu kalau sampai terlambat, saya tidak akan segan untuk memotong gajimu!" tegas atasan Saga di tempat kerjanya yang baru.
Mau tidak mau pria tampan itu pun mengiyakan semua permintaan atasannya tersebut. Sekarang dia baru merasa bahwa berada di sisi Ziel adalah yang terbaik. Ziel adalah bos yang paling menyenangkan, walau pun terkadang ada problemnya juga.
Setelah mengatakan itu panggilan pun terputus. Sementara Saga tercenung, jika dia kembali ke ibu kota, tidak menutup kemungkinan kalau nantinya dia bertemu dengan Amanda.
Hah, dengan memikirkannya saja, rasa sesal masih terasa ada.
@@@
__ADS_1
Nih yang nanyain daun Saga.