
Selama tidak difasilitasi oleh sang ayah, Amanda selalu berangkat bekerja menggunakan kendaraan umum. Seperti sekarang, saat tiba di halte yang dekat dengan iLuva Hotels, Amanda langsung keluar dari bus angkutan kota.
Dia berjalan sekitar sepuluh menit untuk sampai di lobby hotel. Namun, disela langkahnya dia tak sengaja melihat Dominic yang berdiri tak jauh darinya.
Mereka saling tatap dalam satu garis lurus, tetapi karena masih tampak kesal, sontak saja Amanda langsung membuang wajah dan berjalan lebih cepat.
Namun, ternyata Dominic tak tinggal diam. Pria tampan itu mengejar Amanda dengan langkah yang sangat lebar, hingga mampu menyeimbangi gadis itu.
"Aku butuh bicara," ucap Dominic, tetapi tak mampu menghentikan langkah Amanda.
"Tapi aku tidak mau bicara denganmu!" cetus gadis itu. Aksi kejar-mengejar mereka tentunya mengundang perhatian banyak orang, hingga beberapa karyawan sampai mengikuti pergerakan mereka berdua.
Dominic tak menyerah, saat tiba di ruangan yang dipenuhi oleh loker karyawan, Dominic langsung mencekal pergelangan tangan Amanda.
Tepat pada saat itu Amanda langsung memicing tajam, dia hendak meronta tetapi ucapan Dominic membuatnya tak bergerak.
"Aku tahu kamu marah," ucap Dominic dengan tatapan yang melunak.
"Kalau begitu jujurlah pada Daddy, jangan membohonginya seperti ini. Karena aku tahu apa yang keluar dari mulutmu itu hanyalah sebuah karangan bebas," balas Amanda dengan sedikit menggebu.
Pintu ruangan terbuka, membuat fokus kedua orang itu teralihkan. Lara yang hendak masuk langsung urung karena melihat ada Amanda dan Dominic.
"Ah, maaf, saya tidak tahu kalau ada kalian di sini, " ucap Lara sambil menundukkan kepalanya, sungkan. Saat Amanda hendak memanggil gadis itu, Lara justru lebih dulu menutup pintu.
Sontak saja hal tersebut membuat Amanda menarik tangannya hingga cekalan Dominic terlepas. "Sekarang katakan padaku apa maksud dan tujuanmu mengatakan hal seperti itu pada ayahku?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, Dominic kembali mengangkat kepalanya hingga kedua netra mereka kembali bertemu. Dalam hati Dominic berkata, tidak bisakah Amanda melihat kesungguhan cintanya? Apakah tidak cukup perjuangannya berhadapan langsung dengan Aneeq?
__ADS_1
Dominic melangkah maju, dan Amanda reflek berjalan mundur hingga punggungnya menyentuh dinding.
"Kamu sudah tahu jelas apa tujuanku, Amanda. Aku tidak mungkin berani menggadaikan nyawaku kepada ayahmu, kalau bukan karena kamu. Aku sadar, aku adalah pria bodoh yang tidak mengerti apa itu cinta.Tapi di dekatmu, aku merasakan hal yang berbeda. Jadi, tanpa menjelaskan panjang lebar pun kamu seharusnya sudah tahu jawabannya," jawab Dominic dengan tatapan yang terlihat sangat serius.
Namun, sampai saat ini Amanda masih terlihat ragu dengan Dominic. Dia tidak percaya kalau pria yang tak sengaja dia temui di hari paling terpuruknya, telah bersedia memberikan cinta yang begitu besar untuknya.
"Seperti kamu yang mencintai Saga. Aku pun rela jika harus melakukan apa saja, termasuk menghadapi keluargamu. Dan ingatlah, saat kamu menatap orang lain, maka ada orang lain pula yang menatap ke arahmu. Dan orang lain itu adalah aku," sambung Dominic dengan gamblang.
Amanda mengerutkan keningnya, karena tiba-tiba Dominic berubah sangat bijak. Hingga dengan gerakan reflek Amanda memeriksa kening Dominic menggunakan tangannya, seperti orang sakit.
"Kamu sedang sakit atau memang sudah gila?" tanya Amanda dengan tatapan mengejek. Namun, dengan gerakan cepat Dominic meraih telapak tangan itu dan menciumnya dengan lembut hingga membuat Amanda menganga.
"Aku bersedia gila untukmu. Jadi, saksikanlah kegilaanku," kata Dominic, lantas setelah itu dia pergi meninggalkan Amanda yang masih mematung di tempatnya.
*
*
*
Yang penting dia bisa memastikan bahwa Amanda pulang dalam keadaan baik-baik saja.
Tanpa Amanda tahu, mobil Dominic senantiasa mengikutinya. Sampai sang supir pun merasa heran, karena sepertinya Dominic tak berniat untuk mendahului.
Pikiran buruk seketika terbesit dalam otak pria itu, berpikir bahwa Dominic sengaja melakukannya karena sudah merencanakan kejahatan. Namun, mana mungkin dia bisa tahu siapa sebenarnya yang diincar Dominic.
Hingga saat tiba di pemberhentian, Amanda turun paling akhir bersama dua orang lainnya. Sang supir yang kebetulan masih melihat mobil Dominic, lantas memberitahu ketiganya untuk lebih hati-hati.
__ADS_1
"Hei, Nona, berhati-hatilah," ujar sang supir, membuat Amanda yang sudah berjalan menuju pintu mendadak urung.
"Ada apa, Pak?" tanya Amanda mewakili yang lain.
"Dari tadi ada mobil yang mengikuti kita, sepertinya dia mengincar salah satu dari kalian. Saya khawatir, dia akan berbuat jahat."
Amanda langsung mengerutkan keningnya, lalu melihat suasana di luar sana. Ada satu mobil yang terparkir di sisi jalan, tak jauh dari angkutan umum yang membawanya. Dia tampak mengenali mobil tersebut, hingga ingatannya langsung tertuju pada Dominic.
Amanda mendesaahkan nafas, karena ternyata sedari tadi Dominic mengikutinya.
"Tidak perlu cemas seperti itu, Pak, dia bukan orang jahat," celetuk Amanda yang membuat sang supir menautkan kedua alisnya.
"Anda mengenalnya, Nona?" tanyanya.
"Hanya kebetulan, dan saya yakin dia tidak berniat macam-macam. Kalau begitu terima kasih atas perhatiannya, Pak, kami turun dulu," balas Amanda, lalu melanjutkan langkah untuk menuju mansion keluarganya.
Cukup menggunakan ojek, Amanda bisa langsung sampai di kediamannya. Saat ia hendak melewati gerbang, dia melirik ke belakang, dan ternyata Dominic masih mengikutinya dengan jarak yang cukup Amanda.
Tiba-tiba sudut bibir Amanda tertarik ke atas, tanpa berkata apapun dia langsung masuk. Sementara di dalam mobil Dominic terus menatap ke arah gadisnya, dia bernafas dengan lega karena Amanda pulang dengan selamat.
"Karenamu aku seperti tak mengenali diriku sendiri, Amanda," gumam Dominic, tanpa tahu bahwa dia pun sedang diawasi oleh Aneeq dari atas sana.
Gubrak!
Tiba-tiba ada yang jatuh dari atas pohon membuat Dominic terlonjak kaget, "Astaga, apa itu?" Saat Dominic mengangkat pandangannya, sebuah boneka dengan tampang seram langsung menyambutnya.
"Se—se—setan!" teriak Dominic terbata, langsung menyalakan mesin mobil dan pergi dari sana. Sementara Aneeq terkekeh geli dengan busur panah di tangannya.
__ADS_1
***