
Pagi tiba dengan cepat, dan Amanda masih memiliki jadwal sift satu, jadi sebelum jam tujuh ia sudah ada di iLuva Hotels. Tanpa harus menunggu perintah, ia langsung naik ke atas untuk melakukan pembersihan di kamar Dominic, tetapi ternyata saat ia masuk Dominic sudah bangun dan sedang membersihkan tubuhnya.
Seperti layaknya seorang asisten, gadis itu menyiapkan pakaian Dominic dan menaruhnya di atas ranjang.
Baru setelah itu ia mengerjakan yang lain. Dan tak berapa lama kemudian Dominic keluar dengan tubuhnya yang setengah basah, tiba-tiba bibirnya tersenyum saat melihat pakaian yang sudah disiapkan oleh Amanda.
Karena tak melihat sang gadis di kamar ini, Dominic langsung memakai pakaiannya. Namun, sayang, saat celana baru saja naik setengah, tiba-tiba terdengar teriakan Amanda.
"ARGH!"
Dominic yang terkejut langsung kalang kabut, bahkan ia sampai tak bisa mengontrol gerakan tangannya membuat sesuatu yang tidak terbungkus dengan rapih itu terjepit.
"Astaga!" cetus Dominic seraya menikmati rasa sakit yang mulai menjalar, dia melihat ke arah Amanda yang bersembunyi di belakang sofa. Sebelumnya gadis itu sedang memungut beberapa sampah, karena membungkuk alhasil Dominic tidak melihatnya. "Sejak kapan dia di sana?" Gumam Dominic dengan gigi yang mengatup.
Lalu dengan susah payah dia kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk memperbaiki celananya. Kalau tidak, yang ada aset berharganya akan rusak.
Sementara Amanda terus-menerus menutup matanya dengan rapat. Dia beberapa kali menggelengkan kepala untuk menghilangkan bayangan mengerikan itu, tetapi sayang semuanya lebih dulu terekam jelas.
"Kurang ajar sekali, kenapa dia tidak memakainya di ruang ganti?" gumamnya sambil menepuk-nepuk pipi. Wajah gadis itu merah padam, tak tahu harus bersikap seperti apa saat berhadapan dengan Dominic.
"Ku mohon hentikan pikiran sialan ini!" seru Amanda, karena ini adalah pengalaman pertamanya melihat benda pusaka milik pria dewasa.
__ADS_1
Sampai Dominic keluar dari kamar mandi, Amanda masih betah bersembunyi di balik sofa. Padahal dia sudah berencana kabur, tetapi kakinya seolah tak bisa diajak kerja sama.
Hingga akhirnya Dominic berseru padanya, "Keluarlah! Untuk apa masih di situ?"
Jujur, sebenarnya Dominic merasa malu. Namun, apa boleh buat, semuanya sudah terjadi. Kebiasaan yang sudah dia lakukan tidak pernah bisa diubah, jadi jangan tanya mengapa dia tidak memakai dalaaman sebelum memakai celana.
Sebab dengan begitu miliknya terasa bebas, mau miring ke sana miring ke sini tidak masalah.
"Hei, aku bilang keluar!" Dominic bersuara lagi, dia yakin Amanda masih di sana sebab kepala gadis itu sedikit menyembul.
Hingga akhirnya dengan terus menundukkan wajah Amanda bangkit. Dia sungguh geram dengan Dominic, karena untuk perkara sekecil dalamaan saja pria itu tidak bisa mengurusnya.
"Kenapa?" tanya Dominic saat kaki Amanda baru saja berjalan satu langkah.
Astaga, pria satu ini punya pikiran tidak sih? Atau jangan-jangan dia bangga memamerkan miliknya, yang astaga, tidak-tidak aku tidak boleh mengingatnya. Rutuk Amanda dalam hati.
"Sepertinya aku tidak perlu menjelaskan. Karena kamu tahu di mana letak permasalahannya."
"Karena kamu melihatku yang sedang memakai celana?" ceplos Dominic yang membuat mata Amanda melotot seketika.
Cih, lihat, dia tidak punya merasa malu sedikit pun.
__ADS_1
Ludah Amanda tercekat, harus bagaimana dia keluar dari ruangan ini, sementara Dominic terus menahannya.
"Anggap kamu tidak pernah melihat apa-apa. Jadi, lakukan seperti biasanya," sambung Dominic yang terus melihat Amanda mematung. Dia menyambar kemeja putih yang masih tergeletak di atas ranjang, lalu memakainya.
Namun, meskipun sudah mendapat perintah seperti itu, Amanda tetap tak bisa bersikap biasa-biasa saja. Dia tidak bergerak sedikit pun dari tempat semula.
Suasana semakin terasa canggung, dan Amanda merasa terselamatkan saat pintu kamar Dominic diketuk, disusul suara Lucas yang meminta izin untuk masuk.
"Tuan, saya ingin mengingatkan kalau anda ada janji temu dengan Tuan Anderson pagi ini," ucap pria itu saat sudah berhadapan dengan Dominic. Dia sedikit melirik ke arah Amanda yang bersikap aneh, karena gadis itu terus berdiri dan menutup sebagian wajahnya.
"Ada apa dengannya?" gumam pria yang serba kepo itu.
"Ya, baiklah, ayo kita keluar," balas Dominic seraya menyambar jas. Tanpa bicara pria itu melangkah meninggalkan kamar untuk memutus kecanggungan yang terjadi di antara dirinya dengan Amanda, sementara itu Lucas mengekor di belakangnya.
Suara pintu yang tertutup, lantas membuat Amanda langsung bernafas dengan lega. Karena akhirnya Dominic hilang dari hadapannya.
"Astaga, dia benar-benar tak merasa bersalah, padahal dia sudah menodai mata suciku, " ujar Amanda seraya mengipasi wajahnya yang terasa sangat panas.
***
Lagian lu si Dom, malah dispill😌😌
__ADS_1