
Tak disangka ternyata Donita menghadang jalan Amanda. Membuat gadis itu mengerem secara mendadak hingga bagian belakang motornya terangkat. Andai ia lepas kendali mungkin saat ini ia sudah kecelakaan.
Amanda mengerutkan dahi karena tak begitu mengenali siapa pemilik mobil yang tiba-tiba berhenti tepat di hadapannya, hingga saat Donita keluar, Amanda langsung terperangah.
"Cih, ada apa dengan wanita ini?" gumam Amanda dengan alis yang bertautan.
Sementara Donita melangkah dengan penuh keangkuhan, menunjukkan bahwa dirinya tidak akan mungkin dikalahkan oleh seorang gadis bau kencur, seperti Amanda.
"Aku bilang masalah kita belum selesai, jadi kita selesaikan di sini!" cetus Donita dengan tatapan tak ramah.
Amanda membuang nafas kasar, tak menyangka kalau Donita akan bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Namun, jika tidak diladeni ia yakin Donita akan menganggap ia adalah gadis yang lemah.
"Sekarang tidak ada Saga di sini, jadi kamu tidak akan memiliki kekuatan apapun," ujar Donita dengan penuh percaya diri. Dia tidak tahu, kalau gadis yang ada di hadapannya bisa saja menggila saat ada seseorang yang mengganggunya.
"Apa maumu?" tanya Amanda seraya mengangkat dagu. Dia juga tak mau kalah.
"Jauhi Saga dan berhenti ikut campur dengan masalah kami. Kamu tahu 'kan dia calon suamiku?"
Mendengar itu rasanya Amanda ingin tertawa dengan keras. Apakah Donita tidak memiliki kaca di rumah?
"Bukankah pernikahan kalian sudah batal, dan sepertinya aku tahu apa penyebabnya."
Kening Donita langsung berlipat-lipat. "Apa maksudmu?"
Detik selanjutnya Amanda menampakkan senyum yang tak biasa, sementara satu tangannya memegang bahu Donita.
"Jangan sentuh baju mahalku!" cetus wanita itu seraya menepis tangan Amanda, seolah apa yang baru saja menempel adalah sebuah kotoran yang harus segera dibersihkan.
__ADS_1
"Cih, aku juga bisa membeli baju seperti itu bahkan lima sekaligus!" seru Amanda tak kalah ketus, benar-benar kesal dengan sikap sombong yang ditunjukkan oleh Donita.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, apa maksud perkataanmu barusan?!"
"Aku tidak akan mengatakannya di sini, karena aku akan memberitahukannya langsung pada Kak Saga, supaya dia semakin menghempaskanmu."
Amanda menarik salah satu sudut bibirnya ke atas dan membuat tatapan mengejek. Membuat emosi Donita memuncak, wanita itu hendak menyerang Amanda tetapi sepatu heels yang ia kenakan justru membuatnya tersungkur di tanah dengan kedua lutut yang mencium aspal.
"Aduh!" keluh Donita, tetapi bukan rasa sakit yang membuat dia merasa kalah. Sebab satu sumpalan dadanya terlempar ke depan kaki Amanda.
Mulut gadis itu menganga dan menatap tak percaya. Detik selanjutnya tawa Amanda langsung meledak, membuat Donita mengepalkan tangannya karena malu.
"Astaga, jadi dadamu besar karena disumpal? Ya ampun, ternyata semua itu palsu," ejek Amanda, menjadikan Donita sebagai bahan bulan-bulanannya.
*
*
*
Harusnya dia senang bukan? Akan tetapi dia justru tak berhenti celingukan, mencari sosok yang kerap mengganggunya. Ya, suasana hotel jadi terasa aneh, seperti ada yang kurang saja.
"Man, kamu kenapa?" tanya Lara yang melihat temannya seperti orang kebingungan.
Mulut Amanda sudah gatal ingin bertanya, tetapi selalu dia tahan, karena tak mau Lara berpikir yang tidak-tidak.
"Eum aku tidak apa-apa, memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Kamu serius? Dari tadi kamu kayak orang linglung gitu kok."
Amanda melirik ke sana ke mari, lalu tiba-tiba menarik tangan Lara ke sudut ruangan. "Pagi ini aku tidak melihat Tuan Dominic, ke mana ya dia?"
"Wah apakah sekarang kamu merindukannya?"
Mata Amanda langsung memicing tajam. "Haish, bicara apa kamu?! Tidak mungkin aku merindukan orang menyebalkan seperti dia!"
"Habisnya kamu tiba-tiba tanya," jawab Lara sambil tersenyum-senyum. "Aku tidak tahu, tidak ada yang memberi informasi apapun padaku."
Baru saja mulut Amanda terbuka, tiba-tiba dia dipanggil oleh Nayla. "Amanda, bisa bicara sebentar?"
"Oh iya, Bu."
Amanda langsung pamit pada Lara untuk memenuhi panggilan Nayla. Dia pikir wanita itu akan memberikan pekerjaan seperti melayani tamu hotel, tetapi perkiraannya salah.
"Ada apa ya, Bu?"
"Eum begini, Amanda, Tuan Dominic tiba-tiba jatuh sakit, tapi dia tidak mau dipanggilkan dokter atau pun minum obat. Bahkan dia juga menolak makanan yang sudah pelayan siapkan. Bisa kah kamu membantuku untuk membujuknya?"
Mendengar itu Amanda merasa terkejut sekaligus lucu. Apa hubungannya dengan dia? Kenapa harus dia yang membujuk Dominic?
"Aku, Bu? Kenapa?" tanya Amanda sambil menunjuk wajahnya sendiri. Dan Nayla juga tidak tahu kenapa harus gadis satu ini.
***
Ya karena eh karena, kan jadi nyanyi🤣🤣🤣
__ADS_1